
Tanpa Cantika duga, dengan mudahnya pria yang bernama Dito Zeto bisa merebut pistol itu dan membalikkan badan Cantika sampai wajah Cantika terbenam ke bantal. Dito lalu berbisik di telinga Cantika, "Jangan bermain pistol! Kau akan melukai dirimu sendiri"
Cantika langsung menarik wajahnya dari bantal dan menoleh tajam ke belakang sambil berteriak, "Lepaskan aku! Kau menyakitiku!"
Dito melepaskan Cantika dan melompat ke belakang. Setelah kakinya menapak lantai, Dito menyarangkan kembali pistolnya di punggungnya dengan seringai mengerikan.
"Apa yang kau inginkan dengan menculikku? Kau inginkan uang atau apa, hah?!"
"Aku bilang, kan, kalau aku ingin belajar bersikap pada makhluk yang bernama wanita lewat kamu"
"Kau akan menahanku di sini berupa lama?!" Cantika mendelik ke Dito.
"Setelah kamu menyerahkan diri kamu dengan rela hati ke pangkuanku dan mencintaiku"
"Kau!!!!!? Kau gila, ya?! Aku nggak akan pernah jatuh cinta pada pria aneh macam kamu"
"Aku akan memberimu waktu tiga bulan. Kalau selama tiga bulan kamu masih belum menyerahkan diri kamu ke pangkuanku, maka aku akan lepaskan kamu. Aku juga kasih waktu ke Tina dan Zimba tiga bulan. Mereka dengan rela hati akhirnya menyerahkan diri mereka ke pangkuanku dan ........"
Cantika melompat turun dari ranjang dan langsung menampar keras pipinya Dito sambil berkata, "Berhenti menyamakan diriku dengan Gajah dan Singa kamu! Dasar pria gila!"
Dito meraih siku Cantika lalu dengan cepat memutar tubuh wanita itu. Dia meletakan kedua tangan Cantika di atas kasur dan meregangkan kaki Cantika lebar-lebar.
Selama lima detik penuh, Cantika tidak bisa bergerak. Pundaknya kaku, lehernya tegang saat telapak tangan Dito bergerak lambat di kulit punggungnya yang terbuka. Lalu, setelah berbisik di telinga Cantika, "Aku tidak akan menyentuhmu sebelum kamu mengijinkan aku menyentuhmu" Dito lalu pergi meninggalkan Cantika begitu saja.
Cantika jatuh telungkup di atas kasur dengan napas menderu penuh amarah. Dengan cepat, Cantika menegakkan badan kembali dan berjalan ke jendela. Dia tersenyum senang saat mendapati jendela besar tersebut tidak dipasangi teralis.
Dito duduk sendirian di ruang kerjanya. Dia terus bertanya-tanya kenapa dia tidak bisa melepaskan diri dari pesona wanita yang bernama Cantika. Dito bahkan sangat menyukai aroma tubuh wanita itu. Beberapa jam kemudian, Angga berdiri di depan meja kerjanya Dito dan langsung membungkuk untuk memegang kedua lututnya, lalu berkata, "Wanita itu ternyata lebih merepotkan daripada Tina dan Zimba, Bos"
Dito langsung bangkit berdiri dan bertanya dengan wajah dan nada panik, "Kenapa dengan wanita itu?"
__ADS_1
"Dia berhasil turun dari kamarnya lewat jendela. Dia juga sudah membuat sepuluh orang anak buah kita yang berjaga di sekitar kamar itu, terluka parah. Saya berhasil melumpuhkannya dan terpaksa mengikat kaki dan tangannya lalu memindahkannya ke kamar Anda, Bos. Kamar Anda, kan, jendelanya dipasangi teralis" Angga lalu menegakkan badan untuk menatap ekspresi wajah bosnya.
Dito menggeram kesal lalu keluar dari balik mejanya dan dengan langkah lebar ia berjalan ke kamarnya.
Cantika duduk di tengah kasur dengan posisi kedua tangan dan kedua kaki terikat.
"Kau ingin kabur?" Dito duduk di tepi ranjang dan menatap Cantika dengan sorot mata tajam.
Cantika mengangkat wajah cantiknya dengan angkuh dan berkata tegas, "Iya"
"Kau mau kabur ke mana? Ini di New Orleans. Kau tidak punya kartu identitas. Tidak punya paspor, tidak punya telepon genggam dan tidak punya uang. Kau akan jadi gelandangan dan mati kedinginan di luar sana. Dasar wanita bodoh!"
"Kau!!!!!! Berani benar kau mengataiku bodoh!?" Cantika mendelik ke Dito.
"Itu kenyataannya" Dito tersenyum mengejek.
Cantika mendengus kesal, lalu berkata, "Aku punya orangtua, aku juga masih sekolah di akademi kepolisian. Mereka semua pasti mencariku saat ini. Asal kau tahu, orangtuaku bukan orang sembarangan dan aku adalah siswi di akademi kepolisian"
"Kau pikir mereka akan percaya begitu saja? Mereka bukan orang bodoh dan......."
"Saat mereka menyadari kebodohan mereka, kamu sudah kembali di tengah mereka" Dito berkata dengan wajah datar dan penuh percaya diri.
Cantika kembali mendengus kesal, lalu berkata, "Oke. Aku mau tinggal di sini selama tiga bulan. Tapi, ada syaratnya"
"Kau udah terikat dan nggak bisa ke mana-mana masih punya nyali untuk mengajukan syarat? Kau harusnya bersyukur aku tidak bikin perhitungan sama kamu karena kamu sudah membuat sepuluh anak buahku terluka parah dan kau sudah merobek lengan kanannya Angga" Dito menyeringai kesal.
"Kalau kamu nggak ingin aku bikin ulah lagi, maka terima syarat dariku"
"Oke. Tapi, tidak jika kau minta ponsel, uang dan paspor"
__ADS_1
Dalam hari Cantika langsung mengumpat, sial! kenapa dia bisa tahu semua isi kepalaku. Lalu Cantika berucap dengan ekspresi kesal, "Aku hanya minta dimasakkan steak iga sapi dengan kentang, brokoli, buncis, dan wortel. Sausnya saus barbeque"
"Hanya itu?" Dito menatap Cantika dengan sorot mata penuh tanda tanya.
"Iya dan setiap harinya menu makan harus sesuai dengan permintaanku"
"Oke" Dito lalu bangkit berdiri dan melepaskan ikatannya Cantika sambil berkata, "Ini kamarku. Lebih aman kau berada di sini. Jendela berteralis dan kacanya anti peluru, lalu pintu keluarnya kalau didobrak paksa akan mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring"
Cantika menatap Dito dengan wajah memerah penuh amarah.
Dito tersenyum mengejek, lalu ia berjalan meninggalkan Cantika begitu saja.
Cantika langsung rebahan di atas kasur dengan posisi terlentang dan bergumam, "Aku terpaksa mengikuti permainannya selama tiga bulan ini"
Beberapa jam kemudian, seorang pelayan menjemput Cantika dan berkata, "Tuan menunggu Anda di ruang makan. Tuan menyuruh saya untuk mengantarkan dress ini dan meminta Anda untuk memakai dress ini dulu"
Cantika menyambar dress itu dan berlari cepat ke ruang ganti dan keluar kembali dalam hitungan detik.
"Anda tidak berdandan, Nona?"
"Untuk apa berdandan?"
"Tuan meminta Anda berdandan. Kalau Anda tidak bisa berdandan, saya akan mendandani Anda. Saya udah letakkan alat make up lengkap di meja rias"
"Ribet banget mau makan aja. Aku akan dandan sendiri" Cantika berjalan ke meja rias dengan wajah cemberut dan langkah kesal.
Cantika mengucir rambutnya bergaya ekor kuda dan memoleskan makeup tipis di wajahnya yang sebenarnya sudah terlihat sangat cantik tanpa polesan makeup.
Lalu, ia bangkit berdiri dan berputar badan untuk berkata ke pelayan wanita yang masih menunggunya, "Sudah. Kita bisa pergi sekarang, kan?"
__ADS_1
"Baik. Mari saya antarkan ke ruang makan, Nona" Sahut pelayan wanita itu.