
Steven Chan tertawa puas di markas besarnya dan sambil memangku kekasihnya yang bernama Belovi, ia berkata, "Aku sukses besar. Pemasukanku atas narkoba jenis baru yang sudah aku luncurkan di pasaran ternyata laris manis" Steven memagut singkat bibir manis kekasihnya, lalu pria tampan berwajah keji itu kembali menggemakan tawanya di ruangan itu.
Belovi tersenyum dan sambil mengelus pipi Steven, wanita seksi yang sebenarnya tidak begitu cantik, tapi menarik itu, berkata, "Aku senang bisnis kamu sukses, Sayang"
"Berdirilah!"
Belovi berdiri dan langsung menatap Steven dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kau, aku tugaskan mencari seorang wanita yang bernama Cantika Putri Baron. Tangkap wanita itu dan bawa kemari!"
"Tapi, untuk apa? Katanya hanya aku wanita kamu, Steve" Belovi langsung mengerucutkan bibirnya dan memandang Stevan dengan wajah penuh kecemburuan.
"Aku ada perhitungan sama wanita itu. Beberapa orang yang aku tugaskan untuk menculiknya, pulang dengan tangan hampa. Padahal sudah tiga tahun. Makanya aku percayakan kasus ini ke kamu. Kamu, kan, cerdas, pintar beladiri dan........."
Belovi melompat ke atas pangkuannya Stevan dan langsung memagut bibir Stevan, kemudian ia berkata di sana, "Dan seksi. Akuilah kalau aku seksi, Sayang"
Stevan mengerang di sela ciumannya Belovi sembari berucap dengan suara serak, "Iya! Arrrghhhh! Kau seksi dan nikmat, Sayangku! Yeeaahhh, benar seperti itu! Teruskan, Sayang! Teruskan!!!!!!"
Sesampainya di warung sederhana bubur ayam, Dito duduk di depan Batari dan Noah duduk di sebelahnya Batari.
Dito menatap sedih wajah cantik mama angkatnya yang menghindari tatapannya, "Ma, Mama nggak ijinkan Dito mengejar Cantika, ya, Ma?"
Bateri masih belum bersedia menatap Dito dan memilih untuk tidak menjawab pertanyannya Dito.
Dito menghela napas sedih dan frustasinya saat ia melihat mama angkatnya masih mengabaikannya. Lalu, Pria tampan itu berkata, "Sikap diam Mama, Dito anggap kalau Mama tidak setuju Dito mengejar Cantika. Tapi, kenapa Mama nggak ijinkan Dito mengejar Cantika. Dito dan Cantika bukan saudara kandung, kan? Apa karena Dito bukan seorang CEO? Apa karena Dito ngga punya rumah mewah nan megah dan nggak punya private jet?"
Namun, Batari bergeming. Ia masih mengabaikan Dito.
Noah merangkul bahu istri cantiknya dan berkata, "Sayang, Dito nanya, kok, kamu cuekin, sih?"
"Ma?" Dito kembali memanggil mama angkatnya.
Batari menghela napas panjang dan akhirnya mengeluarkan suara, "Mama belum bisa kasih jawaban ke kamu sekarang. Mama hanya ingin kamu dan Cantika tetap seperti dulu. Kakak dan adik. Mama ingin kalian selamanya seperti itu"
Noah bersitatap dengan Dito dan saat Dito menunduk lesu, Noah menoleh ke Batari, "Sayang, Cantika dan Dito tidak dilahirkan dari rahim yang sama. Lagian Dito juga belum kita adopsi. Jadi, Papa rasa Dito .........."
__ADS_1
Noah menghentikan ucapannya saat ia melihat Batari menitikkan air mata.
Noah langsung memeluk Batari dan berkata, "Lho, kok, malah nangis? Ma,.ini tempat umum. Jangan nangis, dong!"
"Bodo amat, hu,hu,hu" Sahut Batari.
Dito sontak mengangkat wajahnya dan langsung berkata, "Pa, jangan paksa Mama! Aku paham, kok. Maaf Pa, Ma, bukannya Dito marah atau kecewa saat ini sama Mama, tapi Dito harus segera balik ke camp. Dito duluan balik ke rumah untuk ambil jeepnya Dito. Dito akan ke sini lagi pas Dito ada jatah cuti nanti" Dito bangkit berdiri dan setelah memeluk erat tubuh papa.dan mama angkatnya, Dito berlari pergi meninggalkan warung bubur ayam sederhana itu dan meninggalkan papa juga mama angkatnya untuk segera kembali ke camp.
Batari sontak menarik dirinya dari pelukan Noah dan saat ia tidak melihat Dito, Batari kembali masuk ke pelukan suami tampannya dan menangis sejadi-jadinya sambil berkata, "Kenapa Dito harus jatuh cinta sama Cantika. Kapan, dia jatuh cinta?"
"Dito mau cerita tadi sebenarnya. Tapi, kamu cuekin terus"
Batari semakin kencang menangis dan semakin mempererat pelukannya.
Noah Baron hanya bisa menghela napas panjang dan sambil mengelus lembut punggung Istrinya, pria tampan itu berucap, "Tenang, Ma. Tenang. Jangan nangis terus!"
Dito memarkirkan mobil Jeep kesayangannya di garasi camp tepat jam dua siang. Dia langsung berlari masuk ke kamarnya dan mengunci diri di sana. Hati Dito sedih. Dia telah membuat mama angkatnya menangis. Dia juga sedih karena mama angkatnya, belum memberikan restu dirinya mengejar Cantika. Padahal kenyataan sudah berbicara bahwa Cantika bukan pacarnya Baskara.
"Kenapa mencintai seorang wanita saja bisa serumit ini dan kenapa wanita yang aku cintai itu Cantika Putri Baron?" Gumam Dito.
Telepon genggamnya Dio tiba-tiba berbunyi dan Dito langsung mengangkatnya saat ia tahu siapa yang menghubunginya, "Iya, Om Santo? Ada apa?"
"Sial! Dia masih eksis juga ternyata. Kebetulan aku juga sangat ingin bertemu dengannya, Om. Aku ingin bikin perhitungan dengannya karena ia, telah lancang membunuh Papa kandungku dan telah lancang ingin menculik Cantika"
"Kau pilih partner wanita untuk menyamar jadi pramusaji di salah bar terbesar miliknya Steven Chan, tapi jangan Cantika!"
"Tentu saja, Om. Aku tidak akan ajak Cantika. Walaupun pastinya dia akan marah besar kalau bukan dia yang aku pilih menjadi partnerku di kasus ini" Sahut Dito.
"Yeeeaahhh, dia memang suka protes dan marah. Mirip banget sama Mamanya" Sahut Santo dengan terkekeh geli.
Dito tertawa kecil, lalu ia berucap, "Kapan ku dan partnerku diharuskan berangkat, Om?"
"Om Jorge masih mempersiapkan semuanya malam ini. Besok pagi jam lima, kau dan partner kamu harus berangkat ke lokasi!"
"Siap delapan enam! Laksanakan!" Sahut Dito dengan nada tegas dan sikap sempurna.
__ADS_1
Klik! Santo langsung mematikan sambungan telepon itu.
Dito kemudian memasang masker dan memakai topi, lalu pria gagah dan tampan itu keluar dari dala. kamarnya dan langsung menuju ke kamarnya Baskara, "Kau umumkan semuanya untuk berkumpul di lapangan"
"Untuk apa? Latihan, kan, sudah selesai?" Tanya Baskara.
"Ada misi penting dan aku harus memilih partner"
"Kamu yang ditugaskan untuk berangkat?"
"Iya"
"Kok, bukan aku?"
"Tanya Om Santo, jangan tanya aku!"
"Huffttttt! Oke lah. Aku akan mengumpulkan semua orang di lapangan.
Dito langung melangkah ke lapangan dan menunggu di sana. Dia berdiri dengan sikap istirahat di tempat.
Setelah semuanya berkumpul di depannya, Dito langsung mengambil sikap sempurna dan tanpa berbasa-basi, Dito langsung bertanya, "Dari hasil laporan yang aku terima, Peserta pelatihan terbaik di hari ini adalah Rossi dan Cantika. Selamat untuk kalian berdua. Selamat juga untuk tim pria, ada dua orang peserta terbaik juga. Selamat untuk Leo dan Felix"
Rossi dan Cantika langsung mengulas senyum bangga. Leo dan Feli pun mengulas senyum bangga.
"Saya kumpulkan kalian semua di sini karena ada misi penting dan sangat spesial. Saya butuh partner dan........"
"Pilih saya!" Cantika langung mengangkat tangan kanannya ke atas.
Rossi sontak menoleh ke Cantika dengan ekspresi kaget.
"Juara pertamanya adalah Junior Rossi dan Junior Cantika hanya juara dua. Jadi, saya akan memilih Junior Rossi dan Junior Leo untuk berangkat ke misi penting itu besok pagi jam lima. Rossi dan Leo kalian harus bersiap di lapangan ini jam empat pagi besok" Sahut Dito.
"Siap delapan enam! Laksanakan, Kolonel D!" Sahut Rossi dan Leo secara bersamaan.
"Hei! Kenapa ada diskriminasi di sini? Apakah juara dua tidak berhak untuk ikut? Juara dua tetap juara juga, kan?" Cantika langaung menyemburkan protes.
__ADS_1
Dito menghela napas kesal dan berkata, "Tapi juara dua tetap kalah nilainya dengan juara satu. Jadi, jangan anggap ini diskriminasi!"
Cantika melotot ke Dito dan saat ia ingin membuka suara lagi, Rossi langsung membungkam mulut Cantika.