Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Tunggu Aku!


__ADS_3

Cantika mendengar Doni menyeramkan sesuatu yang samar-samar terdengar seperti, "Iblis" Doni kemudian berguling hingga telentang dan Cantika hanya menatapnya tanpa memberikan komentar apapun.


Masih mengernyit kesakitan Doni memindahkan kedua posisi kakinya, menekuk lutut, dan menjejakkan rumit ke lantai. Bagi pengamat yang tidak profesional, kelihatannya, Doni hanya ingin melemaskan ketidaknyamanannya. Namun, Cantika lebih tahu. Doni melakukan itu semua untuk bersiaga melakukan serangan kaki yang mematikan bagi siapa saja yang mendekatinya.


Doni tersentak kaget saat ia melihat yang ada di depannya adalah Cantika. "Hei, Cantik! Kau sudah berganti baju ternyata. Sial! Di mana Iblis wanita tadi?"


"Tuh" Cantika menjulurkan lehernya dan Doni sontak menoleh ke kanan. "Baguslah! Dia sudah terkapar tak berdaya. Sial! Di mana Bos Dito?"


"Keluar mencari Steven Chan"


"Kenapa kau tidak bangunkan aku?"


"Kamu udah menyetir berjam-jam. Jadi, aku pikir membiarkanmu tidur setengah jam nggak masalah"


"Sial!" Doni langsung bangkit berdiri.


Cantika yang sedari tadi duduk selonjor akhirnya menekuk lutut dan ikutan bangkit berdiri.


"Apa yang kau pegang?" Tanya Doni.


"Aku rasa ini alat untuk menyetrum seseorang. Ruangan ini sepertinya ruangan lab yang sekaligus dipakai menjadi ruangan penyiksaan. Hiihhhhh!" Cantika bergidik ngeri.


"Lalu kenapa kau pegang terus alat itu?"


"Kalau wanita itu bergerak sedikit saja, aku akan langsung menyetrumnya. Dia sudah menjamah Ditoku, aku rasa pukulan keras di wajahnya masih belum cukup untuknya"


"Wah! Kau sadis juga, Nona. Hiihhhh! Doni bergidik ngeri.


"Aku akan keluar untuk menolong Bos Dito"


"Nggak usah"


Doni mengerem langkahnya dan mendelik ke Cantika sambil menyemburkan tanya, "Kenapa nggak usah?"


"Aku tadi menelepon Papa, Angga, Om Jorge dan Om Santo sudah ada bersama Dito. Mereka bertiga membantu Dito menghadapi Steven Chan. Kata Papa, kamu dan aku di sini saja. Menunggu mereka semua menjemput kita. Lagian kita perlu menjaga wanita Iblis ini, kan?"


"Sial! Baiklah" Doni kembali duduk di atas lantai dan Cantika menyerahkan alat setrum ke Doni lalu ia berjalan ke sesuatu yang mirip lemari es


"Kau mau apa?"


"Mencari camilan. Aku sangat lapar saat ini"

__ADS_1


"Sial! Bisa-bisanya kau memikirkan makanan saat ini"


"Aku punya asam lambung. Kalau telat nyemil bisa pingsan" Sahut Cantika.


"Kau gila juga Nona" Sahut Doni sambil terkekeh geli.


"Kalau tidak gila aku nggak akan jatuh cinta sama Dito Zeto"


"Ya, terserah kamu saja" Sahut Doni.


"Kalau wanita itu bergerak sedikit saja langsung setrum dia!" Ucap Cantika sambil duduk selonjor dan melemparkan satu batang cokelat ke Doni.


"Aman. Aku lihat belum expired. Ada dua. Lumayan untuk mengganjal perut kita" Sahut Cantika.


Tiba-tiba Cantika dan Doni mendengar wanita mengerikan itu bergumam nggak jelas.


Cantika langsung menjejalkan potongan terkahir cokelat batang ke dalam mulutnya lalu ia merebut alat setrum dan menyetrum wanita itu sampai wanita itu bergelinjang liar dan kembali jatuh di atas lantai tidak sadarkan diri.


Cantika kemudian meletakkan alat setrum itu di atas lantai lalu bangkit berdiri sambil mengusapkan telapak tangan di celana pendek yang ia pakai dan berkata, "Ayo kita keluar"


Doni sontak bangkit berdiri dan mengerutkan dahinya, "Kata kamu kita tunggu saja di sini"


"Wanita itu akan pingsan selama berhari-hari. Jadi, aman kalau kita tinggalkan di sini. Kita kunci pintunya dari luar dan kita cari Dito"


"Ayo! Kalau kau tidak mau keluar aku akan kunci kamu berdua di ruangan ini dengan wanita itu" Cantika mendelik dan Doni langsung mengikuti langkah Cantika untuk keluar dari ruangan mengerikan itu.


Keluarnya Doni dan Cantika langsung disambut derap lari Noah dan Batari. Cantika langsung berlari dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan mama dan papanya.


Doni sontak tersenyum semringah saat ia melihat semua temannya baik-baik saja. Doni langsung bertanya, "Apakah semuanya sudah berakhir?"


"Iya"Sahut Jorge, Santo, Angga, dan Dito secara serempak.


"Kita bisa pulang sekarang?" Tanya Cantika kemudian.


"Iya" Sahut semuanya.


"Kenapa? Apa kau lapar saat ini?" Tanya Batari sambil merangkul bahunya Cantika dan Cantika langsung menyahut, "Hmm, aku laper banget, Ma"


"Oke! Ayo kita mampir ke restoran terdekat. Aku yang traktir" Teriak Batari ke semuanya.


Dan semuanya langsung memekikkan kata, "Oke!" Dengan penuh antusias.

__ADS_1


Setelah makan, Dito meminta ijin kepada Noah dan Batari untuk berbicara berdua saja dengan Cantika selama lima menit dan Batari langsung berucap, "Oke. Mama sama Papa menunggu kalian di mobil*


"Baik, Pa"


Dito lalu menarik tangan Cantika ke halaman belakang restoran tempat mereka makan dan setelah menghentikan langkahnya di sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu mahoni, Dito meraih kedua tangan Cantika, ia genggam erat dan berkata ,"Aku akan pergi sebentar. Tunggu aku di kafe milikku. Doni akan menjaga kamu dengan baik seperti yang telah ia lakukan sebelumnya. Aku sudah berikan cuti dinas ke kamu selama satu tahun, jadi jangan melakukan hal yang aneh-aneh saat aku tidak ada di samping kamu"


"Memangnya kamu mau ke mana?"


"Steven Chan berhasil melarikan diri. Aku harus mengejarnya sekarang juga. Angga Om Jorge dan Om Santo akan menemaniku"


"Aku ikut"


""Nggak boleh!" Dito menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mencium kedua punggung tangannya Cantika secara bergantian.


"Tepi, bukankah itu sangat berbahaya. Steven Chan........"


Untuk itulah Papa dan Mama akan membawa kamu ke kafeku yang jaraknya lebih dekat dari sini. Kalau kamu kembali ke rumah Papa, maka kamu bisa dengan mudahnya diculik oleh Steven Chan dan........."


"Bukan itu maksudku Dito brengsek!" Cantika langsung menginjak ujung sepatunya Dito.


Dito sontak mendelik kaget dan menyemburkan, "Kenapa kau injak kakiku?"


"Aku tidak sedang mengkhawatikan keselamatanku, tapi aku sedang mengkhawatirkan kamu. Aku injak kaki kamu barusan supaya kamu sadar, dasar brengsek!"


Dito terkekeh geli lalu ia menangkup wajah cantik kekasih hatinya dan berkata, "Aku akan baik-baik saja. Ada Angga, Om, Jorge, dan Om Santo, juga puluhan pasukan elite. Aku akan kembali ke kamu dengan utuh"


"Janji?"


"Janji" Dito mengaitkan jari kelingkingnya dengan jadi kelingkingnya Cantika.


"Tidak boleh terluka sedikit pun" Cantika menggoyangkan jari kelingkingnya yang masih terkait dengan jari kelingkingnya Dito.


"Tentu saja. Karena, aku harus melamar kamu saat aku pulang nanti"


"Benarkah?!" Cantika memekik senang dan langsung menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua telapak tangannya.


"Iya" Dito tersenyum lebar di depan Cantika.


"Mama? Apakah Mama sudah memberikan kita restu? Mama sudah mengijinkan kamu melamar aku?"


"Iya. Jadi, tunggu aku dengan tenang di kafe aku, ya. Jangan melakukan hal yang aneh-aneh"

__ADS_1


Cantika langsung melompat ke Dito dan mengaitkan kedua pahanya di pinggang kokohnya Dito bak koala yang tengah memeluk barang pohong. Lalu, Cantika memagut bibir Dito dan mengajak Dito berciuman.


__ADS_2