
"Fiuuhhh! Untunglah kalian tidak baku hantam"
Dito dan Doni saling melepaskan pelukan mereka dan Dito sontak bertanya ke kekasih hatinya, "Kalau aku dan Doni baku hantam, siapa yang akan kau lindungi dan kau bela?"
"Nggak ada. Aku akan pergi dan meninggalkan kalian berdua sampai kalian puas berduel, hehehehehe"
"Oh! Gitu, ya" Dito langsung menarik Cantika, mendekapnya, lalu menggelitik pinggangnya Cantika.
Doni langsung melipir pergi sambil berteriak, "Aku juga mau bermesraan dengan calon Istriku!"
Cantika menyerah kalah di dalam pelukannya Dito dan berteriak, "Hentikan! Jangan gelitikin lagi!"
Dito langsung mendekap erat Cantika dan mencubit dagu Cantika untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Cantika, namun tiba-tiba terdengar suara orang berdeham.
Cantika dan Dito saling mendorong saya mereka melihat Noah berdiri di depan mereka.
Noah langsung menarik Dito ke dalam pelukannya dan berkata sambil menepuk-nepuk punggung Dito, "Syukurlah kamu selamat. Terima kasih sudah pulang dalam kondisi baik-baik saja, Nak"
Dito tersenyum di dalam pelukan hangat papa angkatnya dan berkata, "Saya harus pulang dalam keadaan baik-baik saja karena saya ingin melamar Putri Papa tercinta. Melamar wanita yang paling saya cintai di dunia ini setelah Mama"
Cantika tersenyum bahagia di belakang Dito.
Noah langsung melepaskan pelukannya dan dengan masih memegang kedua bahunya Dito, Noah bertanya, "Jadi, apakah kau sudah......." Noah menatap ke depan dan saat ia melihat Cantika tersenyum semringah sambil memamerkan cincin di jari manis tangan kirinya, Noah kembali memeluk Dito dan berkata, "Terima kasih, Nak. Kamu sudah membuat kami semua bahagia. Papa senang banget akhirnya kamu dan Cantika bisa bersatu dan akan segera menikah"
"Mama juga senang mendengar kalau akhirnya Dito melamar Cantika" Batari tiba-tiba muncul di dapur dengan senyum semringah.
Dito, Cantika, Batari, dan Noah kemudian berpelukan.
Satu bulan kemudian, Noah menggelar resepsi pernikahan yang sangat megah untuk putri tunggal kesayangannya di hotel milik kakeknya.
__ADS_1
Dan setelah resepsi selesai digelar, semua sahabat dan keluarga besar mereka menginap di hotel tersebut.
Dito langsung membopong Cantika dan membawa Cantika masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah disiapkan khusus untuk mereka. Dito langsung menutup pintu kamar dengan rumitnya dan melarikan Cantika ke tempat tidur untuk segera ia rebahkan.
"Dito! Kenapa kau jadi tidak sabaran begini?"
"Karena satu bulan dipingit tidak boleh bertemu dengan kamu sungguh membuatku sesak napas, Babe. Aku sangat merindukan kamu dan sangat menginginkan kamu saat ini. Kau sangat cantik dan luar biasa memakai baju pengantin"
"Aku perlu mandi dan........hmpppthhhh"
Dito langsung memagut bibir Cantika dan berkata di sela aktivitasnya menciumi bibir Cantika, "Aku tidak akan biarkan kamu ke mana-mana saat ini. Aku ingin segera menuntaskan hutangku ke kamu"
"Hutang apa?" Cantika refleks mendorong dada Dito.
"Hutangku pas kamu menolongku lepas dari cairan brengsek yang wanita gorila itu suntikan ke aku pas kita di markasnya Steven Chan. Aku berjanji akan berterima kasih dengan benar sama aku, kan, waktu itu. Namun, sayangnya aku harus meninggalkanmu untuk mengejar Steven Chan dan baru saat inilah saat yang tepat. Aku tidak akan melepaskan kamu barang sedetik pun"
Dito tertawa di tengah-tengah aktivitas panasnya.
Dito kemudian menatap tubuh Cantika dengan takjub setelah penyatuan raga ronde pertama dengan istri cantiknya itu, kemudian Dito menggeleng-geleng, "Kau luar biasa, Babe"
Cantika merona malu dan berkata, "Kau juga luar biasa"
"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu ini"
"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku harus bertanggung jawab?" Cantika spontan menautkan kedua alisnya.
Dito tersenyum lebar dan sambil menunduk di berkata, "Kau membuatku terus menginginkan kamu, Babe"
"Aku akan bertanggung jawab karena kata Mama, perempuan yang bertanggung jawab itu terlihat lebih seksi dari biasanya"
__ADS_1
Dito sontak tertawa lepas dan langsung menarik Cantika hingga Cantika duduk di atas perutnya. Dito kemudian menyusupkan kedua tangannya di belakang kepalanya dan berkata, "Mulailah bertanggung jawab"
Cantika langsung menarik Dito agar duduk, lalu wanita itu merentangkan kedua kakinya. Tubuh mereka menempel dengan sangat pas, paha Cantika mengepit, dada menempel di dada Dito, mulutnya bersiaga dan Cantika bertanya, "Begini benar?"
"Kau luar biasa seksi, Babe"
Cantika lalu melingkarkan kedua lengannya di leher kokohnya Dito dan mulai bergerak secara pelan di atas pangkuannya Dito.
"Yeah" Sambil memejamkan mata, Dito mengikuti gerakannya Cantika secara perlahan, selembut mungkin. Gerakan yang Dito lakukan membuat Cantika menjadi semakin liar, semakin bergairah, sangat panas. Cantika mengangkat tubuhnya, mendorong Dito agar terus bergerak dan Dito sontak mengerang frustasi.
Sambil terus bergerak, Cantika berpegangan ke lengan Dito, wanita cantik itu mengeluarkan suara antara nikmat dan kaget, kemudian mengeluarkan suara-suara penuh semangat menggelora yang sangat dalam.
"Kau melebih dugaanku, Babe" Pekik Dito. Dito menatap Cantika dan melihat ada rona merah di wajah Cantika, cantik, gigi putih yang rapi dan indah menggigiti bibir bawah, juga mata birunya yang sayu, tampak sangat menakjubkan bagi Dito sehingga membuat pria tampan itu terus menggumamkan kata, "Kau sangat cantik, Babe"
Cantika semakin bersemangat, "Ya" Kemudian, beberapa detik kemudian, "Yaaaaa!!!!" Lalu Cantika menjatuhkan wajah cantiknya yang kelelahan di dada Dito.
Dito langsung memeluk erat Cantika, kemudian merebahkan diri di atas kasur dan membersihkan Cantika di sebelahnya. Dito merapikan rambut Cantika dan menciumi kedua kelopak mata Cantika yang sudah terpejam. Lalu, Dito menarik selimut, memeluk tubuh Cantika yang masih polos sembari berkata, "Istirahatlah dulu. Aku akan berterima kasih dengan benar nanti pas subuh tiba"
Cantika terkekeh geli dengan masih memejamkan kedua kelopak matanya.
Keesokan harinya, Cantika terbangun karena Dito terus menciumi wajahnya. Cantika melenguh manja saat ia merasakan pegal-pegal yang sangat luar biasa.
Dito kemudian mengajak Cantika bercinta kembali di sisi tempat tidur dengan mendesak begitu dalam dan membuat Cantika bergairah luar biasa.
Kemudian, Dito berbaring terlentang lalu memeluk Cantika dengan erat dan memainkan tangannya di dada Cantika.
Cantika langsung berkata dengan mata yang tidak terbuka, "Jika kau berpikir untuk melakukannya lagi, aku bersumpah aku menyerah kalah dan butuh tidur panjang saat ini"
Dito sontak terkekeh geli dan berkata, "Kita masih punya banyak ruang dan waktu untuk melakukannya lagi, Babe. Yang penting aku sudah berterima kasih dengan benar. Sekarang tidurlah!"
__ADS_1