
Setelah sampai di lokasi yang dituju Dito dan anak buah beserta pasukan khusus langsung berlari ke posisi mereka masing-masing tanpa mengeluarkan suara.
Setelah semua siap di posisi masing-masing, Dito, Doni, James, dan Lisa, berjalan mengendap-endap untuk masuk ke dalam bangunan tua dari arah samping sambil terus mengarahkan moncong pistol mereka ke depan. Dito dan Doni berjalan mengendap-endap dari sayap kiri sedangkan James dan Lisa berjalan mengendap-endap dari sayap kanan.
Saat Dito dan James menendang pintu di depan mereka secara bersamaan, langsung terdengar suara tembakan.
Dito, Doni, Lisa, dan James langung berguling mencari tempat untuk berlindung sambil sesekali memuntahkan peluru dari senapan yang mereka masing-masing.
Baku tembak terus terjadi dan semakin seru sampai-sampai Dito tidak menyadari kalau semua pasukan khusus yang dia bawa dan berada di luar sebagai tim penembak jitu, semuanya telah dilumpuhkan. Dito tidak menyadari kalau di tengah tim barunya ada pengkhianat dan Dito tidak menyadari kalau saat ini dia dan tim barunya berada di dalam jebakan maut.
Padahal misi yang diemban oleh Dito dan Tim barunya harus sesuai aturan. Kalau gagal, maka bos mereka tidak akan memulangkan mereka dan mereka semua dianggap gugur di Medan pertempuran.
Saat Dito tengah berada di tengah baku tembak yang mendebarkan dan memacu adrenalin, Cantika tengah menidurkan Mikha. Setelah menidurkan Mikha, Cantika berjalan ke kamarnya Aurora dan Marsha untuk mendongeng di sana. Meskipun Aurora terus menyemburkan protes karena mama cantiknya tidak bisa mendongeng sebagus papa tampannya, Aurora akhirnya jatuh ke alam mimpi.
Cantika menyelimuti Marsha dan Aurora dan setelah mencium pipi keduanya secara bergantian, Cantika tersenyum lalu bergumam, "Bilangnya Mama nggak bisa cerita dan nggak menjiwai pas baca cerita kayak Papa, tapi tidur juga, kan, kalian, dasar anak pinter, hobinya protes mulu, kayak.......hehehehehe, kayak aku, hehehehehe" Setelah mematikan lampu kamar Aurora dan Marsha, Cantika keluar dan menutup pintu kamar tanpa mengeluarkan suara.
Istri cantik, tangguh, dan manjanya Dito Zeto itu kemudian melangkah ke ruang makan untuk mengisi teko air untuk ia bawa masuk ke kamar bayi. Untuk persiapan membuat susu. Namun, saat Cantika mengisi teko air dengan air dingin yang sesuai dengan suhu ruangan, teko itu tiba-tiba merosot turun dari genggamannya dan pecah berkeping-keping di atas lantai. Seketika itu juga bayangan Dito melintas di benaknya. Cantika langsung membeku dan mengusap dadanya sambil bergumam, "Tidak! Semoga Dito dan semuanya baik-baik saja. Ini hanya perasaanku saja karena aku sangat merindukannya" Meskipun berkata seperti itu, Cantika tetap mengeluarkan telepon genggam dari dalam saku dressnya untuk menghubungi telepon genggamnya Dito, namun telepon genggamnya Dito tidak aktif. Perasaan Cantika semakin kacau saat ia menyapu dan membereskan pecahan teko di atas lantai.
Setalah dapur beres, Cantika membawa teko yang baru ke kamar bayi dan melangkah dengan perasaan kacau sambil terus bergumam, "Dito dan timnya pasti baik-baik saja. Mereka adalah tim terpilih. Mereka hebat dan mereka pasti baik-baik saja"
__ADS_1
Tepat di saat teko yang Cantika pegang merosot dan jatuh berkeping-keping di lantai dapur, Dito, Doni, Lisa, tengah berlari ke Jeep mereka. Karena suasana mulai kacau. James sudah tamat dengan tubuh hancur berkeping-keping terkena lemparan granat dan tim yang berada di Jeep untuk berkomunikasi dengan kantor pusat juga sudah hancur, jadi tinggal mereka bertiga tanpa bisa meminta bantuan kepada siapa pun. Dan dari teman mereka yang membawa radio yang bertugas berkirim berita, sebelum teman mereka itu mengembuskan napas terakhirnya, Lisa, Dito, dan Doni mendapatkan berita kalau kemah mereka pun juga sudah dihancurkan.
Dito, Lisa, dan Doni berhasil kabur dengan Jeep mereka.
"Kita ke mana?" Tanya Lisa dengan panik.
"Entahlah. Kita ridak kenal daerah sini tanpa tim IT" Sahut Dito
"Sial! Kita hanya bertiga di tempat asing ini dan kita tidak tahu apa-apa tentang tempat ini" Sahut Doni.
"Kita juga tidak mengenal siapa-siapa" Ucap Lisa.
Mobil yang mengejar mereka lebih dari satu dan Doni memasang badan untuk melindungi Dito saat mereka bertiga terdesak. Dito berteriak, "Lari! Selamatkan diri kamu demi Cantika dan Rora! Lari Dito!"
Lisa menarik Dito dan Dito terus menoleh ke belakang sambil terus berteriak, "Tidaakkkkkkk!" Saat ia melihat Doni bergelinjang pasrah dan ratusan peluru menembus tubuh Doni.
Lisa berhasil membawa Dito bersembunyi di sebuah gua. Dito terus menangis di dalam gua tersebut. Dia kehilangan sahabat terbaiknya. Padahal beberapa bulan lagi Doni akan menikah. "Kenapa harus Doni? Kenapa?" Dito terus terisak menangis.
Lisa menepuk punggung Dito sambil berkata, "Ini sudah takdir. Kamu harus bertahan hidup untuk membalaskan dendam teman-teman kita dan Doni"
__ADS_1
Dito semakin menunduk, memeluk erat kedua lututnya, dan menangis semakin kencang. Dia marah, sedih, dan kecewa saat ini. Dia bersumpah akan menuntut balas.
Dua bulan sudah berlalu. Dia dan Lisa hidup di dalam gua dengan makanan seadanya. Kadang mereka berburu burung, babi hutan, kelinci, atau terkadang mereka menangkap ikan, dan kalau lelah mereka cukup puas hanya makan buah-buahan.
Saat mereka mencari kayu bakar, tiba-tiba Lisa terjatuh dan mendarat di dalam dekapan hangatnya Dito.
Dito sontak bertanya, "kau tidak apa-apa?"
Alih-alih menjawab pertanyannya Dito, Lisa justru memagut bibir Dito.
Dito membeliak kaget dan sontak mendorong kedua bahu Lisa lalu ia menatap Lisa dan bertanya, "Hei! Apa yang kau lakukan? Aku sudah menikah dan jangan kamu ulangi lagi menciumku. Aku sangat mencintai Istriku"
Lisa mengusap lembut pipi Dito yang kasar karena pipi itu sudah memiliki cambang, "Kenapa? Apakah kau tidak ingin melampiaskan emosi dan sekaligus kebutuhan kamu sebagai seorang pria normal? Kita sudah berada di dalam hutan ini selama dua bulan. Aku rela jadi pelampiasan kebutuhan kamu. Aku mencintaimu, Dito. Aku rela jadi yang kedua bagimu dan aku tidak akan menuntut untuk kamu nikahi atau kamu jadikan sebagai istri kedua kamu. Kita hanya akan bercinta dan..........." Ucap Lisa.
"Tidak!" Dito sontak meraup wajah tampannya dengan kasar karena terus terang sebagai pria normal tawaran Lisa itu sungguh menggoda tapi rasa cintanya pada Cantika dan anaknya sangat besar, maka Dito memilih menggunakan hati saat ini kemudian pria tampan dan gagah itu berkata, "Tidak! Meskipun, ya, tawaran kamu sangat menggoda. Tapi, aku tidak bisa mengkhianati Cantika. Tidak akan pernah" Dito kemudian berputar badan dan meninggalkan Lisa untuk melanjutkan aktivitasnya mengumpulkan kayu bakar.
Lisa menatap punggung Dito dan bergumam, yeah, waktu kita masih banyak. Aku akan mencobanya lagi nanti.
Sementara itu, Cantika terus mencari keberadaannya Dito tanpa kata menyerah. Meskipun suaminya dan semua tim dinyatakan hilang dan gugur di dalam medan perang, Cantika yakin kalau suaminya masih hidup.
__ADS_1