
"Sayang, Aku ingin membopong kamu masuk ke dalam, tapi aku takut terpeleset dan membahayakan kamu dan anak kita. Kamu bisa jalan sendiri, kan?"
"Tentu saja bisa" Batari terkekeh geli melihat wajah bersalahnya Noah karena tidak bisa membopongnya.
Noah merangkul bahu istrinya sambil berkata, "Sayang, kita langsung ke kamar, kan?"
"Kenapa?"
"Aku ingin lanjut ke ronde kedua"
Batari sontak terkekeh geli lalu mengangguk penuh semangat.
Jelita menelepon Batari untuk bertanya, "Minggu depan aku menikah, Kak"
"Iya. Aku tidak sabar melihat kamu dan Nehemia bersanding di pelaminan"
"Tapi, beberapa bulan ini aku nggak bisa tidur"
"Lho, kenapa?"
"Aku ketakutan sendiri setiap kali aku membayangkan malam pertama. Apa yang harus aku lakukan pas malam pertama, Kak? Suamiku tampan banget dan aku takut mengecewakan dia. Selain malam pertama, aku juga takut kalau nanti aku jadi Istrinya, dia akan kecewa, karena aku nggak secantik model dan para mantan pacarnya di luaran sana"
"Hemi itu orangnya nrimo. Dia nggak akan kecewa kalau dia sudah ambil keputusan. Kalau dia sudah meminta kamu menjadi Istrinya, maka kamu nggak usah minder lagi. Kamu itu cantik dan manis dan pantas banget bersanding dengan Hemi"
"Benarkah?"
"Hmm. Percaya sama aku. Aku kenal betul dengan Hemi. Dia tumbuh besar denganku dan Noah. Dia udah seperti adik kandungku sendiri dan aku yakin banget kalau Hemi akan mencintaimu sekarang, besok, dan untuk selama-lamanya"
"Amin. Makasih, Kak"
Noah menciumi pundak Batari yang masih telanjang dan sambil mengelus perut buncit istrinya ia bertanya, "Siapa yang nelpon?"
"Jelita. Dia takut malam pertama dan takut kalau setelah menikah nanti, Hemi akan kecewa, karena ia tidak secantik mantan-mantannya Hemi"
"Hemi memang playboy. Tapi, itu dulu Sepertinya dia udah tobat sejak dia bertemu dengan Jelita. Aku lihat dia sangat tulus mencintai Jelita" Sahut Noah sembari memeluk memeluk istrinya dari belakang. Perut buncit Batari yang sudah sangat besar membuat Batari tidak nyaman lagi tidur terlentang.
"Aku juga bilang begitu ke Jelita"
Noah mengelus perut istrinya dan berkata sembari menyusupkan wajahnya ke leher Batari, "Hemi kemarin juga nelpon aku"
"Benarkah? Hemi bilang apa?"
__ADS_1
"Dia juga takut kalau Jelita akan kecewa padanya"
"Kenapa kita dulu tidak merasa begitu pas kita nikah, ya?" Tanya Batari sembari mengelus tangan Noah yang ada di atas perut buncitnya.
Noah mencium pipinya Batari lalu berucap, "Itu karena kita udah kenal sedari kecil. Kita udah tahu luar dan dalamnya kita dengan sangat baik"
"Yeeeahhh, seperti pas kau asyik dengan pekerjaanmu dan melupakan aku, itu menyebalkan"
"Sama seperti pas kau asyik dengan drama korea kamu, itu juga menyebalkan"
Batari dan Noah kemudian tertawa renyah secara bersamaan.
Nehemia berdiri sambil membisu saat Jelita berjalan pelan menuju ke altar. Jelita tampak cantik dan balutan baju pengantin yang simple, namun elegan. Jelita memang tidak memiliki tubuh yang berlekuk seperti Batari. Jelita terlalu kurus, tapi ia cantik.
Nehemia berbisik di telinga Jelita, "Kamu cantik banget. Setelah kau jadi Istriku nanti, aku akan bikin kamu punya pinggang berlekuk seksi dengan segera" Jelita langsung tersipu malu.
Malam pertama Nehemia, membuat Nehemia merasa canggung karena Jelita terus menunduk dan mematung.
Nehemia akhirnya nekat memeluk bahu Jelita dan dia merebahkan Jelita dengan pelan di atas kasur. Lalu, Nehemia berbaring berhadap-hadapan dengan Jelita, dan berkata, "Kalau kamu bersedia melakukannya malam ini juga, aku janji kau tidak akan menyesalinya"
Jelita seketika mematung. Namun, ia mengedip-ngedipkan mata dengan cepat, menelan ludah, lalu menjilat bibirnya.
Dengan seluruh tubuh yang terasa panas penuh gairah, Nehemia mencium bibir istrinya.
Batari berada di kamar bersalin saat Jelita merasakan malam pertama.
Noah bertanya ke dokter, "Kenapa nggak dioperasi saja, Dok? Istri saya sedari tadi kesakitan"
"Nyonya Tari sangat sehat dan bisa melahirkan secara normal. Harusnya Anda bersyukur, karena tidak semua wanita bisa melahirkan secara normal. Apa Anda berani menemaninya di dalam untuk memberikan dukungan ke Istri Anda?"
"Tentu saja berani. Saya ini polisi, Dok. Tentu saja saya berani" Noah melangkah masuk ke dalam dan langsung mendekati Batari. Dia memegang tangan Batari menggantikan Amanda, namun belum genap tiga detik ia memegang tangan Batari, terdengar suara Glodhak!!!!! Dan saat mereka semua menoleh ke arah suara, mereka melihat Noah jatuh pingsan.
Amanda dan dokter yang membantu persalinannya Batari langsung tertawa ngakak sedangkan Batari mendengus kesal dan mengejan sembari berteriak, "Dasar Noah Baroooonnnnn!!!!!"
Noah masuk ke kamar rawat inapnya Batari dan saat ia melihat seorang perawat menggendong seorang bayi cantik, ia sontak bertanya, "Bayi siapa ini?"
"Bayi Anda dan Nyonya Batari, Pak"
"Lho, masak sih? Kok cantik banget? Sayang! Ternyata bayi kita cewek"
"Aku udah tahu pas kamu jatuh pingsan tadi" Sahut Batari dengan wajah kesal.
__ADS_1
Perawat yang menyerahkan bayi yang ia gendong ke Batari, mengulum senyum menahan geli dan Noah merona malu.
Perawat tersebut meninggalkan kamar rawat inapnya Batari masih dengan mengulum senyum menahan geli.
"Kenapa perawat tadi menahan senyum terus?"
"Salah sendiri kenapa kamu jatuh pingsan di kamar bersalin"
Noah memijit tengkuknya dan sambil meringis malu ia berkata, "Yeeeahhh, aku memang paling nggak bisa melihat kamu kesakitan, Manis"
Batari sontak tertawa lepas.
Noah lalu naik ke ranjang dan memeluk bahu Batari untuk melihat lebih dekat anaknya. Dia lalu berkata dengan senyum bahagia,"Dia cantik banget mirip kamu"
"Dia mirip kamu. Bola matanya biru" Sahut Batari.
"Untung cuma bola matanya yang mirip aku. Untung kulitnya ikut kamu, putih bersih. Nggak kayak kulit aku yang hitam buluk ini"
Batari mencium pipi putrinya dan berkata, "Papa kamu itu emang manusia paling lucu sedunia"
Noah terkejut geli dan dia mencium pipi putrinya sambil berkata, "Mama kamu juga"
Noah dan Batari langsung terkekeh geli secara bersamaan.
"Udah kamu kasih nama?" Tanya Noah.
"Udah. Nama yang sudah kita rangka bersama-sama"
Noah tersenyum bahagia dan dia tersentak kaget saat pintu kamar terbuka dan serombongan orang masuk ke dalam kamar VVIP itu.
"Aku pengen lihat adikku! Aku pengen lihat adikku!" Dito berteriak girang sembari berlari.
Noah langsung turun dari atas ranjang dan menggendong Dito untuk melihat putrinya.
Barnes juga ikutan berteriak dan berlari kecil, "Aku juga ingin lihat cucuku"
Amanda dan yang lainnya sontak tertawa melihat tingkah dan ekspresi lucunya Barnes.
Lima tahun kemudian...........
Batari tampak sedih dan dengan memangku putrinya yang baru berumur empat tahun, ia menatap Dito dengan sorot mata sedih, sangat sedih. Noah Baron tampak menghela napas berulangkali dan wajahnya juga tampak sedih, sangat sedih.
__ADS_1