Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Kenapa?


__ADS_3

"Kenapa The Rat menyusup ke Grup Baron? Kenapa nggak menyusup ke Grup Elruno yang lebih besar dan berkelas Internasional? Papa saya, kan, cuman pengacara biasa dan semua bisnis peninggalan Kakek, dipegang oleh Hemi" Ucap Noah dengan wajah keheranan.


"Itu tugas kamu dan Lopez untuk menemukan jawaban atas pertanyaan kamu sendirian itu" Sahut bosnya Noah.


Begitu masuk ke dalam kamar VVIP nomer enam, Barnes langsung mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar itu. Barnes tersenyum lega saat ia tidak menemukan adanya kamera CCTV di sana. Barnes bergumam, "Sepandai-pandainya seorang psikopat, dia juga seorang manusia. Dia punya kelemahan. Dia teledor sekali tidak memasang CCTV di setiap kamar.


"Sial! Jangan-jangan ada kamera tersembunyi?" Barnes langsung memeriksa semua sisi ranjang, kursi, lampu dan pintu l. "Fiuuhhh! Dia benar-benar percaya diri dan sudah merasa hebat ternyata. Nggak ada kamera tersembunyi juga di sini" Gumam Barnes.


Barnes kemudian menoleh ke anak gadis yang harus jaga malam itu "Duduklah di tepi ranjang" Perintah Barnes dibalik topeng warna putih berbentuk wajah tersenyum lebar seperti Joker di film Batman.


Semua penjaga ruangan diharuskan memakai topeng seperti itu. Tak terkecuali, Barnes Adiwilaga Darmawan.


Jake masuk ke ruang VVIP nomer lima setelah ia melihat Barnes benar-benar membawa gadis bau kencur masuk ke ruangan yang bersebelahan dengan ruangan yang harus Jake jaga.


Anak gadis yang masih berumur sekitar lima belas tahun itu menuruti perintah penjaganya.


Barnes kemudian bersembunyi di balik pintu. Pria yang masih tampak gagah di usia yang sudah menginjak kepala lima itu, membiarkan pintu ruangan VVIP nomer enam terbuka salah satu daun pintunya dan Barnes bersembunyi di balik pintu itu dengan sikap waspada.


Gadis belasan tahun yang diculik oleh The Rat untuk melayani pria kaya raya hidung belang, tampak ketakutan saat ia melihat seorang pria yang memakai topeng berbentuk serigala, melangkah pelan memasuki kamarnya. Saat pria bertopeng serigala itu menutup pintu kamar itu dengan tumitnya, Barnes langsung memukul bagian kepala pria bertopeng serigala itu dan langsung menangkap tubuh pria itu saat pria itu jatuh pingsan.


Barnes berkata ke gadis bau kencur yang masih duduk di tepi ranjang, "Minggirlah!" Lalu, ia menyeret pria itu dan menaikan tubuh pria itu di atas ranjang.


Barnes kemudian menoleh ke gadis itu untuk berkata, "Sembunyilah di bawah ranjang sampai aku memanggil kamu! Karena, kalau kamu keluar sebelum pria ini keluar, kamu akan ditembak mati, bukan?"


Anak gadis itu terisak menangis ketakutan lalu ia menganggukkan kepalanya dan bergegas masuk ke bawah ranjang.


Barnes membalik tubuh pria yang telungkup di atas ranjang sambil berkata, "Kita lihat wajah kamu, Bro. Tepi, sebelumnya, aku terpaksa membuka baju dan ritsleting celana kamu biar tampak kalau kamu sudah melakukan niat busuk kamu ke anak gadis yang kamu beli di ruangan ini"


Setelah membuka semua kancing baju dan ritsleting celana pria itu, Barnes dengan pelan membuka topeng yang dikenakan pria itu.


Barnes kaget bukan main saat ia menatap wajah pria dibalik topeng serigala itu. Pria bertopeng serigala itu adalah salah satu anggota parlemen dari elit politik di negara B yang sangat terkenal dan dia mencalonkan diri menjadi wakil presiden.


"Dasar brengsek! Aku bahkan mengidolakan kamu. Ternyata kelakuan kamu bejat kayak gini" Barnes kemudian mengambil kamera tipis keluaran terbaru super canggih yang dia beli dengan sangat mahal dari dalam kaos kakinya untuk ia gunakan mengambil gambar pria itu. Suaminya Amanda Igor itu kemudian duduk di tepi ranjang dan memakaikan kembali topeng berbentuk serigala ke pria itu.

__ADS_1


Cucu tertuanya Moses Elruno itu, menggeleng-menggelengkan kepalanya dan sambil menunggu tanda-tanda pria itu sadar, ia duduk diam di tepi ranjang berpikir untuk mencari jalan keluar.


Silvia duduk di depan meja Nehemia dan Nehemia langsung mengalihkan pandangannya dari laptop ke wajah Silvia untuk menyemburkan protes, "Kenapa kau masuk tanpa ketuk pintu dulu? Dan kenapa kau ke ruanganku? Aku nggak memanggil kamu, kan?"


"Aku adalah mantan pacar kamu, dan aku masih mencintai kamu. Sangat mencintai kamu. Jadi, aku rasa di antara kita nggak perlu ada privasi dan nggak perlu ada formalitas mengetuk pintu" Silvia tersenyum santai ke Nehemia.


Nehemia menghembuskan napas kesal lalu berkata, "Terserah kamu lah. Sekarang katakan kenapa kamu masuk ke ruanganku tanpa aku panggil?"


"Aku ingin menjelaskan sesuatu secara terperinci" Silvia memajukan wajahnya dan tersenyum penuh arti.


"Soal apa?" Nehemia menautkan kedua alisnya.


"Soal kita" Silvia kasih tersenyum penuh arti.


"Lupakan saja! aku tidak tertarik. Pergilah! Aku sibuk" Nehemia langsung menatap kembali layar laptop.


"Apa kamu mau mendengarkan kalau aku akan memakai segala cara agar kamu bisa kembali padaku dan menikah denganku?" Silvia menatap Nehemia dan tersenyum lebar saat ia melihat Nehemia kembali menatapnya.


"Apa maksud kamu?"


"Jangan pernah menyentuh Kak Tari kalau kamu nggak ingin melihat Nehemia yang sesungguhnya"


"Hahahahaha" Silvia langsung menggemakan tawanya, lalu ia berkata sambil menatap Nehemia lekat-lekat, "Aku sudah tahu kamu sedalam-dalamnya. Bahkan tanpa kamu bilang ke aku, pas kita masih berpacaran, perasaan kamu ke Batari Putri Darmawan setransparan kaca di mata aku. Apa kamu tidak takut kalau orang-orang di sekitar kamu, terlebih Kakak kamu, akan tahu cinta terpendam kamu itu. Oh! No! Bukan cinta terpendam. Lebih tepatnya cinta terlarang kamu. Hahahahahaha" Silvia menutup kalimat panjangnya dengan tawa renyahnya.


Rahang Nehemia terkatup rapat. Lalu, ia berkata, "Oke. Katakan apa yang kamu maksud dengan terperinci tadi?"


"Aku lelah kamu tolak terus. Seseorang yang lelah bisa berbuat nekat jika ia sudah merasa terpojok Kamu nggak ingin aku berbuat nekat, kan?" Silvia tersenyum penuh arti.


"Aku nggak akan tinggal diam kalau kamu punya niat mencelakai Kak Tari" Nehemia mendelik ke Silvia.


"Oh! No! Aku nggak berniat begitu" Silvia tersenyum tipis dan menyandarkan bahunya ke kursi.


"kalau begitu jangan berbelit-belit. Katakan cepat apa maksud kamu?!" Nehemia mulai menggertakkan gerahamnya.

__ADS_1


"Hal terperinci yang aku mau adalah, aku ingin kamu baik sama aku. Nggak ketus. Nggak mengabaikan aku. Lalu, kamu harus mau jika aku mengajak kamu berkencan di malam Minggu"


"Tidak bisa aku terima. Aku tidak akan......."


"Maka ini akan aku tunjukkan ke semuanya" Silvia menunjukkan video Nehemia di pesta resepsi pernikahannya Batari dan Noah. Di video itu, Nehemia terus menatap Batari dan terdengar bergumam lirih, "Kamu cantik banget pakai baju itu Kak Tari. Sayangnya, pengantin pria yang berdiri di samping kamu, bukan aku"


Seketika Nehemia mematung di depan Silvia.


"Aku sebenarnya tidak akan bertindak senekat ini. Tapi, kalau kamu tidak mau menjalani semua hal terperinci yang aku katakan tadi, aku akan pakai semua cara untuk mendapatkan kamu. Aku ingin memiliki kamu lagi dan aku ingin kita menikah"


"Darimana kau dapatkan video itu? Kau ada di resepsinya Kak Noah dan Kak Tari?"


"Itu rahasia, Hemi sayangku" Silvia tersenyum tipis.


"Kamu akan bosan jika berkencan denganku"


"Kenapa?" Silvia menautkan kedua alisnya.


"Karena, aku akan selalu dingin sama kamu. Itu karena aku, tidak mencintaimu dan sekarang aku melihat kamu itu wanita yang sangat menjijikkan" Nehemia menghunus tatapan tajam ke Silvia.


"Aku tidak peduli. Sekeras apapun batu jika terus ditetesi batu dia akan berlubang dan cintaku akan membuat kamu tidak memandangku hina lagi suatu saat nanti"


"Dan menikah denganku? Kau ingin menikah denganku?"


"Hmm" Silvia menggangguk penuh semangat.


"Kau akan mati kaku kalau menikah denganku"


"Kenapa?"


"Karena aku bersumpah padamu, kalau kita sampai menikah, aku nggak akan pernah menyentuh kamu dan kemungkinan besar......"


"Yang penting kita nggak akan pernah bercerai karena keluarga kamu dan agama melarang perceraian" Sahut Silvia dengan senyum kemenangan.

__ADS_1


Nehemia hanya bisa menggeram kesal.


__ADS_2