Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Amanda Hilang


__ADS_3

Bryna mengernyit menatap ponselnya dan sambil mengusap air mata di kedua pipi ranumnya, Bryna berucap lirih dengan senyum tipis, "Aku sudah terbiasa kau jadikan yang kedua Jake. Pekerjaanmu tetaplah yang paling utama dan itu memang yang seharusnya kamu lakukan tapi, tetap saja aku merasa kesal, Huuffttt" Bryna lalu memasukkan kembali ponsel mewahnya ke dalam tas bermerk-nya.


Bryna kemudian menatap ke lift dan bergumam, "Apa aku naik lagi ke atas dan melabrak mereka berdua?" Bryna menggoyang-goyangkan bibirnya ke kanan lalu ke kiri dengan sesekali menghela napas panjang. Bryna sungguh-sungguh tidak menyangka, dia mengalami pengkhianatan dua kali dari laki-laki yang ia cintai. Dulu Jake, dia memergoki Jake mencium seorang wanita lalu di saat hari-hari menuju ke pernikahan impiannya semakin dekat, Alex Leonard, tunangannya, berciuman dengan seorang wanita dan masuk ke dalam kamar hotel.


"Kenapa kau nelpon Jake tadi? Padahal kelakuan dia juga nggak jauh beda dengan Mas Alex? Dasar bodoh kau, Bryna!" Bryan menepuk pelipisnya. Kemudian dia bangkit dan bergumam, "Aku akan melabrak mereka dan aku akan memutuskan pertunanganku dengan Mas Alex saat ini juga" Bryna kemudian melangkah masuk ke dalam lift menuju ke lantai kamar VVIP tempat di mana tunangannya tengah bermesraan dengan wanita lain.


Tok, tok, tok, Bryna mengetuk pintu kamar 605 dan seorang wanita yang masih memakai jubah mandi dengan rambut tampak basah membukakan pintu itu.


Bryna memandangi wanita itu dan memberikan penilaian untuk seorang pelakor yang berdiri di depannya, lebih pendek dariku ternyata dan cukup seksi tapi, hanya seksi. Wajahnya standar dan tidak ada yang istimewa.


"Siapa kau? ingin ketemu dengan siapa?" wanita itu bertanya sambil mengibaskan rambut pendeknya yang masih basah.


Bryna langsung mendorong pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar itu. Wanita pelakor itu menahan lengannya Bryna tepat di saat Alex keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang juga tampak basah.


Alex tersentak kaget lalu ia berkata ke wanita yang masih menahan lengannya Bryna, "Lepaskan tanganmu!"


"Tapi, wanita ini kurang ajar Mas. Dia berani nyelonong masuk ke kamar kita dan......."


Bryna berbalik badan lalu ia menatap tajam pelakor tidak tahu malu itu. Kemudian dia segera berucap, "Yang kurang ajar itu kamu. Ku tahu tidak kalau laki-laki yang telah menidurimu, yang berdiri di belakangku saat ini, adalah tunanganku dan kita akan menikah sebulan lagi?"


"Hah?! Apa?! mana mungkin? sejak kapan kau dan Mas Alex berhubungan? kenapa bisa bertunangan dan hendak menikah?" wanita itu memberikan sorot tajam ke Alex Leonard.


Bryna berbalik badan, bersedekap dan menatap tajam ke Alex.


Alex meraup kasar wajahnya dan berkata, "Bryna, sayangku. Dia hanya wanita murahan yang menggoda dan merayuku. Dia memberiku sesuatu di minumanku hingga aku mabuk dan......"

__ADS_1


"Mas!? Kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Aku tidak memberikan apapun ke minuman kamu. Kamu sadar waktu kamu melakukannya tadi dan ......."


"Diam! pergilah! Aku ingin kau pergi!" pekik Alex dengan kedua mata melotot.


Wanita itu menangis sesenggukkan dan terjatuh bersimpuh di atas lantai kamar VVIP itu dan berucap, "Lalu, lima tahun hubungan kita, kau anggap apa Mas?"


Bryna semakin menajamkan tatapannya ke Alex saat ia mendengar kata lima tahun. "Itu berarti akulah pelakornya di sini? Kau mendekatiku saat kau sudah punya pacar, Mas?"


"Dengar! dia bohong sayang. Aku hanya mencintaimu dan dia menjebakku, Bryna jangan percaya semua ucapannya! Aku benar-benar ......."


Bryna melemparkan cincin pertunangan yang telah ia lepas dari jari manis tangan kirinya di lantai sambil berucap, "Aku putuskan pertunangan kita dan jangan pernah menghubungiku bahkan muncul lagi di hadapanku! Nikahi dia karena kau sudah menidurinya!" Bryna lalu berbalik badan dan. berlari pergi meninggalkan tunangannya bersama dengan wanita yang masih bersimpuh di atas lantai dan menangis sesenggukkan.


Bryna masuk ke dalam mobilnya, memasang sabuk pengaman, melajukan mobil mewahnya tanpa berniat untuk menangisi seorang Alex Leonard.


Amanda dibekap oleh seseorang yang masuk lewat jendela kamar lalu dibopong keluar. Salah satu dari ketiga orang yang masuk ke dalam kamar itu membawa koper yang tergeletak di kamar itu.


"Siapa tahu penting" Sahut orang yang membawa koper yang berisi barang-barangnya Barnes dan Amanda.


Flashback On


Tantenya Amanda membawa keranjang belanjaan dan keluar dari dalam rumah dinas suaminya untuk pergi ke pasar tradisional yang berada tidak jauh dari rumahnya, dengan bersungut-sungut.


Saat tantenya Amanda membeli telur di sebuah warung sederhana, seorang laki-laki menepuk pundaknya dan berbisik, "Anda mau uang yang sangat banyak?"


Mendengar kata uang, tantenya Amanda langsung memasukkan telur yang sudah ia bayar ke dalam keranjang belanjaannya lalu menoleh, "Tentu saja mau"

__ADS_1


"Masukkan bubuk ini ke dalam masakanmu dan bubuk ini ke dalam minuman yang akan Anda hidangkan nanti! Dan ini uang untuk Anda" Laki-laki itu menyerahkan dua bungkusan kecil berbentuk kotak dan berwarna cokelat lalu menyerahkan sebuah amplop putih polos berbentuk persegi panjang.


Tantenya Amanda tertegun menatap punggung laki-laki yang telah memberinya amplop yang berisi uang cukup banyak dan dua bungkusan kecil berbentuk kotak dan berwarna cokelat.


Tantenya Amanda pulang kembali ke rumah dinas suaminya dan memilih masuk dari pintu belakang. Dia melongok ke ruang depan dan melihat para tamunya masih asyik berdiskusi di ruang tamu. Tantenya Amanda segera memasak dan mencampurkan bubuk yang diberikan padanya ke dalam masakannya lalu ia juga memasukkan bubuk yang dari bungkusan yang bertuliskan untuk air minum ke dalam teko yang terbuat dari kaca dan ia isi dengan air es sirup berwarna merah menggoda selera setiap orang yang melihatnya. Setelah menaruh semua masakannya dan teko yang berisi air es sirup berwarna menyala itu di atas meja makan, dia bergegas masuk ke dalam kamarnya Laura dan memutuskan mendekam di sana sampai situasi di luar dirasanya aman.


Flashback Off


Laura menoleh ke mamanya, "Sepertinya udah aman, Ma. Udah sepi banget di luar"


"Ayok kita lihat!" Mamanya Laura menggandeng tangan putri tunggal kesayangannya dan berjalan berjinjit tanpa suara menuju ke ruang makan.


Mamanya Laura mencengkeram erat tangan putri tunggal kesayangannya dan berbisik lirih dengan suara bergetar, "A....apa mereka semua mati? Kita kabur sekarang aja, yuk!"


Laura menahan langkah mamanya yang hendak kabur, "Aku cek dulu, Ma" Laura lalu melepaskan genggaman tangan mamanya dan berjalan pelan menuju ke Barnes. Sesaat Laura tertegun menatap wajah Barnes dan bergumam lirih, "Dia tampan banget pas tidur kayak gini"


"Gimana?" Pekik mamanya Laura dengan setengah berbisik.


Laura tersentak kaget dan langsung meletakkan dua jarinya di depan hidungnya Barnes. Dia bernapas lega saat ia bisa merasakan hembusan napas pelannya Barnes di kedua jarinya. Kemudian Laura menoleh ke belakang untuk memandang wajah ayu mamanya, "Aman, Ma. Mereka hanya tertidur"


"Amanda? Ayok kita ke kamar untuk melihat Amanda!" Mamanya Laura mengayunkan tangannya ke Laura dan Laura langsung berlari kecil menuju ke kamar mendahului langkah pendek mamanya.


Ketika ia membuka pintu kamar yang adalah kamarnya sendiri, Laura langsung ternganga dan mematung.


Mamanya Laura bergegas menyusul putri tunggal kesayangannya dan kemudian, ia ikutan ternganga dan mematung. Kemudian ia bersitatap dengan putri tunggal kesayangannya, "Amanda hilang? gimana Mama menghadapi suaminya nanti? Mama bisa dicincang dan........."

__ADS_1


"Kita harus segera balik ke kamar dan pura-pura tertidur. Dengan begitu, suaminya Amanda dan yang lainnya, tidak akan mencurigai kita, ayok Ma!" Laura langsung menarik pergelangan tangan mamanya dan berlari kembali ke kamar Mamanya dan mereka lalu berakting tidur di atas meja belajarnya Laura.


Beberapa menit kemudian, Joy terbangun bersamaan dengan terbukanya kedua kelopak matanya Barnes. Joy dan Barnes bersitatap lalu mereka saling melempar tanya, "Apa yang terjadi?" sambil memegang kepala mereka yang terasa sedikit pening.


__ADS_2