
Aurora menutup bibir papa tampannya dengan tangan mungilnya dan berkata, "Papa nggak oyeh (boleh) cium Mama!"
"Masak nggak boleh cium Mama" Cantika langsung mengerucutkan bibirnya di depan putri cantiknya.
"Lalu, bolehnya nyium siapa?" Dito bertanya dengan wajah penuh senyum.
"Cium Lola (Rora) oyehnya (Bolehnya)" Sahut Aurora.
Cantika semakin mengerucutkan bibirnya dan Dito langsung menciumi wajah Putri cantiknya dengan tawa gemas dan penuh cinta.
Tiba-tiba Aurora mendorong wajah papa tampannya dan berkata, "Papa punya jenggot lagi. Lola (Rora) nggak suka. Itchy (geli), Pa, Itchy! Ilangin jenggotnya, Pa!"
"Jangan diilangin! Papa makin cakep kalau punya jenggot, Sayang" Cantika langsung protes sambil menunduk untuk melihat wajah putri cantiknya yang masih ia pangku.
"Masak geli? Tapi, Mama kamu suka. Gimana dong ini? Papa nurut sama siapa dong ini?" Dito langsung memonyongkan bibirnya.
"Telselah (Terserah) Papa. Kalau mau punya jenggot jangan cium Lola lagi. Lola ngambek" Putri kecilnya Dito yang sangat cantik seperti boneka dengan bola mata biru itu langsung bersedekap dan membelakangi Dito.
Dito semakin memonyongkan bibirnya dan menatap istri cantiknya untuk meminta pertolongan. Alih-alih menolong suaminya, Cantika justru tertawa terbahak-bahak melihat putri cantiknya ngambek dan suaminya panik.
"Malah ketawa, sih? Putriku ngambek, tuh"
Akhirnya Cantika mencium pucuk kepala Aurora sambil berkata, "Oke! Mama ngalah, deh. Ayo kita antar Papa ke barbershop untuk ngilangin jenggot.
"Sama potong lambut (rambut). Papa jelek kalau gondlong (gondrong)" Sahut Aurora.
__ADS_1
"Iya. Baiklah" Sahut Cantika.
Lalu, Aurora berbalik badan dan langsung melompat ke pelukannya Dito.
Dito langsung tertawa senang dan menggendong Aurora sambil berjalan menuju ke parkiran mobil.
"Jangan makan dulu! Papa harus cakep dulu baru makan" Ucap Aurora.
"Iya, siap delapan enam Princessku! Kita ilangin jenggot Papa dan potong rambut Papa dulu. Let's go!"
Cantika yang berjalan di sampingnya Dito terus tertawa lebar melihat kelucuannya Aurora dan Dito.
Beberapa jam kemudian, setelah melihat papanya rapi dan wajahnya klimis tanpa jenggot, Aurora berkata, "Papa,kok, jelek? Cakepan tadi. Kasih jenggot dan panjangin lambut lagi, Pa"
Cantika langsung menggemakan tawanya saat ia mendengar ucapannya Aurora dan melihat Dito menutup wajah dengan telapak tangan dan berkata, "Hadeeeehhhh! Kenapa wanita selalu saja punya banyak permintaan"
"Sudah. Aku heran sama Putri kita. Kenapa setiap kali mau tidur, dia selalu usir kamu dari kamarnya dan selalu minta aku yang bacakan buku cerita sambil menepuk-nepuk pantatnya sampai dia tertidur pulas" Dito berucap sembari merangkak naik ke kasur.
"Itu karena aku nggak pandai baca buku cerita. Aku kalau baca,kan, datar dan tidak ada iramanya. Beda sama kamu" Sahut Cantika.
"Lalu, bagaimana dengan Mamanya? Apa Mamanya juga mau dibacakan buku cerita sambil ditepuk-tepuk pantatnya?" Dito menyeringai jahil sambil menarik tubuh Cantika ke dalam pelukan hangatnya.
"Aku nggak suka dibacakan dongeng. Aku suka realita"
"Maksudnya?" Dito mulai bertanya dengan suara serak menahan gairah.
__ADS_1
"Di dalam buku dongeng ada cerita pangeran mencium putri, kan? Nah, aku suka realitanya"
"Oh! Maksudnya mau langsung dicium saja gitu? Seperti ini?" Dito mengecup bibir Cantika.
Cantika tersenyum jahil dan berkata, "Kurang. Kalau cuma dikecup putri tidur nggak akan bangun"
"Kau yang memintanya, ya? Lalu besok kau tidak bisa bangun pagi, jangan salahkan aku!" Dito langsung memagut bibir istri cantiknya dengan tangan mulai merambah liar di setiap lekuk sensitif istrinya. Tangan itu kemudian berhenti di lembah kenikmatan dan bermain asyik di sana.
Hingga akhirnya raga Dito dan Cantika menyatu indah. Dito bergerak sambil berkata, "Sayang, kau sangat pandai bercinta"
"Kalau gitu, aku akan kasih kamu satu ronde lagi" Cantika menyeringai penuh arti.
Dito langung membeliak riang dan berkata, "Lakukan Sayang! Lakukan!"
Keesokan harinya, Cantika beneran bangun tidur kesiangan. Aurora sudah dibawa oleh Dito ke rumah orangtuanya dan Dito meninggalkan catatan di meja makan, "Aku sudah masak sup ayam kesukaan kamu dan aku sudah bawa Rora ke rumah Mama dan Papa. Kamu nanti jangan lupa jemput Rora dari suami tampan kamu yang tidak pernah habis mencintai kamu kini dan selama-lamanya"
Cantika tersenyum penuh cinta melihat catatan yang ditinggalkan oleh Dito. Lalu, wanita cantik itu bergumam lirih masih dengan senyum penuh cinta, "Dito, kamu masih saja bilang tidak pernah habis mencintaiku kini dan selamanya padahal kita sudah lama menikah dan punya anak. Kau masih saja bilang seperti ini. Menggemaskan sekali, sih, kamu ini Dito"
Di sore hari, Cantika pulang ke rumahnya dengan membawa Aurora dan bayi mungil. Aurora langsung berlari masuk ke pelukan papanya dan berkata, "Pa! Mama bawa adik bayi, Pa, lihatlah! Mama membawa adik bayi itu ke kamar tamu. Lola (Rora) nggak mau punya adik. Lola (Rora)nggak mau membagi Papa dengan adik. Nggak mau!"
Dito menciumi wajah putri cantiknya dan berkata dengan nada sabar, "Itu bukan adik untuk Rora. Itu bayi milik temannya Mama dan temannya Mama nitip sebentar di sini. Papa dan Mama selamanya hanya milik Rora"
"Benarkah?" Aurora membeliak senang.
"Iya. Mama dan Papa selamanya hanya milik Rora seorang"
__ADS_1
Aurora kemudian mencium kedua pipi papa tampannya, lalu ia merosot turun dari gendongan Papanya untuk berlari masuk ke kamar tamu. "Siapa nama adik bayi ini, Ma?" Aurora merangkak naik ke kasur
"Mikha, Sayang. Namanya Mikha" Sahut Cantika dengan senyum manis