
Barnes keluar dari ruangannya dan langsung berbelok ke kanan, ke arah teras belakang dan sesampainya di teras belakang, ia berkacak pinggang dan mengedarkan pandangannya. Ia melihat kastil tersebut dikelilingi taman tropis, Komandan pasukan khusus itu bisa melihat ada banyak kamar di kastil itu dan laki-laki tampan berbadan tegap itu bergumam, "Lalu di mana aku bisa menemukan Amanda? kamarnya banyak sekali"
Barnes kemudian kembali masuk ke dalam kastil dan berkeliling. Dia melihat pintu di setiap kamar kastil itu yang semuanya tertutup rapat dan terkunci. Kastil itu dihiasi dengan perabotan tradisional dan juga fasilitas modern yang sangat indah dan berhasil membuat Barnes berdecak kagum.
Barnes sampai di sebuah ruang makan. Ia melihat ada beberapa ruang makan di sana mulai dari yang kecil sampai ke ruangan yang terluas dengan perabotan khas yang seolah membawa Barnes kembali ke masa lampau. Barnes hendak mengirim pesan text ke Jake tapi kemudian ia teringat bahwa ponsel dia dan Jake disita di pintu masuk pendaftaran para tamu undangannya Praja Anggada.
Barnes menghela napas panjang dan akhirnya dengan sedikit berlari dia kembali ke ruangannya dan langsung mendapatkan pertanyaan dari Jake, "Gimana, ketemu?"
"Pengawasan kastil ini sangat ketat. Di setiap kamar ada penjaga yang berjaga di depan pintu dan semua pintu tertutup dan terkunci. Dan kamar di kastil ini banyak banget" Barnes duduk di kursinya dengan wajah kesal.
"Ya udah, kita tunggu aja, gadis yang kau cari Tiu ditawarkan dan dilelang di panggung besar itu" sahut Jake.
Dan Barnes langsung menggertakkan geraham dan mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak rela melihat Amanda dipajang di panggung, dipertontonkan, ditawarkan dan dilelang tapi, mau bagaimana lagi, ia tidak berdaya saat itu.
Barnes datang dadakan ke pulau pribadinya Praja Anggada tanpa persiapan, tanpa senjata apapun dan tanpa tim-nya.
Amanda terbangun di antara banyak sekali gadis yang masih tampak muda dan sebagian besar dari para gadis itu berparas elok dan berambut indah. Amanda mengedarkan pandangannya di ruangan luas itu dan menghitung jumlah gadis yang terkumpul di ruangan luas itu bersama dengan dirinya.
__ADS_1
Amanda bergumam lirih, "untuk apa ketiga puluh gadis ini dikumpulkan di ruangan ini?"
Amanda bisa mendengarkan pikiran sebagian besar dari ketiga puluh gadis itu, mereka semuanya ketakutan dan panik. Hanya Amanda yang masih merasa tenang karena, ia belum mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
Saat pintu terbuka dan lima orang laki-laki melangkah masuk ke ruangan luas itu, barulah Amanda mengeluarkan keringat dingin, dadanya naik turun karena, panik dan takut. Amanda bisa mendengar pikiran kelima laki-laki yang masuk ke ruangan itu. Di pikiran mereka, mereka ingin memilih lima orang gadis untuk mereka cicipi madunya lalu kelima gadis yang terpilih akan langsung dilelang setelah mereka cicipi madunya.
Beberapa menit kemudian, kelima laki-laki itu keluar dari ruangan luas itu dengan membawa gadis pilihan mereka masing-masing. Kelima gadis yang dibawa oleh kelima laki-laki dewasa itu diseret keluar dari ruangan itu dengan wajah penuh tanda tanya karena, mereka tidak mengetahui apa yang akan mereka alami selanjutnya. Amanda segera menghela napas lega karena dia tidak terpilih namun, ia sekaligus merasa berdosa karena, ia bersyukur di atas penderitaan kelima gadis yang terpilih tadi dan dia merasa bersalah tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong kelima gadis itu.
Beberapa detik kemudian napas.Violet.trrcrkst ketika ia mendengar pikiran seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu yang berkata bahwa Praja Anggada mencari seorang gadis yang bernama Amanda Dirgantara. Amanda bagai tersambar petir saat ia mendengar suara menggelegar, "Yang mana Amanda Dirgantara? Maju ke depan cepat!"
Amanda seluruh badannya bergetar, keringat mulai nampak di alisnya dan keringat itu mulai mengucur turun ke pelipisnya Amanda memucat wajahnya dan bergeming di tempat ia berjongkok.
Amanda terpaksa berdiri dengan kaki lemas tak berdaya dan gemetaran.Lalu laki-laki itu menyeringai dan langsung menarik Amanda dan menyeretnya keluar dari ruangan super luas itu.
Amanda bisa mendengarkan pikiran orang yang menyeretnya menuju ke suatu ruangan. Pikiran orang itu berkata, jelek sekali anak ini. Udah kurus, rambutnya keriting parah dan tak terawat. Kok bisa-bisanya si Bos membelinya dengan harga mahal.
Amanda kemudian didorong masuk ke dalam ruangan. Gadis yang berparas ayu di masa kanak-kanaknya itu, bergetar ketika ia berdiri di depan seorang laki-laki gemuk, pendek dan botak. Laki-laki itu mengerutkan keningnya, "Kau yang bernama Amanda Dirgantara?"
__ADS_1
Amanda hany mampu mengangguk pelan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Laki-laki pendek, gemuk dan botak itu langsung membanting asbak yang terbuat dari kaca ke tembok. Suara pecahnya asbak kaca itu membuat semua yang berada di ruangan itu terkejut dan panik termasuk Amanda. Amanda semakin ketakutan dan dadanya berdrbar begitu hebat karena panik saat laki-laki yang ia yakini bernama Praja Anggada itu mencekik lehernya, "Aku telah ditipu mentah-mentah oleh Tante kamu. Dia bilang kamu cantik ternyata, cih! sisi mana dari wajah dan tubuh kamu yang bisa mewakili kata cantik? dasar Dirgantara brengsek!" Lalu ia mendorong Amanda sampai punggung Amanda membentur tembok.
Amanda merasakan nyeri di punggung dan lehernya tapi, ia tidak berani berteriak sakit.
Lalu laki-laki bertubuh gemuk, pendek dan botak itu, memanggil anak buahnya, "Dandani dia dan langsung pajang di panggung. Jangan cicipi dia karena, aku ingin balik modal, gadis jelek itu sudah aku bayar sangat mahal dan hanya keperawanannya saja yang berharga maka dandani dia, pajang dia dan jangan sentuh apalagi mencicipinya!"
"Baik Bos Praja" anak buah dari laki-laki yang dipanggil Bos Praja itu segera menyeret Manda lalu memasukkan Amanda ke ruang yang mirip dengan ruang rias dan ganti baju.
"Dandani dia secantik mungkin dan aku akan bawa dia ke panggung secepatnya!" perintah anak buahnya Praja Anggada ke tukang rias yang disewa oleh Praja Anggada untuk mendandani para gadis yang Praja beli.
Asisten pribadinya Praja memberanikan diri untuk bertanya, "Anda membayar paling mahal untuk Amanda Dirgantara, Bos. Tapi kenapa, Anda ridak mencicipinya dulu?"
"Kau lihat kan seperti apa gadis yang bernama Amanda Dirgantara tadi? aku sama sekali nggak napsu melihat gadis kurus kering dengan rambut berwarna merah keriting tak terawat, cih! keperawanannya yang mahal maka aku akan lelang dia di urutan pertama.agar aku bisa balik modal" sahut Praja sambil menghisap dalam-dalam cerutunya.
Amanda bisa mendengar pikiran orang-orang disekitarnya saat ia telah selesai didandani dan memakai gaun malam berwarna merah menyala yang sangat terbuka. Pikiran orang-orang yang Manadq dengar, membuat Amanda bergidik ngeri dan hilang harapan karena, ia tahu, ia akan dipajang, dipertontonkan di depan orang banyak dan dijual.
__ADS_1
Amanda hendak menangis namun, tersentak kaget dan tidak jadi menangis ketika anak buahnya Praja berteriak, "Jangan pernah menangis! riasan kamu akan luntur dan jika riasan itu luntur kamu akan terlihat jelek dan tidak laku. Jika kamu tidak laku malam ini, maka Bos Praja akan membunuh semua keluarga Tante kamu"
Amanda langsung menahan air matanya dengan sekuat tenaga karena, ia tidak ingin jika Omnya sampai dibunuh oleh Praja Anggada. Amanda terus diseret menuju ke ruangan yang terletak paling ujung dari koridor panjang yang ia lalui.