
"Bagaimana kau memperingatkan Steven brengsek itu? Telepon seluler tidak bekerja di tempat terpencil ini" Dengan masih memiting leher kokoh pria bertubuh besar itu, Dito berbisik di telinga pria itu.
"Ada ruang khusus yang bisa menghubungi telepon genggamnya Bos" Sahut pria bertubuh besar yang masih Dito dekap lehernya.
"Lalu, kau hubungi pakai apa orang yang bertugas di ruangan khusus itu?"
"Dengan walkie talkie yang ada di sabukku"
Sambil mengangguk, Dito memiting leher lelaki bertubuh besar itu lebih kuat lagi dan berkata, "Katakan ke teman kamu yang ada di ruangan khusu itu untuk menghubungi Bos kalian, Steven brengsek itu bahwa kalian telah berhasil melumpuhkan Dito Zeto dan kawan-kawannya. Pancing dia kemari secepatnya"
Ketika lelaki bertubuh besar itu mulai bergerak untuk mengambil walkie talkie yang menggelantung di sabuknya, Dito langsung memberikan peringatan tegas, "Pelan-pelan dan jangan memancingku untuk menghabisi nyawa kamu saat ini juga!"
Dengan cukup waspada, lelaki itu mengeluarkan walkie talkie dan menekan tombol lalu berkata, "Dito Zeto sudah berhasil aku lumpuhkan. Kabari Bos untuk ke sini secepatnya"
Lalu Dito berbisik di telinga lelaki itu, "Saatnya untuk tidur panjang"
Lelaki bertubuh besar itu sontak berusaha menoleh ke belakang karena terkejut mendengar bisikannya Dito. Namun, dengan cepat Dito mengetatkan pitingan lengan kokohnya lalu mencekik hingga pria itu lemas. Lelaki bertubuh besar itu terasa sangat berat setelah ia pingsan. Dito kemudian membiarkan pria bertubuh besar itu jatuh menghantam lantai marmer. Setelah itu, Dito mengambil pisau dan walkie talkie yang ada di pinggang lelaki itu, kemudian di mengambil pisaunya sendiri yang masih menancap di dada pria itu.
Dito mengelap pisaunya yang terkena darah pria itu dengan menggunakan kaos pria itu. Daerah segar mengalir dari dada pria itu dan demi rasa kemanusiaan, Dito menyobek ujung kaos pria itu untuk membebat luka di dada lelaki itu agar dia tidak mati kehabisan darah. Lalu, tidak menyia-nyiakan waktu, Dito segera mengikat kaki korban dan lengannya ke belakang punggung dengan memakai kain nilon yang dia ambil dari sabuknya.
Dito kemudian menyeret korban ke tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Dito kemudian kembali berdiri tegak dan menatap koridor dengan memicingkan mata, "Oke! Aku tinggal menunggu kedatangan kamu, Steven"
Noah dan Batari menemukan penjara dan di balik jeruji besi terdapat banyak sekali gadis di bawah umur. Dua puluh gadis di bawah umur yang dipisahkan di dua sel penjara, langsung berlari ke jeruji besi saat mereka melihat ada dua orang asing yang tampak baik masuk ke penjara beraroma busuk dan lembab itu.
Noah dengan cepat menembakkan pistol yang sudah dipasang peredam dan berhasil melumpuhkan dia pria penjaga penjara itu sekaligus dalam keheningan.
Semua gadis dibalik jeruji besi tersenyum senang karena dia orang yang datang ke penjara benar-benar adalah dewa dan Dewi penolong mereka. Mereka kemudian berteriak, "keluarkan kami dari sini! Tolong! Kalau Anda berdua tidak mengeluarkan kami, kami akan dibawa ke kapal dan dijual ke luar negeri"
Teriakan kedua puluh gadis di bawah umur yang masih berada di balik jeruji besi, membuat Batari bergegas mencari kunci dan setelah menemukannya, Batari langsung membuka kedua sel penjara itu dengan cepat.
"Sial! Satu wanita aja udah sangat merepotkan. Ini ditambah dua puluh. Bagaimana aku menjaga mereka semua?" Gumam Noah.
"Apa yang kau gumamkan?" Tanya Batari sambil bersedekap dia berdiri di depan jejeran dua puluh gadis di bawah umur.
__ADS_1
"Nggak ada, hehehehe" Noah meringis di depan Istri cantiknya
"Kita bawa Kedua puluh gadis ini ke luar. Kau telepon kepala tim kamu untuk menyiapkan mobil dan membawa pergi mereka semua dari sini" Perintah Batari.
"Masalahnya adalah bagaimana caranya kita........"
"Jangan banyak berpikir. Kita jalan saja dan pikirkan caranya sambil jalan" Batari langsung melangkah lebar meninggalkan Noah dan langkah Batari langsung diikuti kedua puluh gadis itu.
Noah mengekor dengan bergumam, "Wanita memang selalu anti kalau harus memakai logika. Semoga saja kita bisa keluar dengan selamat semuanya"
Di ujung koridor, Noah dan Batari tersenyum lega saat mereka berpapasan dengan Angga.
"Lho! Kok bisa punya banyak gadis kayak gini Tante?" Tanya Angga dengan wajah penuh tanda tanya.
"Mereka akan dijual ke luar negeri. Mereka dipenjara di bawah sana. Tante dan Om membebaskan mereka barusan"
"Oh"
"Tolong kau ikut rombongan ini. Kau bantu Om menjaga wanita-wanita ini sampai keluar dengan selamat dari sini" Sahut Noah.
"Hahahaha, aku seorang pengacara sekarang. Aku bukan lagi komandan"
"Hahahaha, Anda lucu juga, Om Noah"
"Hei! Ini bukan waktunya untuk ngobrol" Pekik Batari kesal sambil melangkah lebar.
Noah dan Angga langung mengekor Batari dan rombongan gadis di bawah untuk itu dengan saling menatap dan tersenyum geli.
"Pria memang selalu salah"
"Anda benar, Om. Hahahaha"
Steven langsung berkata, "Bawa aku ke markas. Biar Devon dan kawan-kawannya yang menjemput bidadariku. Dito sudah berhasil dilumpuhkan. Aku ingin bermain terlebih dahulu dengan Dito sebelum aku bermain dengan bidadariku nanti. Atau aku akan persiapkan Dito Zeto melihat aku bermain dengan Cantika nanti, hahahahahaha"
Doni menutup kafe di sore hari jam tiga, karena kafenya Dito dan kawan-kawan itu, dibuka dua kali dengan pembagian jam, dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore. Lalu, jam lima sore sampai jam dua belas malam. Jeda dua jam dari jam tiga sore ke jam lima sore dipakai oleh semua karyawan untuk mandi, menghela napas, dan berisitirahat sejenak.
__ADS_1
Cantika naik ke lantai atas untuk mandi.
Doni sontak panik dan langsung berkata ke seluruh karyawan kafe untuk masuk ke dalam bunker saat ia menerima telepon dari anak buahnya yang berjaga di perbatasan. Anak buahnya mengatakan kalau ada mobil asing dengan pria mencurigakan menanyakan kafenya Dito dan menanyakan wanita cantik yang bekerja di kafe tersebut. Doni berkata ke anak buahnya itu untuk menahan orang mencurigakan tersebut selama yang anak buahnya mampu.
Setelah berhasil menyembunyikan semua karyawan kafe di tempat yang aman, Doni berkata, "Sial!" Sambil melesat berlari ke lantai atas dan masuk begitu saja ke dalam kamarnya Dito Zeto.
Doni tersentak kaget saat ia melihat Cantika hanya memakai jubah mandi.
"Hei! Kenapa kau main masuk saja?!" Cantika mendelik kaget ke Doni.
Doni langsung menarik tangan Cantika sambil berkata, "Maaf kita harus segera pergi dari sini!"
Cantika menghempaskan tangan Doni dan berkata, "Aku harus ganti baju dulu"
"Nggak ada waktu" Doni mencekal tangannya Cantika lagi dan menariknya.
Cantika Kembali menghempaskan tangan Doni, "Aku hanya memakai jubah mandi saat ini"
Doni menghela napas panjang dan sambil menggeram, "Maaf" Doni langsung memanggul tubuh Cantika dan melesat berlari masuk ke dalam balik rak buku yang ada di kamar Dito dan dari sana, Doni langsung masuk ke lift dan muncul di parkiran mobil.
Cantika hanya diam karena dia bisa merasakan ketegangan di diri Doni.
Doni menurunkan Cantika di depan mobil mewah yang tampak sangat aman untuk dipakai melarikan diri dari bahaya apapun.
"Masuk cepat! Aku akan bawa kamu ke tempat yang aman"
"Lalu, karyawan kafe gimana?" Tanya Cantika sambil masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam pekat itu.
Doni telah memakai sabuk pengaman dan menghidupkan mobil saat ia berkata, "Semuanya aman" Lalu, pria itu menekan gas mobil mewah itu dalam-dalam. Dengan menggunakan remote ia membuka gerbang dan menggunakan remote untuk menutup gerbang.
"Wah! Tempatnya Dito canggih, ya. Mobil ini juga canggih?"
"Iya. Mobil ini anti peluru dan dilengkapi peralatan elektronik lengkap" Sahut Doni.
"Wah! Hebat! Lalu, kita akan ke mana"
__ADS_1
"Lihat saja nanti" Sahut Doni.