Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Rahasia


__ADS_3

Jam tiga dinihari, Dito terbangun dan langsung menyibak selimut. Ia memakai kembali semua bajunya yang berserakan di lantai lalu memakaikan bajunya Cantika sambil berbisik, "Babe, bangun. Kita harus bergerak lagi sekarang"


Cantika bergeming.


Dito mengusap bibir Cantika dengan ibu jarinya dan kembali berbisik, "Babe, bangun"


"Aw!" Kok malah nggigit jempolku, sih?" Dito menarik jempolnya dari mulut Cantika yang sedikit terbuka sambil meringis.


"Hmm! Ceker merconnya enak banget. Pedasnya pas. Aku mau lagi, Dito. Nyam, nyam, nyam" Cantika menggerakan mulutnya seperti sedang mengunyah sesuatu padahal mulutnya kosong saat ini"


Dito mencangklong tas ranselnya sambil berkata, "Sial! Dia pikir jempolku ceker ayam tadi. Huufffttt! Tika, Tika, makanan melulu, ya, yang ada di pikiran kamu" Dito kemudian terkekeh geli.


Dito mencium pipi Cantika sambil mencoba membangunkan wanita itu sekali lagi dengan berbisik, "Babe, bangun"


Plak! Satu tamparan pelan mendarat di pipi Dito dibarengi teriakannya Cantika, "Dito brengsek! Badanku remuk semua, nih. Aku nggak mau bangun.


Dito tersentak kaget dan tertawa lirih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, Pria tampan itu memutuskan untuk membopong Cantika keluar dari dalam kamar dan setelah melangkah beberapa langkah dari pintu kamar, ia berhenti sejenak di meja resepsionis untuk melakukan pembayaran.


Penjaga penginapan sampai ngiri melihat Dito dan sontak berkomentar, "Saya ngiri, nih, lihat Anda sayang banget sama Istri Anda. Anda rela membopongnya dan tidak membangunkannya. Pengantin baru, ya, Mas?"


Dito tersenyum lalu berkata, "Jangan ngiri terus Mbak, sesekali nganan atau puter balik. Kalau ngiri terus entar nabrak tembok, lho" Pria tampan itu lalu pergi meninggalkan mbak penjaga meja resepsionis penginapan yang tengah bengong.


Dito merebahkan kepala Cantika dengan perlahan di jok mobil yang sudah ia setel menjadi tempat tidur yang nyaman untuk Cantika. Kemudian ia menutup pintu mobil dengan pelan dan berlari. empat mengitari mobil mewah miliknya Noah Baron itu untuk segera masuk ke belakang kemudi dan tancap gas.


Setelah berhasil melumpuhkan barikade kedua pasukan yang mengawal Steven Chan, Santo menggantikan Jorge mengemudi karena Jorge mengeluh lelah dan ngantuk.


"Oke! Tinggal pasukan utama, lima mobil Van dan satu mobil sport mewah di depan" Ucap Noah.


"Hmm. Bersiaplah untuk bertempur habis-habisan karena Steven Chan dan anak buahnya bukan lawan yang mudah untuk kita hadapi"


"Oke. Aku sudah siap dari tadi" Sahut Noah.

__ADS_1


Dito memutuskan untuk membawa Cantika ke tempat rahasianya. Di tempat itu ada mantan asisten pribadinya dan beberapa anak buahnya yang dulu yang masih setia padanya.


Angga nama mantan asisten pribadinya Dito Zeto, menghubungi Dito dua bulan yang lalu untuk mengabarkan kalau dirinya dan kedua puluh orang terlatihnya berada di Indonesia saat ini dan Angga berhasil mengamankan aset pribadinya Dito yang Dito peroleh dengan halal. Aset pribadi tersebut berupa kastil megah di Italia, perhiasan, puluhan mobil mewah yang juga masih berada di Italia di kastil tersebut, berlian, emas, permata, dan uang cash di bank yang bernilai milyaran. Dito peroleh semua itu dari bisnis legalnya membuka kafe yang bersih dari alkohol, narkoba dan barang ilegal lainnya. Kafe Dito yang menjamur di seluruh pelosok Asia dijalankan oleh Angga selama Dito koma dan menghilang.


Dito sungguh tidak menyangka kalau dirinya ternyata masih memiliki begitu banyak harta dan kafenya masih berjalan lancar bahkan semakin besar dan kuat bercokol di dunia bisnis internasional tingkat Asia.


Angga dan anak buah terlatihnya tinggal di salah satu kafenya Dito yang kebetulan letaknya tidak begitu jauh dari penginapan terakhir yang Dito singgahi. Tiga jam perjalanan ke sana tidak membuat Cantika terbangun. Wanita cantik itu tetap saja tidur seperti orang pingsan.


Dito sesekali menoleh dan sambil terkekeh geli ia bergumam, "Apa aku liar banget semalam sampai membuatmu kelelahan seperti ini, Babe?" Dito mengusap kening Cantika dengan senyum penuh cinta.


Setelah berbelok ke dalam garasi pribadi yang nyaris tersembunyi, Dito terus meluncurkan mobil yang ia kendarai ke bagian dasar turunan, pria tampan itu mengulurkan tangan ke luar jendela dan memasukkan kode rahasia yang dikirimkan oleh Angga via pesan text ke tombol-tombol di gerbang yang melindungi garasi pribadi yang tersembunyi itu.


Sebuah pagar besar terangkat. Dito segera meluncurkan mobilnya masuk ke sana dan pintu garasi itu otomatis menutup sempurna.


Dito tersenyum saat ia melihat Angga berdiri di depan mobil yang tengah ia matikan mesinnya. Pria tampan itu bergegas turun lalu berlari untuk memeluk Angga dan berkata, "Terima kasih kau masih hidup dan terima kasih kau bersedia menjaga semua asetku"


"Sama-sama Bos. Apanya yang saya lakukan masih belum seberapa dengan apa yang sudah Anda lakukan ke saya. Anda sudah berulangkali menyelamatkan hidup saya dan bahkan Anda menyembuhkan nyawa adik saya dari penyakit tumor otaknya"


"Baik. Aku tidak akan pakai bahasa formal, tapi aku akan tetap memanggil kamu Bos karena selamanya, kamu adalah Bosku"


Dito dan Angga kemudian melepas tawa bahagia mereka secara bersamaan.


Angga lalu melihat ke dalam mobil, "Itu, cewek liar yang........"


Dito menoleh ke belakang sambil menyahut, "Iya. Itu si cewek liar yang sulit diatur. Cantika Putri Baron"


"Sial! Aku harus berurusan dengan keceriwisan, kecerobohan, dan keras kepalanya lagi, nih" Angga mendengus kesal.


"Hahahahahaha. Maaf, aku harus merepotkanmu lagi"


"Santai, Bos. Aku akan jaga wanita kamu dengan taruhan nyawa"

__ADS_1


"Terima kasih" Sahut Dito sembari merengkuh tubuh Cantika dari dalam mobil lalu membopongnya masuk ke dalam rumah besar dan megah berlantai tiga yang merangkap sebagai kafe dan tempat tinggal.


"Di mana kamarku?" Tanya Dito.


"Di ujung selasar Bos. Kamar yang paling besar" Sahut Angga.


Dito masuk ke dalam kamar yang ditunjuk oleh Angga lalu ia merebahkan dengan perlahan kepala Cantika di atas bantal. Setelah menyelimuti Cantika, Dito menciumi wajah Cantika sambil bergumam, "Maaf,ya, kamu aku tinggal sebentar. Aku segera balik untuk mengajak kamu menemui Papa dan Mama kita. Aku akan melamar kamu"


Cantika yang masih memejamkan mata mendorong dada Dito sambil bergumam, "Dito, aku mencintaimu"


Dito mengecup bibir Cantika lalu berkata, "Aku juga mencintaimu, Babe. Seribu kali lebih besar dari cintamu padaku" Pria tampan itu mengusap kepala Cantika dan dengan hati yang sangat berat ia melangkah keluar dari dalam kamar dan sambil menutup pintu kamar itu, Dito bertanya ke Angga, "Apakah kamu dan anak buah kamu benar-benar sudah siap bertempur habis-habisan melawan Steven Chan?"


"Siap, Bos. Aku sudah tidak sabar ingin membalaskan kematian Bos besar dan kematian Rio sahabatku"


"Bagus. Kita langsung meluncur ke markasnya Steven saja. Kita porak porandakan gudang produksi terbesarnya yang ada di sini biar pria brengsek itu putar balik dan tidak mengejar Cantika lagi. Helikopter kita sudah siap?"


"Siap, Bos" Sahut Angga.


"Sial! Dito kirim pesan text, nih" Ucap Noah tiba-tiba.


"Apa katanya?" Tanya Santo yang masih bertugas mengemudi mobil.


"Kita meluncur ke markas terbesarnya Steven Chan saja. Dito meluncur ke sana sekarang dan Cantika aman di tempat persembunyiannya Dito" Sahut Noah.


"Oke lah kalau begitu" Santo langsung putar balik dan tancap gas.


Sementara itu, Steven Chan menoleh ke belakang dan tertawa lepas, "Mereka takut sama aku ternyata. Hahahahaha. Putar balik dia. Dasar pengecut! Berapa lama lagi kita sampai ke helikopter kita?"


"Satu jam lagi, Bos"


"Bagus" Sahut Steven Chan.

__ADS_1


__ADS_2