
Lopez, Noah dan Batari akhirnya duduk bertiga di bangku kantin. Karyawan hotel The Baro banyak yang tidak mengena Noah Baro dan bahkan hampir semua karyawan tidak mengenal Noah Baron karena Noah, memang tidak pernah datang ke hotel milik kakeknya itu kecuali pas dia masih berumur lima tahun.
Alhasil, Noah Baron dicuekin sama semua karyawan yang makan ataupun yang laku lalang di kantin itu.
Namun, dengan demikian, justru mempermudah Noah untuk mengamati gerak-gerik semua orang yang ada di dalam kantin ataupun orang yang laku lalang di area sekitar kantin.
Batari memajukan wajahnya ke Noah, "Kalau pria borak itu, mungkin nggak kalau dia itu The Rar? Secara dia kelihatan sangar"
Noah menggelengkan kepala, "Dia memang sangar, tapi gerak-geriknya wajar"
"Oooooo begitu, ya. Lalu, gerak-gerik yang nggak wajar itu yang bagaimana, sih?"
Lopez memajukan wajahnya dan berbisik, "Kalau orang dengan tas yang tampak celingak-celinguk itu, gimana, Bos?".
Noah berucap, "Bisa jadi. Kita tunggu dia celingak-celinguk itu mau ngapain?"
"Aisshhh! Kalian ngawur. Bapak itu dokter. Dia dokter di rumah sakit tempat aku dulu pernah bertugas di IGD. Dia baik banget dan selalu standby di rumah sakit. Mana mungkin dia The Rat" Sahur Batari.
Mereka bertiga terus melakukan pengamatan ke orang-orang di sekita mereka sambil menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan.
Tiba-tiba Batari nyeletuk, "Kenapa kita nggak ajak Mama ke sini?"
"Sekalian aja ajak Dito dan orang sekampung terus kita piknik, deh" Sahut Lopez dengan wajah kesal.
Noah terkekeh geli dan langsung bertanya ke Batari yang tengah menepuk bahu Lopez cukup keras sampai Lopez mengaduh, "kenapa ajak Mama ke sini? Kue yang kamu makan sangat enak, jadi kamu pengen Mama ke sini untuk mencicipinya?"
"Ih! Kalian itu punya pengamatan yang super, tapi lola, loadingnya lama alias lemot" Sahut Batari dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lalu apa maksudnya?" Tanya Lopez.
"Mama, kan, bisa baca pikiran orang. Di sini kalian paham maksudku, kan?"
"Oh! Jadi, kamu pengen Mama ke sini untuk membaca pikiran semua orang di sini?"
Batari mengangukkan kepala beberapa kali sambil tersenyum lebar.
"Benar juga, ya. Kalau diajak ke sini, kan, aman. Ini kantor dan nggak berada di luar negri" Sahut Noah dengan senyum semringah.
__ADS_1
"Wah! Nyonya memang pantes bergelar dokter. Nyonya sangat cerdas, Bos" Sahut Lopez.
"Dia Istriku. Tentu saja cerdas" Sahut Noah sambil menatap bangga istri cantiknya.
"Aku akan telpon Mama sekarang juga" Sahut Batari.
Setelah mendapatkan kata oke dari mamanya, Batari menutup telepon genggamnya dan berkata, "Mama ke sini bersama Dito. Dito udah selesai sekolahnya dan kasihan kalau ditinggal sendirian di rumah"
"Nah, kan, piknik di kantor jadinya" Sahut Lopez.
Batari kembali menepuk keras bahunya Lopez dan Noah kembali terkekeh geli.
"Nah, Hemi apa nggak pernah turun ke kantin, ya? Kok dia nggak nongol di kantin?" Tanya Batari.
"Dia memang gila kerja. Kata asisten pribadinya, Hemi punya mag akut karena sering lupa makan" Sahut Noah.
"Apa kita antarkan makanan ke ruangannya Hemi? Kasihan kalau dia sampai kumat magnya" Tanya Batari.
"Dia udah punya pacar sekarang. Bahkan calon Istri, kan? Biarkan dia diurusi oleh calon Istrinya" Sahut Noah.
"Lho, kok gitu. Kita, kan, Kakaknya. Nggak da salahnya mumpung kita ada di sini, kita antarkan makanan ke Hemi"
Noah dan Batari menoleh bersamaan dan Lopez langsung berkata, "Oh, iya. Tolong kalian tahan Silvia di sini entah bagaimana caranya. Aku mau ke ruangannya Silvia. Aku mau pasang kamera di ruangannya" Lopez bangkit berdiri dan melipir ke jalan yang tidak mengharuskan dia melewati Silvia.
Noah dan Batari bersitatap, lalu setelah mereka saling melempar senyum, Batari berteriak memanggil Silvia yang tengah antre di depan kasir. Batari melambaikan tangannya dan Silvia berteriak, "Oke" Sambil mengacungkan ibu jarinya.
Lima menit kemudian, Silvia dipersilakan duduk di mejanya Noah dan Batari.
Silvia duduk dan berkata, "Saya nggak bisa berlama-lama di sini. Hemi, emm, maksud saya Pak Nehemia Baron, butuh makan siangnya segera. Saya takut kalau magnya Pak Nehemia Baron kumat lagi"
"Sebentar aja aku rasa nggak papa. Aku seorang dokter, jadi aku paham" Sahut Batari.
"Iya. Istri saya yang sangat menyenangi Hemi seperti adik kandungnya sendiri ini, lebih ceriwis ketimbang saya soal pacarnya Hemi. Dia selalu ingin nanya-nanya, maafkan, ya" Sahut Noah sambil terus mengelus-elus perutnya Batari.
"Iya. Nggak papa" Sahut Silvia dengan senyum ramahnya yang palsu dan Noah bisa melihat senyum palsu itu.
Saat Silvia tengah menjawab pertanyaannya Batari, Amanda datang bersama dengan Dito dan langsung duduk bergabung di mejanya Noah dan Batari.
__ADS_1
"Kenalkan, ini Mama saya. Dan itu Dito, anak angkat kami. Dito anak yang sangat manis dan pintar"
Silvia langsung berkata di dalam benaknya, iya aku tahu siapa dan bagaimana Dito.
Amanda langsung menatap Silvia dengan senyum penuh arti karena dia bisa mendengar apa yang Silvia pikirkan.
Silvia yang tidak mengetahui keistimewaannya Amanda, langsung bertanya, "Kenapa Tante terus menatap saya seperti itu?"
"Karena, kamu cantik. Sangat cantik" Amanda terpaksa berbohong di saat ia mulai mencurigai Silvia.
"Dia calon Istrinya Hemi, Ma" Ucap Batari dan Amanda manggut-manggut sambil terus tersenyum ramah di depan Silvia.
Tiba-tiba Batari nyeletuk, "Ibu hamil, tuh, kenapa bawaannya beser mulu? Aku mau ke toilet bentar"
"Aku antarkan" Noah langsung bangkit berdiri dan menggandeng Batari ke toilet.
Sedangkan Silvia langaung bangkit berdiri dan berkata, "Maaf saya harus balik ke ruangannya Pak Nehemia sekarang"
"Silakan" Sahut Amanda
Amanda menautkan kedua alisnya saat ia meraih sempat mendengar isi kepalanya Silvia yang berkata, aku akan membuatmu menyesal kali ini karena, aku akan berhasil kali ini. Tunggu saja!
"Berhasil apa, ya?" Gumam Amanda.
Batari masuk ke dalam toilet wanita sendirian karena pria nggak diperbolehkan masuk. Noah menunggu di depan pintu toilet wanita dan setiap kali ada wanita masuk ke toilet itu, Noah berkata, "Saya lagi menunggu Istri saya. Dia lagi hamil"
Noah terkejut saat telepon genggamnya berbunyi sangat nyaring dan saat ia melihat di layar telepon genggamnya ada tulisan Big Boss, tanpa berpikir panjang, ia segera berlari ke tempat yang agak sepi, tapi tidak jauh dari toilet sambil terus menatap lorong toilet ia mengangkat telepon itu.
Lima menit berikutnya, Noah mengetuk pintu kamar mandi wanita sambil berteriak, "Sayang! Tari! Kenapa lama banget ada di dalam? Kamu sakit?" Noah yakin istrinya masih ada di dalam toilet karena walaupun dia terus mengawasi lorong saat ia menerima telepon dari bosnya.
Seorang office girl muncul dari dalam toilet dan berkata, "Toilet kosong, Pak. Nggak ada orang"
Noah terkejut dan langsung menyemburkan protes, "Mana mungkin kosong? Istri saya belum keluar dari dalam. Dari tadi saya mengawasi terus lorong ini"
"Kalau nggak percaya, Bapak masuk aja"
"Nggak papa masuk?"
__ADS_1
"Masuk aja. Orang toiletnya udah kosong melompong"
Noah berlari masuk dan melihat ke dalam semua bilik yang pintunya terbuka lebar. Seketika ia mematung di tengah ruangan toilet dan bergumam, "Tari ke mana? Kok bisa hilang begitu aja?"