Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Damai


__ADS_3

Batari tiba-tiba memekik, "Jemuranku gimana?"


Semua yang kaget langsung menyerukan. protes mereka, "Bikin kaget aja! Jemuran ngapain dipikirin?"


Batari melengkungkan tubuhnya ke depan setelah menghela napas cukup panjang, putri cantiknya Barnes Adiwilaga Darmawan itu, berkata ,"Kalian semua nggak ngerti rasanya perdana mencuci dengan tangan, sih. Mengucek itu sesuatu banget dan menjemur itu juga sesuatu banget. Lalu, sekarang Jemuranku ditinggalkan begitu saja, hiks,hiks,hiks"


Bryna spontan tertawa lepas, Jake menghela napas panjang, dan Danny langsung berkata, "Dasar gila!"


Batari mencebikkan bibirnya ke Danny.


Danny, Bryna, dan Jake langsung tergelak geli dan menggeleng-gelengkan kepala mereka.


Noah menepuk-nepuk pelan bahu mungilnya Dito, anak laki-laki berumur tiga tahun yang masih ia pangku dan tertidur pulas di dalam pelukannya, sambil menoleh ke Santo untuk berkata, "Kita ke perkebunannya Tante Bryna, dulu. Kita titipkan Dito Ke Tante Bryna dan Tari, setelah itu kita berangkat ke tempatnya Papa mertuaku"


Santo menganggukan kepalanya tanpa menoleh ke Noah dan Lopez langsung memajukan badannya ke depan sambil berkata, "Saya diajak, kan, Bos?"


Noah menyahut, "Diajak ke mana?" Tanpa menoleh ke jok belakang.


"Ke tempatnya Bos Barnes Adiwilaga Darmawan. Saya ngefans berat sama beliau dan ingin bertemu dengan beliau, minta tanda tangan beliau dan mengajak beliau foto selfie" Sahut Lopez dengan wajah berseri-seri.


"Tentu saja kamu ikut" Sahut Noah.


"Waaahhhhh! Makasih Bos!!!!!!!Akhirnya aku bisa bertemu langsung dengan Komandan besar Barnes Adiwilaga Darmawan" Lopez tanpa sadar memekik kencang dan membuat Dito membuka kedua kelopak matanya. karena kaget.


"Sssttttt! Dito bangun, nih" Noah mendengus kesal dan Lopez langsung mengucapkan kata, "Maaf"


Noah mengusap keningnya Dito sambil berkata lembur, "Tidurlah lagi! Perjalanan kita masih panjang" Dan Dito dengan gampangnya kembali memejamkan kedua kelopak matanya.


Lopez langsung menghela napas lega dan berkata lirih, "Dia anak yang nggak rewelan, ya. Syukurlah ia bisa tidur lagi dengan cepat"


Noah menoleh ke Lopez yang masih berada di antara jok dia dan Santo untuk berkata, ""Gampang sih gampang, tapi jangan teriak-teriak lagi kayak tadi"


"Iya, Bos. Baik. Oke" Sahut Lopez sembari menyandarkan kembali punggungnya ke jok belakang mobil Jeep keaayangannya Noah.


"Lalu bagaimana dengan bomnya John Murray, Komandan? Apa tidak terlambat jika kita membawa Dito ke tempatnya Nyonya Bryna terlebih dahulu?" Tanya Santo sembari terus fokus menyetir mobil Jeep kesayangannya Noah.


Noah yang masih mengelus-elus keningnya Dito, menjawab pertanyaannya Santo, "John Murray memberi waktu tiga kali dua puluh empat jam kepada pemerintah untuk menyiapkan uang sebanyak lima triliun rupiah"


"Lumayan bisa bersabar juga ya dia, bisa menunggu selama tiga kali dua puluh empat jam" Sahut santo.

__ADS_1


"Iya kamu benar. Si psikopat itu masih bisa berpikir juga ternyata, kalau mengumpulkan uang lima triliun itu tidaklah mudah" Sahut Noah sambil merapikan rambut yang menutupi wajah mungilnya Dito.


"The White Mask, emang gila!" Sahut Lopez dari jok belakang.


Santo melirik sekilas ke anak laki-laki yang ada di atas pangkuannya Noah, lalu ia berkata, "Kenapa rambut anak itu dibiarkan gondrong kayak gitu. Kasihan, kan, anak sekecil itu memiliki rambut gondrong"


Noah menundukkan wajahnya untuk melihat Dito dan berkata, "Iya kamu benar. Mungkin karena Mamanya tidak punya waktu dan uang untuk membawa Dito ke tukang potong rambut. Tapi untungnya, anak ini punya rambut yang sangat bagus. Rambutnya sejenis dengan rambutnya Tari. Tebal, sangat lurus, dan hitam"


"Berarti cocok kalau dia jadi anaknya Bos dan Nyonya Bos" Sahut Lopez.


Noah terus menatap Dito dengan senyum hangat di wajahnya.


John Murray berjalan mondar-mandir di depan layar televisi. Dia berkomunikasi dengan pihak berwajib dan berhadapan dengan negosiator lewat layar televisi mungil itu. Namun, negosiator tersebut belum mampu membuat John Murray menyerah dan mengatakan di mana dia meletakkan bom terakhirnya.


Tim khusus, penembak jitu, penjinak bom, mendatangi pondok yang dipakai oleh Barnes Adiwilaga Darmawan mengatur strategi. Komandan baru penggantinya Barnes yang bernama Alex, masih membutuhkan Barnes untuk berdiskusi. Beberapa jam kemudian, The Five Jays ikut bergabung dengan mereka dan mereka mulai mengatur strategi mereka sambil menunggu kedatangannya Noah Baron dan anak buahnya Noah Baron.


Noah Baron adalah komandan pasukan khusus dan kecerdasan juga kesabarannya sangat dibutuhkan untuk situasi genting saat itu.


Amanda dan Viona akhirnya sampai di istana utama Wahyatma. Amanda langsung mengirimkan pesan text ke suaminya yang memberitahukan bahwa ia telah sampai di istana utama Wahyatma dengan selamat.


Abiyu, mamanya Abiyu, putri Amina, dan Ratu Ambika menyambut kedatangan Arka Bhadrika Wahyatma dan mereka langsung dituntun ke aula besar untuk segera menggelar rapat besar mereka.


Wajah Viona memerah karena cemburu dan Amanda langsung menggenggam tangan Viona lalu berbisik, "Tenang. Kita ke sini untuk menggelar kedamaian dan wanita itu hanya bersandiwara. Hati wanita itu sudah menjadi miliknya Abiyu"


Viona menoleh ke Amanda dan sambil tersenyum, ia menganggukkan kepalanya.


Pangeran Arka Bhadrika Wahyatma menepis pelan tangan putri Amina dan bangkit berdiri untuk berjalan mendekati Viona.


Semua pasang mata yang ada di aula besar itu sontak bergerak mengikuti langkahnya pangeran Arka Bhadrika Wahyatma. Dan mereka semua tersentak kaget saat pangeran Arka Bhadrika Wahyatma menggenggam tangan wanita yang bernama Viona, mengajak Viona bangkit berdiri untuk ia peluk erat pinggangnya, sembari berkata, "Dia ini adalah istriku yang sah. Kami baru saja menikah kemarin. Dan wanita ini adalah satu-satunya wanita yang aku cintai"


Ratu Ambika dan putri Amina sontak bangkit berdiri dengan wajah kaget. Ratu Ambika segera membuka suara, "Amina adalah Istri sah kamu dan.........."


"Dia miliknya Abiyu. Wanita itu, miliknya Abiyu" Arka yang masih merangkul pinggangnya Viona, menunjukkan jari telunjuk tangan kanannya ke Amina.


Amina langsung terduduk lemas dengan wajah pucat. Dia sungguh tidak menduga kalau suaminya tahu soal perselingkuhannya dengan pangeran Abiyu.


Mamanya Abiyu memekik kesal, "Jangan fitnah adik kamu! Abiyu bukan orang seperti itu! Jangan memojokkan adik kamu hanya demi keegoisan kamu yang.........."


"Aku tahu semuanya. Tante tanya aja ke Abiyu!" sahut Pangeran Arka dengan wajah datar.

__ADS_1


Mamanya Abiyu memekik kesal, "Tante!? Aku mama tiri kamu. Kenapa kau panggil aku, Tante?"


"Aku hanya memiliki satu Mama dan beliau sudah meninggal" Sahut pangeran Arka dengan wajah datar.


Mamanya Abiyu mengepalkan kedua tinjunya di samping badannya dengan wajah kesal.


Abiyu diam mematung di kursinya saat semua pasang mata menatapnya tajam.


"Aku tidak akan melakukan kudeta. Aku telah berubah pikiran berkat Viona dan Tante Amanda. Aku hanya ingin bernegosiasi dengan kalian semua secara damai" Sahut pangeran Arka Bhadrika Wahyatma.


Ratu Ambika kembali duduk di kursinya dan bertanya, "Apa yang kau inginkan?"


"Abiyu, kau menginginkan Amina untuk dirimu sendiri, kan? Ambilah dia menjadi Istri kamu, jadi berhentilah memusuhi aku, karena aku sudah serahkan wanita yang kamu cintai untukmu sendiri. Aku akan segera menceraikan Amina dan menikahkan kalian berdua"


Abiyu dan Amina saling pandang, lalu saling melempar senyum bahagia.


" Dan Tante, kau menginginkan Abiyu bisa memiliki tahta, bukan? Karena, saat ini aku masih memegang kuasa penuh, aku akan berikan Abiyu istana Wahyatma yang ada di kota B dan C. Kota B dan C cukup menjanjikan, bukan? Kalau Abiyu bisa mengelolanya dengan baik, dia bisa hidup sejahtera dan bahagia di sana. Tapi, kau harus menyerahkan diri ke pihak berwajib!" Ucap Arka.


Abiyu menoleh ke Amina dan saat Amina menganggukkan kepalanya, Abiyu langsung berkata, "Aku mau bertahta di Kota B dan C karena, Amina menyetujuinya. Aku dan Amina hanya ingin hidup tenang dan bahagia"


"La.....lalu apa yang akan terjadi kalau aku tidak setuju? Dan kenapa aku harus menyerahkan diri ke pihak berwajib? Dasar brengsek!!!!!!" Mamanya Abiyu melotot ke Arka


"Kalau kau tidak setuju, maka aku akan beberkan semua kejahatan kamu yang kamu lakukan pada Mamaku dulu, saat ini juga. Dan setelah itu, aku akan menggelar perang dan kalian semua tahu pasti kalau kalian tidak akan menang melawanku karena ada John Murray di belakangku" Arka menatap tajam mamanya Abiyu.


"Dan jika usulannya Pangeran Arka Bhadrika Wahyatma tidak disetujui, maka saya dan tim saya, akan mundur. Maafkan saya, Ratu Ambika" Sahut Amanda.


Arka tersenyum puas saat ia melihat semua yang hadir di aula besar itu, menyetujui usulannya Arka.


Ratu Ambika tersenyum ke Amanda dan setelah menghela napas panjang, ia berkata, Abiyu sudah menyetujui usulannya Arka dan semua peserta rapat hari ini juga menyetujui usulannya Arka, maka dengan sangat terpaksa, aku meminta mamanya Abiyu untuk mengakui semua perbuatannya dan menerima hukumannya"


"Tidaaaakkkkkk!!!!!!!" Mamanya Abiyu berteriak frustasi lalu pingsan.


Amanda tersenyum ke Arka saat Arka berucap, "Terima kasih, Tante. Berkat Anda, semua masalah di keluarga ini, bisa terselesaikan dengan baik dan damai"


"Sama-sama. Sekarang kau tarik semua bantuan kamu untuk John Murray!" Sahut Amanda.


"Siap Tante" Sahut Arka.


Viona memeluk Amanda sambil mengucapkan kata terima kasih berulang-ulang.

__ADS_1


Noah sampai di perkebunan miliknya Bryna, dan saat ia masuk dengan menggendong seorang anak kecil, Batari langsung bersedekap dan sambil melotot tajam ia berteriak, "Noah Baron! Anak siapa itu?!!!!!!!"


__ADS_2