Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Angka


__ADS_3

Dito membeliak kaget saat ia melihat wanita asing yang ada di depannya berteriak kencang dengan mata melotot. Dito Ketika langsung kaku badannya dan menatap wanita asing di depannya dengan ketakutan.


Batari mendekat untuk melihat kedua bola matanya anak laki-laki mungil, berambut gondrong, yang ada di gendongannya Noah, dan Batari langsung berbalik badan dengan wajah merengut. Bam!!!!! Batari menutup keras pintu kamar dan membuat kedua pundaknya Jake, Bryna, Noah, Lopez, Danny, dan Santo secara bersamaan terangkat ke atas. Semuanya lalu saling melempar pandangan dan Dito langsung menyembunyikan wajahnya di lengannya Noah.


"Saya, kan, udah nanya pas tadi di mobil, Bos. Nyonya Bos apakah akan setuju? Karena, Bos belum kasih tahu Nyonya Bos soal anak ini sebelumnya" Ucap Lopez.


Noah menghela napas panjang dan berucap, "Yeeeahhh! Kamu benar, Pez"


Santo menyahut, "Danny, kita masuk kamar aja! Nggak usah ikutan" Danny dan Santo berjalan beriringan masuk ke kamar mereka.


"Anak siapa itu Noah?" Tanya Bryna dan Jake secara bersamaan.


Noah berkata, "Ini anak dari wanita pembawa bom di kereta, tadi, Tante, Om. Emm, bisa tolong gendong anak ini sebentar? Saya akan menemui Batari dan menjelaskan semuanya"


Bryna siap menerima anak kecil yang disodorkan oleh Noah, namun Anak kecil itu memegang erat kaosnya Noah dan menjerit ketakutan.


"Coba aku yang gendong" Sahut Jake.


Noah menyodorkan punggung Dito ke Jake.


Jake memeluk Dito dari arah belakang sambil berucap, "Kakek Jake punya permen cokelat, kau mau?"


Dito yang masih mencengkeram erat kaosnya Noah, menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kalau bola? Mau nggak main bola dengan Kakek?" Sahut Jake sambil menepuk pelan dadanya Dito dari arah belakang.


Dito akhirnya melepaskan kaosnya Noah, berbalik badan dan menghambur masuk ke dalam pelukannya Jake.


Noah menghela napas panjang dan berkata, "Tolong jaga Dito sebentar ya, Om"


"Hmm" Sahut Jake sambil terus mengelus punggungnya Dito.


Lopez membuka suara, "Sepertinya anak itu hanya menyukai pria tampan" Lalu Lopez pamit ke Jake dan Bryna untuk pergi ke dapur.


Bryna terkejut geli mendengar ucapan dan tingkah konyolnya Lopez, lalu ia mengelus punggungnya Dito dan berkata ke suaminya, "Kamu udah pantes jadi Kakek. Kapan anak kita menikah dan memberikan kita seorang cucu, ya, Mas?"

__ADS_1


"Hush! Anak kita baru aja lulus kuliah dan kerja, masak iya, sudah kau suruh nikah" Sahut Jake. Anak kita laki-laki, umur tiga puluh aja belum telat untuk laki-laki menikah. Dia tuh, tampan kayak aku dan banyak yang suka. Tapi, biarkan dia belajar untuk mandiri dulu. Kalau nggak mandiri, kan, kasihan Istrinya nanti. Ucap Jake sambil terus mengelus punggungnya Dito karena, ia masih bisa merasakan getar ketakutan di tubuh anak kecil yang masih dia dekap.


"Sebenernya yang cewek, tuh, siapa, sih? Aku atau kamu? Ceriwisnya minta ampun, ya, kalau udah ngomong Kok mesti panjang dan lebar" Sahut Bryna dengan wajah tersenyum geli.


"Lho, aku jadi kayak gini tuh sejak nikah sama kamu. Aku ceriwis tuh karena ketularan kamu, enak aja!" Sahut Jake dan Bryna langsung mencubit gemas bahunya Jake disertai tawa lepasnya.


Noah masuk ke dalam kamar saat ketukannya di pintu tidak mendapatkan sahutan dari dalam.


Batari tidur di atas ranjang dengan posisi miring dan membelakangi pintu.


Noah melepas kaos dan celana jinsnya yang kotor, menaruhnya di atas meja, lalu ia melangkah pelan untuk naik ke atas ranjang dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kolor.


Noah menyentuh bahunya Batari dengan pelan dan Batari langsung menggoyangkan bahunya dengan teriakan kesal, "Lepaskan aku! Dasar tukang selingkuh!"


"Lho, lho, lho. Mana tukang selingkuhnya?" Noah bertanya dengan nada sabar dan lembut.


Alih-alih menjawab pertanyannya Noah, Batari mendengus kesal.


Noah kembali menyentuh pelan bahu istrinya dan istri cantiknya itu kembali menggoyangkan bahunya dan berkata, "Jangan sentuh aku, brengsek!"


Batari langsung bangun, duduk di atas ranjang dan menoleh ke Noah, "Apa anak itu anak kamu dengan Putri yang bernama Amina itu?"


"Lho, lho, lho, kok bisa jadi begitu?" Noah tersenyum ke Batari dengan tampang polos tanpa dosa.


"Berhenti bilang lho, lho, lho! Nggak lucu! Dan jangan tersenyum seolah kamu nggak punya dosa!" Batari bersedekap, menatap ke depan dan merengut.


"Sayang, kenapa kamu bisa punya pemikiran seperti itu? Anak yang aku gendong tadi, namanya Dito Sembodo. Dia anak dari wanita pembawa bom di kereta api. Kamu emangnya nggak lihat berita?"


Batari menggelengkan kepalanya dengan tegas dan dengan masih merengut dia tidak menoleh ke Noah.


"Lalu, kamu seharian ngapain aja? Masak ya? Atau nyuci? Atau ........."


Batari menoleh tajam ke Noah dan Noah pura-pura kaget dan berkata, "Sayang, kamu udah bikin aku kaget, lho. Kamu ternyata cantik dan seksi banget kalau pas marah kayak gitu"


Batari semakin mengerucutkan bibirnya dan bernapas dengan lebih cepat karena kesal Kemudian, istri cantiknya Noah itu berteriak kesal, "Jangan mengalihkan pembicaraan! Dan jangan tutupi dosa kamu! Akui saja kalau anak itu anak kamu!"

__ADS_1


"Dosa apa?" Aku udah katakan kalau anak itu anak wanita pembawa bom yang ada di kereta api. Wanita pembawa bom itu ditangkap polisi dan dia meminta tolong aku untuk merawat anaknya sementara ia menjalani proses hukum Kalau nanti ia bebas dari penjara, ia akan mengambil kembali anak itu. Apa kamu mau menjaga, merawat, membesarkan, dan melindungi anak malang itu denganku, Sayang? Kasihan dia, dia udah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini"


Noah menatap lekat kedua bola matanya Batari dengan penuh kejujuran dan ketulusan.


Batari bisa melihat kejujuran di kedua bola mata birunya Noah, lalu ia berkata, "Jelaskan dulu, kenapa bola mata anak yang kau gendong tadi, berwarna biru? Sama persis dengan kedua bola mata kamu"


"Apa iya? Aku malah nggak perhatikan. Saat anak itu masuk ke dalam dekapanku, dia langsung tidur dan terus tidur. Anak itu membuka matanya pas kamu teriak tadi"


Sahut Noah.


Batari terus menatap Noah masih dengan keraguannya.


"Aku akan lakukan tes DNA kalau kamu masih belum percaya sama aku" Noah memegang kedua bahunya Batari


Batari menganggukkan kepalanya, "Hmm. Kita akan lakukan tes DNA"


Noah menghela napas panjang dan berkata, "Aku sedih kamu bilang seperti itu. Karena itu berarti, kamu nggak percaya sama aku"


"Semua pria di dunia ini tidak pantas dipercayai di saat pria itu membawa masuk seorang anak dengan bola mata yang sama. Sekalipun itu Noah Baron"


Noah melepaskan kedua bahunya Batari, lalu ia mencabut beberapa helai rambutnya dan menyerahkannya Batari, "Ini rambutku. Lakukan tes DNA besok. Maaf kalau aku nggak bisa ikut, aku harus menyusul Papa Barnes dan The Five Jays secepatnya"


Batari menerima beberapa helai rambutnya Noah dan ada sedikit rasa bersalah di dalam. hatinya, lalu ia berkata, "Maafkan aku! Bukannya aku nggak percaya sama kamu, tapi aku hanya ingin memastikannya saja"


Noah mencium keningnya Batari dan berkata, "Iya, aku paham, kok. Lakukan saja yang kau mau, aku paham memang semuanya harus jelas sebelum kamu mengambil keputusan yang sangat besar untuk merawat anak itu. Maafkan aku juga kalau aku nggak kasih tahu kamu sebelumnya karena semuanya serba dadakan"


Setelah menyimpan rambutnya Noah di tempat yang aman, Batari tersenyum dan berkata, "Aku akan melihat anak itu dan ingin berkenalan dengannya. Tapi, maaf kalau aku belum bisa menerima sepenuh hati anak itu sebelum aku tahu hasil tes DNA-nya.


"Iya, baiklah, nggak papa. Ayo!" Noah tersenyum lebar sembari mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangannya Batari.


Batari menahan tangannya Noah dan berkata, "Kamu mandi aja dulu. Katanya kamu harus buruan ke tempatnya Papa"


Noah mencium keningnya Batari dan berkata, "Iya kamu benar. Aku mencintaimu" Lalu, Noah berlari untuk masuk ke dalam kamar mandi.


John Murray mematikan layar televisi saat ia menerima sebuah amplop.

__ADS_1


John Murray terpana saat ia menatap angka 98.90 persen...............


__ADS_2