
Barnes sampai di rumah Papanya tepat di jam makan malam. Setelah menyelesaikan makan malam dengan keluarga tercintanya, Barnes mengajak Mama dan Papanya berbicara di ruang kerja papanya.
"Pa, Ma, Barnes telah memakai dana di black card warisannya Kakek" ucap Barnes.
"Nggak papa. Semua adik-adik kamu juga udah memakainya selama ini untuk sekadar beli ponsel, jalan-jalan ke Jepang, Tiongkok dan beli beberapa baju atau sepatu. Hanya kamu yang belum memakainya selama ini" sahut Chery sambil mengusap rambut hitam, lurus dan indah milik putra sulungnya itu.
"Iya, pakai aja. Itu memang dana yang Kakek kamu kumpulkan secara khusus untuk kalian cucu-cucunya. Kakek kamu pengen belajar menabung waktu itu dan ........"
"Barnes pakai sebanyak lima ratus juta rupiah, Pa, Ma. Separuh dari total semua dana unlimited yang ada di dalam kartu itu" ucap Barnes dengan sangat cepat dan tanpa jeda sambil menundukkan kepalanya.
"What?!" Raja langsung terhenyak kaget dan bersandar di sofa.
Chery justru bersikap santai dan terkekeh geli melihat ekspresi kedua pria yang sangat ia cintai itu. Lalu Chery berucap, "Kamu udah gede. Mama percaya sama kamu jadi, nggak papa kamu pakai black card warisannya Kakek kamu sebanyak itu. Dan Mama nggak akan tanya untuk apa kau perlu dana sebanyak itu. Ya kan, Pa?" Chery mengusap pipinya Barnes lalu menoleh ke Raja.
Raut mukanya Raja terlihat ingin menanyakan kenapa Barnes memakai dana sebanyak itu tapi, Raja hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum tipis mendengar kata-kata dan tatapan lembut istrinya.
"Terima kasih banyak Pa, Ma" ucap Barnes sambil mengangkat wajah tampannya untuk melihat wajah Mamanya yang masih terlihat sangat cantik di usianya yang sudah menginjak kepala empat.
"Sepertinya masih ada lagi yang perlu kau sampaikan" Chery menatap lekat kedua bola mata indah miliknya Barnes.
Barnes menghela napas panjang ia menatap Papa dan Mamanya secara bergiliran lalu mengeluarkan kata, "Barnes besok sudah memulai misi rahasia yang menjadi tugas dan kewajibannya Barnes. Barnes nggak bisa ikut berangkat ke Amerika bulan depan. Barnes akan menyusul setahun lagi setelah semua misi di sini terselesaikan dengan baik"
Raja langsung menyahut, "Papa doakan kamu selamat dan misi kamu sukses"
__ADS_1
Barnes menoleh ke Papanya dan berkata, "Terima kasih, Pa"
Chery mengelus pipinya Barnes, "Mama sebenarnya nggak rela kamu memilih pekerjaan berbahaya ini. Kata orang Jawa, meh tuku beras sekilo ae kok Yo ndadak bedhil-bedhilan dhisik, (Mau beli beras satu kilo aja kok ya pakai tembak-tembakan dulu) tapi, Mama juga nggak mau menghalangi cita-cita kamu demi keegoisannya Mama. Dan seperti biasanya, Mama meminta janji kamu sebelum kamu berangkat ke misi kamu, berjanjilah jangan nekat masuk ke dalam situasi tersulit dan membahayakan dirimu sendiri! dan pulanglah ke keluarga kamu dalam keadaan baik-baik saja!"
Barnes tersenyum, mencium dalam-dalam kening Mama tercintanya lalu menarik wajahnya dan berucap, "Barnes janji, Ma. Barnes janji akan selalu pulang ke keluarga Barnes dalam keadaan baik-baik saja"
Dan Barnes sampai di kediaman pribadinya kembali tepat di pukul sepuluh malam. Pak Temon segera menyambut Barnes, "Saya senang Anda berada di sini kembali, Tuan muda dan saya senang bisa melayani Anda lagi"
"Terima kasih, Pak Temon. Ini sudah malam Anda bisa beristirahat"
"Baik Tuan. Biar saya yang membawakan koper Anda ke kamar Anda, Tuan dan Selamat malam" Pak Temon meraih koper dari genggaman tangan Barnes sambil tersenyum tulus ke Barnes.
Barnes menganggukkan kepalanya ke pak Temon dan berkata, "Terima kasih, Pak. Selamat malam"
Barnes menatap keduanya dengan helaan nqpas panjang saat ia melihat Leon dan Jake berebut mengeluarkan kata untuk memberikan laporan ke Barnes. Barnes lalu berkata dengan suara tegas dan nada yang tinggi, "Berhenti berdebat. Jake kau duluan!"
Jake menjulurkan lidahnya ke Leon karena, akhirnya ia yang ditunjuk oleh Barnes untuk memberikan. laporan lebih dulu dan Leon hanya bisa melempar tatapan kesalnya ke Jake dalam diam. Jake segera berkata sambil duduk di depannya Barnes, "Semua gadis di pulau pribadinya Praja Anggada sudah berhasil diselamatkan dan besok mereka semua akan dikirim pulang ke keluarga mereka masing-masing. Para pembeli yang hadir di acara lelang tersebut juga sudah dibekuk oleh pihak kita tapi, sayangnya Praja Anggada tidak ada di tempat saat itu dan bersiaplah mendapat murka dari gembong narkoba terkaya se-Asia yang menjadi incaran kita selama ini"
"Kenapa?" tanya Barnes sambil melipat kedua kaki dan kedua tangannya.
"Adik laki-laki dari gembong narkoba itu ada di TPK, ikut acara lelang itu dan terkena peluru panas dari salah satu anak buah kita pas penggerebekkan terjadi dan sekarang dirawat di ICU karena, koma" sahut Jake.
"Oh!" sahut Barnes.
__ADS_1
"Hanya Oh?!" Jake mendelik ke Barnes.
"Lalu mau ngapain. Udah terjadi kan? kita tinggal terima konsekuensinya dan aku rasa kita udah siap dengan segala konsekuensinya" sahut Barnes dengan wajah dingin dan nada datar khas-nya.
Jake hanya bisa berkata, "Gila!" dan menghenyakkan punggungnya ke sandaran sofa lalu ia menoleh ke Leon, "Aku sudah selesai. Sekarang giliranmu"
Barnes bangkit dan langsung mengajak Leon ke ruang kerjanya dan Jake langsung berteriak kesal, "Kenapa aku nggak boleh dengarkan pembicara kalian? apa aku tidak penting bagimu Barnes?!"
Barnes hanya menoleh sekilas untuk berkata, "Karena, mulutmu suka bocor" Lalu melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerjanya.
Jake menyugar kasar rambutnya dan berteriak, "Dasar brengsek kau Barnes!"
Leon menutup rapat pintu kerjanya Barnes lalu ia bersikap ngapurancang di depannya Barnes dan berkata, "Nona Amanda belum mau menandatangani surat kontraknya. Dia ingin membicarakan surat kontrak itu dengan Anda terlebih dahulu. Udah itu saja laporan saya untuk menutup hari ini, Tuan.
"Oke. Kembalilah ke kamar dsn beristirahatlah!"
Leon pamit dan keluar dari ruang kerjanya Barnes.
Barnes melamun di dalam ruang kerjanya selama beberapa menit lalu oa bangkit dan melangkah keluar tapi, anehnya otak dia tidak memerintahkan kedua kakinya untuk melangkah ke kamarnya namun, melangkah ke lantai satu, menuju ke kamarnya Amanda. Barnes tersentak kaget saat ia melihat pintu kamarnya Amanda terbuka sedikit. Barnes langsung panik, bersikap waspada dan membuka pintu kamar itu untuk segera melihat kondisinya Amanda.
Barnes terpaku dan menelan air liurnya yang secara otomatis menetes di atas mulutnya dengan sedikit kesulitan ketika ia melihat Amanda tertidur lelap tanpa selimut dan dressnya sedikit tersingkap, memperlihatkan sedikit paha mulus dan putihnya Amanda.
Barnes lalu meraup kasar wajah tampannya untuk menghilangkan pikiran mesum yang sempat melintas di benaknya. Kemudian pria tampan dan gagah itu melangkah ke ranjang, membuka selimut, menyelimuti tubuh Amanda lalu ia menggeleng-nggelengkan kepalanya sambil bergumam, "Bisa-bisanya anak gadis tidur tanpa menutup pintu dan tanpa selimut di dalam rumah yang mana di dalam rumah ini yang ada semuanya pria dewasa dan normal. Kenapa ia bisa seceroboh ini?" Barnes lalu duduk di tepi ranjang dan tanpa ia sadari tangannya terangkat untuk merapikan helaian rambut yang menutupi wajahnya Amanda. Barnes lalu memandangi wajah pujaan hatinya itu dari dekat dan bergumam lirih, "Kau masih tampak cantik bagiku"
__ADS_1