Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Bergerak


__ADS_3

"Sial! Siapa yang sudah berani menculik putri kesayanganku?" Barnes Adiwilaga Darmawan menggebrak meja.


Jake menepuk pelan pundak Barnes sambil berkata, "Bryna dan Manda sudah menemukan lokasinya. Mereka pergi ke sana bareng Hemi. Noah juga aku rasa udah sampai duluan di sana. Fokuslah pada misi kita di sini! Aku yakin Tari dan Dito akan pulang ke rumah dalam keadaan selamat dan baik-baik saja"


"Amin" Sahut Barnes sembari menghela napas berat.


Silvia menautkan alisnya saat ia masuk ke dalam ruang kerjanya Nehemia, "Di mana pria tampan pujaan hatiku? Kenapa ia keluar kantor nggak kasih tahu aku? Aku ini, kan, sekretarisnya" Silvia langsung menelepon asisten pribadinya Nehemia, "Halo, di mana Bos kamu?"


"Ada di kantornya" Sahut asisten pribadinya Nehemia.


Klik! Silvia mematikan sambungan telepon itu dan sambil menggenggam erat ponselnya ia bergumam, "Kau ke mana saat ini, Hemi? Kenapa ponsel kamu, kamu matikan? Dasar brengsek!"


Para penculik menyetel radio di gelombang yang menyiarkan musik dangdut dengan cukup keras. Sepuluh pria bertampang garang dan bertato itu kemudian bergoyang,.bercanda ria, minum-minuman keras sambil bermain kartu.


Batari bisa mendengar musik dangdut itu dari kamar ia disekap. Wanita cantik dan imut istrinya Noah Baron itu langsung menoleh ke belakang lalu menunduk sambil berkata di dalam hatinya, kalau aku benturkan bangku lapuk ini ke tembok uang ada di belakang, pasti bangku ini akan remuk dan aku bisa bebas. Kenapa penculiknya bodoh sekali? Mereka mengikat badanku di bangku alih-alih.engikat kedua pergelangan tanganku di belakang. Aku harus lakukan sekarang mumpung mereka masih asyik menikmati Dangdut is the music of my country.


Batari mengangkat tubuhnya yang otomatis membuat kursi yang terikat erat dengan tubuhnya ikutan terangkat naik. Batari langsung membenturkan bagian belakang kursi ke tembok yang berada tidak jauh di belakangnya. Brak!!!!!! Bagian belakang kursi yang terbuat dari kayu biasa yang sudah mulai lapuk itu hancur dan Batari jatuh terguling ke samping dengan posisi paha masih terikat di bangku.


Dengan cepat Batari membebaskan kedua lengannya dari tali yang sudah tercerai berai dan longgar karena bangku bagian belakang telah remuk. Lalu putri tunggalnya Barnes Adiwilaga Darmawan itu, langsung membuka ikatan tali di paha dan kakinya. Setelah semua ikatan di badannya berhasil ia lepas, ia menegakkan badannya untuk menarik lakban di mulutnya.


Batari kemudian merangkak untuk menolong Dito yang masih terikat sama persis dengan. dirinya di beberapa menit yang lalu dan Dito masih pingsan.


Wanita cantik yang cerdas itu segera menggelung rambut panjangnya lalu membuka semua ikatan di badan Dito. Saat Dito ambruk ke dalam pelukannya, Batari melepas pelan lakban di mulut Dito sambil berbisik, "Dito bangun! Kita harus cepat pergi dari sini. Dito"

__ADS_1


Dito membuka pelan kedua mata lentiknya uang mungil lalu ia menatap Batari dengan wajah bingung, kemudian ia bertanya, "Kenapa kita ada di sini, Tante? Udah selesai main petak umpetnya? Tadi, aku sembunyi di balik pohon alpukat madu, kok sekarang bisa ada di sini?"


Baterei tersenyum geli melihat wajah polos dan pertanyaan lugunya Dito, lalu ia berucap, "Kamu harus Tante gendong di punggung. Naiklah ke punggung Tante!"


Dito segera bangun dan berjalan cepat ke belakang dan melompat naik ke punggungnya Batari.


Batari kemudian bangkit berdiri dan berkata, "Bagus! Kamu harus pegang erat Tante! Jangan lepaskan! Tante akan bawa kita pergi dari sini"


Namun, tiba-tiba Batari memegang perutnya dan berkata, "Kenapa perutku terasa aneh?"


"Apa Tante sakit? Aku akan turun dan......"


"Jangan turun! Kita harus segera keluar.dari sini?" Pekik Batari sembari meringis menahan rasa sakit yang aneh di perutnya.


"Ssssttt! Kita sudah keluar. Jangan berisik! Tante akan coba intip ada berapa orang di luar sana" Bisik Batari sembari berjalan mengendap-endap dan menggendong Dito di punggung.


Sial! Ada dua puluh orang lebih ternyata dan beberapa di antara mereka membawa senjata api. Gumam Batari di dalam hatinya saat ia mengintip dari balik pintu yang sebelah tertutup dan sebelah lagi terbuka.


Batari lalu memandang ke depan, dan sepertinya tidak ada orang di dalam rumah. Semuanya ada di luar.


Batari kemudian berjongkok dan meminta Dito turun dari punggungnya sembari berkata, "Tante akan lawan mereka. Kamu sembunyi di balik sofa itu, ya?! Tante pikir mereka cuma sedikit dan ternyata mereka banyak sekali. Mereka juga bersenjata api,.Tante takut kalau Tante nekat gendong kamu di punggung Tante, kamu akan kena tembak"


Dito mengelus pipinya Batari dan berkata, "Aku bisa rasakan detak jantungnya Om Noah. Om Noah ada di dekat kita Tante. Jadi, kita di sini aja. Kita nggak usah keluar! Dan aku rasa lima belas menit lagi, Oma Manda dan Oma Bryna akan sampai di sini"

__ADS_1


Batari tertegun menatap Dito.


Dito kembali mengusap pipi Batari denah. tangan mungilnya dan sambil tersenyum manis ia berkata, "Aku bisa merasakan detak jantung orang yang aku sayangi"


Batari langsung memeluk Dito dan berkata, "Makasih kamu juga sayang sama Oma Manda dan Oma Bryna"


"Hmm" Dito mengelus punggungnya Batari.


"Tapi, tetap saja Tante nggak bisa tinggal diam. Saat ini, Om Noah pasti datang sendirian. Jadi, kau harus tetap sembunyi di sofa dan Tante akan bantu Om Noah melawan mereka. Jangan keluar kalau Tante belum menghampiri kamu, oke?"


"Oke. Tante ati-ati, ya?! Sahut Dito.


Batari melepaskan pelukannya dan sambil tersenyum manis, ia tersenyum ke Dito. Lalu, anak laki-laki berambut gondrong dan tampan itu berlari ke balik sofa dan berjongkok diam di sana.


Noah berhasil meringsek masuk dan melumpuhkan tiga orang yang berjaga di depan tanpa mengeluarkan suara. Lalu, ia bersembunyi di balik pohon untuk melihat situasi dan memikirkan langkah selanjutnya.


Batari kemudian berlari pelan dan membuka pintu samping rumah itu tanpa mengeluarkan suara. Dia memilih keluar dari Sarah samping untuk menyerang para penculik dari arah samping sembari mencari apa saja yang bisa ia jadikan senjata di samping rumah itu.


Setelah mengambil sapu dan mematahkan ujung sapu dengan kakinya, ia mengendap-endap dan berhenti di balik tembok. Ia melongok sedikit untuk memperhitungkan gerakannya. Karena, ia melihat ada banyak orang yang membawa senjata api berupa pistol kecil berwarna hitam yang terselip di pinggang mereka


Batari mencengkeram gagang sapu dengan kedua tangannya dan mulai berhitung sampai tiga dan di hitungan ketiga, saat ia akan melangkah keluar, istrinya Noah Baron itu memegang kembali perutnya yang terasa aneh. Ia kemudian mengelus perutnya dan berkata lirih, "Kamu jangan kelaparan di saat genting kayak gini! Oke!?" Wanita cantik itu lalu menghela napas panjang dan ia muncul dari balik dinding dan tanpa menunggu lama untuk berbasa-basi, ia segera melancarkan serangan ke semua pria yang tengah duduk di atas lincak (Bangku luas berbentuk persegi panjang yang terbuat dari bambu)


Noah Baron tersentak kaget saat ia melihat istri cantiknya muncul dan langsung menyerang. Noah dengan sigap menarik lepas pistol dari pinggangnya dan langsung menembak orang yang bersenjata api dan yang mengarahkan senjata api itu ke istri tercintanya di saat Batari tengah sibuk bergerak melakukan tendangan, pukulan gagang sapu, dan mendaratkan beberapa bogem mentah ke wajah pria jahat yang sudah berani menculiknya.

__ADS_1


__ADS_2