Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Amanda dan Leon


__ADS_3

Amanda diturunkan di atas lantai marmer kualitas tinggi yang menguasai seluruh bagian ruangan kediaman mewahnya Barnes Adiwilaga Darmawan. Rumah itu merupakan warisan yang diberikan oleh Moses Elruno dan Moses Elruno juga mewariskan rumah yang berharga sama, bertipe sama, dengan luas yang sama, kepada semua cucu-cucunya tanpa ada pilih kasih. Moses Elruno yang selalu kaku dan ridak bisa berbasi-basi ketika ia berhadapan dengan kolega atau orang selain keluarganya,, sangat berbeda dengan Moses Elruno ketika ia berhadapan dengan cucu-cucunya. Moses akan selalu menggelar senyum di wajah tampannya, membahanakan tawanya dan lemah lembut penuh kasih kepada semua cucu-cucunya.


Amanda menatap laki-laki asing yang baru saja memanggulnya seperti sekarung beras dan Amanda bisa mendengar semua hal yang ada di benak laki-laki yang masih berdiri tegak di depannya dan masih menatapnya dalam di kebisuan.


Amanda mendengarkan isi di benak laki-laki itu dan bisa bernapas lega karena, ia tidak mendengarkan hal buruk di benak laki-laki itu. Dan di saat benak laki-laki itu berkata akan menelepon Barnes, Amanda tanpa sadar menyemburkan tanya, "Siapa Barnes? Dan kenapa Anda akan menelepon orang yang bernama Barnes itu?"


Leon, asisten pribadinya Barnes yang sangat jujur dan juga setia kepada tuannya itu menggenggam ponselnya lalu bertanya, "Kenapa Anda bisa tahu kalau saya akan menelepon Tuan Barnes?"


Amanda berkata dengan polosnya sambil mengetuk pelipisnya dengan ujung jari telunjuk kanannya, "Aku bisa mendengar semua yang ada di benak kamu"


Leon memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya dan merasa penasaran dengan ucapannya Amanda. Dia merasa mendapat kan permainan baru yang menantang. Kemudian ia berucap, "Benarkah begitu, Nona?" Leon lalu mengumbar senyum lebar seperti anak kecil yang tengah menatap permen warna-warni yang sangat banyak.


Amanda langsung bisa bersikap tenang. Ia duduk di sofa, melipat kaki dan tangannya, lalu berkata kepada Leon yang masih berdiri di depannya dengan senyum lebar, "Oke, cobalah memikirkan sesuatu! Aku akan mengatakan ke kamu apa yang kudengar dari benak kamu"


Leo tanpa sadar melompat ke sofa, duduk di depannya Amanda dan bertepuk tangan kegirangan. Dia lalu memikirkan sesuatu dan sambil menatap Amanda, dia berkata, "Sudah Nona. Sekarang coba katakan apa yang barusan saya pikirkan"


"Kau berpikir kenapa aku berbeda dengan gambarannya Tuan Barnes? what?! memang apa yang Tuan Barnes gambarkan tentang diriku?" Amanda langsung melepas lipatan kakinya lalu memajukan badannya ke Leon.


Leon tersentak kaget dan terhenyak ke sandaran sofa karena, apa yang dikatakan oleh Amanda benar adanya. Dia memang sedang memikirkan kenapa Amanda yang ada di depannya sangat berbeda dengan Amanda yang digambarkan oleh Tuannya.


Amanda masih melipat kedua tangan dan mencondongkan badannya ke Leon dan sambil melotot ia kembali mengeluarkan suara, "Katakan apa yang Tuanmu gambarkan tentang aku? kenapa bisa berbeda dengan aku yang sekarang ini?"


"Tuan Barnes mengatakan ke saya kalau Anda itu lembut, berambut hitam lurus dan indah, lalu cantik dan imut" Leon melepaskan semua kata itu dengan penuh kehati-hatian karena ia takut menyinggung perasaannya Amanda.

__ADS_1


"Kenapa Tuan kamu bisa menggambarkan aku seperti itu? Emangnya Tuan kamu mengenalku?" tanya Amanda yang sudah mulai mengurai lipatan tangannya dan memakan kue yang ada di atas meja sambil memundurkan kembali badannya untuk bersandar ke sofa dan kembali melipat kakinya.


Leon menautkan alisnya dan dengan segera ia bangkit lalu berkata, "Saya keluar sebentar ke halaman depan. Ada urusan sebentar" Leon kemudian berlari kecil menuju ke teras depan kediaman mewahnya Barnes sebelum Amanda mendengarkan apa yang ada di benaknya lagi.


Leon mengambil kembali ponselnya dan langsung menghubungi nomer ponsel bos besarnya. "Tuan, Nona Amanda sudah sampai di rumah dengan selamat"


"Baguslah. Sebentar lagi aku sampai rumah. Emm, sedang apa Amanda?" sahut Barnes.


"Sedang makan kue" sahut Leon.


"Baguslah kalau ia bisa bersikap santai dan merasa nyaman di rumahku" sahut Barnes dengan senyum kecil di wajah tampannya.


"Tapi Tuan........."


"Nggak, bukan begitu, Tuan. Emm, Nona Amanda memiliki bakat khusus. Dia bisa membaca dan mendengarkan semua yang ada di benak kita. Saya sudah mengetesnya barusan dan sepertinya, Nona Amanda tidak ingat akan nama Anda, Tuan?"


"Kalau soal Amanda bisa membaca dan mendengarkan pikiran orang lain itu aku sudah tahu. Tapi, apa benar ia tidak ingat akan aku?" tanya Barnes.


"Iya Tuan. Tadi saya berkali-kali menyebut nama Anda dan ia berkali-kali bertanya, siapa Barnes dan ketika saya katakan kalau dia berbeda banget dengan penggambaran Anda........"Leon menghentikan ucapannya selama dua detik.


"Lanjutkan!" sahut Barnes.


"Tapi, Anda jangan marah ya, Tuan?!" sahut Leon dengan suara penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Nggak. Aku nggak akan marah" ucap Barnes.


"Saya katakan kalau dia berbeda dnegan penggambaran Anda soal dia yang lembut, berambut hitam panjang dan indah, lalu cantik, dia justru bertanya, kenapa Bos kamu bisa tahu soal aku?. Begitu, Tuan"


Barnes lalu memutuskan ponselnya begitu saja dan melemparkan ponselnya di dashboard mobilnya Jake yang membuat Jake tersentak kaget. Jake menoleh sekilas ke Barnes dan sambil terus fokus mengemudikan mobilnya, Jake berkata, "Kaya sih kaya, tapi jangan sok! banting-banting ponsel mahal kamu seenaknya. Kau tahu, jiwa miskin aku langsung meronta nih melihat tingkah kamu barusan"


"Aku nggak membantingnya. Aku melemparnya" sahut Barnes dengan polosnya tanpa menoleh ke Jake.


"Aish! sekali menyebalkan tetaplah menyebalkan. Itu sama aja Pulgoso! intinya kamu tidak menghargai barang mewah dan mahal yang kau miliki. Itu membuat jiwa miskinku meronta kesal" Jake melirik sekilas ke Barnes.


"Ponsel itu mahal jadi, dilempar pelan aja seperti tadi, nggak akan rusak. Lagian siapa bilang kamu miskin? nyatanya kamu bisa beli speed boat" sahut Barnes dengan tetap memandang ke arah depan dan melipat tangannya.


"Sial! kenapa malah kau ucapkan kata mahal dan kau malah bahas soal speed boat sih? Asal kau tahu, speed boatku tadi belum lunas dasar gila! oke, katakan saja apa yang membuatmu kesal?" Jake melirik Barnes dengan kesal.


Barnes menghela napas panjang, "Amanda tidak mengingat nama aku. Dia tidak ingat dengan Barnes"


Jake melirik Barnes lalu ia terkekeh geli, "Rasain tuh! Salah sendiri bertindak impulsif, beli cewek mahal-mahal eh, dia malah nggak ingat sama kamu, yang sabar ya Barnes" Jake meledek Barnes dan Barnes mendengus kesal lalu menoleh ke Jake, "Kau mau sekarang juga aku hentikan kucuran dana untuk penyelidikan kasus kamu?"


Jake langsung merapatkan kembali bibirnya dan segera berkata, "Maaf! oke aku nggak akan mengejek gadis mahalmu itu lagi"


"Bisakah kau tancap gas? Aku ingin segera menemui Amanda dan berbicara dengannya?" tanya Barnes dengan wajah kakunya.


"Siap Bos!" sahut Jake sambil menekan lebih dalam lagi pedal gas mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2