
Dito membuka pintu besar bergaya Jepang yaitu cara membukanya dengan digeser dan seketika pria tampan itu mematung di depan pintu dan bergumam dengan sorot mata tidak percaya, "Kamu........."
"Hai! Ternyata kamu memang jauh lebih tampan daripada Steven Chan"
"Bukankah kamu sudah masuk penjara dan......."
"Belovi saudara kembarku sudah mati bunuh diri di penjara dan itu karena kamu dan kawan-kawan kamu. Aku sudah lama menunggu perjumpaan kita. Aku senang takdir mempertemukan kita lebih cepat dari rencanaku. Namaku Belova" Dengan darah terpompa panas karena dendam wanita cantik bertubuh molek dan sedikit kekar itu menatap Dito dengan sorot mata tajam.
Dito menutup pintu geser dan mulai bersikap waspada.
Dia sepertinya lebih hebat dari saudara kembarnya. Pembawaannya lebih tenang dan sorot matanya lebih mematikan. Batin Dito.
Dito mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan sambil terus menatap perempuan itu, ia menghubungi Doni, "Semua aman?"
"Aman, Bos"
"Aku sepertinya butuh bantuan kamu. Ke sini secepatnya setelah kau pastikan Cantika aman"
"Siap, Bos" Sahut Doni.
Wanita yang bernama Belova itu tengah memasukkan suntikan ke dalam sebuah gelas yang berisi cairan biru. Formula istimewanya Steven Chan itu rencananya akan ia suntikan ke Dito Zeto.
Dito memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya sambil bertanya, "Untuk apa suntikan itu?"
Wanita itu menutup jarum suntik dan meletakkan jarum suntik itu di atas meja sambil berkata, "Untuk aku suntikkan ke kamu saat aku sudah membuatmu menggelepar tak berdaya. Aku akan melumpuhkan kamu dan menyiksa kamu dengan cairan ini. Dengan cairan ini kau akan tersiksa dan hanya aku yang bisa memuaskan siksaan itu. Kita akan bermain indah di atas ranjang dan........"
"Tutup mulut kamu!" Dito seketika bergidik ngeri dan menyesali tindakannya membuka pintu ruangan itu dan masuk sendirian.
Wanita itu memandang rambut Dito, lalu pundak lebar, terus turun ke dada yang kuat, dan paha Dito yang kokoh, tatapan wanita itu menjelajah.
Dito kembali bergidik ngeri. Dito tidak berani menyerang terlebih dahulu. Dia ingin wanita itu yang menyerang terlebih dahulu, membuat gerakan sehingga Dito bisa membaca arah gerak wanita itu.
Tatapan Dito dan wanita itu bertemu dan terus beradu.
Dito bisa melihat kalau wanita itu berbahaya, sesuatu yang benar-benar maut bersinar di kedua bola mata wanita itu. Perut wanita itu tampak mengencang dan napasnya menderu.
Wanita itu menyeringai dan berkata, "Kau tahu, kan? Aku menginginkanmu. Sekarang juga"
Sembari melangkah perlahan mendekati Dito,dengan seringai mengerikan, dan kedua tangan wanita itu mengepal.
__ADS_1
"Aku punya dua suntikan dan dua ambil formula istimewa. Satu untuk kamu dan satu lagi untuk siapa saja yang masuk ke ruangan ini dan bergabung dengan kita" Wanita itu menyeringai mengerikan.
Dito mengepalkan tinjunya dan bersikap waspada.
Belova menggerakkan tangannya ke belakang dan secepat yang ia bisa, namun tetap berusaha bersikap rahasia dan tersenyum penuh arti. Lalu, tangan Belova dengan cepat mengulurkan tangan ke arah Dito dengan jarum itu, berniat menyuntik pundak Dito.
Dito berbalik terlalu cepat sehingga wanita itu tidak dapat mengenainya. Dengan sebelah tangan, Dito dengan sigap bisa mencekik leher wanita itu, tangan satunya mencengkeram lengan wanita, lalu Dito membanting Belova ke dinding.
Denyut jantung Belova berpacu dan wanita itu tiba-tiba terkekeh geli.
Sambil menatap kedua mata wanita itu, Dito terlihat sangat berkuasa, sangat murka, pria tampan itu kemudian mencengkeram erat tangan Belova sehingga wanita itu mengernyit dan menjatuhkan jarumnya.
"Dasar wanita licik menjijikkan!" Dito langsung menginjak jarum suntik itu dengan sol sepatunya, meninggalkan noda basah di karpet. "Kau pikir aku sebodoh itu bisa kau suntik dengan obatmu, hah?!"
"Ya! Aku salah. Aku kira kau pria yang bisa dengan mudah aku rayu seperti pria lain di luaran sana" Wanita itu menjilat bibir dan mencondongkan tubuh ke arah Dito, "Aku memiliki ramuan istimewa khusus untukmu, Dito. Tunggu saja!"
Perasaan muak membuat ekspresi Dito mengeras dan dia menjauhkan diri, "Ramuan kamu udah aku injak. Dan......." Dooooorrrr! Dito kemudian menyeringai, "Yang di meja juga sudah aku musnahkan"
"Kita ke tempat Dito berada"
"Hah?! Apa?" Doni tersentak kaget dan spontan menoleh sekilas ke Cantika
"Kau bisa dengar?"
"Pendengaranku tajam"
"Lalu?"
"Ayo kita ke sana"
"Hah?! Nggak! Bos minta menempatkan kamu ke tempat aman dulu baru aku ........."
"Bawa aku ke tempat Dito sekarang juga! Kita jangan buang-buang waktu. Bawa aku ke sana cepat!"
"Sial! Tapi, Bos bisa marah dan ........."
"Ke sana sekarang juga atau aku akan membuatmu pingsan lalu aku naik taksi atau naik apa kek untuk ke sana. Aku bisa cari cara untuk ke sana sendiri"
"Sial! Ternyata benar apa kata Angga. Kamu itu keras kepala"
__ADS_1
Setelah melemaskan tangan agar sirkulasi darah ke lengannya kembali lancar, Belova menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung. Lalu, wanita itu memasang pose tak berdosa dan tidak mengancam.
Dito kemudian memukul leher wanita itu sampai wanita itu tergeletak pingsan di atas lantai.
Setelah mengalahkan beberapa puluh orang yang menghalangi langkah mereka, Angga, Noah, dan Batari berhasil memasukkan anak-anak gadis di bawah umur yang mereka temukan di penajam bawah tanah kediaman megahnya Steven Chan, ke dalam tiga buah mobil Van. Tiga buah mobil Van itu kemudian pergi meninggalkan lokasi dan Noah, Angga, juga Batari kembali masuk ke dalam rumah megahnya Steven Chan dengan mengajak tim elit pasukan khusus.
Jorge menahan langkah Santo dan berkata, "Kita tunggu di sini saja. Noah masuk dengan pasukan. Kita serbu ruangan itu dengan pasukan yang Noah bawa nanti"
"Tapi, aku udah bikin bom rakitan, nih"
"Mau ngeyel kamu?"
"Nggak, Om" Ucap Santo.
"Bagus!" Jorge tersenyum lebar di depan Santo dan Santo hanya bisa menghela napas panjang.
Sementara itu, Cantika dan Doni masih bersitegang di dalam mobil.
"Doni! Kau mau mati, ya?! Kenapa nggak putar balik?!" Cantika menoleh tajam ke Doni.
"Astaga! Ada, iya, makhluk Tuhan paling seksi yang galak kayak kamu"
"Doni! Aku akan membuat kamu menyesal seumur hidup. Mau aku bikin jadi geprek apa penyet, hah?!"
"Emangnya aku ayam" Sahut Doni dengan santainya.
Cantika langsung meletakkan tangannya di atas pundak Doni dan meremasnya sambil menggeram, "Putar balik, nggak?!"
Doni refleks menjerit kesakitan, "Sial! Sakit! Lepaskan!"
"Putar balik dulu, sekarang!" Cantika kembali menggeram.
"Oke! Oke! Aku putar balik! Sial!" Jerit Doni.
Setalah Doni putar balik, Cantika melepaskan pundak Doni dan tersenyum puas.
Doni melirik tajam ke Luna sambil berkata, "Sial! Aku ini teman kamu. Tega bener kamu menindas aku barusan"
"Itu karena kamu nggak mau putar balik" Sahut Cantika dengan nada santai dan bersedekap.
__ADS_1