
Joy berjongkok di bukit untuk melihat trailer yang ia ketahui, Duscha Igor disekap di sana. Joy terus mengamati keadaan di luar trailer itu. Ada lima orang laki-laki berbadan tegap dan kekar berkeliling di trailer itu. Joy berpikir, jika dia bisa melumpuhkan kelima orang itu maka dia bisa masuk ke dalam trailer tapi, dia tidak mengetahui ada berapa orang yang berjaga di dalam trailer berwarna merah menyala itu.
Tuk, tuk, tuk, Joy menoleh kaget saat pundaknya diketuk beberapa kali oleh seseorang dan dia bernapas lega karena yang mengetuk-ngetuk pundaknya adalah Amanda.
Amanda mengerutkan alisnya dan berbisik, "Kenapa kau bisa ada di sini? Dan kenapa kau memandangi trailer itu? Kalau kelamaan natap trailer itu, ati-ati! Trailer itu bisa naksir sama kamu, Joy" Amanda lalu mengulum senyum menahan geli.
Joy mendengus kesal dan tanpa menoleh ke Amanda dia menjawab lirih, "Duscha disekap di sana"
"Hah?!" Amanda tanpa sadar memekikkan rasa kagetnya dan Joy langsung membungkam mulutnya Amanda dengan mendelik.
Amanda menarik tangannya Joy dari mulutnya lalu ia bertanya, "Berarti, Barnes dan yang lainnya juga ada di sekitar sini?"
Joy menganggukkan kepalanya sambil berucap, "Diam di sini dan jangan ikuti aku!" dan Joy langsung melompat turun untuk melancarkan serangan dan melumpuhkan ke kelima orang yang sedari tadi, Joy lihat berkeliling di sekitar trailer secara bergantian. Tepat di saat pandangan matanya menangkap kelima orang itu tengah merokok, tidak berkeliling lagi dan berkumpul bersama di titik yang sama di sebelah timurnya trailer berwarna merah itu, Joy langsung melompat turun dan dengan gerakan cepat dan mematikan, ia berhasil melumpuhkan Kelima orang berbadan kekar tersebut.
Joy lalu mengendap-endap dan berhenti di depan pintu masuk trailer tersebut saat dilihatnya tidak ada orang yang berjaga lagi di sekitar trailer itu
Amanda mengecek pinggangnya dan tersenyum lega saat mendapati pistol pemberiannya Duscha masih berad di sana. Lalu ia ikutan melompat turun menyusul Joy.
Tuk,tuk,tuk! Joy terkejut dan hampir saja menyarangkan tinju di wajah cantiknya Amanda. Joy langsung mendelik ke Amanda, "Kenapa menyusulmu?!"
"Aku juga ingin menolong kakakku. Bukankah suatu pekerjaan itu menjadi lebih cepat dikerjakan jika ada bantuan dari orang lain?"
Bisik Amanda di telinganya Joy lalu ia memamerkan deretan gigi kelincinya ke Joy.
Joy kembali menatap ke pintu masuk trailer dan sambil mendengus kesal, ia berucap lirih, "Kita belum tahu keadaan di dalam dan ada berapa orang yang menjaga Duscha lalu, apakah mereka bersenjata ataukah tidak, aku juga belum tahu"
"Aku tahu" Amanda mengetuk pelipisnya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kau bisa baca pikiran orang lain walaupun ada penghalangnya?"
Amanda menganggukkan kepalanya dengan bangga.
"Oke, apa yang kau ketahui?" tanya Joy masih dengan suara yang sangat lirih.
"Ada lima orang di dalam. Dan ada dua orang yang memegang senapan. Tapi, saat ini mereka tengah bersantai menunggu perintah dari Teguh" sahut Amanda sambil menempelkan telinganya ke pintu masuk trailer itu.
"Oke! Aku dobrak pintunya dan bersiaplah untuk menembak orang yang membawa senapan. Kau bisa kan menembak?"
"Aku juga belum tahu karena belum mencobanya di real life, hehehe. Tapi ayo kita coba saja, daripada bengong di sini lama-lama malah kita yang ikutan tertangkap dan disekap kayak Kak Duscha" ucap Amanda dengan wajah polos dan santai.
"Sial!" Joy mengumpat kesal lalu dia mendobrak pintu masuk trailer itu yang ternyata tidak terkunci dan hal mengejutkan itu, membuat Joy jatuh tersungkur di depan. Amanda yang sudah bersiap dengan pistolnya langsung membungkukkan badan dan menembak dia orang yang berdiri di sebelah kanannya Duscha dan Joy dengan cepat memuntahkan peluru yang ada di pistolnya untuk menembak orang yang membawa senapan yang berdiri di sebelah kirinya.
Duscha.
Amanda berlari membebaskan Duscha dari ikatannya lalu, dor,dor,dor! Amanda menembak ketiga orang yang mengeroyok Joy tepat di kaki mereka.
Joy mendelik ke Amanda dan Amanda meringis lalu berucap, "Maaf! Aku jadi kecanduan memuntahkan peluru dari pistolku ini, hehehehe"
Joy lalu menyarangkan tendangan kaki mautnya ke ketiga orang yang tengah mengaduh kesakitan karena kakinya terkena peluru panasnya Amanda dan ketiga orang itu langsung pingsan. "Sial! Kita harus pergi dari sini segera sebelum ada orang lain yang ke sini karena mendengar suara peluru kamu tadi"
Amanda langsung berteriak, "Bantu aku menyangga tubuh kakakku. Buset! berat banget ya kakakku ini?"
Joy langsung berlari dan menyangga sisi kiri tubuhnya Duscha. "Oke! Benar kata kamu. Duscha sangat berat dan kurasa, kita perlu membuatnya sadar dulu biar dia bisa jalan sendiri dan membantu kita jika ada orang ke sini" Joy celingukkan mencari air untuk ia cipratkan ke wajahnya Duscha, namun tidak ada air di sana.
"Cium aja Kak Duscha!" Amanda mengeluarkan kata itu dengan wajah serius tapi bernada santai.
__ADS_1
Joy langsung menoleh ke Amanda, "What!?"
"Aku serius. Cepat cium Kak Duscha!" ucap Amanda.
Joy lalu menangkup wajah Duscha ia tarik ke arahnya untuk ia cium bibirnya Duscha. Joy tersentak kaget saat tangan Duscha yang tersampir di bahunya terangkat, menangkup kepala bagian belakangnya dan membalas ciumannya Joy dengan sangat dalam.
Joy mendorong tubuh Duscha dan ia langsung mendengus kesal saat ia melihat Amanda dan Duscha terkekeh geli.
"Aku akan bikin perhitungan sama kalian karena kalian sudah berani mengerjai aku tapi, kita harus keluar dulu dari sini" Joy merengut kesal ke Amanda dan Duscha.
Amanda menoleh ke kakak laki-lakinya dan bertanya, "Kakak bisa berjalan, kan?"
"Tentu saja dia bisa berjalan bahkan berlari pun bisa karena dia sudah mampu menciumku dengan penuh semangat, cih!" Joy langsung berbalik badan dan berlari kecil meninggalkan Amanda dan Duscha. Duscha menggandeng tangan Amanda untuk mengikuti langkahnya Joy sambil bergumam, "Dia marah banget sepertinya. Itu tadi ide kamu, kamu harus bertanggung jawab lho" Duscha menoleh ke Amanda sambil terus berlari kecil, menggandeng Amanda dan cemberut
Amanda mengulum bibirnya lalu berucap, "Dia nggak marah, tenang aja! Dia cuma malu, hihihihi"
Dan saat mereka membuka pintu, mereka dikejutkan dengan pemandangan sepuluh orang laki-laki tertelungkup tak berdaya di atas tanah dan Jordy, Jorge, Jude berdiri tegak di tengah-tengahnya.
"Terima kasih udah merespons dengan cepat suara tembakan tadi" Sahut Joy.
"Sama-sama" Sahut Jorge, Jude dan Jordy.
"Di mana Suamiku?" Amanda menautkan alisnya.
"Dan Jake?" suara Bryna terdengar di sekitar mereka.
Leon tampak terengah-engah dan ikutan bertanya, "Iya, di mana tuan Barnes dan Jake?"
__ADS_1