Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Extra Part III


__ADS_3

"Dia masih sangat kecil, Ma" Ucap Aurora kemudian.


"Iya, Sayang. Mikha Mahesa baru berumur satu bulan"


Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar dan setelah mencium pipi Aurora dan pipi Cantika, Dito berkata, "Ada tugas dadakan. Kita ketemu nanti malam" Lalu, Dito melesat pergi.


"Papa! Lola mau ikut Papa!" Aurora sontak menangis dan melompat turun dan dengan sigap Cantika menangkap tubuh mungil putrinya Cantika langsung memeluk putrinya dan berkata, "Sayang, Papa kerja. Rora sama Mama sebentar, ya. Nanti kalau Papa sudah pulang kerja, Papa akan ajak kita jalan-jalan beli es krim kesukaan Rora. Oke?"


"Hmm" Sahut Aurora sambil mengusap sendiri air matanya.


"Dan kita main sama dedek bayi, yuk!"


"Yuk" Sahut Aurora dengan wajah yang sudah ceria kembali.


Dito berdiri di tengah taman kota. Dia mengedarkan pandangannya dengan seksama dan mengamati gerak-gerik semua orang yang ada di taman kota sore itu lebih dari lima detik karena ia tengah mencari profil orang yang tepat untuk ia jadikan tersangka pembawa bom. Ada ancaman kalau taman kota akan dibom sore itu.


Dito berlari mendekati seorang wanita yang tengah menggendong anak perempuan seumuran anaknya. wanita itu terjatuh karena kakinya terantuk sesuatu.


"Terima kasih banyak" Sahut wanita itu saat Dito membantunya duduk di kursi taman dan pria itu mengendong putri dari wanita itu. Saat Dito ingin meletakkan putri kecil yang semurung dengan putrinya itu di atas bangku taman, anak perempuan berkucir dua itu langsung memeluk erat Dito dan berkata, "Nggak duduk di situ. Mau digendong teyus (terus)"


Dito menghela napas panjang karena tidak mungkin dia melanjutkan mencari profil yang cocok sebagai si pembawa bom dengan menggendong anak orang. Namun, anak perempuan kecil itu benar-benar tidak mau melepaskan pelukannya dan terus berkata, "Tidak mau duduk, mau digendong sama Om baik"

__ADS_1


Wanita yang tadi ditolong oleh Dito langsung merengkuh paksa putrinya dan berkata, "Maafkan anak saya, Pak. Dia memang menyukai pria karena dia, sudah tidak punya Papa. Papanya meninggal di umurnya........."


"Maaf! Saya harus tinggalkan kalian!" Dito langsung berlari kencang menuju ke bangku taman yang ada di ujung timur taman kota itu saat ia melihat seorang pria memakai jaket kulit hitam dan bertopi meletakkan tas ransel di bawah bangku taman yang ada di ujung timur taman kota itu.


Orang berjaket kulit hitam dan bertopi telah menghilang saat Dito berjongkok di depan bangku taman itu untuk melihat apa isi tas ransel hitam yang diletakkan di bawah bangku taman.


Dito tertegun saat ia menemukan bom di dalam tas ransel itu dan daya ledak dari bom itu cukup dahsyat. Dito melihat angka di bom itu, "Sial! lima menit lagi bom ini akan meledak" Komandan pasukan khusus itu langsung mendekap tas ransel itu dan dia berlari kencang menuju ke air mancur dan dia lemparkan tas ransel itu ke kolam lalu ia berbalik badan, berlari kencang sambil berteriak sekencang-kencangnya, "Semuanya tengkurap! Ada bom!!!!!!!!! Dan tidak lama setelah itu terdengar suara dhuaaarrrrr!


Dito terlempar beberapa langkah ke depan dan terjatuh dengan posisi kepala bagian belakang membentur tanah cukup keras. Dito mendesis saat ia merasakan kakinya sakit dan pandangannya tiba-tiba buram. Lalu, anak kecil perempuan yang tadi digendong sama Dito berjongkok di depan Dito dan memberikan air minum. Dito tersenyum dan saat ia hendak bangun untuk duduk, komandan pasukan khusus itu pingsan.


Beberapa menit kemudian, Dito membuka mata. Dia menunduk dan mendapati dirinya sudah ada di atas bed ambulans. Saat ia menoleh ke kanan, ia melihat sosok pria si pembawa tas ransel. Maka tanpa dikomando, Dito langsung berteriak, "Orangnya ada di sana! Dia si pembawa bom!"


Melihat Dito berteriak dan menunjuk dirinya, pria berjaket kulit hitam dan bertopi itu berbalik badan dengan cepat dan langsung berlari kencang meninggalkan kerumunan.


Dengan kepala berdenyut dan kaki pincang, Dito terus berlari mengejar pria incarannya itu. Hingga tibalah ia di lorong yang sempit dan gelap. Dito langsung mengambil pistolnya dan sambil menggoyang-goyangkan kepalanya ia mengarahkan pistol itu ke depan. Penglihatan Dito kembali buram.


Tiba-tiba dia merasakan punggungnya ditendang cukup keras dan dengan cepat Dito berbalik badan lalu memuntahkan peluru dari pistolnya, namun pistol itu dimuntahkan dengan percuma. Pelurunya tidak mengenai pria incarannya Dito. Dan setelah itu, pria berjaket kulit hitam itu justru berhasil menendang pistol dari genggaman tangan Dito.


Saat pistol terlempar dan jatuh entah di mana, Dito langsung mengepalkan kedua tinjunya dan mengarahkan ke depan. Satu pukulan mautnya Dito berhasil mengenai rahang bawah pria itu hingga wajah pria itu tengadah ke atas dan topi yang dipakai oleh pria itu terhempas ke lantai yang lembab.


Saat pria itu menegakkan kembali wajahnya, Dito bisa melihat jelas wajah pria itu. Ada tato lebah kecil di pelipis kanan pria itu.

__ADS_1


"Siapa kau?! Siapa yang menyuruhmu meletakkan bom di taman kota dan......Bug! Satu tendangan mengenai perut Dito.


Dito sontak membungkuk, lalu jatuh bersimpuh di atas lantai lembab, dan pria berjaket kulit hitam itu langsung berbalik badan kemudian berlari kencang meninggalkan Dito.


Dito masih berusaha bangkit berdiri dan berlari mengejar pria itu, namun sayangnya dari arah kiri ada mobil yang meluncur dan menabrak Dito. Dito terlempar ke sisi kanan dan mengerang kesakitan. Komandan pasukan khusus yang gagah dan tampan itu sudah tidak sanggup lagi untuk bangkit, bangun dan berlari. Dito hanya bisa menatap kecewa punggung pria berjaket kulit hitam yang berhasil lolos dari kejarannya.


Beberapa jam kemudian, Dito membuka mata secara perlahan dan mendapati dirinya berada di atas bed rumah sakit.


"Syukurlah kau sudah bangun, Sayang"


Cantika langsung memeluk Dito dan mencium bibir suami tampannya itu.


"Aaaahhhhh!" Dito mengerang kesakitan saat Cantika tidak sengaja menekan luka di kakinya.


Cantika langung menarik bibir dan berkata, "Maaf! Aku menekan luka kamu, ya?"


"Nggak papa. Naiklah ke atas perutku, aku belum menyelesaikan urusanku denganmu"


Dito menyeringai penuh arti.


Cantika langsung naik ke atas perut Dito dan suami tampannya Cantika itu langsung menarik tengkuk Cantika lalu mengajak istrinya itu berciuman dengan tangan kiri menyusup ke lembah kesukaannya dan tangan itu kemudian bermain asyik di sana.

__ADS_1


Csntika memekik puas turun dari atas perutnya Dito bertepatan dengan masuknya tim dokter dan perawat ke ruang rawat inapnya Dito. Dito menoleh ke Cantika yang tersipu malu dan pria tampan itu langsung menggenggam tangan istrinya sambil berkata, "Selamat datang, Dok. Saya sudah boleh pulang, kan?"


Salah satu dokter langsung menyahut, " Belum juga diperiksa, kok, sudah minta pulang"


__ADS_2