
Sial! Aku tidak menemukan celah sedikit pun untuk mendaratkan tendangan mautku. Ternyata Systema sangat hebat. Aku akan kalah jika terus menghindar seperti ini. Batin Barnes sambil terus melompat menghindari serangan laki-laki asing di depannya.
Duscha Igor mengentikan serangannya lalu ia menyeringai dan berkata, "Kau akan kelelahan jika terus menghindar seperti itu dan saat itu tiba, kau akan aku lumpuhkan dengan mudah"
Amanda masih mematung karena ia tertegun melihat kelincahan dan keindahan gerakan yang ditunjukkan oleh suami dan kakak laki-lakinya.
Barnes mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya lalu ia berucap, "Aku tidak akan pernah merasa lelah untuk melindungi Istriku"
"Istri? Siapa Istri kamu? Jangan bilang kalau......." Duscha menoleh ke kanan dan seketika itu juga ia mendapatkan anggukkan kepala dari Amanda.
Amanda lalu berlari untuk berdiri di tengah-tengahnya Barnes dan Duscha. Amanda menoleh ke Barnes dan menunjuk Duscha, "Dia kakak laki-laki yang baru aku kenal seminggu ini" Lalu Amanda menoleh ke Duscha dan menunjuk Barnes, "Dia suamiku. Kami belum lama menikah.
Hati Duscha bagai terhantam gada yang sangat besar. Dia menatap Amanda dengan sorot mata kecewa. Cintanya bertepuk sebelah tangan sebelum sempat ia nyatakan.
Duscha dan Barnes bersitatap tajam dalam kebekuan mereka.
Amanda bergantian melihat keduanya. Kemudian gadis berambut merah yang tampak indah setelah terawat dengan baik itu, berkata, "Suamiku bernama Barnes Adiwilaga Darmawan dan Kakak laki-lakiku bernama Duscha Igor."
"Kau Barnes Adiwilaga Darmawan? Kau lupa sama aku? Aku pernah dirawat oleh Nenek kamu. Nenek Melati Arumi Putri dan tinggal di rumah besar Kakek kamu, Moses Elruno selama berminggu-minggu dan diobati oleh Kakek kamu, Alfa Elruno. Kau ingat?" Kedua bola matanya Duscha Igor yang semula terhunus tajam menjadi berputar-putar ceria dan berbinar-binar saat ia mendengar nama Barnes Adiwilaga Darmawan.
Barnes menarik Amanda untuk ia peluk dan ia menatap Duscha masih dengan sorot mata tajam. Kemudian ia berucap, "Aku lupa dan aku tidak mau mengingatnya karena kau sudah lancang memberikan mawar putih ke Istriku tanpa ijin dariku"
"Hahahaha. Kau masih sama seperti dulu. Galak dan dingin. Apa kabarnya Bryna? Saudari kembarmu yang lebih ramah dari kamu? Melihatmu tumbuh setampan ini, Bryna pasti tambah cantik dan keren, kan? Aku ingin bertemu dengannya" Duscha terus mengulas.senyum lebar di wajah tampannya saking bahagianya bisa berjumpa kembali dengan teman masa kecilnya yang adalah cucu dari dewa penyelamatnya yakni Moses dan Alfa Elruno.
"Bryna baik-baik saja. Dia sibuk mengurus perusahaannya jadi, nggak bakalan ada waktu untuk bertemu denganmu" Barnes masih berkata dengan nada ketus karena masih terbakar api cemburu.
__ADS_1
Jake melompat naik ke pohon Alpukat madu yang menjulang kokoh ke atas sampai ke lantai dua sebuah balkon yang menghadap ke kolam renang dengan cepat setelah ia berhasil melumpuhkan tiga penjaga di sana.
Barnes, Duscha dan Amanda menoleh ke balkon dan mereka bertiga bersitatap dengan Jake.
"Jake! Apa kabar?" pekik Duscha dengan senyum lebar.
Jake mengelus tengkuknya dan berkata, "Aku baik-baik saja. Dan apa yang kau lakukan di kediamannya Duscha? di kamar ini? Kau bekerja di sini?"
Semua orang di luar sana memang belum pernah berhadapan langsung dengan Duscha. Mereka hanya mengetahui kalau Duscha adalah seorang pria paruh baya karena Duscha memang sering mengutus salah satu dari asisten pribadi kepercayaannya, seorang pria yang sudah berumur empat puluh lima tahun untuk menjadi dirinya di luar sana.
"Kau saling sapa dengan orang ini tapi, kau tidak tahu siapa dia? Di mana kau kenal dengan orang ini?" Barnes mendelik ke Jake.
"Dia pernah mentraktirku minum di sebuah bar lalu kita ngobrol di sana. Nama kamu..........Andrei, kan?" Jake tersenyum lebar ke Duscha dan Duscha langsung melepas tawa renyahnya melihat kepolosannya Jake.
"Hah?! What?! Dan hai rambut merah, apa kabarmu? Aku lihat kau baik-baik saja jadi, aku tarik lagi pertanyaanku, hehehehe. Kau juga tambah cantik" Jake memandangi Amanda dengan heran.
Amanda terkekeh geli lalu berkata, "Terima kasih udah bertanya Jake. Aku baik-baik saja dan terima kasih atas pujiannya.
"What!? Tapi, tunggu dulu! Kenapa kalian berada di sini? Kenapa si rambut merah baik-baik saja dan malah semakin terurus juga bertambah cantik di sini? Dia tidak seperti seorang tawanan yang.........."
Barnes menghela napas panjang melihat kenaifannya Jake dan Amanda langsung berucap sambil menunjuk Duscha, "Dia Kak Duscha Igor. Kakak laki-lakiku dan nama Andrei yang kamu ucapkan tadi adalah nama almarhum Papa kandungku, Andrei Igor"
Barnes langsung menoleh ke Amanda dengan sorot mata penuh dengan keterkejutan dan ia langsung menyemburkan tanya, "Lalu Pak Dirgantara?"
Amanda mengangkat wajahnya ke samping kanan untuk memandangi wajahnya Barnes dari arah samping lalu ia mengeluarkan suara, "Dia Papa sambungku. Aku dan Mamaku dititipkan pada Papa Dirgantara oleh Papa Andrei Igor karena, Papa kandungku, Andrei Igor, tersudut kala itu dan akhirnya, Papaku dibunuh oleh Jendral Teguh. Papa Dirgantara dan Mama kandungku pun juga dibunuh oleh Jendral Teguh"
__ADS_1
Jake langsung membuka pintu kulkas yang kebetulan ada di sampingnya. Ia ambil satu botol air mineral dan langsung menenggaknya sampai habis. Dia seakan berada di Padang gurun dan seketika itu pula tenggorokannya terasa sangat kering kala ia mendengar cerita mengejutkan yang keluar dari mulutnya Amanda.
Amanda menarik diri dari pelukannya Barnes lalu melompat ke depan untuk berdiri di sebelahnya Duscha Igor saat ia bisa merasakan Barnes sedikit meragukan ceritanya Sedangkan Barnes langsung mundur beberapa langkah sampai punggungnya membentur pintu lemari dan ia menatap nanar Amanda juga Duscha sambil terus menggumamkan kata, "Itu tidak mungkin"
"Dan yang berbisnis narkoba sebenarnya adalah Jendral Teguh. Aku hanya meladeninya untuk menjebak dan menangkap dia tapi, dia terlalu hebat ternyata. Sampai sekarang aku belum bisa menangkapnya dan bahkan dia berhasil membuatku menjadi yang diburu padahal seharusnya dia yang harus diburu"
Jake melemparkan botol air mineral ke dalam keranjang sampah mini yang terbuat dari plastik lalu ia meraup kasar wajahnya sebelum berucap, "Apa kau punya buktinya?"
Duscha menoleh ke Jake dan ia berkata, "Bukti mobil Teguh menabrak mobilnya Pak Dirgantara, hilang. Dicuri oleh seseorang dan aku yakin orang itu suruhannya Teguh. Yang membunuh di hotel The Rain juga orang suruhannya Teguh kalau itu aku ada buktinya dan aku masih menahan orang yang menyuntikkan racun ke orang suruhanku itu. Kau bisa menanyainya, di ruang bawah tanahku" sahut Duscha Igor.
Amanda masih bersitatap dengan Barnes dan ia berkata, "Kak Duscha Igor juga punya bukti saat Jendral Teguh menembak Papa kandungku, Andrei Igor"
Barnes merasakan kakiku serasa tak bertulang, ia merosot ke bawah dan terduduk lemas di atas lantai marmer bernuansa pink yang merajai kamarnya Amanda Kepala Barnes terasa pening seketika bagai terhantam gada yang sangat besar dan ia menatap Amanda dengan penuh penyesalan.
Jake lalu mengaktifkan kembali alat komunikasi yang terpasang di telinganya untuk menghubungi Jude, "Jude, bilang ke pimpinan penembak jitu untuk mundur! Aku tidak menemukan keberadaannya Amanda dan Duscha Igor di sini"
Duscha dan Amanda menautkan alis mereka ke Jake. Jake menaruh jari telunjuk di atas bibirnya dan melanjutkan ucapannya, "Barnes aman. Aku dan Barnes akan keluar sebentar lagi"
"Siap Mister Jake!" Jude langsung berlari untuk melaksanakan perintahnya Jake.
Barnes masih terduduk lemas di atas lantai dan tidak memiliki niat untuk melakukan apapun.
"Ayok ikut aku ke bawah tanah! Biarkan mereka berbicara berdua" Ajak Duscha dan Jake langsung mengikuti langkahnya Duscha.
Barnes lalu berusaha untuk bangkit dan berdiri tegak di depannya Amanda dengan kata, "Apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1