
Barnes terbangun karena suara alarm dari ponselnya. Barnes kemudian duduk, menopang dagu dan melihat Amanda masih nyenyak di balik selimut tebal. "Aku bangunkan apa aku tunggu sampai dia bangun? Biar dia tidur lima belas menit lagi aja, toh ini masih jam setengah lima. Aku mandi dulu aja" Barnes kemudian bangkit dan berjalan santai menuju ke kamar mandi.
Amanda tersentak kaget saat ia secara tiba-tiba mendengar bunyi kucuran air dari arah kamar mandi. Amanda langsung membuka mata, melotot, menajamkan telinganya dan segera menyibak selimutnya. Cewek berambut merah itu bernapas lega saat ia melihat bajunya masih utuh dan rapi. Amanda lalu duduk i atas kasur dan bersandar di ranjang, menarik selimut sampai menutupi lehernya dan terus mencekal kedua ujung selimut dengan kedua tangannya.
"Kenapa dia bangun sepagi ini? Ganggu aja" Amanda mulai mengomel dan bibirnya mulai mengerucut karena kesal tidurnya terganggu di pagi buta. Amanda lalu menjejakkan kakinya berulang-ulang di atas kasur sambil berucap, "Aish sial! Aku masih sangat mengantuk dan setelah ia selesai mandi, dia pasti langsung mengajakku berlatih taekwondo, Aish! malas banget!" Pujaan hatinya Barnes Adiwilaga Darmawan itu lalu menjambak rambut keriting berwarna merahnya dan sambil berucap, "Apa yang harus aku lajukan sekarang? Apa aku sembunyi di bawah kolong tempat tidur aja? Atau sembunyi di dalam lemari atau........."
"Kenapa harus bersembunyi?" Suara bass-nya Barnes mengagetkan Amanda.
Amanda menoleh pelan ke arah suara dan terkesiap melihat Barnes bertelanjang dada dan hanya memakai celana kolor dengan rambut basah dan airnya menetes pelan ke dada lalu turun di sela-sela enam tonjolan otot di perutnya Barnes. Amanda lalu memekik kesal, "Kenapa kau tidak pakai baju?" sambil menarik selimut sampai menutupi wajahnya.
Barnes dengan santai mengusap rambutnya dengan handuk kering lalu melangkah ke ruang ganti dengan pelan dan tidak menggubris omongannya Amanda.
Amanda memainkan bola matanya di bawah selimut lalu dia mengintip pelan kemudian menarik wajahnya dari dalam selimut, "Lho, dia menghilang ke mana? Apa tadi aku berhalusinasi?"
"Siapa yang berhalusinasi" Barnes muncul kembali di depannya Amanda secara tiba-tiba membuat Amanda kembali terlonjak kaget dan langaung menyemburkan protes, "Bisa nggak muncul di depanku dengan biasa aja? nggak secara tiba-tiba gitu? lama-lama aku bisa pingsan karena jantungan"
"Kamu yang kaget dan jantungan kok aku yang disalahin. Ayok buruan mandi gih! aku tunggu di ruang gym" Ucap Barnes sambil berdiri dan menatap Amanda.
"Aku nggak tahu di mana ruang gym-nya" sahut Amanda santai dan belum beranjak dari balik selimutnya.
Barnes lalu mundur ke belakang sebanyak tiga langkah dan duduk di atas sofa sambil melipat tangan dan kaki, "Kalau gitu aku tunggu di sini sampai kau selesai mandi"
"Masih dingin, aku malas mandi"
"Kan ada water heater, kau bisa mandi air hangat"
"Habis mandi kan dingin lagi entar" Amanda masih belum mau beranjak dari dalam selimutnya.
Barnes mulai mengeraskan bibinya dan berucap, "Amanda Dirgantara! Pergi ke kamar mandi sendiri sekarang, apa aku gendong? hmm?!" Barnes hendak bangkit dan Amanda langsung menyibak selimut dan melesat berlari masuk ke kamar mandi.
Hanya lima menit, Amanda sudah keluar lagi dari dalam kamar mandi dan masih memakai baju yang sama, dia melesat berlari ke ruang baju. Amanda memilih memakai kaos hitam polos dan celana kain pendek di atas lutut berwarna cokelat tua polos.
__ADS_1
Lima meni berikutnya, gadis yang telah mengobrak-abrik hatinya Barnes itu, berdiri di depannya Barnes dengan mengulas senyum.
Barnes bangkit, berdiri berhadapan dengan Amanda lalu menautkan alis dan bertanya, "Kamu mandi atau hanya sikat gigi aja? kok cepat banget mandinya?"
"Aku kalau hawanya dingin sepeeri ini, mandinya super cepat dan bersih lho, wangi. Nih! coba cium" Amanda dengan polosnya mengangkat tangan dan mengarahkan ketiaknya ke Barnes.
Barnes terkesiap dan memundurkan wajahnya lalu ia berdeham, "Ehem! jangan sembarangan mengangkat tangan di depan pria!" Kemudian, komandan polisi yang sangat tampan itu, melangkah meninggalkan Amanda sambil berucap, "Ikut aku!"
Amanda menurunkan kembali tangannya dan melangkah mengikuti Barnes dengan malas-malasan dan tanpa sadar kalau ia bergumam, "Aku masih ngantuk. Tidur sepuluh menit lagi kayaknya enak banget"
Barnes yang berada beberapa langkah di depannya Amanda, bisa mendengarkan gumamannya Amanda karena, Barnes memang memiliki pendengaran yang sangat tajam. Dan tanpa sepengetahuannya Amanda, Barnes tersenyum lebar menahan geli, mendengar gumamannya Amanda itu.
Mereka akhirnya masuk ke dalam ruang gym. Barnes menoleh ke Amanda yang telah berdiri di sebelah kanannya, "Mau berganti baju pakai seragam taekwondo, apa gitu aja?"
Amanda yang malas untuk melakukan aktivitas apapun di pagi hari itu berucap tanpa ekspresi, "Gini aja"
Barnes lalu melangkah masuk meninggalkan. Amanda menuju ke ruang ganti. Beberapa menit kemudian, Barnes keluar dengan memakai seragam taekwondonya. Barnes berdiri di tengah matras lalu berkata, "Mendekatlah kemari!"
Barnes langsung memasang kuda-kuda dan berkata, "Ikuti gerakanku!"
Amanda dengan raut wajah tidak suka, ikutan memasang kuda-kuda sambil berkata, "Aku udah dua puluh lima tahun. Bukankah udah terlambat bagiku belajar beginian?"
"Nggak ada kata terlambat untuk mempelajari apapun. Almarhum nenekku juga belajar taekwondo di umur yang sama denganmu dan nenekku bisa menguasai beladiri ini dengan baik dan menjadi wanita tangguh kesayangannya Kakekku. Aku memaksa kamu belajar beladiri karena, beladiri tuh penting, apalagi untuk cewek ceroboh kayak kamu.
"Enak aja bilang aku ceroboh. Nyatanya aku baik-baik aja selama ini, kan?" Amanda melotot ke Barnes.
.
"Nurut atau mau aku kasih hukuman?"
Barnes mulai mengeraskan bibirnya.
__ADS_1
Amanda membayangkan. hukuman ala kepolisian yakni diikat di sebuah bangku kayu lalu disetrum. Membayangkan hukuman yang mengerikan seperti itu Amanda langsung memekik, "Nurut! Aku akan patuh, Mister polisi!"
Barnes yang membayangkan mendaratkan hukuman berupa ciuman di bibir, wajahnya menjadi merona dan dengan segera ia berteriak," Bagus! sekarang perhatikan gerakan yang akan aku perlihatkan dan ikutilah!" untuk mengusir bayangan ia mencium Amanda yang melintas di benaknya.
Di setengah jam berikutnya, Barnes memasang gerakan bertahan dan berteriak, "Serang aku dan coba jatuhkan aku di matras ini!"
Amanda mencoba menyerang Barnes dan mencoba menjatuhkan Barnes di atas matras namun, tubuhnya yang kurus kerempeng, tidak berhasil menjatuhkan tubuh kekarnya Barnes.
Lima menit mereka saling mencekal bahu dan lengan lalu Barnes mendorong Amanda, "Kenapa nggak ada tenaga sama sekali? coba lagi!"
Amanda mendengus kesal dan melompat maju,.mencekal bahu dan lengannya Barnes lalu kakinya ia pakai untuk menjegal kakinya Barnes dan gagal lagi. Dengan sekuat tenaga dan napas menderu, Amanda belum juga berhasil menjatuhkan. Barnes di atas matras. Lalu Barnes mendorong Amanda lagi dan berteriak, "Aku akan kasih contoh cara menjatuhkan. lawan jika ia menyerang dari depan. Pasang sikap.bertahan dan waspada, seperti aku tadi!" Barnes melesat maju.
Dan Barnes berhasil menjatuhkan Amanda di atas matras. Posisi Barnes di atas tubuhnya Amanda dengan jarak wajah yang begitu dekat membuat mereka saling pandang dengan canggung. Mereka teringat kembali ciuman mereka di ruang tamu.
Amanda lalu mendorong Barnes dan berjalan mundur sampai punggungnya terantuk tembok.
Barnes menautkan alisnya sambil membetulkan sabuknya ia bertanya, "Ngapain kamu menempel di tembok kayak cicak gitu? Maju sini dan coba gerakanku tadi!"
Amanda tetap bersandar ke tembok dan berucap, "Kasihanilah aku yang kurus kering dan tak berdaya ini Mister Polisi, aku sudah sangaaatttt capek berlatih. Kita' udahan aja ya? besok lagi aja, ya?"
Barnes menghela napas.panjang, "Segini aja kamu udah capek padahal masih banyak yang harus kamu pelajari"
Amanda langsung menangkupkan tangan di depan dadanya dan berkata, "Please?!" dengan mata mengerjap dan bibir manyun, Amanda menatap Barnes dengan bola mata jernihnya.
Barnes seketika itu merasakan wajahnya merona melihat wajah imutnya Amanda saat Amanda memohon di depannya. Lalu laki-laki tampan itu, langsung memunggungi Amanda untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya lalu berucap, "Oke! pergilah! kita lanjutkan lagi besok"
Amanda langsung berlari kecil keluar dari ruang gym dengan wajah cerah ceria.
__ADS_1
Dan Barnes masih harus menetralkan rona merah di wajah tampannya dan meredakan degup jantungnya.