Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Kejutan


__ADS_3

Barnes memantau pergerakan anak buahnya dari dalam mobil Van dan Jake menemaninya.


"Joy aneh hari ini" Jake tiba-tiba membuka mulutnya.


"Baru datang bulan mungkin. Cewek tuh kalau datang bulan emang sering aneh" sahut Barnes dengan santainya.


"Kok kamu tahu? Aku aja yang punya banyak cewek, nggak tahu lho soal itu" Jake menautkan alisnya sambil mulai mengunyah permen karet rasa mint.


"Kepala kamu habis kejedot apa hah?! tentu saja aku tahu soal itu. Aku kan punya saudara kembar' cewek dan aku juga punya Mama"


"Oh iya, aku lupa. Aku lupa sama saudara kembar kamu karena, Bryna sudah menolak cintaku" sahut Jake dengan wajah kesal.


"Itu kau ingat namanya" Barnes berucap santai dengan terus menatap layar di depannya untuk memantau anak buahnya.


"Sial! benar juga, kenapa aku ingat sama namanya. Kau tahu, saudari kembarmu itu cinta pertamaku dan sangat dalam tapi, emang benar ya, cinta pertama itu tidak pernah berakhir dengan baik" ucap Jake santai sambil menaikkan kedua kakinya selonjor di atas bangku di sebelah layar yang menayangkan keadaan di luar mobil Van.


Barnes menoleh ke Jake, "Apa benar?"


"Apa yang benar? cintaku pada Bryna? tentu saja benar dan hanya rasa cintaku ke Bryna yang paling benar" sahut Jake dengan santainya.


Barnes langsung menepuk kepalanya Jake, "Bukan itu maksudku!"


"Aduh!" Jake mengelus kepalanya lalu ia menoleh ke Barnes dengan mendelik, "Lalu apa?"


"Itu.....emm.....cinta pertama. Apa benar kalau cinta pertama tidak akan berakhir dengan baik?"

__ADS_1


"Kebanyakkan sih gitu. Ini menurut pengamatan dan pengalaman pribadiku. Jadi, jika cewek berambut merah yang ada di rumahmu itu adalah cinta pertama kamu, maka bersiaplah untuk menerima akhir terburuk"


Barnes lalu menatap kembali layar di depannya dan merenung. Lamunannya seketika itu melayang ke masa kanak-kanaknya ketika ia berada di taman bermain sendirian, tengah bermain perosotan. Dan tiba-tiba, ada serombongan anak laki-laki berjumlah lima orang dan sedikit lebih tua darinya menghampirinya.


Kelima anak laki-laki itu lalu menarik kerah seragamnya Barnes dan menarik Barnes untuk bangkit berdiri. Barnes lalu berdiri dan kelima anak laki-laki itu mengelilinginya. "Berikan kami yang!" sahut pimpinan dari kelima anak laki-laki itu.


Barnes yang memang tidak pernah membawa uang dan hanya membawa bekal makanan dan minuman, menggelengkan kepalanya dengan pelan lalu berkata dengan nada ketakutan, "Aku tidak punya uang"


"Bohong!" pekik kelima anak laki-laki itu secara bersamaan.


Lalu salah satu dari kelima anak laki-laki itu menarik paksa tas punggungnya Barnes dan mengobrak-abrik isi tas itu, bahkan mereka menumpahkan semua isi tasnya Barnes di atas rumput. Barnes tak berkutik karena, Barnes kecil memang hanya mengandalkan otak tanpa pernah mengandalkan otot.


Bryna yang saat itu tengah piket di kelas, tidak mengetahui kalau saudara kembarnya mendapatkan masalah di luar.


Tiba-tiba kelima anak laki-laki yang mengelilingi Barnes mengaduh karena, kepala mereka dipukul oleh seseorang dari belakang. Barnes langsung semringah melihat wajah cantiknya Amanda kala itu. Kelima laki-laki itu secara serempak berputar badan untuk menatap orang yang telah berani memukul kepala bagian belakang mereka.


Saat gerbang ditutup oleh satpam penjaga sekolah tempat Barnes menuntut ilmu, kelima anak laki-laki yang mengejar Amanda dan Barnes hanya bisa berteriak kesal. Dan pimpinan gerombolan anak-anak nakal itu memekik kesal, "Aku akan membalasmu!" sambil masih mendekap tas ransel miliknya Amanda.


Satpam sekolah Internasional itu pun langsung mengusir Kelima anak-anak laki-laki itu dengan penuh amarah.


Amanda langsung berkacak pinggang di depan Barnes, "Kenapa kau tidak melawan mereka?"


"Karena, aku rasa otot tidak akan menyelesaikan suatu masalah. Aku diam tadi karena aku sedang berpikir bagaimana caranya untuk bisa melarikan diri dari mereka"


"Terkadang otot itu diperlukan di saat yang penting"

__ADS_1


"Saat penting apa itu?" tanya Barnes.


"Saat penting untuk melindungi orang yang berharga dan kamu sayangi" ucap Amanda.


Blush! Pipi Barnes kecil langsung merona kala itu dan cinta pertamanya semakin indah merekah di kala itu. Barnes tanpa sadar mengulas senyum tipis dan...........Plak! Barnes menoleh kaget saat ia merasakan seseorang menepuk pundaknya dengan sangat keras. Jake langsung menyemburkan protes, "Dari tadi dipanggil nggak nyahut! Melamun aja terus, ngelamunin apa sih?"


Barnes mendengus kesal karena, Jake telah membuyarkan lamunannya dan saat ia melihat ke layar di depannya, Barnes segera bangkit dan berlari keluar disusul Jake yang berteriak, "Nah lari kan sekarang! makanya jangan melamun di saat kau tengah bertugas, dasar sial!"


Barnes terus berlari dan tidak menggubris celotehan kesalnya Jake. Barnes berlari lebih kencang untuk membantu keempat anak buahnya yang tiba-tiba berada di tengah bahaya.


Di kediamannya Barnes, Leon memanggil Amanda untuk datang ke ruang keluarga melalui panggilan intern phone dan penting sekali kata Leon. Amanda datang tergopoh-gopoh saat ia mendengar kata penting. Sesampainya di ruang keluarga, Amanda langsung menarik rahangnya ke bawah.


Leon yang tengah berdiri di depan dua buah troli yang memanjang dan menampakkan berpuluh-puluh hanger (gantungan baju) yang memajang baju dan celana dengan berbagai macam gaya. Leon tersenyum lebar ke Amanda, "Ini semua untuk Anda, Nona. Silakan Anda bawa ke ruang ganti yang ada di dalam kamar Anda!"


Amanda merapatkan kembali rahang bawahnya lalu berkata, "Hutangku akan bertambah dong kalau aku terima semua baju-baju dan celana-celana itu"


"Anda jangan khawatir soal hutang. Ini semua hadiah dari Tuan Barnes. Dan selain baju dan celana, masih ada lagi Nona, emm, tunjukkan!" Leon menoleh ke pemilik sebuah butik ternama yang membawa dua troli penuh dengan jejeran baju dan celana itu. Pemilik butik tersenyum ke Leon lalu menoleh ke Amanda. Kemudian Leon segera berkata, "Saya tinggal ke ruang kerja dulu. Saya masih ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan" Leon lalu melangkah pergi meninggalkan Amanda dan pemilik sebuah butik ternama itu.


Pemilik sebuah butik ternama yang masih berdiri di samping troli baju, tersenyum dan berucap, "Emm, perkenalkan nama saya Lia. Dan saya ingin memberitahukan ke Nona, di dalam tas mini itu, ada pakaian dalam yang sesuai dengan ukurannya Nona, M untuk ****** ***** dan 34 cup B untuk bra, benar, kan?"


Amanda secara spontan membentuk huruf X besar di depan dadanya dengan tangannya sambil bertanya, "Bagaimana Anda bisa tahu ukuran pakaian dalam saya?"


"Dari penggambarannya Tuan Barnes. Tadi Tuan Barnes menghubungi saya dan......."


"Dasar cowok mesum! Diam-diam ia mengamati ukuran dalamanku? sial! dasar sial! awas kalau pulang nanti, aku akan kasih pelajaran ke dia, dasar cowok mesum" Amanda mengumpat lirih dan Lia si pemilik butik yang masih menatap Amanda langsung bertanya, "Ada masalah Nona? apa ada yang tidak berkenan di hati Anda?"

__ADS_1


"Oh tidak, tidak! hehehehe" Amanda langsung melambaikan tangannya ke Lia.


"Dan ada sepuluh kotak di sana. Kotak-kotak itu berisi sepatu dengan berbagai gaya dan sesuai juga dengan ukuran kaki Anda" ucap Lia si pemilik butik dan Amanda hanya bisa menghela napas sepanjang-panjangnya menerima kejutan di siang hari itu.


__ADS_2