
"Aku nggak mau melakukannya di sini, Babe. Walaupun aku sangat ingin menerkam dan memakan kamu saat ini juga"
"Apa perlu aku yang melompat ke pangkuan kamu untuk menerkam dan memakan kamu lebih dulu?" Cantika mengerling manja dan tersenyum penuh arti dengan tatapan menggoda.
Dito terkekeh geli dan berkata, "Kau ingin menyerangku, Babe?"
"Hmm" Sahut Cantika dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
"Aku sangat ingin berkata, coba saja. Tetapi, kita masih perlu waspada saat ini" Dito berucap sembari mengusap lembut bibir Cantika dengan ibu jarinya dan terus mengamati wajah Cantika, melihat bibir wanita cantik pujaan hatinya itu sedikit terbuka saat bernapas lebih dalam dan bebas.
"Lalu, kapan? Apa aku sudah tidak menarik lagi bagimu, Dito? Selalu saja kau beralasan setiap kali aku ingin meminta lebih dari sekadar ciuman"
"Oh, astaga! Babe, kamu lebih dari sekadar menggoda. Kamu itu napas hidupku. Di saat aku menjauhkan diri dari kamu, aku merasakan sesak napas dan jantungku berdebar kencang seakan mau lepas dari tempatnya. Bahkan saat ini pun aku tidak bernapas dengan lancar. Bagaimana denganmu, Babe?"
"Aku bisa bernapas dengan lancar"
"Kau memang spesial. Untuk itulah aku sangat mencintaimu" Dito masih mengusap lembut bibir Cantika dengan ibu jarinya.
"Lalu, kapan?"
Dito mengusap rambut Cantika dan berkata dengan suara serak menahan gairah, "Secepatnya Babe, aku janji secepatnya"
Steven Chan membakar pondoknya Dito saking marahnya karena ia tidak menemukan Cantika di sana. Pria berwajah tampan, namun berhati bengis itu kemudian bergegas masuk kembali ke dalam mobil dan pergi dari sana saat anak buahnya berisik, "Anak buah kita menemukan Dito dan kemungkinan Dito bersama.Cantika di daerah lembah Sunyi, Bos"
"Percepat laju mobil ini, brengsek! Kenapa.kau selalu melajukan mobil ini seperti laju siput? Aku nggak mau kehilangan Cantika lagi!" Steven Chan memukul pelipis supir pribadinya dengan ujung pistol.
"Baik, Bos" Sahut supir itu sembari mendesis kesakitan.
"Sepertinya kita sudah aman, Babe. Kita cari tempat nyaman untuk singgah dan kita lanjutkan pembicaraan kita ini lebih dalam lagi" Ucap Dito sembari melajukan mobil.
"Lebih dalam lagi?" Tanya Cantika dengan nada penuh antusias.
"Hmm" Sahut Dito sembari terus mengemudi, dan tidak ada sedikit pun tanda-tanda mobil yang membuntuti mereka. Tatapan Dito tetap berkeliling di area itu, siaga, waspada. Pertanyannya kemudian terdengar seperti baru terpikir saat itu juga, "Kau pernah memakai benda-benda itu?"
"Benda-benda apa maksud kamu?"
"Lingerie seksi, pakaian dalam unik, seperti yang aku berikan ke kamu waktu kamu berada di istanaku dulu?"
"Kamu! Kenapa kamu memikirkan soal itu saat ini, hah?! Dasar otak mesum!" Cantika mendelik ke Dito dengan wajah merona malu.
__ADS_1
"Hei! Ini bukan hal mesum. Ini percakapan dewasa dan perlu untuk kita bahas untuk melepas ketegangan saat ini"
"Aku nggak mau menjawabnya" Cantika langsung melengos dengan nada kesal.
Dito melirik Cantika sambil mengulum bibir menahan geli. Lalu, pria tampan itu berkata, "Aku sudah menyiapkan beberapa untuk kamu, Babe"
"Hah?!" Cantika sontak menoleh ke Dito dengan ekspresi kaget. Lalu, wanita itu kembali melengos dan berkata, "Dasar otak mesum"
"Ini bukan otak mesum, tetapi ini aku lakukan karena aku peduli sama kamu"
"Cih! Peduli apa"
"Aku belikan pakaian dalam dari bahan katun yang nyaman agar kau nyenyak tidurnya. Aku, kan, Kakak yang baik. Kakak yang selalu memperhatikan adiknya"
"Yeeeaahh, terserah kau saja, Dito Zeto!"
Ketika sudah sampai di jalan utama lagi, Dito memilih masuk ke jalan-jalan sempit daripada kembali ke jalan bebas hambatan. Kemudian Dito mengemudi dengan sebelah tangan dan, dengan tangan satunya, dia mengulurkan tangan ke lutut Cantika, "Kau tambah menggemaskan kalau marah kayak gitu, Babe"
"Cih! Dasar gila!" Sahut Cantika.
"Tapi, kau lebih menyukai kegilaanku daripada kewarasanku, kan, Babe"
Dito sontak melepaskan tawa renyahnya melihat tingkah konyolnya Cantika.
Dito kembali menyentuh lutut Cantika dan berkata, "Tidurlah! Rebahkan kepala kamu di jok mobil! Istirahatlah!"
"Hmm" Sahut Cantika sambil bergerak mengikuti sarannya Dito.
Kemudian mereka berkendara sambil membisu selama beberapa saat dan Cantika berpikir, apa Mama sudah merestui kami berdua? Kenapa Dito membahas soal itu dan bahkan membeli pakaian dalam untukku? Cantika masih malas membuka mata dan menegakkan kepala. Ini hari yang panjang dan sangat kacau. Dan masih belum usai.
Setelah sekitar sebelas menit, Dito bertanya, "Kau tidur, Babe?"
"Tidak" Sudah sangat lama rasanya Cantika tidak menikmati tidur yang lelap sejak ia terkena cairan biru jernih terkutuk itu sehingga lupa seperti apa rasanya tidur lelap itu.
"Apa kau lapar?"
"Hmm. Dari tadi aku menahan lapar" Sahut Cantika sambil mengelus perut ratanya.
"Di depan ada kedai. Kita mampir di sana. Tapi, kalau terpaksa kita makan mie instan lagi, nggak apa-apa?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, kan, darurat juga. Yang penting perut tidak kosong" Sahut Cantika.
"Oke. Kita berhenti di kedai itu"
Beberapa saat kemudian, mereka duduk berhadapan dan menikmati mie instan rebus komplit pakai sayuran dan telur dengan lahapnya. Mereka seperti belum makan selama seminggu.
Dito mengamati wajah Cantika.
"Ada apa? Kenapa kau melihatku terus? Ada yang aneh di wajahku?"
"Apa kau sadar Babe?"
"Apa?"
"Kau memiliki warna rambut yang hitam kalau berada di dalam ruangan tapi kecoklatan kalau berada di luar ruangan. Alis kamu pun juga berwarna kecoklatan"
"Hmm. Aku fotokopinya Papa secara fisik, tetapi sikap Mama menurun ke aku sembilan puluh persen" Sahut Cantika.
"Aku setuju soal itu" Dito berucap sembari terus mengamati wajah Cantika.
"Kenapa kau masih menatapku, Dito Zeto?"
"Kau membuatku penasaran akan satu hal. Karena sebenarnya aku sudah lupa akan hal itu dan aku ingin memastikannya lagi"
"Apa?"
Dito menurunkan pandangannya ke pangkuan Cantika dan berbisik lirih, "Apa warna kecoklatan itu hanya ada di atas kepala dan alis kamu atau di tempat lain juga........."
"Hentikan! Kau mau aku kasih bogem mentah, ya, Dito Zeto!"
Dito sontak menggelegarkan tawa renyahnya dan berkata, "Aku suka melihatmu kesal seperti ini, Babe. Kau tahu, wajah kamu lebih menggoda dan menggemaskan saat kau kesal seperti ini, hahahahahaha"
Pletak! Sendok mendarat di kening Dito dengan cukup keras dan Dito langsung mengganti gelak tawanya dengan teriakan, "Aduh!" Dan sambil mengelus keningnya, pria tampan berbadan atletis itu meringis sembari bertanya, "Kenapa kau pukul jidatku pakai sendok? Sakit, nih!"
"Rasain! Salah sendiri kenapa dari tadi menggodaku terus. Aku akan pukul kepala kamu pakai bogem mentahku lain kali kalau kamu berani menjahili aku lagi" Cantika mencibir ke Dito.
"Kita pergi dari sini sekarang juga!" Dito langsung menarik tangan Cantika.
Saat mereka telah sampai di dalam mobil kembali, Dito langsung berkata, "Aku akan cari penginapan terdekat, Babe. Aku tidak sabar ingin memberimu hukuman karena sudah berani memukul jidat Kakak laki-laki kamu"
__ADS_1
"Siapa takut" Sahut Cantika.