
Sial! Ternyata benar kata para pujangga di luar sana kalau pria setangguh apa pun pasti jatuh di bawah kerling wanita. Sial! Kenapa aku bisa lengah dan jatuh ke cewek gorila ini. Batin Dito kemudian.
Belova asyik membelai tubuh Dito yang tegang dengan ibu jarinya di saat pria itu masih sibuk meronta dan berusaha untuk melepaskan diri.
Ini membuat Dito mengerang frustasi karena ia tahu jika Belova tidak menghentikan aksinya, dia akan segera mencapai puncak. Tiba-tiba Dito mendengar suara, lemah, namun jelas terdengar dari ruangan sebelah.
Seseorang baru memasuki ruang sebelah. Sial,sial,sial! Apa itu Angga, Doni, Papa, Mama, Om Jorge, atau Om Santo? Batin Dito melonjak senang dan berharap salah satu nama yang ada di pikirannya itu muncul dan menyelamatkannya.
Belova sontak menegakkan kepalanya untuk bertanya ke Dito, "Kau mendengar sesuatu?"
Dito langung mendapatkan ide untuk mengulur waktu, meminta pertolongan sekaligus mengalihkan perhatian wanita itu dari tubuhnya dengan berteriak kencang, "Iya! Aku dengar sesuatu. Tolong aku!"
Belova langsung membungkam mulut Dito, "Ssstttt! Jangan berteriak kencang! Aku nggak tuli, bodoh!"
Dito mendelik ke Belova dan Belova langsung menarik tangannya, melompat turun dari atas tubuh Dito, dan melesat ke pintu samping untuk mengecek ada apa atau ada siapa di ruangan samping.
"Hei! Kau mau ke mana?! Sial! Aku justru mengarahkan gorila itu ke ruang sebelah" Dito menghela napas kesal.
Belova berkata, "Ssstttt!" Sambil meraih senjata berapinya yang ada di meja.
"Sial! Kau hendak memerkosa aku tadi dan sekarang kau ingin menembak seseorang? Kau ini bahkan lebih menjijikan dari binatang mana pun di dunia ini!" Dito berteriak kencang agar siapa pun yang ada di ruangan sebelah mendengarnya dan bersikap waspada.
Belova mengabaikan teriakannya Dito. Wanita cantik bertubuh seksi dan molek itu kemudian memiringkan kepalanya, menempelkan telinga ke daun pintu untuk mendengarkan suara di ruangan sebelah, dan berkata dengan lirih, namun suaranya bisa sampai di telinganya Dito yang tajam, "Aku akan membuka pintu dan menembak mati orang di ruangan sebelah"
Dito mengumpat kesal dan seketika ia kembali berteriak untuk menjaga keselamatan orang di ruangan sebelah siapa pun itu pasti orang itu ada di pihaknya karena orang tersebut tidak segera membuka pintu, dan dia bisa merasakan detak jantung orang yang ia sayangi. Jadi, Dito yakin banget kalau orang yang ada di ruang sebelah ada di pihaknya, "Kau tidak ingin terlibat dengan polisi, kan? Kalau kamu menembak mati seseorang maka kau akan dihukum mati. Sekarang lakukan saja niat kamu semula, sial! Perkosa aku sekarang juga brengsek! Jangan berdiri di depan pintu sambil membawa pistol!"
Belova menegakkan wajahnya dan tampak berpikir.
__ADS_1
Dito mengumpat kesal saat ia mendapat dirinya sulit untuk bisa fokus berpikir di saat darah menggelegak di seluruh pembuluh,kulit yang terasa terbakar, kepala terasa sangat pening, dan tubuh menegang.
"Jangan menambah korban lagi! Jangan muntahkan peluru dari senjata berapi kamu itu!"
"Maksudmu jangan menambah korban selain dirimu dan aku hanya boleh menggunakan senjata api ini ke diri kamu? Begitu?" Belova menyeringai.
Rahang Dito sontak mengeras dan Dito langsung mengangguk sambil berkata, "Iya. Korban sekali itu diriku. Jadikan aku saja menjadi korban kamu. Lakukan apa yang kamu suka dan jangan.........."
Braaaakkk! Pintu terbuka lebar dan membuat Belova terpelanting ke samping dan jatuh di atas lantai dengan posis miring ke kanan.
"Doni!" Pekik Dito kaget dan pria tampan itu sontak mengumpat kesal di dalam hatinya, sial! Apa dia sudah menempatkan Cantika di tempat yang aman?"
Dooorrrrr! Doni langsung menembak dada wanita di depannya saat wanita itu mengarahkan pistol ke wajahnya. Pistol yang wanita itu pegang terlempar ke depan dan langsung diambil oleh Doni.
Saat Doni menunduk, Wanita itu berlari kencang dan Teriakan Dito, "Awas Doni!" Tidak bisa mengelakkan Doni dari suntikan wanita itu. Doni langung terkapar di lantai tak berdaya.
"Dia beruntung aku hanya membawa suntikan obat bius. Dia hanya akan tidur selama setengah sampai satu jam. Tapi, aku akan
membuatnya tidur selamanya" Wanita itu memegang pistol dengan tangan kiri karena Dada kanannya terluka. dan mengarahkan pistol itu ke kepalanya Doni.
"Tidaaakkkk! Jamgaaannn!!!!" Dito kembali meronta dan berteriak kencang.
Dan dhuaggg! Kursi yang terbuat dari besi menghantam keras wajah Belova dan Belova terjengkang ke belakang dan jatuh di atas lantai dalam kondisi pingsan setelah terdengar bunyi ada tulang tulang patah di tubuh wanita itu.
"Cantika? Sial! Kenapa kau muncul di sini dan hanya memakai jubah mandi? Apa yang........."
"Ssstttt! Aku akan ikat dulu wanita ini sebelum ia bangun dari pingsannya"
__ADS_1
"Sial! Apa Doni melihatmu dengan jubah mandi seperti itu?"
"Dia bukan hanya melihat. Dia juga memanggulku" Ucap Cantika dengan santainya sambil mengikat Belova dengan tali nilon yang ia ambil dari pinggangnya Doni.
"Cantika! Astaga! Kau membuatku marah saat ini! Aku tidak rela Doni memanggul kamu dengan jubah mandi seperti itu dan melihatmu seperti itu?"
Cantika melangkah pelan mendekati Dito dan sambil melepas ikatan Dito dengan pisau yang dia ambil dari atas meja, Cantika berucap, "Doni tidak melakukan apa pun padaku. Dia pria sopan. Bagaimana dengan wanita itu, apa yang sudah ia lakukan padamu? Kenapa kondisi kamu seperti ini? Bertelanjang dada dan celana kain kamu melorot"
"Jangan berpikiran macam-macam! Aku tidak biarkan dia melakukan apa pun padaku. Aku tidak ijinkan dia memperkosaku, Sayang. Aku masih Dito kamu yang suci dan hanya milik kamu seorang"
"Benarkah? Kamu tidak bohong?"
"Tentu saja tidak! Apa kau sudah kunci pintu di luar?"
"Sudah. Kenapa kau tanyakan itu?"
"Aku butuh bantuan kamu untuk meredakan ketegangan di tubuhku" Dito menunduk dan Cantika sontak menunduk lalu berkata, "Oke. Aku paham. Aku akan membantu kamu meredakan ketegangan kamu" Lalu, Cantika bersimpuh dan Dito sontak memekik kaget, "Apa yang akan kau lakukan? Kenapa kau bersimpuh?"
"Membantu kamu melepaskan ketegangan"
Dito tidak sempat memprotes tindakannya Cantika saat Cantika sudah memulai aksinya. Dito justru menangkup kepala Cantika dan menuntun Cantika bergerak dengan lebih benar dan lebih cepat. Dito mengerang frustasi dan tidak lama kemudian, pria tampan itu mencapai puncak dan memekik kencang, "Sayangku! Terima kasih! Aku mencintaimu, Cantika!"
Cantika kemudian bangkit berdiri dan setelah ia membantu Dito memakai kembali celana kain dan bajunya, Dito mengajak Cantika bericuman cukup lama kemudian dengan terpaksa ia melepaskan ciumannya dan berkata, "Aku akan berterima kasih dengan benar nanti. Sekarang aku akan mencari Steven Chan. Kamu tetap di sini biar aman. Kamu panggil Papa dan Mama untuk ke ruangan ini" Dito menyerahkan telepon genggamnya ke Cantika dan setelah mencium pucuk kepalanya Cantika dengan sangat dalam, pria tampan dan gagah itu pergi meninggalkan ruangan itu dan langsung berkata ke Cantika, "Kunci pintunya dan jangan dibuka kalau bukan teman kita"
Cantika menganggukan kepalanya.
Cantika berjalan ke dalam dan berganti baju saat ia menemukan baju ganti yang pas dengan ukuran tubuhnya. Lalu, ia kembali ke depan untuk menunggu Doni sadar dari pingsannya.
__ADS_1