
Amanda lalu mengacak-acak rambut keriting berwarna merahnya dengan berucap, "Ah! kenapa aku bersikap sok keren tadi padahal jantungku jumpalitan nggak karuan. Kenapa aku ini seperti wanita panggilan ya? habis dicumbu dapat uang? Ah! sial!" Amanda lalu memerosotkan pantatnya ke bawah sampai ia terduduk di atas lantai. Gadis berumur dua puluh tahun itu kemudian meraup kasar wajahnya sambil berucap, "Ah! kenapa juga aku menanggapi ciumannya tadi? Dan sepertinya aku yang duluan membuka mulutku tadi ya? hingga lidahnya masuk dan.........Ah, sial!" Amanda menjambak rambutnya sambil terus memukul-mukulkan kedua tumit kakinya di atas lantai.
Pak Temon yang ditugaskan Barnes untuk memanggil Amanda, hanya bisa berdiri di depannya Amanda dengan raut wajah kebingungan melihat tingkahnya Amanda. Pria paruh baya yang sudah mengabdi di keluarga Darmawan sejak Barnes masih balita itu, kemudian mengeluarkan kata-kata dengan pelan, "Non? Apa Non baik-baik saja?" sambil membungkukkan badannya.
Amanda lalu menarik kedua tangannya dari rambut keritingnya dan mengangkat wajahnya untuk melihat Pak Temon, "Ah! Oh! iya, saya baik-baik saja kok" Amanda lalu bangkit berdiri dengan canggung dan terus meringis di depannya Pak Temon.
Pak Temon menegakkan dirinya kembali, "Tapi kenapa Anda seperti anak yang sedang tantrum tadi. Apa Anda pusing atau.....
Amanda melambaikan kedua tangannya ke Pak Temon, "Nggak! hehehehe, saya baik-baik saja kok. Ada apa menemui saya, Pak?"
"Itu, Tuan memanggil Non untuk bergabung makan di ruang makan"
Ah, sial! aku akan berhadapan lagi dengan Komandan brengsek itu. Aku harus bersikap bagaimana? bersikap sok keren lagi kayak tadi? batin Amanda.
"Non?" suara Pak Temon membuat Amanda tersentak kaget lalu ia melangkah, "Oke, Pak! Ayok kita ke ruang makan. Emm, ngomong-ngomong bapak kok tahu istilah tantrum?"
"Tahu Non. Kan Bosnya Pak Temon orang pintar jadi, secara otomatis, sedikit-sedikit, Pak Temon ketularan pintarnya tapi, belum ketularan tampannya, hehehehehe" Pak Temon terkekeh dengan wajah lugunya.
Amanda langsung tertawa lepas mendengar celotehannya Pak Temon dan bisa merasa santai untuk sejenak.
Setelah menemui pak Temon di dapur, Barnes lalu melangkah menuju ke meja makan dan saat langkahnya sampai di ruang makan, Barnes menatap tajam ke Jake, "Hei Jake! kamu........."
Jake melotot ke Barnes, "Apa?! bikin kaget aja. Aku lagi makan bisa tersedak kan bahaya" Jake berucap dengan mulut penuh makanan.
__ADS_1
Jude, Joy, Jordy dan Jorge pun secara serentak menoleh untuk melihat Barnes. Barnes tampak sangat kesal, dadanya naik turun dan napasnya tampak menderu.
Sial! jika aku protes ke Jake soal resepnya Jake bahwa ciuman akan membangkitkan memori yang hilang maka akan ketahuan kalau aku telah mencium Amanda dan itu akan membuat suasana menjadi canggung dan aneh, kan? Barnes bergumam di dalam benaknya tanpa melepaskan tatapan kesalnya ke Jake.
Jake kembali bertanya, "Apa?! hah?! katakan saja apa yang sudah aku perbuat sampai membuatmu kesal begitu!"
Barnes menghenyakkan dirinya di atas kursi lalu dia berkata dengan nada dingin, "Lupakan saja!" Barnes lalu mengambil.ca kangkung bertepatan dengan duduknya Amanda di kursi yang berada di dekatnya. Secara refleks Barnes menoleh dan bersitatap dengan Amanda.
Kedua bola matanya Barnes bergerak tanpa diperintah, menatap bibirnya Amanda. Bibir itu masih tampak basah dan Barnes langsung tersedak ludahnya sendiri, "Uhuk" Amanda secara spontan mengambilkan gelas untuk Barnes dan Barnes pun meraih gelas yang sama. Tangan suami istri itu pun bersentuhan. Keduanya lalu melepaskan gelas itu dan menatap ke depan dengan canggung.
Dan hanya Jake yang memperhatikan tingkah anehnya Amanda dan Barnes. Dan dengan santainya, Jake berucap, "Sentuhan tangan aja canggung. Santai aja napa?"
Barnes melotot ke Jake dan Jake terkekeh geli laku bangkit dan meninggalkan meja makan sambil berucap, "Maaf aku duluan. Aku ada kencan"
Jake sampai di sebuah restoran mewah dan melambaikan tangan ke meja yang berada di dekat jendela mengarah ke sebuah taman yang sangat cantik. Secantik wanita yang tengah menunggunya di sana.
Bryna Asmarani Darmawan tersenyum tipis ke Jake dan bertanya, "Untuk apa kau ingin menemuiku? Hal penting apa yang ingin kau sampaikan?" Bryna menyandarkan punggungnya ke bangku sambil melipat tangan ia menatap Jake dengan tatapan dingin.
"Oh come on, Babe! Jangan dingin gitu sama aku. Aku sangat merindukanmu dan soal hal penting itu, hehehehe, itu hanya alasanku saja agar aku bisa bertemu denganmu" Jake tersenyum lebar.ke Bryna dan Bryna langsung bangkit berdiri dengan wajah kesal.
Jake ikutan bangkit berdiri dan segera berkata, "Jangan pergi, please! demi masa lalu kita?"
"Masa lalu apa? demi apa? dasar cowok brengsek!"
__ADS_1
"Oke aku memang brengsek tapi, paling nggak kasih aku penjelasan kenapa kamu meninggalkanku, menolak aku, menjauhi dan membenciku?"
"Cih! kau masih nanya? kau tidak ingat kejadian di akhir kencan pertama dan terakhir kita waktu itu?" Bryna berdiri tegak di depan Jake sambil mendekap tas tangannya.
"Aku ingat. Kita berciuman dengan sangat panas saat itu. Itu ciuman pertama kita mana mungkin aku lupa"
"Cih! ciuman pertama bagiku tapi bukan bagimu, dasar brengsek!" Bryna menggertakkan gerahamnya menahan pekik amarahnya.
Jake tampak kebingungan, "Hei itu benar Babe! aku berani bersumpah dan........"
"Dan kau mencium wanita lain setelah kau menciumku malam itu. Kau lupakan itu the greatest Jake!" Bryna membeliakkan kedua bola matanya dengan napas memburu karena hatinya mulai mendidih karena, amarah.
"Wanita? wanita mana?" Jake mencoba mengingat-ingat kejadian waktu itu dan ia segera memekik kesal, "Sial! dengar Babe......."
"Kau ingat sekarang, kan. Dasar cowok menjijikkan, cih!" Bryna lalu mengalihkan pandangannya dari Jake dan hendak melangkah pergi meninggalkan Jake.
Jake langsung menahan lengannya Bryna, "Dengarkan aku dulu! wanita itu terobsesi padaku, dia yang tiba-tiba memelukku dan menciumku"
Bryna menarik lengannya menoleh ke Jake, "Sayangnya aku tidak percaya padamu, Kolonel Jake yang terhormat" lalu ia melangkah pergi meninggalkan Jake.
Jake mengejar Bryna hingga sampai di parkiran mobil dan kembali menahan lengannya Bryna, "Karena itu ya, kau lalu berpacaran dengan CEO brengsek itu? tinggalkan dia dan aku akan buktikan kalau aku benar-benar mencintaimu, Babe"
Bryna menarik lengannya lalu memutar badan untuk menghadapi Jake, "CEO itu punya nama dan namanya bukan brengsek. Mas Alex Leonard jauh lebih berwibawa dan lebih dewasa daripada kamu dan aku tidak akan pernah meninggalkannya. Camkan itu! Kau yang harus melupakan aku!" Bryna lalu membuka pintu mobilnya, masuk ke dalam dan menutup pintu mobil dengan keras di depannya Jake dan ia melajukan mobilnya dengan kesal.
__ADS_1
Jake meraup kasar wajahnya lalu bergumam, " Gimana caranya aku melupakanmu kalau setiap hari aku bertemu dengan Barnes. Wajah kalian kan sangat mirip, Huuuffttt, dasar sial!"
Amanda tersentak kaget saat ia membuka pintu kamarnya dan Barnes melangkah masuk ke dalam dengan santainya sambil berucap, "Mulai malam ini, aku akan tidur di sini"