
"Kenapa berdiri aja dan menatap perutku terus? air liurmu menetes tuh"
Violet secara spontan mengusap sudut bibirnya dan langsung menjatuhkan kotak P3K di atas perutnya Barnes. Barnes mengaduh dan secara spontan ia bangun lalu terduduk dengan menghunus tatapan tajam ke Amanda Barnes menyemburkan kekesalannya, "Kenapa malah kau jatuhkan kotak P3k-nya di atas lukaku? bukannya ngobati malah nambah sakit"
Amanda langsung mengambil kembali kotak P3K yang ada di atas pangkuannya Barnes lalu ia duduk di sofa sambil berkata, "Maaf, nggak sengaja"
Barnes menoleh ke Amanda, "Ayo obati kok malah bengong lagi"
Amanda tersentak kaget dan langsung bertanya, "Ta....tapi kalau aku pegang perut kamu, nggak akan kena denda, kan?"
Barnes meraup wajahnya dengan kasar lalu menatap Amanda dengan sangat tajam dengan wajah yang kembali datar dan dingin, "Emangnya aku matre kayak kamu. Aku nggak akan kenakan denda, ayok cepat obati!"
Amanda tersenyum lega lalu ia mulai membuka kotak P3K untuk mengeluarkan alkohol, obat merah, kapas dan perban anti air. Amanda membungkukkan wajahnya ke perut Barnes yang tergores kecil. Barnes seketika itu menyesali keputusannya menyuruh Amanda untum mengobati luka itu karena, hembusan napas Amanda yang mengenai kulitnya, membuat otak Barnes.kembali Travelling ke mana-mana. Barnes harus kembali menahan gairahnya yang kembali timbul akibat dari kelakuan polosnya Amanda.
Dan hembusan napas Amanda yang intens membelai kulitnya Barnes, membuat otaknya Barnes tidak bisa berpikir jernih untuk melarang bibirnya mengucapkan tanya, "Kau pernah berpacaran?"
Amanda menggelengkan kepalanya tanpa mendongakkan wajahnya karena ia masih sibuk mengobati luka kecil di perutnya Barnes.
Barnes mengutuk otaknya yang masih saja membeku sehingga tidak bisa menghentikan bibirnya untuk bertanya, "Berarti kau belum pernah berciuman?"
Amanda kembali menggelengkan kepalanya dengan ringannya. Amanda bagaikan seekor domba putih di penglihatannya Barnes, yang tidak menyadari kalau dirinya berada di depan seekor serigala buas.
__ADS_1
Barnes menengadahkan wajahnya ke atas untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya agar otaknya bisa kembali bekerja dengan normal dan waras namun, semua sia-sia ketika bibirnya kembali mengeluarkan kata tanpa rem, "Kata Jake, ciuman bisa membuat seseorang bisa mengingat kembali beberapa memori yang hilang"
Amanda tertegun bertepatan dengan tertutupnya luka di perut Barnes dengan perban anti air. Amanda seketika itu merinding tanpa sebab ketika ia mendengar ucapannya Barnes dan secara spontan ia mengangkat wajahnya. Napas Amanda langsung tercekat dan ia tersentak kaget untuk kemudian membeku, saat wajah dia berada dekat sekali dengan wajahnya tampannya Barnes. Barnes tanpa sadar, menggerakkan wajahnya semakin dekat dengan wajahnya Amanda hingga bibir dia dan bibirnya Amanda hampir saja saling menempel. Barnes menghentikan gerakannya untuk bertanya, "Maukah kau mencobanya?"
"A.......apa?" darah berdesir hebat dari ujung kepalanya Amanda sampai ke ujung kakinya dan jantungnya kembali berdebar-debar dua kali lipat dari yang sebelumnya. Bibir Barnes berada dekat sekali dengan bibirnya dan dia bisa merasakan panas napasnya Barnes.
"Berciuman. Maukah kau mencobanya?"
Seketika itu juga otak Amanda menjadi tumpul, seluruh pertahannya terbuka dan dia masih diam membeku.
"Aku anggap iya. Toh, kamu juga pernah menciumku waktu di perpustakaan kota"
Bagi Barnes, Amanda terasa manis dan seperti perempuan hangat sekaligus liar. Barnes merasa menyesal telah nekat mencium Amanda ketika ia merasakan seperti mencium gadis sekolahan yang sama sekali belum berpengalaman tapi, ia tidak mampu menghentikan ciumannya.
Merasakan ketertarikan yang lebih pada Amanda yang masih polos dan minim pengalaman membuat Barnes semakin menggila. Dia mencoba menggoda Amanda dengan lidahnya. Cinta pertamanya Barnes itu memiliki bibir yang sangat mengagumkan dan membuat Barnes semakin memperdalam ciumannya.
Dengan napas bergetar, Amanda membuka mulut dengan ragu dan Barnes langsung menyelipkan lidahnya di sana. Barnes memegangi kepala Amanda dengan dua tangan dan memosisikan diri lebih dekat lagi dengan Amanda lalu menarik Amanda hingga duduk di atas pangkuannya. Kemudian dengan lembut Barnes menjelajah Amanda yang sangat manis
Amanda mengerang, bergairah dan menerima, tetapi tidak terlalu.......berpartisipasi karena, Amanda hanyalah secarik kertas polos dalam hal itu, masih nol dan benar-benar bodoh dalam hal itu.
Barnes lalu memundurkan wajahnya sedikit untuk memandang Amanda. Kedua matanya Amanda masih terpejam, cuping hidungnya mengembang lalu tanpa Amanda sadari, tubuhnya kemudian bersandar ke tubuh Barnes, merona dan seakan-akan siap meledak.
__ADS_1
Hanya karena ciuman sesaatku, dia menjadi serapuh ini? batin Barnes.
Perlahan bulu mata Amanda yang tebal dan lentik terangkat dan menampakkan matanya yang membelalak. Amanda langsung bangkit dari atas pangkuannya Barnes lalu ia menatap Barnes sambil berdiri dengan sorot mata penuh tanda tanya.
Barnes seketika itu menyesali perbuatannya dan mengutuk resepnya Jake yang membuat dia nekat mencoba mencium Amanda dan jika resep Jake tidak membuahkan hasil maka Barnes berencana akan membuat perhitungan dengan Jake. Barnes lalu mengeluarkan tanya, "Kau merasakan sesuatu? ingat sesuatu?"
Amanda menghelengkan kepalanya dengan bergetar kakinya dan Barnes bisa melihatnya. Barnes Maafkan aku! Duduklah dulu, kita perlu bicara!"
Suara lembut namun, tegas yang keluar dari mulutnya Barnes membuat Amanda duduk di sampingnya Barnes. Barnes lalu memutar badan untuk bisa berhadapan dengan Amanda dan kemudian berkata, "Aku akan bertanggung jawab atas kekurangajaranku tadi. Kau boleh menamparku dengan keras. Emm, itu kulakukan karena, aku ingin kamu bisa mengingat kembali masa lalu kamu dan mengingatku"
Amanda masih berusaha mengatur napas lalu ia bertanya, "Kenapa kau begitu ingin aku mengingatmu? bagaimana kalau kau salah? bagaimana kalau aku bukan teman Amanda yang kamu cari selama ini dan......."
"Kamu Amandaku. Aku sudah mencari tahu soal kamu" Barnes berkata tegas dengan kedua pipi berkedut, menandakan kalau ia serius dengan ucapannya.
Amanda mencoba untuk bersikap keren di depan Barnes. Dia tidak ingin Barnes menilainya sebagai gadis polos untuk itu dia kemudian mengucapkan kata yang tidak sesuai dengan kata hatinya, "Lupakan saja! Aku memaafkanmu tapi kau harus bayar denda!" Amanda membuka telapak tangan ke Barnes, "Kau sudah mencium bibirku dan harus bayar denda sebanyak lima ratus ribu rupiah"
Barnes langsung tampak kecewa dan kesal. Dia ingin Amanda mengucapkan kata yang lembut, penuh cinta, penyesalan atau sesuatu yang romantis yang bisa menggetarkan hatinya tapi, perempuan itu justru memintanya membayar denda.
Barnes mengatupkan gerahamnya dan sambil terus menatap Amanda dengan kesal, dia mengambil dompet dari saku belakang celana dinasnya, membuka dompet itu dan mengeluarkan uang lima ratus ribu rupiah. Ia meletakkan uang itu di atas telapak tangannya Amanda dnegan kesal lalu ia mengambil kemejanya, bangkit dan pergi meninggalkan Amanda begitu saja.
Amanda menatap punggungnya Barnes dengan heran dan bergumam, "Kenapa ia tampak kesal dan marah kepadaku ya? Ah, bodo amat! yang penting aku dapat uang, hihihihi"
__ADS_1