
"Benarkah? Wah, Papa dan Mama harus ke rumahnya Besan untuk mengucapkan selamat ke Tari. Papa akan pulang untuk jemput Mama kamu" Adam Baron menepuk pundak Nehemia dan berlalu pergi.
Sepeninggalnya papa tercintanya, Nehemia berjalan kembali ke ruangannya dengan langkah gontai dan muka kusam. Dia tidak tahu bagaimana harus bersikap di saat ia memutuskan untuk menjauhi kakak iparnya, kakak laki-lakinya justru meminta ia menjaga kakak iparnya yang tengah hamil muda.
Alba memekik gembira dan dia langsung mengajak Adam berbelanja.
"Lho, kok malah ke Mall, sih, Ma? Kok, nggak langsung ke rumahnya Barnes?" Adam menyemburkan protes sembari mendorong keranjang belanja.
"Mana bisa kita ke rumah besan kita tanpa membawa apa-apa, Pa. Aku mau beli susu ibu hamil untuk Tari. Susu ibu hamil yang sama yang dulu aku minum pas aku hamil Hemi. Kalau pas aku hamil Noah, kan, aku harus ngirit. Jadi, pas hamil Noah, aku minum susu sapi asli dan alhasil perutku mulas dan aku diare waktu aku hamil Noah"
"Jangan ingat-ingat yang itu, dong! Waktu itu, kan, aku hilang ingatan" Adam langsung mengerucutkan bibirnya dengan sorot mata sedih.
"Maafkan aku, Sayang. Bukan mengingatkan, aku cuma ingin berikan yang terbaik untuk Tari dan cucuku" Sahut Alba dengan mengelus pipi suaminya dan tersenyum geli.
Alba memasukkan susu ibu hamil rasa cokelat karena ia tahu kalau menantunya sangat menyukai cokelat.
"Yang suka cokelat, kan, Tari. Kalau cucu kita yang ada di kandungannya Tari sukanya mangga kayak Noah, gimana?" Tanya Adam.
"Ah, untung kamu ingatkan aku, Sayang. Aku akan beli yang rasa mangga juga kalau gitu biar Tari milih yang mana yang bisa ia minum tanpa rasa mual" Sahut Alba.
"Lalu, apalagi?" Tanya Adam.
"Buah. Kita beli buah" Alba mengajak Adam ke bagian buah-buahan. Alba memasukkan pisang, jeruk lemon, jeruk baby, strawberry, dan terakhir buah naga ke dalam keranjang belanjaan.
"Udah?" Tanya Adam.
"Belum, emm, kita ke bagian buku. Kita harus beli buku cerita biar Noah bisa bacakan buku cerita ke anaknya" Alba bertepuk tangan dan dengan wajah ceria ia berjalan meninggalkan Adam ke rak buku.
Adam menghela napas panjang dan bergegas mengikuti langkah istrinya sembari mendorong keranjang belanja.
Alba memilih beberapa buku cerita yang terbaik dan memasukkan semuanya ke keranjang belanja.
"Udah?" Tanya Adam.
"Bentar. Apalagi, ya? Emm, oh, iya, camilan. Ibu hamil suka nyemil" Alba berlari ke rak yang berisi kudapan dan snack
Adam mengikuti laju larinya Alba dengan langkah pelan dan sambil mendorong keranjang belanja.
__ADS_1
"Emm, Noah suka manis dan Batari suka asin pedas. Aku pilih keduanya aja" Alba memasukkan banyak kudapan dan snack beraneka rasa ke dalam keranjang belanjanya dan Adam langsung memutar keranjang belanja menuju ke kasir.
"Sayang, Tunggu! Kok langsung dibawa ke kasir?" Alba berlari kecil menyusul suaminya yang sudah mengantre.
"Sudah penuh keranjang kita, lihatlah! Lagian kalau belanja terus, kita bisa kemalaman ke rumahnya Barnes dan alhasil kita nggak akan ketemu Tari karena pasti, Tari udah tidur" Sahut Adam dengan helaan napas panjang.
"Ah, kamu pinter. Untuk kamu ingatkan aku soal itu" Alba berucap sembari menangkup wajah tampan suaminya dengan senyum geli.
Adam terkekeh geli melihat tingkah polosnya Alba.
Sementara itu, Batari tengah muntah-muntah di wastafel yang ada di ruang makan. Noah yang tengah menerima panggilan telepon di halaman belakang, langsung berlari masuk ke ruang makan dan dengan wajah panik, ia berkata "Kenapa, Sayang?"
Bryna yang tengah mengucir rambutnya Batari melangkah mundur untuk memberi Noah ruang.
"Tante Tari tiap makan satu sendok, langsung muntah" Sahut Dito.
Noah menggelung rambutnya Tari sambil berkata, "Kita ke rumah sakit, aja. Ayo!"
"Iya. Ke rumah sakit aja lagi" Sahut Amanda yang muncul dari arah dapur sembari membawa teh hangat.
Batari langsung menoleh ke Noah dengan wajah jutek, "Kamu jangan terima telpon lagi!"
Batari menghadap ke Noah dan berkata sambil mengelus perutnya, "Anak kita nggak mau jauh dari kamu. Tadi pas ada kamu, aku makan nggak pakai mual. Tapi, pas kamu pergi angkat telepon, aku langsung mual"
"Oke. Kita coba duduk lagi dan aku akan suapi kamu, ya. Maafkan aku kalau tadi kamu dan anak kita aku tinggal angkat telepon. Maafkan Papa, ya, Nak" Noah mengelus perut ratanya Batari saat Batari telah kembali duduk di depan meja makan.
"Minum teh hangat dulu" Sahut Amanda.
Noah menerima teh hangat itu sambil berkata, "Saya yang akan bantu Tari minum, Ma"
"Baiklah. Mama taruh di dekat kamu tehnya" Ucap Amanda sembari duduk di sebelahnya Noah dan melanjutkan makan.
"Iya, Ma" Sahut Noah.
"Aaaaaa!" Noah memasukkan satu siap nasi dengan lauknya ke dalam mulutnya Batari dan benar, Batari mengunyah dan menelan makanan itu tanpa rasa mual dan tanpa muntah.
Bryna, Amanda, dan Dito menatap heran ke Batari dan Bryna langsung berkata, "Wah, anak gadis kita yang tomboi ini, ternyata pas hamil muda lebih manja daripada kamu dulu. Padahal pas kamu minta Barnes ambilkan mangga milik tetangga, Barnes nggak mau dan bilang ke kamu jangan manja dan minta yang aneh-aneh"
__ADS_1
"Barnes bilang begitu karena ia, takut sama anjing penjaga rumah itu" Amanda terkekeh geli dan berucap, "Kalau orang yang belum pernah merasakan hamil, pasti bilangnya kita manja. Tapi, emang sebenarnya itu yang kita rasakan tanpa kita minta"
"Iya, kau benar. Dengarkan itu, Noah! Kau harus jadi suami siaga dan siap-siap menerima tantangan selanjutnya" Sahut Bryna.
Noah menoleh ke Bryna untuk berkata, "Siap, Tante" Sambil meneruskan aktivitasnya menyuapi istri cantiknya makan.
Dan ajaibnya, Batari bisa menghabiskan semua makanan tanpa mual dan muntah, karena ia disuapin oleh Noah.
Saat Noah membantu Batari minum teh hangat, Alba dan Adam muncul di ruang makan dengan pekik bahagia.
Noah langsung menaruh gelas berisi teh di atas meja saat mamanya langsung berlari memeluk Batari dan memekik senang, "Selamat ya, Cantik. Mama senang sekali sebentar lagi, Mama akan punya cucu"
"Ma,.jangan peluk Tari terlalu erat. Dia baru aja makan dan berhasil makan tanpa muntah" Protes Noah saat ia melihat istri cantiknya meringis.
Alba langsung melepaskan pelukannya dan setelah mencium pipinya Batari, ia berkata, "Maafkan Mama kalau meluknya terlalu kencang. Mama bahagia banget soalnya"
Adam menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya, lalu ia berkata, "Selamat Tari, Noah"
Amanda langsung mengajak Alba, Adam dan semuanya ke ruang keluarga. Alba berkata ke asisten rumah tangganya Amanda, "Emm, maaf Bi Ijah, tolong bawa semua belanjaan yang saya bawa ke dapur dan bawa buahnya ke ruang keluarga"
"Baik, Nyonya" Sahut Bi Ijah.
"Terima kasih banyak atas perhatiannya untuk Tari" Ucap Amanda sembari merangkul bahunya Alba.
"Tari adalah Putriku juga. Nggak usah berterima kasih, Jeng" Sahut Alba.
Dan saat Alba hendak duduk di dekatnya Batari, Batari menarik Noah untuk duduk di sebelahnya dan Noah langsung menoleh ke Mamanya, "Maaf, Ma. Bukannya Batari nggak mau duduk di samping Mama. Tapi, anakku nggak mau jauh dariku. Tari inginnya terus nempel ke aku"
"Wah, kok sama kayak Mama pas hamil kamu" Sahut Alba.
Adam langsung menyemburkan tanya, "Hah?! Bukankah waktu kamu hamil Noah, aku pas nggak ada di samping kamu? Lalu, kamu nemplok sama siapa?"
"Sama kaos kamu. Aku, kan bawa satu koper kaos kamu waktu itu. Aku kalau makan bawa kaos kamu untuk aku ciumi biar nggak muntah" Sahut Alba.
"Benarkah, Ma?" Batari menatap mama mertuanya dengan senyum geli.
Adam tertegun dan langsung berkata, "Kalian para wanita memang makhluk Tuhan yang paling unik dan spesial"
__ADS_1
Semua sontak tertawa mendengar selorohannya Adam Baron dan Noah tersenyum lebar. Cerita mamanya memberikan solusi baginya. Kalau dia harus pergi menjalankan misi dia tidak perlu khawatir lagi soal Batari bakalan mual dan muntah. Karena, Batari bisa mencium kaosnya.
Noah mengikuti obrolan orang tua mereka dengan sesekali mencium pelipisnya Batari yang tengah tiduran di atas pahanya Noah. Dito bermain game online sendirian.