Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Misi Penting


__ADS_3

Setelah Cantika sadar, Dio melanjutkan lagi perjalanan dan berhenti sebentar di sebuah kedai sederhana yang bernama Warmindo. Warung tersebut menyediakan bubur kacang hijau, aneka minuman hangat, dan aneka olahan mie instant.


Setelah menghabiskan dua bubur kacang hijau dan segelas susu cokelat hangat, Cantika meringis ke Dito lalu berbisik, "Kalau aku jadi gemuk, kamu nggak akan pergi tinggalkan aku, kan?"


Dito menggigit gemas cuoung telinga Cantika lalu berbisik, "Justru kalau kamu gemuk aku suka. Nggak usah cari bantal untuk rebahan"


Cantika langsung mencubit pinggang Dito dan pria itu mengaduh sambil terkekeh geli.


Steven Chan memukul-mukulkan tongkat kesayangannya di jok mobil mewahnya semabri terus berteriak, "Percepat.laju mobilnya! Aku nggak mau kehilangan Cantika lagi kali ini"


"Tapi, kita bisa celaka, Bos kalau kita percepat lagi laju mobil ini"


"Ini mobil sport keluaran terbaru dan kamu supir istimewa. Kenapa kita bisa celaka, hah?! Justru kalau kamu lakukan mobil kayak siput begini, aku akan bunuh kamu sekarang juga, mengerti?!"


"Baik, Bis!" Sahut supir pribadinya Steven Chan sembari memperdalam pijakan gas.


Jorge dan Santo akhirnya dengan sangat terpaksa menjemput Noah untuk membantu Noah membujuk Batari.


"Sial! Kenapa kita harus ikutan menerima ocehannya Tari entar?" Ucap Jorge sembari terus fokus mengemudi.


"Iya, kamu benar. Bos Noah emang sukanya gitu. Bawa teman ke dalam masalahnya"


"Hahahaha, Noah emang terlalu melow untuk jadi veteran kayak kita"


"Iya, kamu benar. Sama wanita aja Bos Noah nggak berkutik"


"Eh! Tapi, jangan salah! Kita.di depan Tari juga sering tak berkutik"


"Iya, benar juga, ya" Sahut Santo.


Jorge kembali menggelegarkan tawanya.

__ADS_1


Dito akhirnya berhasil mendapatkan penginapan yang murah dan bersih. Tidak begitu luas, tapi cukup memadai untuk dijadikan hunian sementara.


Penginapan tersebut jauh dari pemukiman warga. Dito memilih penginapan tersebut karena ia tidak ingin banyak orang terganggu saat Cantika berteriak kesakitan pas mengalami sakau.


"Tidurlah! Aku akan berjaga" Sahut Dito setelah ia selesai menurunkan koper dari bagasi dan memasukkannya ke dalam penginapan tersebut.


"Aku belum bisa tidur" Sahut Cantika sembari memencet-mencet remote TV. Cantika mulai merasa gusar dan risau. Tangannya pun mulai bergetar di saat otaknya terus mengarah ke cairan biru jernih terkutuk itu.


Dito duduk di sebelah Cnwroka dan merangkul bahu wanita itu dengan penuh cinta dan berkata, "Rebahkan kepala kamu di pundakku. Aku akan mengusap tangan kamu biar kamu bisa tidur, oke?"


"Hmm" Cantika menuruti perintah Dito dan lima menit kemudian, Cantika tertidur lelap. Dito kemudian membopong pelan tubuh Cantika dan dia bawa ke kamar. Setelah merebahkan Cantika dengan pelan dan menyelimutinya, Dito keluar dari kamar untuk mulai bekerja. Pia itu mengelap senjata berapinya dan memeriksa semua pelutnya. Dito juga membersihkan pisau andalannya. Dia harus bersiap diri menghadapi kedatangannya Steven Chn yang seperti pencuri (Tidak tahu kapan ia akan datang berkunjung).


Dito menyibak tirai yang masih berbau pewangi laundry karena penginapan tersebut habis dibersihkan secara menyeluruh oleh pemiliknya dan dari balik tirai, ia melihat jalanan tampak lengang, sepi, dan gelap. "Masih aman, syukurlah" Gumam Dito.


Setelah cukup lama mengintai keadaan di luar, Dito masuk ke kamar dan tersentak kaget saat ia menyibak selimut bukan Cantika yang ia temukan melainkan guling. "Sial! Cantika ke mana?"


Dito sontak berbalik badan dan segera melesat keluar untuk mencari keberadaannya Cantika. Tidak perlu waktu lama, Dito berhasil menemukan Cantika yang tengah berdiri di pinggir jalan besar mencegat mobil yang tengah lalu lalang di jalan itu. Dito langsung memeluk Cantika dari arah belakang dan berkata, "Apa yang telah kau lakukan, Babe? Kenapa kau pergi tanpa pamit? Apa kau tidak menyadari kalau ini sangat berbahaya, Babe?"


Cantika tersentak kaget dan refleks bertanya, "Kenapa kau bisa menemukan aku?"


Cantika langsung berbalik badan dan masuk ke dalam pelukannya Dito untuk menangis di sana dan berkata di sela isak tangisnya, "Iya, aku ingat. Maafkan aku, Dito. Aku pergi tanpa pamit karena aku nggak mau menjadi beban buat kamu. Kamu pasti capek mengurus orang kecanduan narkoba kayak aku ini. Aku.........."


Dito langsung mengangkat wajah Cantika dan ia bungkam bibir Cantika dengan bibirnya. Cukup lama kedua sejoli itu berciuman dan mereka mengabaikan mobil yang lalu lalang.


Dito tahu dan sudah mulai hapal waktu yang tepat di mana dia harus menghentikan ciumannya sebelum dirinya bertindak nekat dan lupa diri. Setelah melepas ciumannya, Dito berbalik badan dan langsung berjongkok di depan Cantika.


"Dito kau mau apa? Kenapa kau berjongkok?"


"Naiklah ke punggungku. Aku akan gendong kamu seperti saat kita masih kecil dulu. Kamu dulu sering minta gendong Kak Dito kamu di punggung Kak Dito,kan?"


Cantika mengusap air mata di kedua pipi dengan punggung tangan dan langsung naik ke punggung Dito.

__ADS_1


Di dalam perjalanan kembali ke penginapan, Dito meminta Cantika untuk bercerita karena pria itu takut kalau Cantika ketiduran di tengah jalan itu bisa memperparah kondisi Cantika yang masih dipengaruhi residu cairan bening berwarna biru jernih terkutuk itu. Cantika bercerita di saat dirinya kehilangan Dito sampai kemudian ia bertemu lagi dengan Dito. Lalu, Cantika bertanya, "Gajah dan singa kamu ada di mana sekarang?"


"Gajah dan singa milikku disita oleh pemerintah dan dimasukkan ke dalam kebun binatang. Aku merindukan mereka. Tapi, aku rasa mereka sudah lupa sama aku. Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak menjenguk mereka"


"Kasihan mereka. Mereka sekarang dikungkung dan tidak bisa bebas lagi"


"Iya. Nanti kalau urusan di sini sudah selesai aku akan ambil cuti besar untuk menjenguk mereka. Aku harap mereka belum lupa sama aku"


Setelah sampai di penginapan, Dito langsung membawa Cantika ke kamar dan Menurunkan Cantika dengan pelan di atas kasur. Lalu, Dito berputar badan dan merebahkan diri sambil memeluk Cantika.


"Terima kasih Dito. Kamu sudah sangat sabar menjaga dan merawat aku"


"Tidak perlu berterima kasih. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Jadi, jangan pernah berpikir kalau kamu adalah beban bagiku dan jangan pernah berpikiran lagi untuk pergi meninggalkan aku. Aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu, Babe. Apa kamu mau aku menjadi zombie mati segan hidup pun tak mau, setelah kamu pergi meninggalkan. aku?"


Cantika langsung memeluk Dito dengan erat dan berkata, "Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku juga sangat mencintaimu dan aku nggak mau melihat kamu menjadi Zombie"


Dito memeluk Cantika dan sambil terkekeh geli ia mencium pucuk kepalanya Cantika


Tiba-tiba telepon genggamnya Dito berbunyi. Setelah berbicara di telepon genggam cukup lama, Dito mematikan ponselnya dan melihat Cantika dengan gamang.


"Ada apa?" Cantika langsung bangun dan duduk bersila di tengah kasur.


"Ada tugas penting. Aku harus ke sana. Tapi, kamu sendirian di sini. Aku hanya butuh satu jam. Apa kamu bisa bertahan selama itu tanpa kabur dan menelepon teman kamu untuk mengirimkan cairan bening biru jernih terkutuk itu, ke sini?"


"Ikat saja aku! Borgol kedua tangan dan kakiku! Degan begitu kamu akan tenang meninggalkan aku sendirian di sini. Tapi, sebentar aku akan kencing dulu sampai puas karena satu jam itu cukup lama"


Setelah keluar dari dalam kama mandi, Cantika mendapati Dito telah menegang dua buah borgol dan memandang Cantika dengan wajah sedih.


Cantika naik ke atas ranjang dan langsung berkata, "Jangan cengeng, Dito! Ayo borgol tangan dan kakiku dan Cepatlah berangkat ke misi penting kamu!"


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Dito memborgol tangan dan kaki Cantika dan meletakan sebuah pistol di pangkuan Cantika. Dito mencium pucuk kepala Cantika sambil berkata, "Aku akan segera kembali"

__ADS_1


"Hmm. Jangan khawatirkan aku! Fokus sama misi kamu. Aku akan baik-baik saja"


.Dito langsung melesat pergi meninggalkan Cantika.


__ADS_2