
Petugas pencatatan sipil menemui Barnes dan menunjukkan cap jempol yang Noah Baron bubuhkan di atas surat nikah.
Barnes dan timnya langsung mengecek sidik jari tersebut dan mereka semua tersenyum lega saat mesin canggih yang Barnes miliki menyatakan bahwa itu adalah sidik jarinya Noah Baron.
Amanda langsung memeluk suaminya dan menangis bahagia di dalam pelukan suaminya. Barnes mencium pucuk kepala istrinya dan berkata, "Syukurlah Noah masih hidup"
Amanda lalu menarik diri dari dalam pelukannya Barnes dan berkata, "Tunggu dulu! Ini surat nikah, kan? Berarti Batari dan Noah Baron sudah menikah?"
"Sudah Nyonya" Sahut petugas pencatatan sipil. "Saya kemarin atas permintaannya Nona Batari dan saya ingin meminta kelengkapan surat-suratnya Nona Batari. Setelah ini, saya akan berkunjung ke kediaman Adam Baron untuk meminta kelengkapan suratnya Noah Baron"
Amanda memeluk suaminya lagi dan menangis sejadi-jadinya di sana.
Barnes mengelus punggung istrinya dengan bertanya, "Hei, Sayangku, kenapa kamu malah menangis seperti ini? Harusnya kamu bahagia, kan, Putri kita udah menikah dengan pria yang ia cintai"
Amanda berucap di dalam dekapannya Barnes di sela isak tangisnya, "Tapi, aku kasihan sama Noah dan Batari. Mereka menikah tanpa didampingi orangtua mereka dan tanpa pesta"
Barnes mengelus punggungnya Amanda sambil berucap, "Kita dulu juga begitu, kan. Dia pesta kita akan segera gelar setelah Batari dan Noah kembali ke sini dan........"
"Noah hilang ingatan, Tuan" Sahut petugas pencatatan sipil.
Amanda sontak menarik diri dari dalam dekapan suaminya dan langsung menghadap ke petugas pencatatan sipil dengan teriakan, "Apa?!"
"Apa maksud kamu?" Barnes menautkan alisnya di depan petugas pencatatan sipil tersebut.
"Iya. Tuan Noah Baron, hilang ingatan. Dia ada di kerajaan Wahyatma dan wajahnya yang sangat mirip dengan Pangeran Arka Bhadrika Wahyatma, membuat Tuan Noah Baron sepertinya harus menjadi Pangeran Arka Bhadrika Wahyatma untuk sementara waktu" Petugas pencatatan sipil langsung memberikan. keterangan panjang lebar kepada Barnes, Amanda, Bryna, Duscha, dan the five Jays.
Barnes menoleh ke Jake dan Jake langsung mengecek siapa dan apa kerajaan Wahyatma itu.
Duscha yang membaca hasil temuannya Jake, "Celaka! Kerajaan Wahyatma bukan kerajaan yang ramah. Batari dalam bahaya kalau..........."
"Batari di mana? Apa dia di istananya Wahyatma?" Bryna langsung menoleh ke petugas pencatatan sipil.
"Non Batari ada di pulau pribadinya Pangeran Arka. Saya rasa sementara ini, Non Batari aman. Saya akan kembali ke pulau itu Minggu depan untuk membawakan surat nikahnya Saya akan laporkan keadaan Non Batari setelah saya balik dari sana" Jawab petugas pencatatan sipil.
__ADS_1
"Kita jemput Batari sekarang juga! Kita pakai helikopter" Sahut Joy.
"Setuju!" Pekik Amanda
Barnes langsung memeluk pinggang istrinya dan berkata, "Kita jangan gegabah dulu! Kita tunggu kabar dari Bapak ini saat dia kembali dari pulau itu Minggu depan barulah kita ambil tindakan" Sahut Barnes.
Semua menyetujui keputusannya Barnes.
Batari berjalan-jalan di taman dan kelima anak buahnya pangeran Arka terus mengikuti Batari. Batari mendengus kesal dan dia langsung melakukan video call dengan suaminya.
Noah yang tengah mempelajari kontrak kerja sama baru antara kerajaan Wahyatma dengan perusahaan The Baron, langsung meletakan semua berkas untuk menatap wajah cantik istrinya, Noah langsung tersenyum dan bertanya, "Ada apa melakukan panggilan Video Call. Kamu kangen melihat wajah tampanku, ya?"
Noah yang berada sendirian di ruang kerjanya Pangeran Arka yang super luas dan mewah itu bis leluasa mengobrol dengan pujaan hatinya.
Baterai langsung memasang wajah cemberut di depan layar ponselnya dan Noah langsung menautkan alisnya di depan layar ponselnya, lalu bertanya, "Kok cemberut? Apa yang membuatmu kesal?"
"Kamu! Kamu yang udah membuatku kesal!" Pekik Batari kencang.
Kelima anak buahnya pangeran Arka yang berdiri tidak jauh dari tempat Batari duduk dan kedua pelayan wanita yang tengah melayani Batari langsung tegak membeku.
Namun, pangeran Arka yang ada di sekitar mereka semua bukanlah pangeran Arka yang sebenarnya, jadi tentu saja karakternya akan tampak sangat jauh berbeda jauh, karena Noah Baron walupun pelit senyum, tapi Noah Baron adalah pemuda yang lembut hatinya dan tidak suka menghajar siapapun untuk masalah yang sepele.
"Aku? Kenapa aku bisa membuatmu kesal?" tanya suaminya Batari.
Semua yang ada masih ada di dekatnya Batari langsung saling pandang dan terkejut melihat reaksinya pangeran Arka.
Dua orang pelayan wanita yang berdiri di depannya Batari spontan saling bisik, "Kenapa Pangeran Arka tidak marah besar, ya? Padahal wanita itu membentaknya dengan sangat ridak sopan"
"Itu berarti, Pangeran udah cinta banget sama wanita itu" Sahut pelayan yang satunya.
"Tapi, Pangeran, kan udah menikah dengan putri Amina?" Bisik pelayan yang memiliki postur tubuh lebih tinggi.
Pelayan yang berpostur tubuh pendek langsung menyahut, "Sssttt!!!!"
__ADS_1
"Kenapa kamu suruh orang-orang ini mengikutiku terus?" Batari menoleh ke belakang.
Suaminya Batari tersenyum lembut dan berkata, "Itu untuk kebaikan kamu, Sayang. Aku tidak ingin kamu tiba-tiba ketemu sama ular. Kamu kan takut banget sama ular"
"Kok kamu tahu aku takut banget sama ular? Kamu udah..........." Batari menatap layar ponselnya dengan semringah.
Suaminya Batari tertegun dan bergumam lirih, "Iya. Kenapa aku bisa tahu kalau kamu takut banget sama ular?"
Klik! Batari mematikan sambungan Video Call tersebut untuk menulis pesan text ke suaminya, karena kamu adalah Noah Baron tunanganku dan bukanlah Pangeran Arka Bhadrika Wahyatma, makanya kamu tahu betul kalau aku takut banget sama ular.
Suaminya Batari menatap layar ponselnya dan langsung termenung setelah ia selesai membaca pesan text dari istrinya. Lalu, ia bergumam, "Kalau aku Noah Baron, berarti aku tidak boleh menyatu dengan Putri Amina malam ini. Nggak! Aku akan cari cara agar aku tidak menyatu dengan Putri Amina malam ini, malam yang berikutnya, berikutnya, dan berikutnya lagi"
Pangeran Arka kemudian menggeluti berkas-berkas yang ada di depannya kembali dan tanpa sadar, dia telah melampaui jam pulang kantornya.
Tok,tok,tok, pintu ruang kerjanya pangeran Arka diketuk oleh seseorang dari arah luar.
"Masuk!" Sahut Pangeran Arka.
Felix membuka pintu dengan pelan, lalu melangkah masuk untuk berdiri di depan meja kerja junjungannya dan berkata, "Pangeran, ini sudah jam sepuluh malam. Anda harus pulang ke istana! Ratu Ambika terus menelepon saya menanyakan keberadaan Anda" Felix berkata ke Arka dengan wajah serius.
Pangeran Arka menjawab acuh tak acuh, "Aku nggak mau pulang. Aku akan tidur di kantor malam ini. Banyak berkas yang belum selesai aku baca"
"Tapi.........."
"Aku adalah Arka. Kalau asistenku berkata tapi seperti saat ini, biasanya Arka akan melakukan apa?"
Felix langsung bergetar kakinya dan ia menjawab, "Anda akan menghajar saya sampai saya tidak bisa masuk kerja selama seminggu"
"Apakah Arka.juga berani menentang Neneknya?"
"Pangeran Arka be.....berani menentang Neneknya, Ka......karena Ratu Ambika sangat menyayangi Anda, Pangeran"
"Jadi, aku akan tidur di kantor malam ini. Titik nggak pakai koma"
__ADS_1
Felix hanya bisa berkata, "Baik, Pangeran" Lalu ia undur diri dari hadapan junjungannya.