Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Ceroboh


__ADS_3

Barnes tersenyum lebar saat ia akhirnya menemukan titik lemah dari gerbang besi yang melingkari halaman belakang kediaman mewahnya Duscha Igor. Lalu komandan super tampan dan gagah itu menepuk pundaknya Jake sambil berkata, "Kau bisa mundur empat langkah?"


Jake memandangi Barnes dengan heran namun, ia menuruti permintaannya Barnes. Jake mundur empat langkah.


"Oke stop! Thank you, Bro. Lalu, bisakah kau bersimpuh?" tanya Barnes.


Walaupun masih belum mengerti maksud Barnes yang sebenarnya, Jake bersimpuh dengan pandangan mata tidak terlepas dari wajah Barnes yang tengah mengulas senyum tipis.


"Thank you, Bro" Barnes berucap sambil berlari dengan sangat cepat, melompat di atas pundaknya Jake dengan tangkas lalu melompat naik ke atas gerbang dan hilanglah Barnes dari pandangannya Jake.


Jake memutar bola mata sembari bangkit dan berputar badan, "Sial! kenapa dia selalu saja ngeyel dan ceroboh jika berkaitan dengan si rambut merah"


Di saat Jake hendak melompat ke atas gerbang untuk menyusul Barnes, tiba-tiba, kriiiiinnggggg!!! bunyi nada dering yang sudah terdengar kuno itu karena Jake sesungguhnya tipe cowok yang konservatif, berbunyi sangat nyaring.


Jake mengumpat kesal dan membatalkan niatnya untuk melompat ke atas gerbang. Dia mengernyit menatap nama yang tertera di ponselnya, "Bryna?" gumamnya. Jake langsung mengangkat panggilan itu dan berucap, "Halo, ada apa? kenapa kau selalu saja meneleponku di saat yang tidak tepat, Babe?"


Bryna mengernyit dan segera menyemprotkan kekesalannya ke Jake, "Dan kenapa kau marah-marah? Kau tidak suka aku telpon? kalau gitu, selamanya aku nggak akan pernah meneleponmu lagi!" Klik. Bryna mematikan sambungan ponsel itu


Jake ingin membanting ponselnya di atas trotoar tapi kemudian ia ingat kalau dia masih membutuhkan ponsel tersebut karena situasinya sangat genting saat itu. Jake memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana jinsnya sambil mengumpat, "Saudara kembar yang menyebalkan. Yang satu ngeyelan yang satu galak bukan main. Dan sialnya aku terlanjur menyayangi keduanya.


Jake hendak melompat naik ke atas gerbang namun, ia urungkan kembali niatnya itu saat ia merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang. Jake menoleh dan ia melihat wajah polosnya Jude.


"Mana Komandan?" tanya Jude


"Justru ini aku akan menyusulnya. Kenapa kau malah tepuk pundakku?" Jake menggeram kesal.


"Komandan sudah melompat masuk?" tanya Jude dengan wajah panik.


Jake menganggukkan kepalanya sambil berkacak pinggang.


Jude berjongkok dan hendak melompat. Jake langsung menghalangi niat Jude, "Kau di sini berjaga di luar dengan Jays lainnya! Aku yang akan menyusul Barnes. Aktifkan terus alat komunikasinya dan perintahkan Leon untuk terus memantau pergerakannya Barnes. Aku pasang kamera mini di kancing bajunya Barnes tadi"


"Tapi, Kolonel........."

__ADS_1


"Nggak ada tapi-tapian" Jake langsung berbalik badan dan dengan sigap melompat naik ke atas gerbang dan dengan cepat menghilang dari penglihatannya Jude.


Jude segera menginformasikan kondisi terbaru ke teman-temannya dan Jorge segera menyusul Jude untuk berjaga di gerbang belakang, sedangkan Joy dan Jordy, berjaga di gerbang depan.


Kelima penembak jitu yang dikirim oleh Jendral Teguh masih berdiam diri di posisi strategis mereka masing-masing dan Leon masih terus memantau layar laptop untuk mengikuti pergerakannya Barnes sambil bergumam, "Kenapa Anda nekat sekali sih Tuan. Semoga Anda dan Nyonya bisa keluar dari sana dengan selamat, amin"


Barnes berhasil membungkam mulut salah satu dari anak buahnya Duscha Igor yang berjaga di gerbang belakang. Barnes berbisik di telinga anak buahnya Duscha Igor, "Jawab dengan jujur dengan anggukkan kepala kalau kau tak ingin mati!"


Orang yang dibekap oleh Barnes dari belakang itu, menganggukkan kepalanya.


"Ada perempuan berambut merah di sini, kan?" bisik Barnes di telinga orang malang yang berhasil ia bekap.


Orang itu menganggukkan kepalanya.


"Dia disekap di mana?" bisik Barnes.


Orang itu menggelengkan kepalanya.


"Oke, aku lepaskan mulutmu biar bisa berbicara tap, jika kau berteriak, aku akan langsung membunuhmu"


"Katakan, perempuan berambut merah itu, disekap di mana?"


"Dia tidak disekap karena dia tamu kehormatannya Tuan Duscha. Dia ada di kamar lantai dua yang menghadap ke timur, di depa. kolam renang persis"


Barnes lalu memukul kepala bagian belakang orang malang itu dan setelah orang itu melemas pingsan, Barnes menyeretnya ke tempat paling tersembunyi dan bergumam, "Kau akan tidur cukup lama. Maafkan aku!" Barnes lalu berlari melesat dengan penuh kehati-hatian menuju ke kamar yang berada di bagian timur, di depan kolam renang dan berada di lantai dua.


Di saat ia melihat ada pergantian shift jaga di sekitar area kolam renang, Barnes dengan cepat dan sigap melompat naik ke balkon lantai dua dan masuk ke sebuah kamar lalu bersembunyi di balik gorden sambil melihat ke luar jendela, ke pemandangan yang baru saja ia lintasi. Barnes lalu keluar perlahan dari balik gorden saat ia mendapati kamar itu sepi. "Apa benar, ini kamarnya Amanda?"


Barnes lalu tersenyum lega saat ia melihat mainan mungil berkaca bulat yang memperlihatkan dua sejoli saling bersandar punggung dan berpegangan tangan. Barnes mengambil mainan itu, mengelus kacanya lalu meletakkan kembali mainan itu di atas meja kayu berkualitas tinggi. "Manda masih menyimpannya ternyata"


Barnes kembali mengulas senyum saat ia menangkap akuarium mungil berbentuk bulat dari kaca tembus pandang. Lalu ia bergumam, "Berarti benar, ini kamarnya Manda"


Barnes mendengar suara langkah kaki ringan, ia segera berbalik badan dan langsung mematung saat kedua bola matanya disuguhi pemandangan indah, Amanda berdiri di depannya berbalutkan gaun tidur berwarna hitam berenda yang sangat seksi.

__ADS_1


Siapa yang membelikannya gaun tidur seseksi itu? Barnes mulai terbakar cemburu.


"Laki-laki yang berdiri di depanmu ini, berdebar kencang jantungnya Karena ia sangat merindukanmu. Dan apa yang kau rasakan saat ini? Apakah jantungmu juga berdebar-debar, Nyonya Barnes?"


Amanda tertegun menatap Barnes karena ia masih belum memercayai sepenuhnya penglihatan dia saat itu. Karena penglihatan dia sudah sering menipunya.


"A...apa ini ilusi lagi? apa ini mimpi?" Amanda berbisik lirih dengan sorot mata sendu. Tujuh hari terpisah dari suaminya, benar-benar melumpuhkan semua harapannya untuk bisa bersua kembali dengan pujaan hatinya.


Barnes melangkah maju, menarik tangan Amanda lalu ia letakkan tangan itu di atas dadanya, "Aku berdiri nyata di depanmu saat ini. Kau bisa rasakan debaran jantungku, kan?"


Amanda mengangkat wajahnya dan ia bersitatap dengan Barnes. Amanda kemudian bertanya dengan tatapan polos dan dengan tangan yang masih menempel di dadanya Barnes,, "Kenapa ini berdebar?"


"Karena aku sangat merindukanmu. Karena tujuh hari perpisahan kita sungguh-sungguh membuatku hampir gila dan Kamu semakin cantik. Kamu .............." Tangan kiri Barnes terangkat untuk membelai pipi kanannya Amanda.


"Aku apa Barnes?" Amanda merah wajahnya.


"Kamu sangat menggoda dan seksi. Kau telah membuatku sesak napas saat ini, Manda" Barnes menempelkan keningnya ke kening Amanda.


"Kenapa kau sesak napas?" Amanda berucap dengan napas menderu menahan kerinduan yang ingin segera ia luapkan ke Barnes namun, harus ia tepis kerinduan itu demi keselamatannya Barnes.


"Karena aku mencintaimu. Aku mencintaimu dari dulu. Sejak kamu masih kecil. Bagaimana denganmu? Apa kau mencintaiku?" Barnes mencium pucuk hidungnya Amanda lalu mencium keningnya Amanda cukup lama.


Amanda terdiam. Dia ingin meneriakkan kata cinta sekeras-kerasnya namun, kenyataan yang ada bahwa Barnes dan dia berada di kubu yang berlawanan, membuat Amanda menahan kata cinta yang sudah tertanam sangat dalam di seluruh jiwa raganya untuk Barnes Adiwilaga Darmawan seorang.


Sementara itu di luar, Duscha dengan riang gembira melangkah menuju ke kamarnya Amanda dengan membawa satu buket mawar putih nan cantik. Duscha menaiki anak tangga menuju ke lantai dua satu per satu dengan wajah berseri-seri karena ia akan memberikan bunga ke Amanda. Bunga kesukaannya Amanda, mawar putih.


Barnes menggeram karena kecewa. Kata cinta yang ia harapkan tidak meluncur keluar dari bibir manisnya Amanda. Maka dengan penuh rasa penasaran ia berucap, "Kau boleh diam dan tidak mengucapkan apapun tapi, aku bisa tahu dari ini" Barnes langsung menyambar bibirnya Amanda. Dia menghujani bibirnya Amanda dengan ciuman lembut lalu ke pagutan-pagutan kecil yang menggoda. Amanda tidak kuasa menolaknya, dia membalas ciuman Barnes dan bergerak memeluk pinggangnya Barnes untuk memperdalam ciuman mereka.


Barnes tersenyum dan berbsisik dibatas bibirnya Amanda, "Aku tahu kalau kau juga mencintaiku"


"Diamlah dan jangan berhenti menciumku!"


"Aku tidak akan berhenti karena aku tidak bisa." Barnes meraih tengkuknya Amanda, menariknya untuk memperdalam ciuman mereka.

__ADS_1


Langkah Duscha semakin mendekati kamarnya Amanda......................


__ADS_2