
Pergulatan Cantika dan Dito kembali berlangsung liar dan panas dan diakhiri dengan erangan nan indah. Cantika langsung menggelepar di atas kasur dan memejamkan mata. Hanya di dalam hitungan detik, wanita cantik itu pun jatuh tertidur lelap di dalam pelukannya Dito.
Dito menyelimuti tubuh polos Cantika setelah ronde keempat pergulatan panas dan liar mereka saat ia mendengar pintu kamarnya diketuk.
Dito segera memakai celana kolornya dan berjalan untuk membuka pintu sambil memasukkan kedua tangan ke dalam lubang kaos polos bermerk warna putih yang tampak kusut karena diremas, digulung, dilepas dan dilempar asal oleh Cantika.
Dito membuka pintu kamar dan saat Angga ingin melangkah masuk ke dalam, Dito langsung mendorong Angga sambil berkata, "Cantika tidur. Jangan masuk! Kita bicara di luar saja" Dito menutup pintu kamar, menguncinya, dan setelah memasukkan kunci ke dalam kantong celana kolornya, ia mengajak Angga ke teras belakang.
Setelah sampai di teras belakang, Dito langsung berkata, "Ada apa?"
"Ada tiga hal yang ingin saya laporkan, Bos. Pertama, yang menyerang Bos barusan hanyalah penyamun biasa yang biasa merampok di sekitar sini dan penduduk sekitar berterima kasih karena akhirnya perampok tersebut berhasil ditangkap. Penduduk sekitar datang ke sini untuk berterima kasih dan memberikan beberapa hasil bumi. Tapi, sayangnya Bos sedang beristirahat tadi"
"Hmm. Lalu, yang kedua dan ketiga apa?" Dito berucap sembari bersedekap.
"Laporan yang kedua datang dari informan yang kita tanam di organisasinya Steven, Steven belum berhasil menemukan kita. Bos sombong dan sangat kejam itu akhirnya kembali ke markasnya. Lalu, laporan terakhir adalah............"
"Apa? Kenapa tidak kau teruskan?"
"Ini terkait dengan foto anak kecil perempuan yang ada di dompet Bos"
"Kau sudah menemukan identitas anak kecil perempuan yang selalu aku simpan itu?" Dito bertanya dengan sorot mata penuh sangat dan wajah antusias.
Angga menganggukkan kepalanya dengan wajah meragu.
"Siapa dia? Di mana dia sekarang ini? Cepat katakan!"
"Dia adalah adik perempuan Anda. Noah Baron yang selama ini Anda buru atas perintah Papa Anda, adalah Papa Anda"
"Maksud kamu?"
"Sepetinya Papa Anda segala menciptakan dendam di hati Anda pada Noah Baron. Karena menurut penyelidikan saya, Noah Baron bersih. Dia pria yang sangat baik. Jadi, tidak mungkin kalau dia yang membuat Anda dan Ibu Anda celaka"
__ADS_1
"Aku sudah menduganya. Aku sudah menemukan semua informasi tentang Noah Baron dan aku tidak menemukan kejelekan dan kejahatannya Noah Baron di sana"
"Untung Anda tidak langsung bertindak membunuh Noah Baron. Kalau tidak, Anda pasti akan sangat menyesalinya sekarang"
"Hmm. Kau benar. Aku sungguh merasa lega saat ini karena aku belum mencelakai Noah Baron sama sekali"
"Iya, Bos. Saya juga ikutan lega. Karena kalau Anda sedih, saya juga ikutan sedih, Bos. Anda sudah saya anggap seperti adik kandung saya sendiri"
"Thank you, Ngga. Kamu juga aku anggap sebagai kakak laki-laki yang paling aku sayangi dan aku percayai. Aku memang punya Papa. Tapi, aku tetap merasa sendirian di dunia ini. Papa yang menyematkan nama Zeto di belakang namaku, selalu sibuk dengan bisnis dan dendamnya pada Noah Baron. Emm, lalu di mana adik perempuanku itu sekarang?"
"Kenapa Anda jadi lemot macam Pentium satu, Bos? Anda kecapekan atau apa?"
"Iya, aku capek banget saat ini" Dito tanpa sadar berkata apa adanya.
Angga sontak menautkan kedua alisnya dan berkata, "Emangnya Anda habis ngapain, kok, bisa secapek ini dan menjadi lemot macam Pentium satu?"
Dito merona malu saat pertanyannya Angga kru membuat ia teringat kembali dengan empat ronde pergulatan panasnya dengan Cantika.
Dito langsung menepis pelan tangan Angga sambil berkata, "Aku baik-baik saja"
"Tapi, kenapa muka Anda memerah dan Anda........"
Dito langsung berdeham cukup keras untuk mengusir rasa penasarannya Angga dan pria tampan itu segera berjaya dengan wajah tegas, "Katakan saja di mana adik perempuanku saat ini!"
"Adik perempuan Anda ada di sini sekarang ini, Bos. Ada di dalam kamarnya Bos. Anak kecil perempuan yang fotonya ada di dalam dompet Bos selama ini adalah Cantika Putri Baron"
Dito langsung tersentak ke belakang dan punggungnya membentur pintu kamar cukup keras. Dito sontak meringis kesakitan saat luka di punggung kanan bagian atas membentur pintu.
"Anda baik-baik saja, Bos?"
"A.....aku.....entahlah. Aku masuk ke kamar dulu" Dito bergegas masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci kamarnya dari dalam"
__ADS_1
Angga menatap pintu kamar itu sejenak, lalu ia berputar badan untuk kembali bekerja.
Dito melangkah pelan menuju ke ranjang dan langsung terduduk lemas di tepi ranjang. Dia merapikan rambut yang menutupi wajah Cantika sambil berkata di dalam hatinya, kenapa aku tidak menyelidiki dulu siapa kamu. Kenapa aku terbawa gairah dan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku pria bejat. Aku telah bercinta dengan adik perempuanku sendiri? Apa kata Noah Baron nanti? Apa aku masih punya muka menghadap Papa Noah Baron?
Dito kemudian mencium kening Cantika dan mendaratkan bibirnya cukup lama di sana. Lalu, ia tarik kembali bibirnya dari kening Cantika dengan berat hati. Lalu, pria tampan itu bergegas bangkit berdiri dan melangkah pergi dari kamarnya setelah ia meninggalkan foto anak kecil perempuan di atas nakas. Dia tindih foto itu dengan gelas.
Setelah keluar dari dalam kamarnya, Dito berlari ke tempat asramanya Angga dan anak buahnya untuk berkata, "Hidupkan helikopternya dan bawa aku pergi sekarang juga dari sini!"
"Sekarang, bos?"
"Iya. Mumpung Steven masih tenang di markasnya. Aku tinggalkan Cantika"
"Hah?! Lalu, kita harus gimana sama Cantika? Tetap kita sekap di sini atau bagaimana?"
"Tolong antarkan dia kembali ke keluarganya setelah ia keluar dari dalam kamar. Kalau dia mencariku jangan katakan aku ada di mana. Emm, Katakan saja kalau akan menemuinya di saat yang tepat"
"Baik, Bos"
Angga langsung memerintahkan supir helikopter untuk segera bersiap membawa Dito Zeto terbang meninggalkan Cantika Putri Baron.
Jam sembilan pagi, Cantika bangun dengan sekujur badan pegal-pegal dan bagian intinya terasa sedikit mengganjal dan berdenyut. Cantika sontak bergumam, "Di mana Dito? Apa dia ada di dapur saat ini dan sedang memasak makanan lezat untukku? Kalau gitu, aku harus mandi dan berdandan cantik untuknya" Cantika berucap sembari bangun dan mencoba untuk bangkit berdiri saat dirasa aman dan bagian intinya tidak begitu terasa sakit, wanita cantik itu lalu melangkah pelan menuju ke kamar mandi.
Setelah mandi, pandangan Cantika langsung tertuju ke nakas. Dia langsung berlari untuk melihat apa yang ada di atas nakas. Cantika mengangkat gelas dan mengambil foto dari atas nakas itu. Seketika itu Cantika berlari keluar dari dalam kamar.
Setelah sampai di luar kamar, Cantika sontak berteriak, "Dito! Kenapa kau bisa punya fotoku waktu aku masih kecil? Dito! Kau di mana?!"
Angga langsung berlari mendekati Cantika untuk berkata, "Bos memintaku untuk memulangkan kamu ke rumah Papa kamu sekarang juga. Tapi, kumohon jangan bocorkan apa yang kau lihat dan kau dengar selama kau berada di samping Bos Dito Zeto"
"Aku nggak akan bocorkan apa pun. Sekarang katakan di mana Dito?"
"Bos ada urusan mendesak dan harus pergi dini hari tadi. Aku akan antarkan kamu pulang dan Bos akan menemui kamu setelah urusannya selesai"
__ADS_1
Cantika terpaksa menelan mentah-mentah rasa penasarannya soal foto kecilnya itu dan mengikuti Angga untuk kembali ke Papa dan Mamanya.