Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Entahlah


__ADS_3

"Kenapa kau suruh mereka menundukkan kepala? Angkat kepala kalian semua!" Suara Letnan Kolonel Baskara menggema di ruang pelatihan yang Anaya luas dan tertutup tersebut.


Cantika dan kelima temannya langsung menegakkan kepala mereka.


Cantika tersenyum ke Baskara dan menautkan kedua alisnya saat ia melihat ada pria bertopi dan memakai masker.


Pria bertopi dan memakai masker itu sontak menoleh ke asal.suara untuk menyemburkan, "Mereka Muridku. Aku adalah pelatih mereka. Jadi, suka-suka aku mau aku latih seperti apa mereka semua"


"Tapi, untuk apa kau suruh mereka menundukkan. kepala?"


"Itu, untuk, emm.......Mengajarkan mereka cara menghormati pelatih mereka" Sahut pria bertopi dan bermasker itu.


Baskara langsung tersenyum dan berkata, "Oke. Aku akan tinggalkan kalian bersama dengan Kolonel Dit....... hmmppttthh!" Baskara sontak menoleh tajam ke rekannya saat rekannya itu hendak menyemburkan nama Dito Zeto.


Dito langung berbisik di telinga Baskara, "Aku lebih tinggi pangkatnya dari kamu. Jadi, aku berhak memberimu perintah, kan?"


Baskara yang masih dibekap mulutnya oleh Dito hanya bisa mengangguk-angguk


Dito kembali berbisik, "Jangan katakan dulu namaku ke mereka! Aku ingin mereka mengenalku lebih dekat dulu barulah aku akan mengatakan namaku. Oke?"


Baskara kembali mengangguk dan Dito langsung melepaskan bekapannya.


"Kolonel D dan saya akan melatih kalian menjadi pasukan khusus di sini. Kalau ada pertanyaan atau kalian ada keluhan, kalian bisa langsung bertanya ke kolonel D dan saya. Nama saya Baskara dan rekan saya ini adalah Kolonel D. Saya kenal dengan salah satu dari kalian yakni Cantika. Saya dan Cantika adalah rekan di akademi kepolisan" Ucap Letnan Kolonel Baskara.


Cantika langsung mengangkat tangan untuk bertanya.


"Iya, ada apa Cantika?" Tanya Baskara.


Dito sontak menoleh ke Baskara dengan sorot mata penuh kecemburuan saat pria itu menyebut nama wanita yang ia cintai.


"Kenapa rekan Anda tidak menyebutkan nama Anda dan hanya memberikan inisial dari nama Anda?"


Dito langsung menoleh ke Cantika dan menyahut, "Suka-suka saya. Saya akan melatih kalian semua dengan cara saya. Selama saya belum merasa puas dengan usaha kalian selama pelatihan, saya tidak akan kasih tahu nama saya"


"Dan kapan Anda akan kasih tahu nama Anda?" Tanya rekannya Cantika yang bernama Rossi.


"Setelah pelatihan selesai. Mungkin" Sahut Dito dengan suara acuh tak acuh.


"Tapi itu masih tiga bulan lagi" Teman Cantika yang bernama Lisa ikutan menyemburkan protes


Baskara sontak mengulum senyum menahan geli saat ia melirik Dito mulai salah tingkah.


Dito sontak berteriak kencang untuk mengusir rasa canggungnya, "Berhenti membahas nama saya. Sekarang kalian berlari keliling aula ini sebanyak dua puluh putaran! Sekarang, go!" Dito kemudian menoleh ke Baskara untuk berkata, "Bunyikan peluitnya!"


Baskara langsung membunyikan peluit dan semua cewek pilihan yang cantik-cantik dan memiliki postur tubuh tegap dan ideal itu langsung berlari keliling lapangan. Dito dan Baskara langsung mengekor laju lari keenam cewek pilihan tersebut.


Cantika berlari bersama dengan temannya yang bernama Rossi.


"Kolonel D kalau dilihat dari postur tubuhnya sepetinya tampan" Ucap Rossi sambil terus berlari dan menoleh ke Cantika.

__ADS_1


"Belum tentu juga. Dia, kan, pakai topi dan pakai masker. Jangan-jangan pas dilepas topinya dia botak dan pas dilepas maskernya ia tonggos"


Rossi sontak tertawa geli lalu berucap, 'Tapi, aku yakin banget kalau Kolonel D tidak botak dan tidak tonggos"


"Gimana kalau kita taruhan"


"Taruhan apa?" Tanya Rossi.


"Kalau Kolonel D beneran tampan aku akan traktir kamu makan apa aja pas kita ada jadwal libur"


"Oke. Deal!" Sahut Rossi dengan wajah semringah.


Sambil terus berlari mengikuti sekaligus mengawasi keenam cewek pilihan itu, Dito menoleh ke Baskara untuk bertanya, "Kamu pacaran sama Cantika, ya?"


Baskara yang memang berharap Cantika benar-benar kekasihnya dan tidak ingin ada pria lain menjadi saingannya, menoleh ke Dito dan menjawab dengan nada serius, "Kalau iya memangnya kenapa?"


Dito langsung mengalihkan pandangannya ke depan untuk menyembunyikan sorot mata yang penuh kecemburuan. Lalu, dengan nada kecewa Dito kembali bertanya, "Sejak kapan kalian jadian?"


"Sejak reuni angkatan ku yang diadakan di restoran Nature"


Berarti benar yang aku lihat waktu itu adalah Cantika dan Baskara. Benar juga yang aku dengar waktu itu kalau Baskara mengenalkan Cantika sebagai pacarnya saat itu. Batin Dito.


"Kenapa memangnya?"


"Nggak papa. Aku cuma iseng nanya" Sahut Dito sembari melepas masker.


"Kau akhirnya lepas masker kamu?"


"Bagaimana denganmu?" Tanya Baskara.


"Apa?" Dito kembali menoleh ke Baskara.


"Kau sudah punya pacar?"


"Entahlah" Sahut Dito sembari mengalihkan kembali pandangannya ke depan.


"Kok entahlah? Berarti punya, nih?"


"Aku belum sempat nembak dia secara resmi. Dia juga belum menyatakan perasaannya ke aku. Tapi, hubungan kami sangat dalam"


"Maksudnya sangat dalam? Kalian, kan, belum saling menyatakan perasaan secara resmi"


"Tapi, hubungan kami sangat dalam dan jangan tanya lagi kenapa bisa sangat dalam. Hanya aku dan dia yang bisa merasakannya" Sahut Dito.


"Yeeeeahhh, terserah kau saja. Tapi, sebentar! Kau dan dia kenapa nggak melanjutkan ke pernyataan resmi. Apa cewek itu meninggalkan kamu?"


"Aku yang meninggalkannya karena kesalahpahaman dan aku sangat menyesalinya sekarang"


"Kenapa tidak kau temui dia dan kau jelaskan semuanya ke dia"

__ADS_1


"Saat aku bangun dari koma dan setelah selesai menjalani rehabilitasi dan terapi, aku mencarinya. Tapi, dia sudah punya pacar"


Sahut Dito dengan wajah murung.


"Oooooo. Tapi, aku rasa kalau ada kesalahpahaman tetap harus diluruskan"


"Nanti aja. Aku akan menemui orangtuanya terlebih dahulu barulah aku menemui dia dan menjelaskan semuanya" Sahut Dito dengan helaan napas panjang.


"Kau sangat mencintainya, ya? Aku bisa melihat dari gestur kamu pas menceritakan cewek itu dan aku bisa lihat wajah di helaan napas kamu beda"


.


"Aku sangat dalam mencintainya. Hanya dia wanita yang mampu membuatku berdebar dan menjadi gila"


Baskara sontak menggelegarkan tawanya lalu berkata, 'Kau senasib denganku. Aku juga sangat dalam mencintai Cantika dan hanya Cantika yang mampu membuatku berdebar dan menjadi gila"


Mendengar ucapannya Baskara itu, seketika kedua tangan Dito mengepal keras. Dia diserang kecemburuan yang sangat besar dan harus ia kendalikan rasa cemburu yang terus melesak ingin dikeluarkan.


Dito kemudian menghentikan laju larinya, memakai kembali maskernya. Baskara ikutan mengentikan laju larinya. Dito menoleh ke Baskara untuk berkata, "Bunyikan peluitnya dan minta mereka kembali ke tengah aula.


Baskara mengikuti perintahnya Dito sambil pandangannya mengikuti arah perginya Dito. Baskara kemudian mengayunkan tangannya ke keenam cewek yang telah mengentikan laju lari mereka dan menoleh ke Baskara. Baskara berteriak, "Kumpul ke tengah aula lagi!"


"Kok, kumpul? Kita baru berlari sebanyak sepuluh putaran" Tanya Cantika sembari melangkah lebar ke tengah aula.


"Entahlah" Sahut Rossi.


Dito mengentikan laju larinya dan mengumpulkan semua cewek itu untuk meredakan kecemburuannya.


Setelah keenam cewek itu berkumpul di depan Dito, Dito langsung berkata, "Cukup sekian pengenalan dan pemanasan latihan kita. Kalian masuk ke kamar kalian masing-masing dan nanti malam kita akan bertemu lagi di lapangan depan untuk mengadakan api unggun. Bubar, jalan!"


Keenam cewek tersebut langsung bubar setelah mereka memberikan hormat ke Dito dan Baskara.


Dito langsung masuk ke kamar mandi terdekat untuk mengguyur kepalanya yang terasa panas karena cemburu agar dingin dan bisa berpikir jernih kembali.


Di saat Dito melepas topinya dan dia taruh topi itu di sebuah paku. Dan di saat pria tampan itu hendak melepas masker, pintu kamar mandi yang terbuat dari bambu yang dibuka dan ditutup dengan cara digeser, terdengar digeser oleh seseorang. Dito refleks memutar badan dan langsung membeliak kaget saat ia bersitatap dengan Cantika. Jantungnya seketika berdegup kencang dan Cantika sontak berkata, "Ternyata Anda tidak botak. Rossi menang separuh, nih"


Dito langsung berteriak untuk mengusir Cantika, "Kurang ajar benar kamu! Kenapa tidak ketuk pintu dulu? Kenapa main geser aja pintu ini?"


"Kenapa juga Anda tidak kunci pintunya? Enak aja menyalahkan saya"


"Pergi!"


"Kenapa saya yang harus pergi?"


"Karena aku yang duluan masuk ke sini. Sekarang lepaskan pintunya dan pergi! Aku mau mandi"


Cantika diam mematung dengan sorot mata kesal dan ia masih memegang erat ujung pintu yang terbuat dari bambu itu.


Dito mulai menggertakkan gerahamnya dan berkata, "Pergi atau aku akan tarik kamu masuk dan kita mandi bareng"

__ADS_1


Cantika langsung melepas ujung pintu yang terbuat dari bambu itu dan sambil berteriak, "Kyaaaaaa!!!!!" Wanita cantik itu berlari pergi meninggalkan Dito.


__ADS_2