Mister Polisi, Yes I Do!

Mister Polisi, Yes I Do!
Bergerak Cepat


__ADS_3

Amanda menelepon Bryna sambil berjalan menuju ke mobilnya, "Bryna, kau tolong buka lemari besi yang ada di ruang kerja bosnya Jake, ada belati yang dipakai untuk menusuk dan pistol yang dipakai untuk menembak Om-ku"


"Oke, siap!" Sahut Bryna.


"Hati-hati. Jika hari ini semua lancar, kita akan segera bisa berkumpul kembali" Amanda berucap dengan nada riang penuh dengan harapan baru dan semangat baru.


"Sip! Makasih untuk infonya. Kau juga harus selalu berhati-hati. Aku menyayangimu"


"Aku juga menyayangimu" Sahut Amanda dan klik! Amanda mematikan sambungan teleponnya dengan Bryna dan memasukkan. kembali telepon genggamnya ke dalam dompet tangannya.


Amanda membuka pintu mobi, duduk di jok kemudi, memasang sabuk pengaman, dan meluncurkan mobilnya ke bar di mana Tante dan sepupunya yang seksi dan cantik itu, bekerja di sana. Amanda berniat untuk membebaskan Tantenya dan Laura sebelum ia bergerak membekuk Allen Lau malam, nanti.


Amanda sampai di bar tersebut dan langsung disambut wajah riangnya Jude dan Jordy yang menyamar sebagai penjaga pintu yang memeriksa KTP semua pengunjung yang ingin masuk ke dalam bar.


Amanda tersenyum lebar, lalu melangkah maju ke Jude dan Jordy. Istri tercintanya Barnes Adiwilaga Darmawan itu berbisik di tengah-tengahnya Jude dan Jordy, "Kalian jangan memperlihatkan wajah yang mengenali aku. Kita orang asing sekarang ini. Tidak saling kenal" Amanda kemudian melangkah mundur dan tersenyum lebar ke Jude dan Jordy.


Jude dan Jordy langsung memasang muka dingin dan kaku di depannya Amanda dan Jordy langsung berucap, "Mana KTP Anda, Nona cantik?"


Amanda membuka dompet tangannya, mengeluarkan KTP dan menyerahkan KTP-nya ke Jordy.


"Nona Priscilla Chan?" Jordy berucap sembari mengembalikan KTP itu ke Amanda.


"Nama yang cantik, secantik orangnya" Sahut Jude.


Amanda tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya, lalu bertanya, "Apa aku sudah boleh masuk?"


Jude maju dan berbisik di telinganya Amanda, "Peraturannya, salah satu dari kita, aku atau Jordy, harus meraba Anda untuk memeriksa apakah ada senjata tersembunyi di balik setelan yang Anda kenakan. Tapi, kami tidak berani menyentuh tubuh Istrinya komandan Barnes Adiwilaga Darmawan" Jude lalu kembali mundur ke belakang.

__ADS_1


Jordy seolah tahu apa yang dibisikkan oleh Jude, laki-laki tampan berwajah polos dan sesungguhnya wajah polos itu tidak pantas masuk di dalam jajaran kemiliteran, mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Hahahaha, kalian lucu. Anggap saja aku sudah diraba. Sepi nggak ada orang, kan?" Amanda menoleh ke belakang, lalu ke samping kanan dan kirinya. "Aku sudah boleh masuk, kan?"


Jude dan Jordy langsung menganggukkan kepala mereka secara bersamaan dengan penuh semangat lalu membuka pintu bar dan mempersilakan Amanda untuk melangkah masuk ke dalam bar tersebut.


Amanda mengedarkan pandangannya seluruh bar yang cukup luas dan berlantai tiga itu. Interior yang sangat mewah untuk sebuah bar. Bar tersebut bukan hanya menawarkan minuman beralkohol, namun juga menawarkan pertunjukan yang merupakan surga dunia bagi para lelaki hidung belang, seperti pole dance dan tarian lainnya yang mampu mengundang otak laki-laki hidung belang, berfantasi liar.


Amanda tersentak kaget dan mengerem langkahnya saat ia mendengar ada seseorang berkata tentang narkoba. Amanda langsung menoleh ke samping kanannya dan ia bersitatap dengan seorang bartender muda yang masih muda dan sangat tampan. Hal tentang narkoba, Amanda dengar dari benak bartender itu


Amanda lalu duduk di meja bar dan memesan lemon dicampur soda dicampur mint, no alkohol.


Bartender itu tersenyum ramah ke Amanda dan sorot matanya terus menatap wajah cantiknya Amanda dengan rasa ketertarikan yang cukup tinggi.


"Kalau bikin minuman untuk pelanggan, bukankah diharuskan untuk fokus. Kenapa kau terus melirikku?"


Bartender itu menuangkan bahan-bahan ke dalam shaker koktail dan sambil mengisi alat shaker hingga penuh dengan es, ia berucap, "Karena Anda sangat menarik. Kulit putih pucat Anda dan hidung mungil Anda yang lancip itu, berpadu sempurna dengan rambut keriting Anda yang berwarna merah. Anda sempurna dan lebih dari sekadar cantik" Lalu Bartender itu menutup shaker menggunakan tutup yang terbuat dari kaleng besi. Laki -laki muda yang sangat tampan dengan nametag Leon itu, memegang erat alat shaker dan. memastikan bagian ujung shaker tidak mengarah ke pelanggan tanpa melepaskan tatapannya dari Amanda.


"Dan siapa nama Anda?" Leon bertanya sambil terus menatap Amanda dan mengocok alat shaker dengan kuat . Dan ia perlu mengocok dengan kuat alat shaker tersebut selama sepuluh sampai lima belas detik


"Namaku Priscilla Chan"


"Nama yang cantik dan unik. Sama seperti pemilik nama itu" Sahut Leon sang bartender dengan senyum menggoda.


"Aku lebih tua dari kamu jadi, berhentilah menggodaku!"


"Saya dua puluh satu tahun. Berapa umur Anda?"

__ADS_1


"Aku udah dua puluh delapan tahun lebih"


"Umur hanyalah angka." Sahut Leon sang Bartender sambil mengeluarkan kaleng dengan mengetuk bagian atas shaker menggunakan telapak tangan kirinya lalu ia menyaring racikan minuman itu ke dalam gelas koktail yang sudah ia siapkan di depan Amanda.


Amanda tersenyum lebar lalu menyesap minumannya.


"Bagiamana racikan saya? Kurang apa?" tanya Bartender tersebut sambil meletakkan kedua lengan tangannya di atas meja bar, membungkukkan badan, lalu memajukan wajahnya ke Amanda.


"Enak. Sempurna dan lebih dari sekadar cantik?" Amanda tersenyum lebar ke Bartender tersebut.


Leon sang Bartender langsung menggemakan tawanya dan kemudian ia berkata, "Anda juga memiliki selera humor yang bagus. Saya rasa, saya sangat menyukai Anda, Nona Priscilla Chan. Apa saya boleh meminta nomer ponsel Anda?"


Amanda terus tersenyum lebar karena, dari obrolan tersebut ia mendapatkan banyak hal yang tersimpan di dalam benak Leon sang Bartender.


"Aku akan kasih nomer ponselku, tapi katakan dulu di mana aku bisa bertemu dengan Laura Dirgantara?"


Bartender tersebut terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya.


Gila! Ternyata ia pernah tidur dengan Laura. Dan sial! Laura sudah menjadi pecandu narkoba. Dan si brengsek ini yang sudah mencekoki Laura dengan narkoba. Batin Amanda meradang penuh amarah saat ia mendengar kata yang ada di benak Leon saat itu juga.


"Untuk apa Anda menanyakan nama itu? Kenapa Anda mencarinya?"


"Bisnis kita hanya soal nomer ponsel dan keberadaannya Laura, kan? Alasanku mencari Laura, itu bukan urusanmu" sahut Amanda.


"Baiklah. Berikan dulu nomer ponsel Anda! Setelah itu, saya akan berikan alamat kontrakannya Laura"


Amanda bangkit dan langsung berkata, "Lupakan saja. Aku berubah pikiran. Kau tidak memercayaiku jadi, aku juga tidak memercayaimu untuk memberikan nomer ponselku ke kamu" Amanda meletakkan lima lembar uang kertas berwarna merah di atas meja bar lalu melangkah meninggalkan Leon yang menatap kepergiannya Amanda dengan sorot mata kagum berbalut penasaran.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Amanda melajukan mobilnya menuju ke kontrakannya Laura. Dia mendapatkan alamat kontrakannya Laura dari benaknya Leon sang Bartender.


Amanda bergerak cepat karena, ia ingin segera berkumpul kembali dengan suami, Kakak laki-lakinya, dan sahabat-sahabatnya.


__ADS_2