
Amanda langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir dan mendelik ke Batari.
Semua tertawa melihat tingkah polos dan mendengar celotehan lugunya, kecuali Noah dan Bening.
Batari kembali berucap dengan santainya, "Dia cowok yang aku suka pas kita pergi ke pernikahannya Om ini" Batari menyentuh bahunya Satya yang duduk tidak jauh dari tempat ia duduk.
Satya mengusap rambutnya Batari yang ikal dan berkata, "Kamu masih ingat juga sama Om. Om tersanjung, lho" Satya lalu terkekeh geli.
Amanda semakin mendelik ke Batari dan berucap, "Anak kecil kok udah mikir calon suami, hmm, dasar anaknya Barnes Adiwilaga Darmawan. Lihat tuh, Noah sampai takut dekat-dekat denganmu"
Semua kembali memenuhi ruang tamu keluarga Barnes Adiwilaga Darmawan dengan tawa renyah. Hanya Noah dan Bening yang tidak tertawa.
Satya lalu merentangkan kedua tangannya sambil berkata, "Noah nggak kangen sama Om Satya?"
Noah langsung menarik tangannya dari genggaman tangan mamanya, lalu melangkah lebar untuk masuk ke dalam pelukannya Satya.
Satya mengelus punggungnya Noah saat kedua lengan kecilnya Noah, melingkar manis di pinggangnya. Satya kemudian berbisik, "Kalau kamu ingin menangis, menangislah! Menangis nggak dilarang kok di negeri ini"
Alba duduk di sebelahnya Adam dan Hemi langsung melompat di atas pangkuannya Alba.
Noah menggelengkan kepalanya dan berkata, "Seorang laki-laki itu pantang menangis di depan banyak orang"
"Wah! Hebat! Aku suka cowok hebat kayak kamu, Noah Baron! Pokoknya, kalau udah besar nanti, aku akan menikahimu!" Pekik Batari.
Semua terkejut mendengar jerit pekiknya Batari dan semua kepala langsung menoleh ke Batari dengan wajah ceria dan ruang tamu itu secara refleks kembali dipenuhi gelak tawa. Amanda langsung menggendong Batari dan mengajak semuanya ke ruang makan untuk sarapan bersama.
Noah melepaskan diri dari pelukannya Satya lalu berputar badan dan langsung melompat ke gendongan papanya. Noah merangkul leher papanya dengan erat, memendamkan wajah tampannya yang mungil di dada bidang papanya dan bergumam di sana, "Noah sangat rindu sama Papa" Adam memeluk erat putra sulungnya dan berkata, "Papa juga sangat merindukanmu"
Noah memang lebih akrab dan tidak bisa dipisahkan dengan Adam Baron sedangkan Nehemia Baron lebih akrab dan tidak bisa dipisahkan dari Alba. Noah anak Papa dan Nehemia anak Mama, begitu biasanya Alba memanggil putra-putra tampannya.
Noah mewarisi wajah bule papanya dan Nehemia mewarisi wajah Asia mamanya, namun rambut Noah dan Nehemia sama-sama berwarna merah. Noah berbola mata biru dan Nehemia berbola mata hitam, namun kedua putranya Adam Baron itu memiliki wajah yang sangat tampan.
Nehemia yang memiliki nama panggilan Hemi, menyentuh punggung kakaknya dengan tangan mungilnya dengan kata panggilan, "Atak, Adek uga angen ama Atak" (Kakak, Adek juga kangen sama Kakak)
__ADS_1
Noah menoleh ke belakang dan mencium kepalanya Hemi yang ada di dalam gendongannya Alba. Lalu Noah mengusap kepala adiknya dengan berkata, "Kakak juga kangen banget sama kamu"
Adam dan Alba yang berjalan beriringan dengan menggendong putra mereka masing-masing, saling pandang dengan penuh rasa syukur dan cinta kasih.
Setelah sarapan selesai, Amanda mengijinkan Batari mengajak Noah, Bening, dan Hemi ke halaman belakang rumahnya yang sangat luas untuk bermain di sana. Hemi menggelengkan kepalanya, karena ia lebih nyaman berada di dekapan mamanya.
Amanda berpesan ke Batari sebelumnya, "Jangan bikin Noah dan Bening takut sama keceriwisan dan kecerobohanmu!"
Batari meringis ke mamanya dan berkata, "Siap, Mamaku sayang yang sangat cantik sejagat raya nomer dua, karena wanita tercantik nomer satu adalah Nenek Buyutku Melati Arumi Putri Elruno"
"Ya, ya, ya. Sudah sana pergilah bermain" Amanda menepuk pelan pantatnya Batari dengan gelengan kepalanya dan terkekeh geli dengan sendirinya melihat kelucuan putrinya.
"Batari sangat ramah dan ceria, ya? Dia bisa jadi teman yang baik bagi siapa saja" Alba menatap Amanda dengan senyum tulus.
Amanda kembali terkekeh geli dan berkata, "Dia memang seperti itu. Bicaranya suka ceplas ceplos dan ceriwisnya minta ampun. Dan kata Suami saya, dia mirip sama saya"
Alba terkekeh geli sambil menyuapi puding buah bikinannya Amanda ke Hemi.
Batari yang terbiasa dilatih beladiri oleh mama dan papanya, dengan tangkas bisa menarik Noah untuk berada di belakangnya sambil menendang bola yang melambung cepat ke arah dia dan Noah. Bola itu berbalik arah dan justru melambung ke arah Bening dan dengan keras mengenai keningnya Bening. Bening terjengkang ke belakang dan dengan sigap Batari berlari kencang dan berhasil menangkap tubuh Bening dari arah belakang. Batari, berhasil menyelamatkan kepala belakangnya Bening dari tanah keras yang ada di halaman belakang rumahnya.
Noah menyusul laju larinya Batari dan berdiri di depannya Bening yang terbaring di atas pangkuannya Batari. Noah lalu berjongkok dan bertanya, "Tari, kau baik-baik saja?"
Bening melotot kaget dan langsung bangun dari atas pangkuannya Batari dengan semburan protes, "Kenapa kau tanyakan keadaannya Tari? Aku yang kena bola dan hampir terbentur tanah, kan? Kenapa kau nggak tanya apa aku baik-baik saja?"
Noah menautkan alisnya saat ia memandangi wajahnya Bening dan bertanya, "Aku lihat kau baik-baik saja, tapi lihatlah Tari, dia meringis kesakitan"
Karena, memikirkan keselamatannya Bening, Batari kembali melakukan kecerobohan yang mengakibatkan pergelangan kaki kanannya terkilir dan terasa semakin sakit saat kepalanya Bening terjatuh di atas pahanya yang empuk dan membuat ujung kaki kanannya menekuk ke dalam, tadi.
Bening bangkit berdiri dan melangkah lebar sambil merengut dan bersedekap meninggalkan Batari dan Noah begitu saja tanpa rasa terima kasih.
Noah lalu menolong Batari untuk bangkit berdiri dan bertanya, "Apa yang sakit?" sambil memapah Batari untuk duduk di bangku taman.
"Pergelangan kaki kananku terasa sangat nyeri"
__ADS_1
"Terima kasih udah menyelamatkan aku dari benturan bola tadi" Noah menatap Batari dengan penuh rasa terima kasih.
"Sama-sama. Aku akan lakukan apapun untuk melindungi calon suamiku, hehehehe"
Noah terkekeh geli untuk pertama kalinya saat ia mendengar kata calon suami meluncur dari mulutnya Batari.
Noah lalu berucap, "Bening, kenapa nggak tahu rasa terima kasih? Dia yang menendang bola dengan kencang tadi dan hampir mengenai kamu dan aku, tapi kamu justru menyelamatkannya dari cidera yang lebih parah, eh, malah ngeloyor pergi nggak ucapkan terima kasih ke kamu dan nggak balik menolong kamu"
"Nggak papa" Batari kembali meringis dan mengelus pergelangan kaki kanannya.
Noah langsung berkata, "Tunggu sebentar. Aku akan panggilkan Mama kamu untuk mengobati kaki kamu"
Beberapa menit kemudian, Amanda datang bersama dengan Noah dan langsung membopong Batari ke kamar. Noah mengikuti langkahnya Amanda.
Alba sambil menggendong Hemi, Adam dan Satya, juga Bening, ikutan menyusul Amanda ke kamar.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?" Tanya Amanda.
Noah hendak membuka suara dan Batari langsung menggenggam tangannya Noah dan berkata, "Aku........"
Bening yang tidak ingin dipandang jelek di depan banyak orang, langsung mengucapkan kata, "Terima kasih sudah menolongku, Tari dan maaf" Tapi, itu hanya di bibir saja di dalam hatinya Bening tidak menyukai Batari, karena Noah lebih memperhatikan Batari.
Setelah Batari selesai diobati, Noah bertanya, "Batari sangat lincah dan pandai beladiri sepertinya. Siapa yang mengajarinya, Tante?"
"Oh, Batari sejak umur lima tahun sudah belajar taekwondo sama Papanya dan mulai belajar teknik beladiri Systema sama Tante" Sahut Amanda.
Noah lalu menoleh ke mana dan papanya, "Pa, Ma, aku mau tinggal beberapa bulan di sini. Aku ingin belajar beladiri di sini. Aku ingin bisa menjadi hebat seperti Batari. Dan aku ingin jadi polisi seperti Papanya Batari"
Semua melongo ke arah Noah.
Bening langsung menyahut, "Aku juga mau tinggal di sini kalau Noah tinggal di sini"
Semua kemudian menatap Bening dan secara bersamaan, Alba, Adam, Satya, dan Amanda, menghela napas panjang
__ADS_1