
"Tapi kenapa dia bisa tahu aku anggota geng Kuda Terbang? Padahal keluargaku tidak ada yang tahu" tanya Boy.
"Komandanku itu memiliki keberuntungan di sampingnya" sahut Jake. Dan keberuntungan yang dimaksud oleh Jake adalah Amanda dengan bakat spesial yang dimiliki oleh Amanda
Barnes masuk kembali ke dalam dan langsung diserang oleh Tantenya Amanda. Tantenya Amanda memukul dadanya Barnes berulangkali dengan teriakan, "Kau membawa petaka bagi keluargaku! Dasar sial!"
Omnya Amanda langsung menarik istrinya, mendekapnya dan berkata maaf ke Barnes.
"Untuk apa kau meminta maaf, dia pembawa sial bagi keluarga ini!" Tantenya Amanda meronta-ronta di dalam dekapan suaminya.
Barnes tersenyum tipis lalu berkata, "Petaka itu mendatangi seseorang karena kecerobohan dan kebodohan dari orang itu sendiri. Jadi jangan menyalahkan orang lain, Nyonya! Camkan itu!" Barnes lalu merangkul bahunya Amanda dan melangkah masuk ke dalam rumah dengan santai.
Laura bergidik ngeri melihat kewibaan dan ketegasan yang ditunjukkan oleh Barnes sehingga tanpa sadar ia menundukkan wajahnya ketika Barnes melangkah melewatinya.
Tantenya Amanda bersimpuh di atas rumput dan meraung-raung, menangisi nasib malang adik kesayangannya.
Malam pun tiba. Barnes masuk ke dalam kamarnya Amanda setelah ia dan Amanda makan malam di luar. Setelah kejadian ditangkapnya Boy, Barnes memutuskan untuk mengajak Amanda makan malam di luar dan sepulangnya dari makan malam, mereka langsung masuk ke dalam kamarnya Amanda.
Amanda menatap ranjang single dan kecil yang ia tiduri sejak ia masih kecil. Lalu Amanda menoleh ke Barnes, "Kamu tidur saja di ranjang. Aku akan tidur di lantai dengan beralaskan selimut"
Barnes lanagung membopong Amanda dan merebahkan Amanda di atas kasur, "Kau yang tidur di ranjang. Aku akan tidur di lantai"
Barnes hendak bangkit dan Amanda langsung menahan lengannya Barnes, "Kita pindah aja ke kamar tamu. Tante juga sudah merapikan kamar tamu. Kamar tamu lebih luas dan ranjangnya lebih besar dari ranjang ini"
Barnes merapikan rambut Amanda lalu berkata, "Aku ingin merasakan tidur di kamar ini. Aku ingin merasakan hal yang sama yang kamu rasakan selama kamu tinggal di kamar ini" Sahut Barnes.
"Tapi, kau tidur di lantai? Kau bisa sakit dan kau tidak terbiasa kan tidur di lantai?"
Barnes tersenyum lebar, "Kau lupa kalau suami kamu ini seorang polisi, tentara pasukan khusus yang sering bertugas di lapangan. Aku udah sering tidur di sembarang tempat. Di lantai, di atas tanah, di kandang ternak, tidur dimana saja aku pernah alami jadi, jangan khawatirkan aku!"
Amanda lalu bangun, bersila di atas kasur dan berkata, "Bagaimana kalau kita turunkan kasurnya di lantai? Kita tidur berdua dengan kasur ini. Yeeaaahh walaupun nanti kaki kita di lantai tapi mendingan kan?"
__ADS_1
"Apa kau ingin tidur berdua denganku?" tanya Barnes.
Wajah Amanda langsung memerah dan ia menepuk bahunya Barnes, "Bukan begitu! Aku cuma nggak ingin kamu tidur di lantai sementara aku enak-enakan tidur di kasur"
"Oke! sesuai permintaanmu saja, Nyonya Barnes" Barnes terkekeh geli lalu lalu ia menurunkan kasur dan menaruh kasur di atas lantai. Kemudian ia dan Amanda tidur di atas kasur itu dengan beralaskan guling. Kaki mereka berada di lantai.
Barnes lalu menarik kedua kakinya Amanda dan ia taruh kedua kakinya Amanda ke atas pahanya, "Taruh kaki kamu di sini, pakai aku menjadi guling kamu juga nggak papa. Lantainya dingin, aku nggak mau kaki kamu kedinginan"
Amanda hendak menarik kakinya namun, ditahan oleh Barnes. Barnes berkata, "Nurut kata Suami atau Suami kamu ini akan menghukum kamu lagi seperti kemarin malam"
Amanda lalu diam dan berkata, "Terima kasih"
Barnes tersenyum menatap Amanda.
"Ceritakan Amanda di masa kecil. Kata kamu, Amanda Dirgantara adalah teman masa kecil kamu"
"Kau yakin mau mendengarnya? Kau tidak akan shock?"
"Karena, Amanda di masa kecil sangat berbeda dengan Amanda yang ada di depanku saat ini" sahut Barnes sambil memiringkan badannya dan mengempit kedua kakinya Amanda.
Amanda terkekeh geli, "Justru itu membuatku menjadi semakin penasaran. Ceritakan!"
"Oke" Barnes tersenyum lalu mulai bercerita, "Amanda teman masa kecilku adalah gadis yang manis, cantik, lembut. Dia memiliki rambut hitam pekat dan lurus. Dia ramah, baik tapi, dia ceroboh. Dia selalu melindungiku dan selalu menyelamatkanku tanpa ragu. Dia lembut, cengeng, ceroboh, namun, sangat tangguh"
Amanda merah wajahnya dan tersenyum, "Apa Amanda kecil benar-benar sehebat itu? Kau tidak mengada-ada, kan?"
Barnes mengusap rambutnya Amanda, "Mana ada aku mengarang cerita soal sahabat di masa kecilku"
Amanda tersenyum.
Barnes ikutan tersenyum dan kembali berkata, "Ada satu hal yang sangat membahagiakanku waktu itu"
__ADS_1
"Apa?" tanya Amanda.
"Amanda Dirgantara, sahabat di masa kecilku itu, pernah mendapat nilai 40 di pelajaran Matematika. Dia pandai di dalam segala hal kecuali Matematika"
Amanda merona malu dan secara spontan ia menyusupkan wajahnya ke dadanya Barnes. Barnes terkekeh geli lalu mendekap tubuh Amanda dan melanjutkan ceritanya, "Lalu, aku mengajarinya sepulang sekolah dan keesokan harinya, dia mendapat nilai seratus. Dia lalu membelikan aku es krim di kantin sekolah dan berkata, kau yang terhebat Barnes. Berkat bimbinganmu, nilai Matematikaku dapat seratus hari ini. Terima kasih. Lalu ia berjinjit dan mencium pipiku"
Amanda menarik dirinya dari pelukan Barnes lalu menatap Barnes, "Kau tidak mengada-ada, kan? Amanda kecil mencium pipi kamu?"
Barnes terkekeh geli, "Hmm, iya. Aku tidak mengada-ada. Bahkan bukan hanya sekali Amanda kecil mencium pipiku. Amanda kecil juga mencium pipiku di saat ia memberikan aku kado di hari ulang tahunku"
"Apa yang Amanda berikan waktu itu?" tanya Amanda.
"Sebuah jam tangan. Aku masih menyimpan jam tangan itu di ruang kerjaku" sahut Barnes.
"Hah?! Kau masih menyimpannya?"
"Hmm, iya" sahut Barnes dengan senyum tampannya.
"Kau akan ulang tahun Bulan depan, kan? Aku ingin memberikan kado lagi untukmu biar bisa kamu simpan dan biar kadoku nanti menemani jam tangan kado dari Amanda kecil"
Barnes menarik tubuh Amanda dan ia peluk lagi tubuh itu dengan berkata," Aku tidak butuh kado apapun. Ada kau di sampingku itu udah cukup" sahut Barnes.
Amanda ingin bertanya, apa kau mencintaiku? tapi, ia tidak memiliki cukup kepercayaan diri jadi, ia telan kembali kata tanya itu.
Barnes pun ingin meneriakkan kata, aku mencintaimu namun, ia tidak ingin membebani Amanda dengan pernyataan itu dan ia pun menelan kembali kata yang hendak ia utarakan itu.
"Ini takdir. Kita dipertemukan saat kita masih kecil dan bersahabat, lalu kita terpisah cukup lama dan bisa bertemu kembali. Ini takdir" ucap Barnes sambil terus mengelus punggungnya Amanda.
Amanda lalu berucap, "Bagaimana kalau kita terpisahkan lagi?"
"Aku nggak akan biarkan siapa pun bahkan takdir sekalipun memisahkan kita lagi" sahut Barnes lalu ia mendaratkan ciuman di pucuk kepalanya Amanda dan kemudian berkata, "Tidurlah! Kau sudah cukup lelah hari ini"
__ADS_1
Amanda pun bisa tidur dengan nyenyak di dalam dekapan Barnes. Dia merasa hangat dan nyaman walaupun tidur di atas kasur yang beralaskan lantai yang sangat dingin.