
Amanda membuntuti Barnes dengan terus bertanya, "Kau marah, ya?"
Barnes terus melangkah masuk ke halaman kantor dinasnya dengan membisu.
Amanda kemudian berlari kecil dan berhasil mensejajari langkahnya Barnes dan kembali mengajukan tanya, "Kau marah kan? Iya, kan? marah sama diriku apa sama Mikha? tapi kenapa kau marah? aku dan Mikha nggak melakukan apapun, kan?"
Barnes mengerem langkahnya lalu menoleh ke Amanda, "I prefer keeping my words than yelling worthless words"
"Hei! Aku ngerti bahasa Inggris walaupun aku cuma lulusan SMA jadi, jangan pakai bahasa Inggris untuk merendahkanku. Aku bukan gadis bodoh!"" Amanda melipat tangan mengerucutkan bibirnya lalu berbalik badan, melangkah meninggalkan Barnes.
Kedua bola mata Barnes mengikuti arah langkah kecilnya Amanda yang menuju ke parkiran mobil Jeep mewahnya dengan tatapan heran dan dengan kata di dalam hatinya, harusnya aku yang marah kan? kok dia yang mengerucutkan bibirnya sekarang ini? dasar tidak peka.
Barnes kemudian berlari dan menarik lengannya Amanda, "Aku pakai bahasa Inggris bukannya bermaksud untuk merendahkanmu aku......."
"Dia pakai bahasa Inggris kalau dia merasa sangat kesal" sahut Jake yang tiba-tiba berdiri di tengah-tengahnya Barnes dan Amanda.
Amanda menatap Barnes lalu menatap Jake sambil menarik lengannya dan berucap, "Aku nggak peduli" Lalu Amanda melompat naik ke dalam mobil Jeep dan menunduk untuk kembali menatap Barnes dan Jake, "Aku nggak mau masuk ke dalam lagi karena, aku nggak suka dengan Joy, titik nggak pakai koma!" Lalu gadis berambut merah itu membanting pintu mobil Jeep mewahnya Barnes dengan sangat kencang dan berhasil membuat Barnes dan Jake mengangkat kedua pundak mereka karena terkejut.
Barnes dan Jake lalu saling pandang dengan menautkan kedua alis mereka. Barnes kemudian berkata, "Kau urus undangan untuk Amanda. Nanti malam kan ada undangan makan malam dengan Menteri Pertahanan dan Keamanan"
"Hah?!"" sahut Jake yang masih menautkan kedua alisnya.
"Aku nggak bisa meninggalkan istriku sendirian di rumah saat malam hari" sahut Barnes.
"Tapi, makan malam itu akan melibatkan banyak pejabat negara dan orang-orang penting. Apa Amanda akan siap dengan jamuan makan malam semacam itu?" Ucap Jake semakin mengerutkan alisnya.
"Aku nggak bisa meninggalkan dia sendirian tanpa.pengawasanku. Aku nggak mau dia tiba-tiba kabur dari rumah atau diculik orang dan......."
"Baiklah aku akan atur satu kursi lagi untuk si rambut merah" Jake akhirnya mengalah. Dia selalu malas jika harus berdebat dengan Barnes karena Barnes idak pernah mau kalah dan tidak pernah mau mengalah.
Barnes lalu menepuk pundaknya Jake, "Satu lagi yang harus kau camkan baik-baik! Jangan pernah memiliki niat memeluk istriku kayak tadi!"
"Oke sori, Bro! Kau kan tahu, kalau aku memang orang yang seperti itu. Aku selalu spontan ingin memeluk siapa aja kalau aku lagi happy" Jake mengeluarkan nada ringan tanpa rasa bersalah.
"Iya itu memang benar Kau boleh peluk siapa saja, tapi jangan istriku!" Barnes mulai mendelik.
"Oke! Oooookeeee!" Jake meninggikan nada suaranya karena kesal dengan sikap posesifnya Barnes yang dia nilai sangat berlebihan.
Barnes lalu mengangkat tangannya dari atas pundak Jake dan berkata, "Bagus!"
"Aku harus benar-benar berhati-hati jika berada di dekat istrimu mulai dari sekarang. Bakat dia yang bisa membaca pikiran orang, sangatlah hebat. Aku sungguh-sungguh mengagumi bakatnya itu. Tapi ia berbahaya bagiku karena aku ini selalu memiliki pemikiran yang aneh-aneh walaupun aku orang yang polos dan........"
__ADS_1
"Cih! polos dilihat dari Hongkong?" Barnes tersenyum tipis lalu ia menoleh ke mobil Jeep mewahnya dan kemudian berkata, "Dia memang sangat istimewa sedari kecil. Itulah kenapa, aku sangat mencintainya sedari aku masih kecil"
"Dasar gila!" pekik Jake dengan wajah kesal.
Barnes spontan menoleh ke Jake dengan menyemburkan tanya, "Siapa yang gila?"
"Kalian berdua. Kau dan si rambut merah itu. Dan jika aku terus bersama dengan kalian, aku juga akan gila" Jake berucap dengan ketus.
"Hei! Kau itu sudah gila dari dulu, bahkan lebih gila dariku" Barnes berucap sembari memeluk bahunya Jake lalu kedua anggota kepolisian dari pasukan elite itu tertawa terbahak-bahak secara bersamaan.
Barnes lalu berucap sambil melepaskan rangkulannya, ""Aku antar Amanda pulang dulu. Kau tolong urus semuanya. Nanti malam kita bahas rencana kita besok, di rumah"
Jake mengacungkan ibu jarinya tanpa mengeluarkan kata.
Barnes lalu memutari mobil Jeep mewahnya dan masuk ke jok kemudi. Dia menoleh ke kanan dan tersenyum saat ia melihat Amanda sudah jatuh tertidur dengan sangat nyenyaknya.
Barnes lalu memasangkan sabuk pengamannya Amanda dengan pelan, memasang sabuk pengamannya sendiri dan melajukan mobil Jeep mewahnya setelah itu.
Sesampainya di kediaman mewahnya yang merupakan warisan dari Kakeknya, Barnes melompat turun dari atas Jeep mewahnya, memutari mobil jeepnya itu dan naik ke jok penumpang untuk melepas sabuk pengamannya Amanda namun, tiba-tiba Amanda membuka kedua kelopak matanya. Untuk sepersekian detik, Barnes dan Amanda bersitatap.
Amanda mendorong dada Barnes dengan tanya, "Mau apa kau?"
"Duduklah!" Barnes menoleh ke pintu masuk dan menyuruh Amanda untuk duduk di sofa ruang tamu.
Amanda duduk dengan tatapan penuh tanya.
Barnes segera memberikan penjelasan atas perintahnya menyuruh Amanda duduk, "Aku ingin mengajakmu makan malam nanti malam. Bersiaplah! aku akan ajak kamu ke suatu tempat dulu dan aku tunggu di sini!"
"Kenapa tidak ajak pergi dari tadi? kenapa setelah sampai di rumah baru bilang kalau mau pergi lagi, sih?" Amanda berkata dengan nada kesal.
"Karena kamu tidur tadi dan aku tidak tega membangunkanmu" sahut Barnes.
Kalau gitu, aku gini aja nggak usah ganti baju lagi. Malas!" Amanda berucap sembari bangkit dan melotot ke Barnes, "Ayok! kok malah bengong. Katanya mau ajak aku pergi?"
Barnes langsung bangkit dan melangkah lebar menuju ke mobil Jeep mewahnya.
Beberapa menit berikutnya, kedua suami istri yang terikat pernikahan kontrak selama setahun itu, sampai di sebuah salon kecantikan yang cukup besar dan terkesan mahal.
Amanda melepas sabuk pengamannya, menoleh ke Barnes dengan tanya, "Kenapa mengajakku ke sini? Aku benci salon kecantikan"
"Aku ingin kau tampil beda malam ini. Aku ingin kau tampil percaya diri" sahut Barnes. "Ayok turun!" ucap Barnes sabil melompat turun dari atas mobil Jeep mewahnya.
__ADS_1
Amanda melompat turun dengan malas-malasan. Dia berjalan dengan melengkungkan tubuhnya dan menyeret langkahnya pelan-pelan karena ia memang anti masuk ke dalam salon kecantikan. Dia sangat jarang masuk ke salon kecantikan untuk sekadar potong rambut karena, kalau disisir oleh orang lain selain dirinya sendiri, rambut keriting parahnya akan rontok dan akan terasa sangat sakit.
Barnes telah membuka pintu salon kecantikan itu lalu menoleh ke belakang. Ia melihat Amanda berjalan dengan menyeret kaki, melengkungkan tubuh dan menundukkan kepala dengan bibir manyun. Barnes langsung berteriak, "Cepetan masuk atau akan aku kasih hukuman lagi?"
Amanda langsung mengerem langkahnya, menegakkan badan dan segera berlari masuk.
Barnes mengulum bibir menahan senyum saat ia melihat Amanda tanpa disuruh, telah duduk di salah satu kursi salon yang masih kosong.
"Tolong ubah istriku menjadi seseorang yang beda tapi, jangan ubah rambutnya!" ucap Barnes.
"Aku luruskan rambutnya boleh?" tanya si pemilik salon kecantikan langganan Mamanya itu.
"Akan makan waktu berapa lama kalau diluruskan?" tanya Barnes.
"Sekitar tiga jam" sahut si pemilik salo. kecantikan.
"Oke! Aku setuju. Kalau gitu, aku serahkan istri aku ke kamu dan aku akan keluar sebentar. Jangan biarkan dia kabur!" sahut Barnes.
"Kabur?" tanya si pemilik salon kecantikan.
"Dia nggak suka pergi ke salon jadi, ada kemungkinan dia akan kabur" sahut Barnes.
"Ah, baiklah Tuan Barnes! Aku akan jaga istri kamu dengan sangat baik"
"Dan jangan biarkan siapapun mendekatinya! apalagi cowok!"
"Siap Tuan!" sahut si pemilik salon kecantikan dengan senyum lebar.
Barnes lalu pergi untuk membelikan gaun malam.
Beberapa jam kemudian Barnes sampai di sebuah butik baju langganan Mamanya. Dia sana di kebingungan sendiri karena ia tidak pernah memilih baju untuk seorang wanita.
"Anda ingin membeli apa, Tuan Barnes? Untuk Mama Anda atau saudara kembar Anda?" tanya si pemilik butik yang berbeda dengan pemilik butik yang membawakan baju santai ke rumahnya kemarin. Butik itu khusus menyediakan bermacam-macam gaun khusus untuk jamuan mewah.
"Untuk istri saya" sahut Barnes singkat.
"Istri Anda itu seperti apa orangnya? saya akan coba pilihkan"
Barnes lalu tersenyum penuh cinta saat ia mulai membayangkan Amanda dan tanpa sadar ia meluncurkan kata, "Dia ramping, berkulit putih, berambut keriting dan rambutnya berwarna merah, dia liar tapi lembut, lugu tapi cerdas dan dia pribadi yang unik. Untuk itulah saya sangat mencintainya"
Pemilik butik tersebut tersenyum lebar saat melihat wajah Barnes penuh dengan cinta saat Barnes menggambarkan sosok istrinya. Lalu pemilik butik itu berkata, "Saya akan pilihkan beberapa gaun berwarna merah kalau begitu, sesuai dengan karakter liar yang ada di diri istri Anda dan sesuai dengan warna rambut istri Anda"
__ADS_1