Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Kaget


__ADS_3

Setelah berada di rumah sewa mungil tempat mereka bermalam untuk mulai menjalankan misi mereka mulai besok, Dito membuka maskernya di depan Rossi dan Leo tanpa ia sadari.


Rossi dan Leo refleks menarik rahang bawah selebar-lebarnya.


Dito mengerutkan kening dan berkata, "Kenapa mulut kalian terbaik lebar seperti riu?"


"Ko....kolonel D! An.......Anda terlihat beda tanpa topi dan masker" Leo sontak melongo.


"An......Anda tampan sekali. Eh, maaf, maksud saya Anda membuka masker Anda di depan kami* Sahut Rossi.


"Oh! Topi dan masker ini? Aku sengaja buka karena kegerahan" Dito lalu berbalik badan untuk melangkah menuju ke lemari es.


Rossi dan Leo bersitatap.


Setelah mengambil sebotol air mineral dingin, Dito menutup pintu lemari dan menghadap ke Rossi dan Leo untuk berkata, "Kalian bersiaplah. Aku ingin sore ini kita mulai bergerak.


"Siap laksanakan" Sahut Rossi dan Leo secara bersamaan. Lalu kedua orang itu berlari masuk ke kamar yang sudah mereka pilih.


Dito kemudian membuka tutup botol air mineral dingin itu dan menenggaknya sampai habis, lalu ia.lemparkan botol yang sudah tidak ada isinya ke keranjang sampah.


Sebenarnya misi dijalankan esok hari, namun Dito sudah tidak sabar ingin segera bisa.mengusik Steven Chan agar Steven Chan keluar dari sarangnya. Dia ingin bertemu dengan pria kejam dan gila itu untuk membuat perhitungan.


Tepat jam sepuluh malam, Dito memarkirkan jeepnya di tempat yang sepi dan gelap.Lalu, ia memerintahkan Rossi dan Leo untuk turu. ke titik tugas mereka masing-masing.


Rossi belok ke kanan dan Leo belok ke kiri. Sedangkan Dito melangkah lurus. Dito nekat mendekati pabrik pembuatan narkoba jenis baru karyanya Steven Chan. Pabrik itu diduga kuat adalah pabrik terbesar kedua dan di sana Steven Chan sering berkunjung di antara jam sepuluh sampai sebelas malam


Tiga bulan berlalu sejak Dito dan tim yang dipilih Dito berangkat untuk menjalankan misi mendapatkan formula rahasia narkoba jenis baru milik Steven Chan dan mendapatkan daftar pelanggan terbesarnya Steven Chan.


Dito sontak mengumpat, "Sial" Pria tampan itu sontak berlari kembali ke mobil jeepnya saat ia menemukan bom yang sudah berada di angka 03.10.08 yang terus bergerak mundur.


Dito berlari kencang sembari menekan walkie talkie-nya dan berteriak, "Kembali! Ada Bom berdaya ledak tinggi!"


Rossi dan Leo sontak berbalik badan lalu mereka berdua berlari kencang untuk kembali ke parkiran jeepnya Dito.


Namun, sayangnya langkah Rossi dihadang oleh seorang wanita berpostur tinggi dan ramping, langkah Leo dihadang seorang pria bertubuh tinggi besar, dan laju larinya Dito dihadang oleh seorang pria tinggi kurus berambut gondrong yang dibiarkan terurai menutupi wajah.


Beberapa menit kemudian Rossi, Leo, dan Dito terlibat bentrok dengan orang-orang yang menghadang mereka. Rossi, Leo, dan Dito berpikiran harus segera melumpuhkan orang yang berani menghadang mereka sebelum bom meledak.

__ADS_1


"Sial! Dia tangguh juga" Rossi, Leo, dan Dito secara bersamaan mengatakan kata yang sama di titik mereka masing-masing.


Akhirnya di saat angka di bom waktu berubah di 01.05.09, dhuag! Dito berhasil menyarangkan tendangan mautnya di rahang lawannya dan pria kurus berambut gondrong itu berhasil Dito lumpuhkan.


Dito langsung menekan walkie talkie-nya dan sambil berlari ia berkata, "Kalian di mana?!"


Rossi dan Leo menjawab secara bersamaan, "Sudah di Jeep"


"Syukurlah" Dito menghela napas panjang sambil mempercepat laju larinya.


Tepat di saat Dito meluncurkan mobil jeepnya, gudang besar milik Steven Chan meledak. Dito semakin dalam menekan pedal gasnya dengan panik. Dito menghela napas lega saat ia sudah berhasil membawa Rossi dan Leo ke tempat yang aman. Dito langsung mengarahkan laju mobil Jeep itu ke markas mereka.


"Sial! Steven Chan ternyata sangat hebat" Ucap Dito.


"Iya. Kita nggak nyangka kalau malam ini kita akan mendapatkan banyak kejutan" Sahut Leo.


"Wanita yang menghadang aku tadi sangat tangguh. aku hampir kalah dibuatnya" Ucap Rossi sembari mengecek luka di lututnya.


"Aku juga. Lawanku juga sangat tangguh" Sahut Leo.


"Bahkan Steven dibentengi orang-orang yang sangat tangguh seperti lawan kita tadi. Untuk ke depannya kita harus lebih berhati-hati" Sahut Dito.


Keesokan harinya misi mulai dijalankan. Mereka bertiga, Rossi, Leo, dan Dito mulai menyamar. Dua Minggu pertama penyamaran mereka berhasil. Namun, mereka bertiga belum berhasil menemukan apa yang seharusnya mereka temukan.


Di Minggu ketiga menjalankan misi mereka, Rossi nekat menarik tangan Dito saat mereka kembali ke markas mereka untuk mengistirahatkan tubuh lelah mereka. Rossi menarik tangan Dito ke kebun belakang yang dipenuhi pohon buah rambutan.


"Kenapa kau mengajakku ke sini?"


"Biar Leo tidak mendengar apa yang akan saya katakan, Kolonel"


"Memangnya kenapa kalau Leo mendengarnya? Kita salah satu tim. Nggak boleh ada rahasia dan hmmmppppt!" Mata Dito sontak membulat kaget saat Rossi memagut bibirnya.


Dito melihat Rossi mulai menutup mata dan mencium bibirnya. Seketika itu Dito menarik diri dan saat bibirnya sudah terlepas dari bibir Rossi, Dito sontak mendelik ke wanita yang telah nekat memagut dan mencium bibirnya itu, untuk menyemburkan, "Apa yang kau lakukan, hah?"


"Maafkan saya. Saya tidak bisa menahan diri saya lagi untuk tidak mencium Anda. Itu adalah ciuman tanda terima kasih dari saya karena Anda, sudah beberapa kali menyelamatkan saya"


Dito bergerak mundur satu langkah dan berkata, "Tidak perlu berterima kasih. Apalagi berterima kasih dengan cara menciumku. Aku tidak butuh itu. Kita adalah satu tim. Sudah sewajarnya kalau kita saling tolong menolong"

__ADS_1


"Tapi, saya ingin berterima kasih dengan cara berbeda pada Anda"


"Dan kenapa begitu?" Dito berucap sembari bergerak mundur selangkah saat ia melihat Rossi melangkah maju ke depan.


"Karena saya mencintai Anda. Saya menyukai Anda sejak saya melihat Anda pertama kali dan......."


"Aku pakai topi dan masker waktu itu"


"Justru itu yang membuat saya semakin tertarik dan makin ke sini rasa suka saya kepada Anda sudah berkembang pesat menjadi rasa cinta"


"Maaf kalau aku harus menolak kamu. Hatiku sudah ada yang punya. Bisakah kita kembali lagi ke dalam. Leo pasti mencari kita saat ini dan ........"


"Nggak papa. Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Tapi, ijinkan saya untuk terus mencintai Anda" Rossi menatap dalam wajah tampannya Dito.


Dito membuka suara, "Tapi, itu hanya akan membuatmu makin menderita. Buang saja rasa cinta itu!"


Rossi diam membisu dan mematung di depan Dito.


"Kalian di sini ternyata" Teriak Leo.


Melihat Leo datang, Dito langsung mengajak Leo berjalan ke rumah sedangkan Rossi masih berdiri tertegun di tempatnya.


Tiga bulan berikutnya, Dito dan Leo kembali pulang ke camp pelatihan. Tim mereka berhasil mendapatkan sampel narkoba jenis baru itu dan berhasil mendapatkan daftar pelanggan terbesarnya Steven Chan. Namun, sayangnya Dito dan Leo pulang ke camp pelatihan dengan wajah sedih dan wajah mereka tampak penuh penyesalan. Rossi meninggal dunia. Itulah kenapa setelah menyampaikan kabar duka tersebut, Dito menghilang.


Mendengar kabar Rossi meninggal dunia, Cantika langsung menangis. Dia memang baru beberapa hari mengenal Rossi, tapi Rossi adalah teman yang sangat ia sayangi.


Dua Minggu setelah kabar Rossi meninggal dunia menggemparkan camp, Dito belum muncul di camp. Hal itu mengundang tanya bagi Cantika.


Cantika menemui Baskara untuk bertanya, "Di mana Kolonel D?"


"Dia ada di rumahnya. Dia cuti selama satu bulan karena mengalami depresi"


"Di mana rumahnya?"


"Kau mau apa?"


"Mau mencoba membangkitkan kembali semangatnya agar dia tidak terus terpuruk di dalam kesedihan karena kehilangan Rossi"

__ADS_1


Baskara memberikan alamat rumahnya Dito dan Cantika langsung berbalik badan untuk pergi ke alamat itu.


__ADS_2