
Kelima lelaki gagah dan tampan dengan tipe wajah yang berbeda-beda itu masuk ke rumah besar nan megah dari gerbang depan dan dengan kelihaian mereka menembak juga bela diri yang di atas rata-rata ditambah tak kenal rasa takut, kelima pria yang memiliki ketampanan juga di atas rata-rata itu berhasil sampai di pintu utama tanpa mengalami luka sedikit pun.
Santo yang sudah mengetahui letak kamera CCTV dari drone kecil berbentuk lalat yang ia terbangkan tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Dia berhasil melumpuhkan semua CCTV yang ada di halaman depan pekarangan luas miliknya Steven Chan.
"Dia kaya dan hebat kenapa penjagaan di gerbang depan selemah ini?" Gumam Noah sambil mengedarkan pandangan.
"Karena dia membawa banyak pasukan untuk mengawalnya mengejar Cantika, Pa" Sahut Dito.
"Dan terima kasih kamu sudah melindungi Cantika dengan sangat baik dan terima kasih kamu sudah membuat Putriku sembuh dari sakau, Dito Putraku yang tampan"
Kelima lelaki tampan itu tersentak kaget dan sontak menoleh ke belakang secara bersamaan.
Saat mereka melihat siapa yang bersuara dan berdiri di belakang mereka, kelima pria tampan itu berputar badan dengan pelan kemudian mereka berempat ternganga secara bersamaan kecuali Angga karena Angga, belum pernah bertemu dengan Batari.
"Ma!" Dito dan Noah memekik kaget.
"Kenapa ke sini? Ini berbahaya dan......."
"Sial! Kita ke sana dulu. Kalau mengobrol di tempat terbuka begini kita bisa jadi dendeng rebus" Sahut Jorge sambil menunjuk ke sebuah pondok tua yang tertutup.
Semua kemudian berlari ke pondok itu dan masuk ke dalamnya. Jorge dan Santo berkata, "Aku dan Santo masuk ke dalam dulu. Kalian mengobrol sebentar tapi jangan lama-lama!"
Sepeninggalnya Jorge dan Santo, Angga bertanya ke Dito, "Ini adalah Mama........"
"Ini Mamaku dan Mamanya Cantika"
"Wah! Anda cantik sekali, Nyonya. Ah! Maaf, Om. Saya telah lancang memuji kecantikan Istri Anda, Om"
Noah menepuk pundak Angga dan berkata, "Santai saja. Aku sudah terbiasa mendengar ratusan, eh, ribuan cowok lain memuji kecantikannya Batari"
Batari langsung menepuk pundak Noah dan sambil tersenyum geli ia berkata, "Jangan lebay! Jangan dengarkan Suamiku, Nak! Papanya Tika emang suka lebay. Senang berkenalan denganmu"
Angga tersenyum dan berkata, "Senang berkenalan dengan Anda, Nyonya" Dan setelah membungkukkan badan, pria tampan itu membuka pelan pintu pondok sambil berkata, "Saya akan masuk ke dulu"
__ADS_1
Sepeninggalnya Angga, Batari memeluk Dito dan berkata, "Mama menempuh perjalanan sejauh ini karena Mama ingin bertemu dengan kamu dan Cantika. Mama ingin berkata ke kalian berdua kalau Mama merestui hubungan kalian. Setelah semua ini selesai maukah kamu melamar Putri Mama?"
Dito memeluk Batari dengan erat dan dengan genangan air mata di kedua pelupuk matanya, Dito berkata, "Dito siap melamar Cantika setelah semua ini selesai, Ma"
Batari kemudian melepaskan pelukannya, mencium pipi Dito dan berkata, "Oke! Sekarang kita masuk dan lumpuhkan Steven Chan!"
Noah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengekor langkah Batari dan Dito mengusap air mata yang turun di pipinya dengan cepat dan tersenyum penuh syukur.
Akhirnya Mama merestui aku dan Cantika. Aku akan segera menikah dengan Cantika. Terima kasih, Tuhan. Batin Dito dengan senyum semringah.
"Ma! Mama membuntuti Papa, ya selama ini?"
"Hmm" Sahut Batari dengan senyum santai.
Dito menyeringai dan lelaki bertubuh besar itu tersentak kaget dan meraih senjata yang ada terselip di pinggangnya untuk menembak Dito, tetapi Dito tidak membiarkan pria itu melakukannya Dalam satu gerakan yang mengalir cepat, pisau kesayangan Dito keluar dari sarungnya, terlempar dari sarungnya, dan menancap di pundak pengawal pribadinya Steven Chan. Lelaki besar itu berteriak kesakitan dan menjatuhkan pistolnya Beberapa detik kemudian Dito melesat maju dan berhasil menggelungkan lenangnya di leher kokoh lelaki besar itu. Lengan kanan Dito melilit ketat leher kokoh pria bertubuh besar itu, kepalan bogem mentah Dito siap melayang di wajah pria berbadan besar itu. Dito hanya perlu bergerak sedikit untuk memancing lolongan putus asa targetnya.
"Masuk ke dalam dan hubungi Bos kamu!"
Sementara itu, Noah dan Batari tengah berdebat, "Astaga, cukup! Kamu selalu saja salah langkah, Sayang" Pekik Batari kesal.
"Oh! Jadi, mulai membahas soal jumlah, nih. Oke! Lihat saja aku akan .....hmppthhhh"
Noah langsung membungkam bibir Batari karena kesal bercampur kesal. Setelah melepaskan bibir ranum istri cantiknya itu, Noah menempelkan keningnya di kening Batari dan berkata, "Jangan lakukan yang ada di benak kamu!"
"Emang kau tahu apa yang ada di benakku?" Batari bertanya dengan tersenyum jahil.
"Pokoknya jangan! Oke?!" Noah menggandeng tangan Batari dan Batari langsung berkata, "oke"
"Nah! Sekarang kita menuju ke mana?Koridor di sebelah kanan ada empat ruangan kecil dan di kiri ada dua ruangan kecil. Lewat mana?" Batari menoleh tajam ke Noah.
"Aku dari tadi kau katakan salah pilih jurusan. Maka sekarang kau yang tentukan kita akan lewat mana. Asal kau jangan jauh dariku" Sahut Noah.
"Kiri" Sahut Batari.
__ADS_1
"As you wish Madam Baron" Sahut Noah.
Angga bergerak sendiri dan dia mulai mengumpat kesal pada dirinya sendiri, "Keputusan pengecut. Kenapa kau nggak pilih lorong besar tadi. Kau pilih jalan yang salah lagi, kan, Angga, sial!" Saat pria tampan itu dihadang dua puluh pria bersenjata tajam dengan aneka bentuk dan ukuran.
"Yeaaahhh, paling nggak mereka tidak membawa senapan mesin. Sial!" Gumam Angga sambil melesat maju"
Jorge dan Santo yang sedang akur tampak asyik berjongkok di sudut persembunyian mereka. Mereka berencana masuk ke aula besar dengan perencanaan yang lebih matang karena dari drone kecil yang Santo terbangkan, di aula besar itu terdapat ratusan pasukannya Steven Chan yang bersenjata api.
Saat Santo tengah asyik membuat bom dadakan, Jorge yang tengah berjaga di sekitar Santo dengan sikap waspada tiba-tiba terkejut geli
"Kenapa kau tertawa?" Santo menoleh kesal ke Jorge.
Jorge yang masih tekekeh geli menoleh ke belakang sambil berkata, "Baru kali ini kita akur seperti ini dan justru ini terlihat lucu bagiku"
"Sial!! Kau memang gila Om Jorge" Sahut Santo dengan mendengus kesal dan Jorge kembali terkekeh geli.
Cantika tengah membantu di kafenya Dito.Larangan Doni tidak digubris oleh Cantika.
"Jangan turun dan muncul di kafe! Kau harus sembunyi. Kalau kau turun makan bos akan membuatku jadi pepes udang" Ucap Doni.
"Kalau kau melarangku, aku yang akan membuatmu jadi pepes udang saat ini juga" Sahut Cantika dengan mendelik kesal. "Aku bosan nggak ada kerjaan"
Doni hanya bisa menghela napas panjang dan membiarkan Cantika melakukan semua yang Cantika mau.
Dalam hitungan menit saja, wanita cantik itu membuat kafe Dito menjadi semakin ramai karena wanita cantik berbola mata biru dan bertubuh ramping berisi yang pas itu, melayani pelanggan dengan ramah dan baik.
"Pelayannya cantik banget" Sahut salah seorang pria yang makan di kafenya Dito.
"Iya, aku udah ambil foto dia dan mempostingnya di media sosial milikku" Sahut salah seorang pria yang lainnya.
Dan, tindakan Cantika benar-benar membuat kekhawatirannya Doni terwujud. Postingan di media sosial dari banyak pelanggan yang datang di kafenya Dito soal pelayan kafe yang sangat cantik sampai di anak buahnya Steven Chan.
Setelah mendengar kabar bahwa Cantika ada di kafe tersebut, Steven Chan langsung berkata, "Putar balik!"
__ADS_1
"Bos, tapi markas kacau balau saat ini"
"Kalau kita tidak putar balik hatiku yang kacau balau. Kau mau aku pecat kalau hatiku kacau balau terus kayak gini! Putar balik! Kita jemput dulu Bidadariku itu" Pekik Steven Chan.