
Barnes menarik bibirnya untuk memandangi Amanda yang masih memejamkan kedua kelopak matanya. Amanda tidak memiliki tato, tindik di telinganya pun tidak ada, tidak ada kutek di semua kuku di jari jemari tangan dan kaki, kulitnya Amanda yang pucat dan indah membuat Barnes kesulitan untuk berimajinasi lebih liar lagi. Amanda terlalu polos dan justru itulah, Barnes ingin tetap menjaga Amanda tetap alami.
Barnes lalu mengusap pipinya Amanda. Amanda membuka kedua kelopak matanya sambil mengabaikan. debaran seperti sayap burung di perutnya dan tidak menggubris jantungnya yang berdetak makin cepat.
Amanda tahu kalau Barnes memperhatikannya dengan saksama dan Barnes sudah membakarnya dengan intensitas yang sangat tinggi.
Sebagai perempuan sederhana yang polos, lugu, dan tidak tahu cara untuk menarik perhatian seorang pria, tatapan tajamnya Barnes dan sentuhan tangan Barnes di pipi kirinya, sungguh-sungguh menyiksa Amanda. Amanda menarik napas dan Barnes kembali menunduk untuk menyambar bibirnya Amanda.
Tanpa sadar kedua tangan Amanda mengepal di saat Barnes memperdalam ciumannya dan mulai menarikan lidahnya. Barnes mengerang lalu ia membopong Amanda dan segera merebahkan anda dengan lembut di atas kasur.
Barnes mengungkung tubuhnya Amanda dan langsung menyusupkan wajahnya di lehernya Amanda, memberikan gigitan-gigitan kecil di sana yang membuat Amanda hampir meledak.
Barnes kembali menarik diri dan bertanya, "Kenapa aneh ya?"
Amanda kembali membuka kedua kelopak matanya untuk memandangi Barnes lalu ia bertanya dengan suara lirih karena gairah yang tertahan, "Apanya yang aneh? Aku bau ya?"
Barnes tergelak lirih dan menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Bukan. Kamu wangi sangat wangi dan aku suka wangi alami tubuhmu"
"Lalu apa yang aneh?" Amanda mengernyit.
"Rambut kamu berrwarna merah, alis kamu juga dan yang di bawah juga lho" Barnes melirik bagian bawah dan Amanda langsung menepuk dada bidangnya Barnes dengan wajah merah.
Barnes memandangi Amanda dan berkata dengan nada usil, "Bahkan sekarang wajahmu pun merah"
Amanda langsung memukul kembali dada bidangnya Barnes lalu ia memekik kesal, "Lalu apanya yang aneh? Jangan bikin aku tambah panik"
Barnes terkekeh geli, mengelus pipinya Amanda, mengecup keningnya Amanda lalu ia menatap Amanda dan berucap, "Berarti warna merah adalah warna asli dan alami di tubuh kamu. Jadi, Amanda kecil yang memiliki rambut hitam, alis hitam, apa yang terjadi?" Ucapan Barnes mengambang dengan tanda tanya besar.
"Jadi, Amanda kecil justru diwarnai hitam rambut dan alisnya?" Amanda kembali mengernyit.
Barnes menganggukkan kepalanya dan merebahkan tubuhnya di samping Amanda dan mulai mengusap perutnya Amanda dengan kelembutan dan mengirimkan sensasi luar biasa di seluruh raganya Amanda.
Amanda berkata dengan terengah-engah menahan gairah saat telapak tangan Barnes yang hangat, terus mengusap perut datarnya dan jari kelingking Barnes bergerak menyusup ke arah bawah, "Ah! Barnes, Ah! Emm, itu......."
__ADS_1
Barnes mencium pelipisnya Amanda tanpa mengehentikan keusilan tangannya dan ia bertanya dengan lirih di telinganya Amanda, "Iya, ada apa?"
"Selesaikan dulu obrolan kita. Jangan begini, ah! Barnes, ah!" Amanda mulai menggigit bibir bawahnya
Barnes langsung menciumi lehernya Amanda dan berbisik di sana, "Masih ada banyak waktu untuk melanjutkan obrolan kita nanti dan hal ini tidak bisa lagi untuk ditunda. Maafkan aku, sayang" Barnes mulai bermain dengan bibir dan tangannya tanpa jeda dan membuat Amanda kelimpungan tak berdaya.
Tok, tok, tok, suara ketukan pintu sebanyak tiga kali membuat Barnes dengan sangat terpaksa, menarik diri dari rasa manis yang menguar alami dari istri tercintanya. Barnes yang telah berdiri tegak menatap Amanda yang tengah mengerjapkan mata dengan wajah bingung.
Barnes berucap dengan senyum geli, "Kita akan lanjutkan nanti, tidurlah dan tidak usah khawatirkan apapun! Ada aku, Leon dan the five Jays di sini" Barnes lalu melesat ke arah pintu untuk membuka pintu itu.
Amanda langsung meraih bantal untuk menutupi wajahnya yang memerah karena malu.
"Tuan, makan siang udah siap" sahut Leon.
"Kamu mengetuk pintu hanya untuk bilang itu?" Barnes mulai merapatkan bibirnya karena kesal karena Leon sudah mengganggu aktivitas manisnya bersama dengan Amanda hanya untuk masalah yang sepele.
"Maaf, Tuan" sahut Leon.
Barnes meraup wajah tampannya lalu melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya, "Apa Joy, Jude, Jorge, dan Jordy udah berkumpul di meja makan?" tanya Barnes.
"Iya. Mereka menunggu kita dan si rambut merah untuk makan sing bersama. Omnya Amanda lembur dan tidak bisa pulang ke rumah untuk makan siang begitulah kata si MK Lampir dan si Mak Lampir beserta Putrinya yang berwajah kayak boneka Chucky karena full make-up, memilih untuk makan siang di kamar mereka masing-masing" Jake berucap panjang lebar dengan gaya khasnya.
"Biarkan Amanda tidur dulu! Aku akan bawakan makan siang ke kamar nanti" Barnes berucap sambil melangkah menuju ke ruang makan yang sempit karena bersebelahan dengan dapur.
Ruang makan yang biasanya longgar di siang itu terasa sempit karena Barnes, Leon dan the five Jays memiliki postur tubuh yang tinggi dan besar.
Jake mengernyit kala.ia menatap ponselnya yang masih berbunyi cukup nyaring.
"Jake angkat! berisik!" Barnes melotot ke Jake.
Jake menunjukkan layar ponselnya ke Barnes, "Bryna nih"
"Angkat! Emang kenapa kalau Bryna?"
__ADS_1
"Aku takut, hehehehehe" Jake memamerkan deretan gigi putihnya ke semua yang tengah menyantap makan siang sederhana berupa nasi goreng dan telur mata sapi yang disediakan oleh Tantenya Amanda.
The five Jays terkekeh geli dan Jordy nyeletuk, "Ada juga ternyata yang bisa bikin Mister Jake takut"
Ponsel Jake terus berdering dan Barnes langsung merebut ponsel itu karena kesal melihat Jake tidak kunjung menerima panggilan telepon itu. Jake melotot ke Barnes saat Barnes berkata, "Halo, tunggu sebentar ini Jake" Barnes menaruh kembali ponsel Jake ke dalam tangannya Jake.
Jake menghela napas panjang sambil mendelik ke Barnes lalu ia bangkit dan melangkah keluar dari ruang makan, "Halo ada apa meneleponku? Nggak ada angin dan nggak ada hujan, seorang Bryna yang bermartabat menelepon si brengsek Jake"
Bryna tidak menjawab celotehannya Jake namun, dengan Isak tangis.
Jake langsung panik, "Ada apa? kau di mana dan dengan siapa sekarang?"
Bryna menghela napas panjang lalu berucap, "Aku ada di lobi hotel sendirian dan......." Bryna kembali terisak.
"Lobi hotel mana? Aku ada di luar kota saat ini jadi, aku........."
"Aku tahu" ucap Bryna di sela Isak tangisnya. "Barnes pamit sama aku pas ia mau pergi. Aku cuma ingin meneleponmu saja"
"Kamu nggak kenapa-kenapa? Kamu aman kan, sekarang ini?" tanya Jake.
"Aman. Aku ada di lobi hotel The Rain milik Om-ku"
"Lalu kenapa kau menangis? segitunya kau merindukan si brengsek Jake sampai kau menangis?" Jake terkekeh geli.
Bryna ikutan terkekeh geli dan berkata, "Sepertinya begitu"
Jake merona senang dan memekikkan kata, "Benarkah? kau merindukanku? Lalu apa kabar tunangan kamu?"
"Dia selingkuh. Aku melihatnya barusan masuk ke dalam salah satu kamar VVIP di hotel ini dengan seorang perempuan seksi. Mereka berciuman sebelum masuk ke dalam kamar dan ........" Bryna kembali terisak.
Jake hendak merespons cerita Bryna namun, tiba-tiba ia merasakan kepalanya pusing dan ia segera berucap, "Sial! Manisku maafkan aku! Ada yang darurat nih, aku akan hubungi kamu lagi, nanti"
Jake mematikan ponselnya sebelum Bryna sempat menjawab iya. Dan Jake bergegas berlari ke ruang makan, dia melihat semuanya tertidur di atas meja makan dan di saat Jake hendak melangkah mendekati Barnes untuk membangunkan Barnes, dia pun roboh di atas lantai tidak sadarkan diri
__ADS_1