Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Aku Panggil, Mas


__ADS_3

Barnes hendak terjatuh kembali di atas lantai dan Amanda langsung berlari untuk menyangga tubuhnya Barnes. Amanda lalu menuntun Barnes pelan-pelan untuk duduk di tepi ranjang. Ketika Amanda berbalik badan hendak mengambilkan Barnes sebotol air mineral dingin, Barnes menarik tubuhnya Amanda hingga membuat Amanda jatuh terduduk di atas pangkuannya Barnes. Barnes kemudian memeluk pinggang rampingnya Amanda dengan kedua lengannya dan menaruh wajahnya di punggungnya Amanda sambil berucap, "Aku hanya ingin bersandar seperti ini. Aku tidak ingin apapun, hanya ingin terus bersandar seperti ini"


Amanda menghela napas panjang dan mengelus lengannya Barnes. Amanda ingin mengeluarkan kata-kata untuk menghibur Barnes namun, ia tidak tahu harus berkata apa.


"Maafkan aku! Aku tanpa sadar, telah membuat hidupmu kacau balau"


"Kenapa kau malah menyalahkan dirimu, Mas?"


Barnes langsung membalik tubuhnya Amanda saat ia mendengar kata mas. Amanda masih duduk di pangkuannya Barnes dengan wajah berhadapan, "Kau menyebutku apa tadi?"


Amanda merah wajahnya saat ia berkata, "Mas. Aku ingin memanggilmu Mas mulai dari sekarang"


Barnes mengusap pipinya Amanda, mencium pipi itu dan berkata, "Aku beruntung memilikimu saat ini. Apa ini berarti kau sudah mencintaiku seperti aku mencintaimu?"


Amanda ingin menganggukkan kepalanya namun, semua persoalan yang ada akibat dari ulah pimpinannya Barnes yang sangat Barnes kagumi dan hormati itu, membuat Amanda masih menahan kata cinta keluar dari mulutnya. Amanda hanya bisa menatap Barnes dengan sorot mata sendu.


Barnes menghela napas panjang dan berkata, "Aku akan terus mengajarimu untuk bisa mencintaiku dengan cintaku yang tulus dan besar ini" Barnes kembali mengusap pipinya Amanda


Amanda tersenyum dengan kata di dalam hatinya, maafkan aku, Mas! Sesungguhnya aku sudah sangat mencintaimu tapi, aku tidak ingin membebani kamu dengan rasa cintaku ini dan aku sendiri juga tidak ingin terbebani dengan rasa cintaku ini. Aku ingin fokus pada balas dendamku dulu.


Barnes lalu membenamkan wajahnya di dada Amanda dengan berucap, "Aku lelah saat ini dan baru kali ini aku merasa putus asa"


Amanda mengelus kepala belakangnya Barnes dan berucap, "Kenapa kau memilih untuk menjadi polisi?"


"Itu karena kamu" sahut Barnes yang masih membenamkan wajahnya di dadanya Amanda.


Amanda masih mengusap kepalanya belakangnya Barnes dan dengan menautkan alisnya ia berucap, "Karena aku?"

__ADS_1


"Hmm! Amanda kecil selalu menyelamatkan aku dari para berandalan cilik yang sering mengganggu Barnes kecil kala itu. Lalu Amanda kecil pernah berkata, seorang laki-laki tuh harus kuat dan harus melindungi wanita bukan malah sebaliknya. Dari situ, aku kemudian bertekad untuk menjadi seorang polisi biar bisa melindungi wanitaku dan melindungi semua orang yang aku sayangi"


Amanda terkekeh geli lalu berucap, "Wah! Amanda kecil kurang ajar juga, ya? Berani dia sekate-kate sama Barnes Adiwilaga Darmawan. Maafkan Amanda kecil ya, Mas?!"


Tubuh Barnes terguncang karena tawa renyahnya. Lalu komandan tampan itu menarik wajahnya, ia memandangi wajah cantik istrinya dengan senyum lebar, kemudian ia berkata, "Aku harusnya berterima kasih pada Amanda kecil karena berkat dia, aku bisa menjadi seperti sekarang ini"


Amanda mengelus pipinya Barnes dan mengulas senyum manis, "Kalau begitu, Mas harus tegar dan kuat! Mas nggak boleh putus asa"


"Iya Sayangku" sahut Barnes.


Amanda menautkan alisnya mendengar kata sayang keluar dari mulut suaminya.


Barnes tersenyum lebar, "Kau sudah memanggilku Mas, bukankah wajar kalau aku memanggilmu, Sayang?"


Amanda merah wajahnya dan dengan spontan ia menyembunyikan wajahnya di dadanya Barnes. Barnes memeluk erat tubuh ramping istrinya dengan erat sembari menggemakan tawa renyahnya. Untuk sejenak, komandan tampan itu, bisa melupakan kegalauan hatinya.


"Duscha Igor namanya"


"Yeeaahh itu dia. Aku masih malas menyebut namanya karena ia sudah lancang memberimu mawar putih"


Amanda tersenyum lebar dan bertanya, "Kamu cemburu?"


"Tentu saja, aku cemburu!" Barnes menjawab tegas pertanyannya Amanda dan Amanda tertawa renyah mendengar kejujurannya Barnes.


Barnes mengecup bibirnya Amanda, "Tidurlah!" lalu ia menutup pintu balkon dengan rapat menutup tirainya dan melangkah keluar dari dalam kamarnya Amanda dan ia kunci kamar itu dari luar, dia menjadi lebih posesif terhadap Amanda dari sebelumnya setelah mengetahui banyak orang jahat yang ingin menyakiti Amanda dan itu bahkan orang terdekatnya.


Barnes, Jake dan Duscha kemudian melangkah ke sebuah ruangan yang cukup luas dan mewah. Bahkan di ruangan itu terdapat bar mini yang menampilkan jejeran botol anggur dalam berbagai warna, tahun dan bentuk.

__ADS_1


Jake duduk di tengah-tengahnya Barnes dan Duscha. Duscha berkata, "Silakan memilih anggur mana yang ingin kalian minum? Aku berbisnis anggur sebenarnya dan juga beternak kuda. Bisnisku legal tapi, gara-gara ingin menjebak Teguh, aku ikutan bermain narkoba. Tapi, untungnya aku cerdas, aku menyuruh asisten pribadiku untuk menjadi diriku di luar sana. Ini adalah rahasia kita bertiga"


"Rahasia kamu akan aman di tangan kami" sahut Jake sembari mengambil botol anggur yang berbentuk seperti botol tempat jin di film kartun Aladin. Lalu menuangkan anggur itu di gelas khusus untuk anggur yang terkesan sangat mahal dan memang sangat mahal. Jake menoleh ke Barnes, "Kau mau minum?"


Barnes tampak ragu namun, karena perasaan dan pikirannya sedang kacau balau, akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Jake menuangkan anggur ke gelas yang ada di depannya Barnes.


Sedangkan Duscha memilih botol anggur yang berwarna putih. Anggur yang ia tuangkan ke gelas di depannya pun berwarna putih. "Ini enak. Kalian bisa mencobanya" Dicha menggeser botol minuman yang ia pegang dan botol itu berhenti mendarat di depannya Jake.


"Siap dong. Kau tau kan, aku penggemar alkohol, hahahaha" Jake menggemakan tawanya dan Duscha ikutan menggemakan tawanya.


"Kau tahu Barnes, Nenek dan Kakek kamu, banyak memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga bagiku. Saat itu aku masih berumur sepuluh tahu dan kau masih berumur lima tahun"


Flashback On


"Mo! Ada anak diculik tuh!' Alfa menunjuk ke sebuah mobil Van di ujung kebun kopi mereka. Ada anak berambut merah meronta-ronta di dalam dekapan seorang laki-laki berbadan kekar dan berambut gondrong"


Moses menjawab acuh tak acuh, "Siapa tahu dia Papa anak itu dan........."


Alfa berlari disusul Maha. Moses menatap punggung keduanya dan berteriak, "Woooiiii! Kerjaan kita belum selesai nih!" Moses kemudian mengumpat, "Sial!" dan melemparkan keranjang yang berisi biji kopi, ke tanah begitu saja lalu ia berlari menyusul Alfa dan Maha saat ia melihat Alfa dan Maha dikepung oleh enam orang laki-laki bertubuh kekar.


Akhirnya Alfa, Maha dan Moses berhasil menyelamatkan anak laki-laki berambut merah itu. Ketiga pria berusia senja yang masih sehat, gagah dan sangat tampan itu, kemudian membawa anak laki-laki tersebut ke rumah besar mereka.


Melati dan Rini segera membersihkan anak laki-laki itu, merawat beberapa luka yang ada di tubuh anak laki-laki itu dan memberikan anak laki-laki itu makan


Anak laki-laki berambut merah itu kemudian makan bersama dengan dua anak yang berwajah sangat mirip Itulah awal perjumpaannya Duscha Igor dengan Barnes dan Bryna.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2