
Barnes ciuman-ciuman yang panas, dalam, intens, dan penuh hasrat dengan gelora gairah yang mendidih ke bibir istrinya. Tangan Barnes naik dan menangkup batok kepalanya Amanda untuk memperdalam ciuman mereka saat ia mulai bermain-main dengan lidahnya.
Benak Amanda bertanya-tanya, kenapa Barnes menciumnya lagi? apakah hanya untuk sekadar tes lagi, seperti ciuman Barnes yang pertama kali? ataukah hukuman, seperti ciuman Barnes yang kedua kali? atau apa.........?
Barnes lalu menarik diri untuk menatap kedua bola matanya Amanda yang tidak terpejam, "Kau baik-baik saja?"
Kedua bola matanya Amanda yang seharusnya tampak ketakutan dan panik justru tampak berbinar dan pipinya merona, "Aku akan baik-baik saja"
"Kenapa ada kata, akan di sana?" tanya Barnes sambil mengusap bibir Amanda dengan ibu jarinya. Bibir istrinya yang masih tampak basah akibat dari ulahnya itu, semakin melemahkan Barnes yang memang sudah lemah dari tadi.
"Karena, aku merasakan kalau kamu akan bertindak lebih daripada ciuman" sahut Amanda dengan nada polos dan wajah lugu.
"Darimana kau tahu kalau aku akan bertindak lebih? Kau pernah mengalami keintiman yang seperti ini dengan seorang laki-laki?" Tanya Barnes dengan sorot mata yang mulai terpercik api kecemburuan.
Amanda menggelengkan kepalanya dan berkata, "Ini yang pertama kalinya. Bersamamu semua serba yang pertama kalinya bagiku"
"Semuanya?" tanya Barnes dengan suara serak dan ibu jari yang masih terus mengusap bibirnya Amanda.
"Semuanya. Ciumanmu adalah ciuman pertama bagiku dan keadaan seperti ini, juga yang pertama kalinya bagiku" Amanda terus menatap kedua bola matanya Barnes.
Barnes langsung mengangkat tangannya dan mengaitkan tangannya di rambut Amanda, menarik Amanda sampai bibir mereka kembali berbenturan. Barnes kembali mencium bibir istrinya dengan lebih bergairah dan lebih liar. Barnes begitu ingin menandai Amanda dan meneriakkan ke seluruh dunia, bahwa Amanda adalah wanitanya.
Barnes mulai menggerakkan tangan menuju ke kancing baju dressnya Amanda. Dia membuka satu kancing, berlanjut ke kancing berikutnya, dan berikutnya. Barnes semakin menggila saat Amanda tidak melawannya. Malah tanpa Amanda sadari, tangan Amanda bergerak di balik kaosnya Barnes dan menjelajahi tubuh Barnes. Amanda menerima, pasrah dengan penuh rasa ingin tahu.
__ADS_1
Ketika tangan Barnes sampai di sebuah gundukkan dan melepaskan mulutnya untuk beralih ke leher Amanda, Amanda berbisik, "Barnes?" dengan nada bingung namun, penuh hasrat
""Maafkan aku! aku sudah tidak bisa lagi mengontrol diriku. Aku hanya akan meneruskan apa yang sudah aku mulai ini, sampai tuntas, sayang" Barnes kemudian mengerang saat Amanda berbisik, "Kalau begitu, tuntaskan!"
"Kau tidak keberatan?" tanya Barnes sambil terus memberikan tanda di leher dan pundaknya Amanda sembari terus memainkan tangannya di salah satu gundukkan yang terasa sangat lembut dan sempurna di tangannya Barnes.
Lalu Barnes menarik mulutnya untuk mencium sudut-sudut bibirnya Amanda saat Amanda berucap lirih, "Aku tidak keberatan"
Barnes lalu menurunkan tangannya dan menyelipkan jari jemarinya di karet pakaian dalamnya Amanda sambil berkata, "Aku akan melepas ini, oke?"
Amanda hanya bisa berucap, "Emm, emm" sembari merapatkan kedua kelopak matanya yang sedari tadi sudah terpejam.
Kemudian secara perlahan, Barnes menyusuri pergelangan kaki Amanda dengan bibirnya, lalu lutut Amanda, sampai akhirnya menutupi bagian itu. Kemudian Barnes beralih ke atas, membungkuk untuk mengecup pusarnya Amanda. Amanda membuka kedua kelopak matanya, menunduk dan bersitatap dengan Barnes.
Barnes menarik wajahnya untuk menatap Amanda. Amanda membuka kedua matanya dan menggigit bibir tanpa berkata apa-apa.
Barnes kemudian membuka kaos dan celana kolornya sembari bertanya, "Kau tidak takut?"
"Tidak" Amanda lalu menarik napas dengan cepat sebanyak tiga kali sebelum berucap, "Kenapa kau menatapku terus? Dan kenapa kau terus memperhatikan tubuhku? Aku malu kau tatap seperti itu"
"Karena kau sempurna dan aku tidak ingin melewatkan satu centimeter pun di setiap bagian tubuhmu yang sempurna" Barnes terus menatap Amanda yang juga tengah menatapnya dengan mata hitam berbinar, rambut panjang yang sudah diluruskan dan tampak berantakan di atas bantal, sepasang kaki terentang, dan napas terengah-engah, membuat Barnes serasa berada di kahyangan, di negeri dongeng dan terbang ke langit ke tujuh dengan riangnya.
Sedangkan Amanda tidak bisa berpikir apapun karena ia merasa kepalanya hanya berisi kapas dan terasa sangat ringan tanpa beban apapun.
__ADS_1
Barnes merasa bahwa semua tanggung jawab dan kewajiban dia di luar sana bisa menunggu. Yang terpenting, dia membutuhkan Amanda dan seketika itu pula ia bergerak maju dan menyatukan diri dengan Amanda.
Amanda menjerit kaget dan Barnes pun langsung berkata, "Maafkan aku? sakit ya?"
Amanda mengigit bibirnya dan menganggukkan kepalanya.
"Apa kau ingin aku berhenti? aku bisa berhenti jika kau yang memintanya"
Amanda mengusap wajah tampan suaminya dan sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, "Aku masih penasaran dengan semuanya maka teruskan saja! Aku kan sudah katakan tadi, kalau aku akan baik-baik saja"
Barnes melanjutkan gerakannya dengan perlahan sambil terus menatap ekspresinya Amanda dan lama kelamaan, Barnes mempercepat gerakannya karena, sensasi rasa yang ada di diri Amanda, sungguh-sungguh membuatnya menjadi gila. Amanda menjerit dan langsung mencengkeram bahu Barnes. Barnes sangat menyukai itu dan astaga, hampir tidak ada yang yang tidak ia sukai dari dirinya Amanda. Semua terasa pas dan sempurna bagi Barnes.
Barnes bisa merasakan di saat Amanda hampir mencapai puncak, pinggulnya bergerak di tangan Barnes dengan panas menguat dari tubuhnya. Barnes mengecup bibirnya Amanda, menelan erangan kenikmatannya Amanda.
Amanda berbisik lemah, "Barnes?"
Barnes merasakan Amanda mulai tenang. Barnes memperlambat gerakannya namun, tidak berniat meninggalkan Amanda dan ia berkata, "Ini belum selesai sayang" Barnes kembali mencium bibir istrinya dan gerakan tubuhnya yang masih berada di atas Amanda menjadi semaki. cepat hingga akhirnya kedua sejoli itu meneriakkan kepuasan mereka secara bersamaan di udara bebas dengan peluh yang bercucuran.
Keduanya kemudian terkulai lemas di atas kasur dan dengan saling berpelukkan, Barnes menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka dan beberapa detik berikutnya, mereka tertidur pulas dengan wajah tersenyum senang.
Amanda terbangun di tengah malam. Dia merasakan badan pegal-pegal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dan ada rasa nyeri di pangkal pahanya yang juga belum pernah ia rasakan sebelumnya. Amanda lalu menunduk, ia melihat ada kaki berbulu keluar dari dalam selimut dan menahannya. Kaki siapa ini? tanya Amanda di dalam benaknya yang membuatnya segera menoleh ke samping kanannya, dia melihat wajah tampannya Barnes masih lelap tertidur.
Amanda lalu melongok ke dalam selimut dan rahangnya langsung tertarik ke bawah dan seakan ingin lompat dari tempatnya, saat ia melihat tubuh dia dan tubuh Barnes sama-sama polos. Amanda lalu menarik wajahnya dari dalam selimut dan bergumam, "Apa aku sudah gila? aku bercinta dengan Barnes? Apa yang harus kulakukan esok pagi? Bagaimana aku menghadapinya? Ah, sial! Betapa cerobohnya aku"
__ADS_1