
"Aduh!" Cantika mengaduh dan menarik pergelangan tangannya dari genggaman tangan Dito..
Dito tersentak kaget dan langsung bertanya sambil menarik pergelangan tangan Cantika untuk dia cium lalu tiup dengan pelan sambil bertanya, "Masih sakit? Maafkan aku. Aku lupa kalau pergelangan tangan kamu luka karena gesekan borgol semalam. Maafkan aku telat datang dan......"
"Ssstttt" Cantika langsung menempelkan. jari telunjuk ke bibir Dito, "Jangan minta maaf lagi! Aku baik-baik saja. Aku bahkan sudah sembuh seorang ini. Lebih baik kita segera pergi dari tempat ini sebelum orang yang membuntuti kita tadi berhasil menyusul kita ke sini"
"Sial! Kamu benar, Babe" Dito melepaskan tangan Cantika lalu ia melajukan mobil dengan cepat.
Untuk melepas ketegangan dan menghapus kesunyian, Dito kembali melirik pangkuan Cantika dan berkata, "Aku masih penasaran soal itu"
Cantika refleks menoleh ke Dito untuk bertanya apa yang dimaksud oleh Dito. Namun, saat ia melihat Dito melirik pangkuannya Cantika menonjok baju Dito, "Aku tak suka kau memikirkan itu"
"Kau tak suka aku memikirkan apa, hah?" Dan, sambil menyeringai menggoda Dito kembali bertanya, "Memangnya kau tahu apa yang aku pikirkan, Babe?"
Memangnya Cantika akan menyatakan keras-keras apa yang ia pikirkan? Tidak mungkin. Wanita cantik berbola mata biru itu langsung bersedekap, "Pokoknya aku tahu. Dasar otak mesum!"
"Hahahaha! Otak mesum apa? Otak kamu, tuh, yang mesum" Dito menoleh sekilas ke Cantika dan kembali tertawa terpingkal-pingkal.
Cantika kembali menonjok baju Dito, "Pokoknya aku nggak suka kamu memikirkan itu"
"Kita lihat nanti pas kita sudah sampai di penginapan" Sahut Dito.
"Lihat apa?" Cantika sontak menoleh tajam ke Dito.
Dengan setengah berbisik, Dito berkata, "Aku nyaris melihatnya kemarin dan hari ini Jika aku bergerak lebih liar dan tidak bisa mengendalikan diriku, aku akan melihat........"
"Sial! Kau membuat otakku traveling ke mana-mana Dito Zeto. Awas saja kalau kamu menyiksaku hanya dengan ciuman dan sentuhan lagi. Aku yang akan memperkosa kamu" Cantika menggeram kesal.
"Hahahahaha. Tuh, kan, otak kamu yang mesum. Emangnya aku memikirkan apa?"
__ADS_1
Pletak! puncak kepala Dito kena bogem mentahnya Cantika.
"Hei, sakit! Aku lagi nyetir, nih. Kau kasih bogem mentah kepalaku membuatku kehilangan momen kamu dengan pose itu. Aku hampir saja mengingatnya"
Saat Cantika hendak mendaratkan lagi bogem mentahnya di puncak kepalanya Dito, pria tampan itu berucap sembari berbelok ke area kosong, memarkir mobil di lapangan parkir dan memandang berkeliling, "Kalau kau kasih aku bogem mentah lagi, aku bisa pingsan di sini padahal kita sudah sampai,nih, di penginapan"
Cantika tersentak kaget dan langsung melihat berkeliling, "Penginapan ini lebih bagus dari yang kita tinggalkan, Dito" Cantika.menyusul Dito turun dari mobil.
"Iya. Pengamanannya pun ketat. Makanya aku pilih penginapan ini" Ucap Dito sembari menutupi mobil dengan cover mobil. Karena orang yang membuntutinya tadi, tahu jenis mobil dan pelat nomer mobil yang Dito kendarai.
"Ayo kita buruan masuk sebelum ada orang yang melihat kita" Dito memegang tangan Cantika dan langsung mengajak Cantika melangkah lebar setengah berlari untuk segera masuk ke penginapan.
"Kopernya?"
"Baju ganti untuk malam ini ada di tas ranselku. Aku udah siapkan semua untuk malam ini. Jadi, kita tidak perlu turunkan koper. Kelamaan"
"Baiklah. Terserah kamu saja"
"Aku lihat ada bar, Dito" Ucap Cantika sambil mengunci pintu kamar.
"Sepengetahuanku, barnya buka saat makan siang dan tutup sebelum makan malam. Jadi, pas para tamu tidur di lantai satu ini mereka tidak akan terganggu dengan keramaian di bar itu"
"Oooooo. Aku mau mandi dulu"
"Hmm" Sahut Dito menarik menyibak sedikit gordyn besar berwarna cokelat terang untuk mengecek kondisi di luar penginapan. "Syukurlah, aman" Sahut Dito.
Noah, Santo, dan Jorge berhasil menyusul tim anak buahnya Steven Chan yang berada di tiga buah mobil mini Van berwarna hitam gelap. Dengan kecerdasan, kegesitan, dan kelihaian mereka, Noah, Santo, dan Jorge berhasil melumpuhkan ketiga mobil van berwarna hitam gelap itu dan otomatis berhasil mengurangi jumlah anak buah yang mengikuti Steven Chan.
"Di depan masih ada berapa banyak lagi?" Tanya Noah sembari mengisi kembali pistolnya.
__ADS_1
"Ada sekitar empat buah mobil Van. Barisan depan anak buahnya Steven Chan yang cukup mumpuni. Kita harus lebih berhati-hati dan jangan merasa hebat lalu menjadi ceroboh" Sahut Santo sembari terus memainkan jari jemarinya di atas keyboard dan kedua matanya terus menatap layar laptop.
"Bilang itu ke Om Jorge. Dengar, kan, Om, apa kata Santo?"
"Oh! Kalau kata Komandan Barnes, yang penting maju dulu soal lawan kita seperti apa dan berapa banyak, kita pikirkan belakangan"
"Wah! Kalau soal Papa mertua, aku nggak berani berkomentar" Sahut Noah dan Santo langsung menyahut, "Dasar gila kalian semua"
Jorge langung menggemakan tawa renyahnya dan Noah hanya menggelengkan-gelengkan kepala.
Saat Cantika keluar dari kamar mandi, Dito langsung bangun dari rebahannya. Pria tampan itu sontak kesulitan menelan air liurnya sendiri saat ia melihat Cantika keluar hanya berbalutkan handuk mandi dan rambutnya dalam kondisi basah terurai. Air yang menetes ke kulit polosnya Cantika yang tidak terbalut handuk, membuat Dito ternganga tanpa ia sadari.
"Astaga! Lantai penginapan banjir oleh air liur kamu, Dito!" Ucap Cantika sambil mengulum bibir menahan geli.
Dito sontak menutup rapat mulutnya dan mengusap dagu untuk mengecek apakah ada air liur di sana dan saat ia tidak menemukan apa-apa, dia mendelik ke Cantika, "Kamu pinter menggoda sekarang, ya?" Dito berucap sembari melangkah perlahan menghampiri Cantika.
"Mandi dulu! Bau kamu asem"
"Aku mau mandi dengan kamu" Dito langung membopong Cantika.
.
Cantika sontak memekik kaget, "Kyyaaaaa!!! Dito! Aku sudah mandi!"
"Bodo amat!" Dito melesat masuk ke kamar mandi dan membuka handuk mandi yang membalut tubuh indahnya Cantika lalu ia membuat keran dan air hangat menguyur tubuh dia dan Cantika dari shower. Dito menyusuri tubuh Cantika dengan tatapan panasnya dan sambil melepas kaosnya, Dio berkata, "Babe, aku tidak mampu lagi untuk menahan diri. Kalau bertemu Mama kamu nanti, Mama Tariku, Kamu yang mintakan maaf untuk aku, ya? Aku tidak sanggup meminta maaf sama Mama Tari dan ..... hmmppttthh!"
Cantika memagut bibir Dito dan berkata di sana, "Jangan banyak berpikir! Kita lakukan saja yang bisa kita lakukan sekarang!"
"Wah! Kamu mengikuti prinsipnya Kakek Barnes, ya? Tapi, kamu ucapkan prinsip itu di waktu yang kurang tepat, Babe" Dito mengulum bibir menahan geli.
__ADS_1
"Bodi amat" Cantika kembali memagut bibir Dito.