Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Amanda Kecewa


__ADS_3

Barnes kembali meminggirkan mobilnya saat ponselnya yang dia letakkan di dashboard berbunyi sangat nyaring dan di layarnya muncul nomer markas besarnya.


Barnes mengelus pipinya Amanda, "Sarapan aja dulu! Aku mau menerima telepon dulu. Dari markas besar"


Amanda tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Barnes mencabut ponselnya dari dashboard dan sambil melompat turun dari dalam mobilnya, dia mengangkat panggilan telepon itu. "Halo, saya Barnes Adiwilaga Darmawan. Dengan siapa saya berbicara saat ini?"


"Aku Jendral Bayu. Aku penggantinya Jendral Teguh. Aku pimpinan kamu yang baru"


"Siap!" Barnes langsung berdiri tegak. "Ada perintah apa, Jendral?"


"Kasus pembunuhan Broto Dirgantara, nama asli dari korban pembunuhan yang ada di perumahan Delima nomer lima. Dia adalah agen rahasia. Kemungkinan besar, musuh bebuyutan kita, telah mencium langkah kita oleh karena itu, dia dibunuh. Istri dan anaknya diculik untuk mengundang kita masuk ke lingkaran mereka. Kita harus berhati-hati dalam melangkah mulai dari sekarang"


"Ada perintah apa, Jendral?"


"Kamu dan tim kamu, akan aku tugaskan ke Jepang selama tiga bulan mulai hari ini"


"Maaf Jendral! Apakah boleh saya meminta waktu sehari saja karena besok, keluarga saya pulang dari Amerika" sahut Barnes.


"Oke! Sehari saja dan malamnya, kamu dan tim kamu harus segera berangkat"


"Siap Jendral!"


Klik! Jendral Bayu memutus sambungan ponselnya dengan Barnes.


Barnes memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya lalu berlari kecil untuk masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Aaaaa! nasi goreng buatan Matt, enak banget Sayang!" Amanda mengulurkan sendok plastik berisi nasi goreng ke mulutnya Barnes.


Hap! Barnes memajukan wajah tampannya untuk menerima satu sendok nasi goreng itu.


Kedua mata Amanda mengerjap ceria dan tersenyum lalu berkata, "Enak, kan?"


"Hmm! Aku udah hapal masakannya Matt. Matt memang jago memasak"


"Dan kamu?" Amanda memberikan suapan kedua ke Barnes saat ia melihat mulut Barnes telah kosong.


Barnes terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Andai kamu bisa memasak, pasti akan sempurna. Udah tampan, gagah dan berani, tegap, setia, mencintai Istrinya, bertanggung jawab, dan bisa memasak, Wah! pasti akan sangat sempurna" Amanda berucap sembari memberikan suapan ketiga ke Barnes


"Aku akan belajar memasak kalau kamu menyukai pria yang bisa memasak" sahut Barnes.


Amanda terkekeh geli, "Aku cuma bercanda. Aku kan juga nggak bisa masak. Ada Pak Samin juga jadi, nggak usah belajar masak. Kau sudah sangat sibuk" Amanda melambaikan telapak tangannya di depan Barnes.


"Tapi aku akan tetap melakukannya. Aku akan belajar memasak demi kamu" Sahut Barnes sambil mengelus rambutnya Amanda.


Saat Amanda memberikan suapan keempat, Barnes menggelengkan kepalanya dan sambil memasang sabuk pengamannya, ia berkata, "Sudah cukup. Kita harus segera pulang"


"Pulang? Ke rumahmu?" tanya Amanda sambil meletakkan wadah makan di tempatnya semula lalu memasang sabuk pengamannya.


"Rumah kita" Sahut Barnes.


"Iya rumah kita. Tapi, kenapa kita nggak ke rumah Om-ku dulu?"


"TKP sudah ditangani oleh pihak yang berwenang. Percuma jika kita ke sana. Kita tunggu laporan dari forensik saja"


"Tapi, bagaimana dengan Tante dan Laura?"


"Mereka diculik. Aku akan ceritakan nanti setelah kita bertemu dengan semuanya" Sahut Barnes.


"Kau bisa baca pikiranku ya, sekarang?" Barnes menoleh sekilas ke Amanda dengan senyum semringah. Barnes memang selalu merasa iri pada semuanya karena Amanda bisa membaca pikiran semuanya dan hanya dirinya yang pikirannya tidak bisa terbaca oleh Amanda.


Amanda menggelengkan kepalanya ke arah Barnes. Dia memandang wajah suaminya yang sangat tampan dari arah samping dan berkatalah ia, "Aku tidak bisa membaca pikiran kamu tapi, aku bisa membaca wajah kamu"


Barnes menoleh sekilas ke Amanda sambil terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, Kemudian komandan tampan itu berucap, ""Iya kamu benar. Besok malam, aku dan the five Jays akan berangkat ke Jepang"


"Berapa lama?"


"Tiga Bulan"


"Dan selama itu, kamu nggak bisa nyolong waktu untuk pulang barang sehari atau dua hari?" Amanda menatap wajah sampingnya Barnes dengan sorot mata penuh harap, Barnes akan menjawab bisa.


Namun, gelengan kepalanya Barnes yang Amanda terima.


Amanda lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan sambil menghela napas panjang.


Barnes menoleh sekilas ke Amanda lalu mengelus kepalanya Amanda, "Maafkan aku. Katanya aku harus selalu berkata jujur sama kamu"

__ADS_1


Amanda meraih tangannya Barnes yang masih bertengger di atas kepalanya. Dia turunkan tangan itu untuk ia genggam dan berkatalah dia, "Apa pekerjaan kali ini, penuh bahaya?"


"Hmm. Pekerjaanku selalu penuh dengan bahaya. Kenapa? Apa kau keberatan?"


Amanda menggelengkan kepalanya. Dan sambil memainkan jari jemari tangan kirinya Barnes, ia berucap, "Aku kan sudah berkata kalau aku tidak keberatan dengan pekerjaan kamu. Aku sudah berkata Yes, I Do! Mister Polisi, itu berarti aku harus menerima kamu seutuhnya, kan?"


Barnes melirik Amanda sambil bertanya "Lalu kenapa kau tampak sedih?"


"Tentu saja aku akan sedih. Aku belum pernah berpisah dengan kamu selama itu. Kita juga baru saja menikah. Katanya kita akan menggelar resepsi lalu berbulan madu. Aku kan ingin segera memiliki Barnes kecil. Tapi, kenapa sekarang, aku malah menerima berita kalau kau akan pergi ke Jepang selama tiga bulan"


"Maafkan aku. Aku terpaksa menunda resepsi kita lagi"Barnes berkata lirih penuh penyesalan. "Dan jangan menangis!" Barnes langsung melirik Amanda.


"Akut tidak akan menangis. Seorang Istri dilarang menangis saat suaminya akan pergi berdinas. Itu akan membuat suaminya terbebani" Amanda mencium punggung tangannya Barnes.


Barnes menghela napas panjang laku berkata, "Aku akan secepatnya menyelesaikan tugas di Jepang dan kembali padamu dalam keadaan utuh. Lalu kita akan menggelar resepsi kita dan benar-benar berbulan madu. Kita akan lembur untuk menghadirkan Barnes kecil di pangkuan kamu, hmm?"


Amanda menoleh ke Barnes dengan senyum manisnya. "Dan bagaimana dengan Papa, Mama, juga Prince? Mereka pulang kan, besok? Kamu akan meninggalkan mereka begitu saja?"


"Mereka sudah terbiasa dengan duniaku. Lagian ada kamu dan Bryna. Kamu dan Bryna bisa menjaga mereka untukku" sahut Barnes.


Amanda lalu menoleh dengan wajah penuh harap ke Barnes, "Apa aku dibolehkan untuk mengunjungi kamu di Jepang?"


"Nggak bisa.Aku akan berpindah-pindah tempat jadi, tidak bisa dikunjungi"


Amanda yang masih menggenggam tangan kirinya Barnes, mengerucutkan bibirnya dan mengalihkan pandangannya ke depan dengan helaan napas panjang"


Barnes melirik Amanda dan kembali berkata, "Maafkan aku, Sayang"


"Yes, Mister Polisi! Aku memaafkanmu"Amanda menyahut dengan nada kesal.


"Kamu marah ya?" Barnes melirik Amanda.


"Aku nggak marah. Cuma......entahlah. Aku juga nggak ngerti dengan apa yang aku rasakan saat ini" Sahut Amanda.


Barnes hanya bisa melirik Amanda dengan menghela napas panjang karena dia memang tidak pandai membujuk wanita kalau sedang merajuk. Barnes diam dan memutuskan untuk fokus menyetir.


Amanda melepaskan tangan kirinya Barnes sambil berkata, "Mengebutlah kalau kau ingin mengebut. Aku sudah bebaskan tangan kamu"


Barnes melirik Amanda dengan senyum tipis lalu ia menambah kecepatan laju mobilnya menuju ke rumahnya di mana semuanya telah menunggu kedatangannya dan Amanda.

__ADS_1


__ADS_2