
"Apa kabarnya Bryna. Dia pasti tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan sangat hebat kan, sekarang ini?" Tanya Duscha dengan santainya.
Jake langsung menoleh ke Duscha dengan mendelik, "Bryna kekasihku. Jangan puji dia cantik di depanku"
Duscha tertawa renyah lalu ia memasang wajah sendu, "Wah! Betapa malangnya nasibku, semua wanita cantik di dunia ini sudah memiliki kekasih. Lalu aku akan menjomblo selamanya nih?"
Barnes terkekeh geli, "Itu urusanmu"
Jake tertawa lebar lalu ia menepuk pundak Duscha, "Kau keren, sangat tampan dan kaya raya. Tak perlu kau cari, akan datang banyak wanita cantik menghampirimu"
"Tapi, bukan yang aku inginkan" Duscha mengerucutkan bibirnya.
"Itu urusanmu" Sahut Barnes dengan nada acuh tak acuh.
Duscha semakin melancipkan bibirnya.
Jake kembali melepas tawa renyahnya lalu ia berucap, "Kita bisa minum-minum malam ini sampai pikiran kita teralihkan dari hal-hal yang membuat hati kita kecewa berat hari ini" Sahut Jake sambil menyesap gelas ketiganya yang berisi anggur merah berwarna pekat semerah darah.
"Tunggu dulu!" Barnes bangkit lalu kembali berucap, "Jude dan kawan-kawannya?"
Jake mengangkat tangannya untuk menekan pundaknya Barnes agar Barnes duduk kembali sembari berucap, "Jude ce-es udah aku suruh pulang. Aku bilang kalau kau dan aku akan menyelidiki Duscha lebih lanjut"
Duscha terkekeh geli sembari menyesap gelas keempatnya yang masih berisi minuman anggur beralkohol tinggi yang berwarna putih jernih seperti warna air mineral biasa.
Barnes bernapas lega dan langsung menenggak habis kelas keduanya yang berisi minuman anggur yang sama yang diminum oleh Jake.
__ADS_1
Duscha melempar kata ke Barnes, "Kau harus mengumumkan perceraian kamu dengan Amanda Dirgantara"
"Berani kau berucap kata cerai? Aku tidak akan pernah menceraikan Manda!" Barnes menarik kerah kaos bermerk yang Duscha kenakan malam itu dan Jake yang duduk di tengah langsung menarik tangannya Barnes untuk melepaskan kerah bajunya Duscha sambil berucap, "Dengarkan dia bicara sampai selesai dulu Barnes!"
Barnes mendengus kesal.
Duscha merapikan kaos berkerahnya lalu berkata, "Hanya untuk fomalitas. Kau tidak benar-benar bercerai dengan Manda. Kau harus lakukan itu jika kau tidak ingin memiliki nasib yang sama dengan Papa kami, Papaku dan Manda, Andrei Igor"
"Aku setuju" Sahut Jake sambil menyesap gelasnya yang belum kosong.
Barnes diam membeku. Dia diam untuk mencerna maksud dari perkataannya Duscha Igor.
"Kau tidak ingin kalau Manda.diincar, diculik untuk dijadikan senjata melawan kamu, melawan kita semua? Manda adalah kelemahan kita" sahut Duscha sambil menggoyang-goyangkan gelasnya untuk memainkan es batu blok yang ada di dalam gelas anggurnya.
"Aku setuju" Sahut Jake sembari mengisi kembali gelasnya yang telah kosong dengan anggur putih dan ia memasukkan satu es blok ke dalam gelasnya.
"Hanya pengumuman publik biasa karena Teguh terlanjur tahu kalau Amanda Dirgantara adalah istrimu. Kau hanya perlu bilang ke pubik kalau kau sudah bercerai dengan Amanda Dirgantara namun, secara hukum kalian masih suami istri. Kau paham kan maksudku? Dan satu lagi, kau harus menahan diri untuk tidak menemui Amanda terlalu sering. Itu akan membahayakan hidup Amanda. Sebelum Teguh meringkuk di balik jeruji besi, Manda akan selalu terancam jika ia berada di sampingmu. Tinggalkan Manda di sini dan aku akan menjaga keselamatannya dengan segenap jiwa ragaku. Jika Teguh telah tertangkap, maka jemputlah Manda untuk kau bawa pulang kembali ke rumahmu"
Barnes akhirnya menganggukkan kepalanya dengan berat hati. Namun, dia masih enggan untuk mengeluarkan suara. Setelah menenggak kelas ketiganya, dia pun bangkit dan pamit untuk kembali ke kamarnya Amanda.
Barnes berjalan sedikit sempoyongan karena ia sudah mulai mabuk. Jake bangkit dan berkata, "Tubuh kamu tidak terbiasa minum alkohol jadi, minum tiga gelas aja kau sudah mabuk. Ayok aku papah kau ke kamar"
Barnes menepis tangannya Jake sambil berkata, "Aku tidak mabuk. Aku bisa jalan sendiri"
Duscha terkekeh geli dan berkata, "Dia masih belum berubah. Masih keras kepala dan semau Gue. Mirip dengan Kakek Moses Elruno"
__ADS_1
Jake ikutan terkekeh geli dan berucap, "Kau benar. Kau benar sekali"
Barnes sampai di depan kamarnya Amanda dan ia sedikit kesulitan membuka pintu kamar itu. Amanda yang masih belum tertidur bangun dan duduk di atas ranjang. Dia mengerutkan kening melihat Barnes berjalan sempoyongan menghampirinya lalu terjatuh di atas ranjang dengan menindih tubuhnya Amanda.
Amanda dengan susah payah merebahkan Barnes dengan benar di atas ranjang, lalu ia melepas jaketnya denim yang Barnes kenakan dan melepas ikat pinggang serta celana kainnya Barnes, lalu menyelimuti suaminya sembari bergumam, "Kenapa kau mabuk, Mas? Maafkan aku jika masalahku menjadi beban yang sangat berat bagimu" Amanda mengecup keningnya Barnes lalu ia berbaring di sebelahnya Barnes dengan membelakangi Barnes. Amanda membelakangi Barnes saat ia tidak kuasa lagi menahan tangisnya.
Barnes membuka mata saat ia merasakan kasurnya sedikit berguncang lalu ia bertanya, "Apa kau menangis, Sayang?"
Sambil memutar bila mata dan mengusap air matanya, Amanda berbalik dan ia bersitatap dengan Barnes.
Barnes memandangi Amanda dari wajah sampai ke pinggang dengan bergumam, "Ya Tuhan, Istriku memiliki tubuh berlekuk yang sangat indah dan sensualitas yang menakjubkan. Hampir tidak ada kekurangannya. Yeeaahhh, walaupun tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tapi Istriku sempurna di mataku"
Wajah Amanda merona mendengar gumaman Barnes di dalam pengaruh alkohol. Amanda memerah wajahnya karena dari apa yang pernah ia baca, alkohol adalah serum kejujurannya seseorang dan jika Barnes bergumam seperti itu di dalam pengaruh alkohol maka Barnes berkata jujur sejujur-jujurnya. Amanda terus memandangi Barnes sambil membasahi bibirnya.
Barnes berucap, "Dan kenapa sekarang ini, Istriku tampak sangat imut dan sangat menggoda?"
Amanda menjadi malu dan terus membasahi bibirnya dengan lidahnya.
Barnes melihat tingkah lugunya Amanda dan seketika itu juga terasa kering mulutnya. Ia mendambakan bibir istrinya yang tampak basah menggoda. Maka tanpa menunggu berlama-lama, ia menarik tengkuknya Amanda dan langsung mereguk manisnya bibir istrinya untuk memuaskan mulutnya yang terasa kering.
Ciuman itu begitu lama dan kedua sejoli itu berguling-guling di atas ranjang. Bagian bawah tubuhnya Barnes semakin menempel ke tubuh Amanda dan Amanda tidak bisa memiliki daya untuk mengabaikan ketegangan yang melanda Barnes
Di saat Barnes menarik bibirnya untuk mengambil napas, Amanda bertanya dengan sorot mata penuh dengan keluguan, "Kau akan terus menciumku atau akan melanjutkan ke hal-hal lainnya?"
Barnes hanya bisa menyeringai penuh arti dan mulutnya langsung menyapu sisi kanan lehernya Amanda, mencium, meniup, lalu menghisap kulit di leher Amanda di antara giginya.
__ADS_1
Seketika itu juga jari-jari kakinya Amanda menekuk, jari-jari tangannya mencengkeram rambut Barnes dan perutnya mulai tergelitik gairah hingga tanpa sadar ia menjerit lirih, "Barnes.........!"