Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Melamar


__ADS_3

Di saat Steven Chan mengarahkan moncong pistol ke Dito dengan cepat Dito melesat maju dan melompat untuk menyarangkan tendangan maut di sisa tenaganya yang terakhir di perutnya Steven Chan.


Steven Chan terjengkang ke belakang, punggungnya membentur tembok dengan sangat keras sehingga ia seketika merosot ke bawah, terduduk di lantai dengan kaki selonjor lemas dan muntah darah.


Dito langsung menghampiri Steven Chan sebelum pria licik itu bangkit kembali dan kabur dengan siasat liciknya yang baru. Dito langsung berjongkok dan memborgol kedua tangan Steven Chan.


Steven Chan terkikik dan berkata, "Kau pikir kau sudah menang? Jaringanku luas dan anak buahku yang setia tersebar di mana-mana dan aku akan merebut Cantika yang sangat cantik itu dari kamu. Awasi pacar kamu itu dengan baik, Dito Zeto! Kikikikikikiik! Uhuk,Uhuk!" Steven Chan terbatuk-batuk dan memuntahkan darah lagi.


Dito mengepalkan tinju untuk ia sarangkan ke wajah Steven Chan dan Santo langsung berteriak, "Jangan Dito! Kau akan membunuhnya kalau kau sarangkan tinju kamu itu. Ingat Cantika menunggumu untuk melamarnya dan tidak ingin melihatmu berada di balik jeruji besi"


Dito langsung bangkit berdiri dan dengan membelakangi Steven Chan ia berkata, "Kau akan membusuk di penjara untuk menebus semua dosa-dosa kamu"


Cantika hendak menuruni anak tangga, namun ia menghentikan langkahnya karena ia berjanji akan menelepon Dito di pagi hari.


"Nomer yang Anda tuju tidak aktif!" Suara operator menusuk telinga Cantika dan seketika membuat Cantika memekik kesal, "Dito Zeto! Kenapa kau matikan telepon kamu lagi?!"


"Karena dia sedang menuju ke orang yang sangat penting baginya"


Cantika tersentak kaget dan dengan masih menempelkan telepon genggam di telinganya, ia menunduk ke bawah dan sontak mengulas senyum bahagia yang sangat lebar di wajah cantiknya saat ia melihat Dito Zeto berdiri dengan gagahnya di lantai satu.


"Dito? Apakah aku tidak sedang bermimpi sekarang ini? Cubit pipi kamu dengan keras!"


Dito menautkan alisnya seketika, namun ia menuruti perintah Cantika, ia mencubit pipinya dan meringis kesakitan tanpa bersuara.


"Ah! Aku tidak bermimpi ternyata! Kamu beneran Dito!"


"Hei! Kenapa tidak kau cubit sendiri pipi kamu?! Sakit, nih!" Dito merengut.


Cantika tertawa lepas dan langsung berlari menuruni anak tangga.


Dito sontak berteriak, "Jangan lari! Lantainya licin dan kamu bisa jatuh........"


Bruk! Cantika langsung melompat dan menggelungkan kedua pahanya di pinggang kokohnya Dito sambil memekik senang, "Jatuh di pelukan kamu dan jatuh cinta lebih dalam lagi padamu"

__ADS_1


Dito tertawa lepas dan langsung memeluk erat punggung Cantika agar Cantika tidak terjatuh.


"Jangan tertawa brengsek! Kau sudah membuatku menunggu selama satu bulan dan hanya meneleponku sebanyak dua kali"


Dito mengerucutkan bibirnya dan berkata, "Maafkan aku, Sayang"


"Ah! Kenapa kamu tampan sekali, Sayang! Aku sangat merindukan kamu. Untuk itulah aku memaafkan kamu" Cantika langsung memagut bibir Dito dan mengajak pria itu berciuman.


Dito kemudian menarik bibirnya dari bibir Cantika, kemudian menurunkan kekasih hatinya dengan pelan.


Dito merapikan rambut Cantika, mencium kening Cantika, lalu pria gagah dan tampan itu bersimpuh di depan Cantika.


Cantika sontak menunduk dan menautkan alisnya sambil memekik, "Dito! Kenapa kamu bersimpuh? Ayo berdiri!"


"Ssstttt!" Dito ber-ssstttt sambil merogoh saku kemejanya tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik pujaan hatinya.


Dito membuka kotak berwarna merah yang ia keluaran dari saku kemejanya lalu mengarahkannya ke Cantika sambil berkata, "Will you marry me, Babe?"


"Jawab, Babe, jangan angguk-angguk kayak hiasan di dashboard mobil"


Cantika terkekeh geli dan dengan diiringi isak tangis bahagia, ia membungkuk sedikit untuk menepuk keras bahu Dito.


Dito tersenyum lebar dan kembali berkata, "Aku masih menunggu jawaban kamu, Babe"


"Berdirilah dulu!" Cantika membungkuk, memegang kedua bahu Dio dan mengajak Dito bangkit berdiri.


Dito berdiri dan masih mengarahkan kotak berisi cincin berlian berwana merah yang sangat cantik ke Cantika, "Terima atau akan aku gadaikan lagi cincin ini"


Cantika kembali terkekeh geli dan sambil mengusap air mata di pipinya, wanita cantik itu menjawab, "Mister polisi......"


"Yes, Mam!" Dito langsung menegakkan dirinya dan memberikan hormat ke Cantika dengan tangannya yang tidak memegang kotak cincin.


Cantika terkejut geli melihat tingkah konyolnya Dito dan dia langsung berkata, "Yes, I do"

__ADS_1


Dito langsung menarik tangan kiri Cantika dan menyematkan cincin berlian mata merah itu ke jari manis tangan kiri itu. Kemudian, pira tampan itu mencium keningnya Cantika dan berkata di sana, "Terima kasih udah menerima lamaranku. Kau tahu, sedari pagi perutku melilit perih dan hatiku berdebar terus. Takut kalau kamu menolak lamaranku dengan alasan macam-macam"


Cantika memeluk pinggang Dito dengan kedua lengannya dan berkata, "Aku sudah menunggumu selama ini. Tidak mungkin aku menolak lamaran kamu"


Cantika lalu melihat jari manis tangan kirinya dan berkata, "Kenapa cincinnya berbentuk matahari dan bermata merah? Baru kali ini aku melihat cincin tunangan bentuknya seperti ini. Cincin Mama dan Papa kalau digabungkan membentuk love. Kenapa kau tidak beli yang seperti itu?"


Dito tekekeh geli, memeluk erat Cantika, dan berkata, "Karena kau matahariku, semangat hidupku, dan warna merah adalah tanda bahwa cintaku akan terus membara"


Cantika langsung menarik diri dari pelukannya Dito untuk mengajak Dito berciuman kembali.


Dito kemudian melepaskan bibirnya dari pagutan bibir Cantika untuk berkata, "Tunggu aku! Aku ingin menemui Doni dulu"


"Oke! Mama dan Papa akan ke sini nanti malam. Kita akan kasih tahu ke Mama dan Papa nanti malam soal lamaran kamu ini. Doni ada di dapur"


"Oke dan aku tahu di mana Doni berada" Dito melangkah lebar dengan wajah kesal menuju ke dapur.


Dito bersedekap di belakang Doni dan langsung berkata "Kenapa waktu itu kau tidak tempatkan Cantika di tempat yang aman dan malah membawanya ke markasnya Steven Chan dan membawanya hanya dengan memakai jubah mandi. Kau bahkan berani memanggulnya"


Doni tersentak kaget dan sontak mematikan kompor. Lalu, dengan perlahan ia berputar badan untuk menghadapi kekesalannya Dito Zeto.


"Kenapa meringis? Jawab!" Dito mendelik ke Doni dengan masih bersedekap.


Doni langsung menjawab dengan memasang wajah memelas, "Kakak ipar yang memaksa ikut dan aku terpaksa memanggulnya karena, astaga! Calon Istri kamu itu keras kepalanya bukan main. Pantas saja kalau Angga........."


"Kemarilah, cepat!" Dito mengayunkan tangannya dan Doni langsung melangkah menghampiri Dito dengan menundukkan wajahnya seperti anak kucing yang tertangkap basah mencuri ikan kering milik majikannya.


Doni tersentak kaget saat Dito menarik tangannya dan memeluknya erat.


Dito menepuk-nepuk punggung Doni sambil berkata, "Terima kasih sudah menahan dan menjaga Cantika dengan sangat baik. Terima kasih banyak"


Doni membalas pelukannya Dito dan berkata, "Terima kasih juga Bos sudah kembali dengan selamat"


Keduanya kemudian salin melepaskan pelukan mereka dan melepas tawa bahagia mereka di udara bebas.

__ADS_1


__ADS_2