
Barnes menutup sambungan ponselnya dan melemparkan ponselnya begitu saja di atas kasur lalu ia menyibak selimut dan berlari untuk menerobos masuk ke dalam kamar mandi yang lupa pintunya tidak dikunci oleh Amanda.
Amanda yang tengah menggosok badannya sambil bersenandung di bawah shower tersentak kaget dan secara spontan menoleh ke belakang.
Barnes langsung mendekap tubuh Amanda dari belakang dan memencet botol sabun cari yang berada di rak peralatan mandi yang terpasang tidak jauh dari keran air. Barnes menggosok badannya Amanda mulai dari leher sambil menyusupkan wajahnya di lehernya Amanda yang masih ada jejak jelas kepemilikannya.
Amanda menengadahkan kepalanya ke atas saat Barnes mencium punggungnya Amanda dan kedua tangannya Barnes bermain-main di titik yang kenyal.
Barnes lalu memutar badannya Amanda dengan cepat, menangkup belakang kepalanya Amanda, menariknya hingga bibir Amanda membentur bibirnya. Kedua suami istri itu kemudian saling berciuman dan Barnes mengangkat pinggul Amanda, membenturkan punggung Amanda ke tembok kamar mandi dengan pelan untum menyatukan kembali raga dia dan istrinya sembari menghidupkan air keran. Kedua suami istri itu menyatu di bawah guyuran air keran yang hangat dengan liar dan dengan tempo yang sangat cepat
Barnes melahap habis istrinya di pagi hari itu dan Amanda akhirnya menjejakkan Kembali kakinya di atas lantai marmer kamar mandi dengan lemas setelah memekikkan kepuasannya sebanyak dua kali ke udara bebas.
Barnes menangkap tubuh Amanda yang terjatuh lemas. Komandan tampan itu lalu mematikan keran air, memakaikan jubah mandi ke Amanda yang tengah merangkul lehernya. Kemudian komandan tampan itu membopong tubuh Amanda.
Dia merebahkan Amanda ke tempat tidur lalu berpaling ke lemari pakaian. Ada beberapa potong pakaian miliknya yang ia tinggalkan di vila pribadinya itu dan ia memutar badan untuk menatap Amanda setelah ia memakai kemeja biru langit dengan celana kain berwarna biru dongker, "Kamu mau tetap di sini, atau ikut aku? Ada berita Mengejutkan dari Jake dan aku harus bergegas kembali ke kota"
"Ada berita apa?" tanya Amanda dengan suara lemas.
Barnes melompat ke atas kasur dan memeluk Amanda yang masih memakai jubah mandi, "Andaikan tidak ada berita mengejutkan di pagi hari ini, aku lebih memilih memeluk kamu seperti ini sepanjang hari"
Amanda menepuk pelan tangannya Barnes yang ada di atas perutnya dan bertanya, "Berita mengejutkan apa?"
"Setengah jam yang lalu, Jake meneleponku dan memberitahukan ke aku kalau om kamu meninggal di rumahnya dan sepertinya dibunuh. Tante kamu dan anaknya menghilang"
"Hah?!" Amanda langsung bangun dan terduduk di tengah kasur. Barnes ikutan bangun dan langsung memeluk tubuh Amanda yang mulai bergetar menahan tangis.
"Kita harus segera ke kota. Kenapa kau baru bilang sekarang?"Amanda melompat turun dan di saat ia hendak melepas jubah mandinya, ia menatap Barnes, "Tutup mata kamu!"
Barnes tertawa lepas dan bertanya, "Kenapa aku harus menutup mataku? Aku sudah lihat semuanya. Bahkan aku sudah hapal semuanya"
__ADS_1
"Kalau aku buka jubah mandinya ini, aku takut kamu menyerangku lagi, kita kan harus buru-buru ke kota" Amanda melancipkan bibirnya ke Barnes.
Barnes tergelak geli lalu berkata, "Buka aja! Aku janji, aku akan menahan diri!"
Amanda langsung melepas jubah mandinya dan berganti baju dengan cepat karena Barnes sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari dirinya.
Amanda lalu menatap dirinya di depan cermin dan melancipkan bibirnya dengan berucap, "Rambutku gimana nih, kalau kelamaan diguyur air hangat jadinya mengembang lucu, disisir susah nih"
Barnes terkekeh geli dan langsung melompat turun dari atas ranjang lalu merebut sisir dari tangannya Amanda. Dia menyisir rambutnya Amanda dengan sabar dan telaten laku ia mengucir kuda rambut keritingnya Amanda dengan sempurna. Barnes lalu memutar badannya Amanda hingga berhadapan dengan dirinya. "Sempurna! Kau sudah cantik, sangat cantik" Barnes mencium keningnya Amanda lalu membopong tubuhnya Amanda dan berlari keluar kamar menuju ke teras depan Vila-nya saat ia menemukan air mata mulai mengambang di kedua pelupuk istri tercintanya itu sambil terus berucap, "Jangan menangis! Aku tidak bisa melihatmu menangis"
Barnes memasang sabuk pengamannya Amanda dengan penuh kasih sayang laku mencium kedua pelupuk matanya Amanda dan berucap di sana, "Jangan menangis, kita akan segera mengetahui siapa pembunuh om kamu"
Matt lari tergopoh-gopoh mendekati Barnes saat Barnes memutari mobilnya untuk menuju ke jok kemudi. "Tunggu!" Teriak Matt.
Barnes menghentikan langkahnya dan menoleh ke Matt, "Ada apa?"
"Kalian bangun sangat pagi lalu pergi dadakan seperti ini. Kalian belum sarapan, kan? Nih! Aku buatkan bekal sarapan nasi goreng dan satu tumbler besar kopi hitam untuk kalian makan dan minum di jalan kalau kalian laper dan nggak sempat mampir ke restoran. Dan Jaga Amanda dengan baik!" ucap Matt.
Matt melambaikan tangannya ke Amanda dan berteriak, "Sama-sama cantik!"
Barnes menepuk keras pundaknya Matt sebelum ia masuk ke jok kemudi dan berkata, "Terima kasih untuk bekalnya dan jangan puji istriku cantik! Hanya aku yang boleh memujinya"
"Iya, iya, baiklah!" Matt berucap sembari mendorong masuk tubuhnya Barnes ke jok kemudi.
Matt melambaikan tangannya saat mobilnya Barnes pergi meninggalkan vila.
Amanda menoleh ke Barnes, "Matt sendirian menjaga vila kamu?"
"Iya" sahut Barnes.
__ADS_1
"Dia belum punya istri?"
"Istrinya meninggal dunia belum lama ini karena sakit. Dia meninggalkan Matt tanpa seseorang anak. Matt sangat mencintai mendiang istrinya dan tidak berniat untuk menikah lagi sepertinya" sahut Barnes.
"So sweet, ya" Sahut Amanda.
"Hmm" Sahut Barnes.
"Aku nggak menyangka kalau keluarga Om-ku akan jadi seperti ini. Om-ku memang bukan Om kandung dan kami tidak ada hubungan darah, tapi aku bisa merasakan kalau Om-ku sayang sama aku"Amanda berucap dengan suara bergetar.
Barnes langsung menggenggam tangannya Amanda sambil meminggirkan mobilnya, dan berucap, "Ada aku di sisi kamu sekarang ini. Walaupun aku sebenarnya paling nggak kuat melihat kamu menangis, tapi menangislah di dalam pelukanku!" Barnes melepas sabuk pengamannya dan merentangkan kedua tangannya di depan Amanda.
Amanda langsung melepas sabuk pengamannya, menghambur masuk ke dalam pelukannya Barnes dan menangislah dia di sana.
Barnes mengelus punggung Amanda dalam diam dan menunggu Amanda dengan sabar sampai Amanda puas menangis di dalam pelukannya.
Setelah puas melepaskan emosinya, Amanda menarik diri dari dalam pelukannya Barnes. Barnes mengusap kedua pipinya Amanda lalu mencium kedua kelopak matanya Amanda.
Amanda memakai kembali sabuk pengamannya dan menoleh ke Barnes, "Aku sudah tenang"
Barnes tersenyum, mengusap kepalanya Amanda lalu ia memasang kembali sabuk pengamannya dan melajukan kembali mobilnya dengan tanya, "Menurutmu, apa mungkin Tante kamu atau anaknya, yang membunuh Om kamu?"
Amanda menoleh ke Barnes dan berkata, "Tante dan Laura sangat mencintai Om jadi, aku rasa, mereka nggak mungkin membunuh Om-ku. Aku rasa, Tante dan Laura hendak diculik oleh seseorang dan Om-ku hendak mencegahnya lalu Om-ku justru malah terbunuh"
"Kau ada bakar jadi detektif sepertinya" Sahut Barnes.
"Apa aku boleh bekerja di tim kamu dan jadi detektif?" Amanda menoleh ke Barnes dengan sorot mata penuh harap.
"Nggak boleh!" Sahut Barnes dengan cepat dan Amanda langsung melancipkan bibirnya.
__ADS_1
Barnes terus memikirkan ucapannya Amanda dan kalau itu benar, Tantenya Amanda dan anaknya diculik, maka kasus ini bukanlah kasus yang sederhana.