
Jendral wanita saingannya Teguh datang bersama dengan Anka buahnya di dermaga tersebut dan berhasil menangkap semua anak buah Teguh dan menyita semua aset terlarangnya Teguh, menyelamatkan sandera dan berhasil menggagalkan perdagangan ilegal organ dalam manusia dan perdagangan anak-anak gadis di bawah umur.
Tapi, mereka tidak menemukan keberadaannya Teguh, Barnes dan Jake di semua area di sekitar dermaga itu.
Ketika Jake, Barnes dan Teguh berbalik ke samping untuk memasuki bangunan yang gelap dan lembab. Bau busuk menusuk tajam Indra penciumannya Jake dan Barnes. Bau kayu tua yang sudah sangat lapuk, jamur, dan ada sensasi aneh yang membuat bulu kuduk seseorang berdiri tegak.
Teguh tersenyum sinis, dia berjalan di belakangnya Barnes dan sesekali ia menabrak punggungnya Barnes karena ia terlalu menempel dengan punggungnya Barnes. Teguh lalu berkata, "Tidak akan ada yang menerobos masuk dari pintu belakang ataupun dari pintu di awal kita masuk tadi. Tempat ini terlalu menakutkan bagi siapapun"
"Aku bisa memahaminya" sahut Barnes.
"Dan kami tidak butuh bantuan siapapun jika kami harus duel denganmu" Sahut Jake.
Teguh terkekeh dengan nada suara yang mengejek.
Barnes dan Jake bisa melihat bangunan itu sepeti pabrik yang sudah lama terbengkalai. Tua, rapuh, dan hampir runtuh. Jalan yang mereka lalui pun sempit dan kotor dengan bua busuk yang menyengat. Setelah melewati beberapa belokan, sampailah mereka di depan sebuah mesin tua yang sangat besar, terbuat dari besi yang sudah karatan dan mulai keropos di beberapa bagian. Tempat itu lebih terang dari jalanan sempit yang mereka lalui sebelumnya.
"Kenapa Anda membawa kami kemari?" Barnes menatap tajam ke Teguh.
Jake mendengus kesal menatap Barnes, "Kenapa kau masih menghormatinya? Dia seorang psikopat, pembunuh kejam dan pengkhianat Negara dan tim Penanggulangan Narkoba dan mafia kebanggaan kita"
Teguh menoleh ke Jake dengan senyum sinis dan berkatalah dia, "Kau tidak tahu apa-apa anak muda"
"Cih! Semua bukti sudah mengarah padamu maka menyerahlah dan kami akan lunak padamu" Jake menatap Teguh dengan sorot mata geram dan kedua tinju mengepal.
Barnes menepuk pundaknya Jake untuk menenangkan Jake. Jake menoleh ke Barnes dan dengan napas yang masih menderu karena kemarahan yang memuncak, dia akhirnya menganggukkan kepalanya ke Barnes dan menutup mulutnya
__ADS_1
"Katakan apa yang Anda ingin katakan! Dan kenapa Anda menggiring kami ke sini?" Barnes kembali menghunus tatapan tajamnya ke kedua bola matanya Teguh.
Teguh tertawa kecil lalu menghela napas dan berkata, "Pabrik ini milik Igor. Pabrik makanan ringan. Aku dan Igor partner bisnis yang solid karena kami sudah bersahabat sejak kami sama-sama berkuliah di Amerika. Aku kenal Igor karena kami tinggal di apartemen yang sama"
"Teruskan!" Barnes tidak sabar mendengar kelanjutan ceritanya Teguh saat Teguh diam sejenak untuk mengambil napas.
"Aku mengambil jurusan Hubungan Internasional di Amerika karena aku ingin masuk ke badan Intelejen dan Igor mengambil jurusan Ekonomi dan Bisnis. Tanpa kami sadari, kami mencintai gadis yang sama. Gadis itu ........"
"Mamanya Amanda" Sahut Barnes.
"Kau benar. Kau memang selalu cepat tanggap, Barnes. Heni adalah nama kecil Mamanya Amanda, dia adik tingkatku. Heni dan hanya aku yang memanggilnya Heni karena hubungan kami sangat dekat, mengambil jurusan yang sama denganku tapi, rasa cintaku ditolak oleh Heni. Heni lebih memilih Andrei Igor"
"Dan Kamu membunuh Papanya Amanda hanya karena itu?" tanya Jake dengan nada penuh dengan kemarahan.
"Cih! Aku tidak sepicik itu. Aku menerima kekalahan cinta tapi, Andrei mengkhianati kepercayaanku di bidang bisnis ini, di bisnis ini, di pabrik ini, aku menginvestasikan banyak uang tapi, Andrei Igor bertindak curang. Dan aku membalas Andrei dengan membingkainya ke bisnis narkoba tapi, puncaknya, Andrei tega mengkhianatiku lagi dengan melaporkan bisnis narkobaku ke pihak berwajib. Andrei ternyata tidak senaif yang aku kira Aku lalu mengejar Andrei dan menyudutkan Andrei Igor di tempat ini dan aku juga membunuh Andri Igor di tempat ini" Ucap Teguh dengan wajah polos tanpa dosa.
"Dan kenapa Anda membunuh Mamanya Amanda, Pak Axel Dirgantara dan Amanda kecil. Tapi, syukurlah Amanda selamat" sahut Barnes.
"Karena Heni pun mengkhianati aku. Heni menghinaku dan menolakku untuk yang kedua kalinya. Dia bahkan lebih memilih Axel yang jelas-jelas jauh levelnya dariku" sahut Teguh masih dengan ekspresi wajah santai seolah tanpa dosa.
"Dan saya lihat, Anda tidak menyesal sedikit pun"
"Cih! Mereka semua pantas mati karena mereka semua tega mengkhianati aku" Pekik Teguh dengan mata melotot.
"Dan aku menyesal telah menaruh hormat dan rasa bangga yang begitu besar padamu" Barnes mulai geram.
__ADS_1
Teguh lalu memutar badan sambil berkata, "Kita keluar dari sini sekarang!"
"Berhenti!" Pekik Barnes.
Teguh menghentikan langkahnya tapi, ia tidak berbalik badan bahkan menoleh ke belakang. Teguh terkejut, Barnes berani memerintahkan Hanya segelintir orang yang berani memerintahnya. Dan keterkejutan Teguh itu membuat Teguh berkata, "Kenapa, kau merasakan adanya jebakan?"
"Sial! Kau bahkan tega menjebak Barnes? Anak didik kamu, anak emas kamu!" Pekik Jake kesal dan Jake langsung melesat dengan bogem mentah ke arah Teguh.
Teguh berhasil menghindari bogem mentahnya Jake. Lalu memutar badan untuk kembali berhadapan dengan kedua pemuda tampan, anak buah kesayangannya. "Kalian ingin duel terlebih dahulu denganku? Baiklah aku akan ladeni"
"Aku saja cukup jika hanya melawanmu!" Pekik Jake. Lalu Jake berbisik cepat ke Barnes kau cari jalan keluar dan cari bantuan" Kemudian, Jake langsung melesat ke arah Teguh dengan melancarkan beberapa bogem mentahnya.
Barnes langsung berbalik badan untuk memeriksa setiap dinding lembab yang mengelilingi mereka untuk mencari dinding yang ganjil yang bisa ia tendang dan memberikan jalan keluar untuk dia dan Jake sembari memencet kancing di kaosnya untuk mengirimkan sinyal keberadaannya ke ponsel khusus yang dia berikan ke Leon.
"Kau masih menyimpan senjata? Sial!" Jake melompat mundur dan berhasil menghindari satu peluru yang dikeluarkan dari pistol kecil yang Teguh sembunyikan di sepatunya.
Barnes menoleh kaget dan dengan cepat ia melesat ke arah Teguh dan berhasil menendang tangan Teguh sebelum Teguh sempat memuntahkan peluru keduanya pada Barnes. Barnes lalu berteriak, "Ambil pistolnya Jake!"
Teguh tersenyum sinis dan berkata, "Aku menyesal, kenapa aku terlalu percaya diri dan tidak membawa satu pun pengawal saat masuk ke sini bersama dengan kalian cih!"
"Aku bahkan tidak menyangka kalau kau sangat menjijikkan. Kau bisa berlaku curang. Kau suruh kita semua meletakkan senjata kita di depan pintu masuk kan, tadi? Dan kau masih menyimpan satu peluru di sepatu kamu tanpa sepengetahuan kami. Kau benar, kami hanyalah anak kemarin sore yang tidak mengerti apa-apa dan mudah kau bodohi tapi, kami tidak bodoh!" Barnes meneriakkan kata bodoh sembari mendaratkan satu bogem mentah di wajahnya Teguh.
Dan tanpa Barnes duga, Teguh tersenyum sinis sebelum Teguh bersalto, mendaratkan tendangan maut di rahang bawahnya Barnes dan dengan gerakan secepat kilat ia bersalto lagi ke belakang lalu berlari cepat setelah mendarat kembali ke lantai dan menghilang.
Jake mengumpat kesal dan berteriak, "Harusnya aku tembak saja dia, sial! Kenapa aku masih punya rasa iba untuk orang busuk itu, sial!" sambil berlari menyusul Teguh dan Barnes,
__ADS_1
Dan terlambat, Teguh berhasil keluar dan mengunci Barnes juga Jake di dalam pabrik tua itu.
Suara tawa Teguh terdengar di luar dan Jendral berhati kejam dan busuk itu berteriak, "Aku telah pasang bom dan bom ini akan meledak tiga puluh menit dari sekarang. Kalian akan mati. Dasar anak-anak bodoh! Kalian semua tidak akan bisa mengalahkan Teguh"