Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 98 Jadwal Operasi


__ADS_3

Keesokan harinya...


Alexander seperti biasa mengantarkan Ivona ke sekolah sebelum berangkat ke kantor. Laki-laki itu rela berangkat ke kantor lebih pagi, karena harus memastikan jika Ivona sampai di sekolahnya. Dia tidak mampu meminta sopir untuk mengantarkan gadis itu.


"Sepulang sekolah.., bagaimana kalau kita pergi ke rumah keluarga Iswara?" sebelum Ivona turun, Alexander bertanya pada gadis itu.


"Hmmm..., untuk apa kak? Apakah kak Alex ingin mengantar Ivona pulang ke rumah keluarga Iswara? Jika jawabannya iya, biar nanti Ivona pulang sendiri saja ke rumah. tidak perlu kak Alex menemani aku lagi." jawab Ivona dengan nada kurang senang.


Alexander tersenyum mendengar jawaban Ivona sebagai bentuk reaksi dari pertanyaannya. Selain dia ingin menepati janjinya pada sahabatnya Tommy, sebenarnya dia ingin juga menengok kakek kandung Ivona.


"Bukannya kamu sendiri Nana.., yang mengatur jadwal kakek akan dilakukan operasi otaknya pada minggu ini. Apakah kamu tidak ingin bertemu dengan kakek dulu, atau paling tidak ikut mengantar kakek ke rumah sakit yang ada di Jakarta. Ingat lho, kamu sendiri yang memilih rumah sakit itu." Alexander mengingatkan jadwal operasi kakek yang seharusnya akan dilakukan pada minggu ini.


Ivona kaget, dia tidak mengira jika Alexander masih mengingat jadwal operasi kakeknya. Padahal jika barusan Alexander tidak mengingatkannya, dia hampir terlupakan. Dia juga belum menghubungi lagi kesediaan Dokter Tantowi, apakah ingat dengan kesepakatan yang sudah mereka lakukan dengan bantuan dari Marcus.


"Berarti aku harus segera menghubungi Dokter Tantowi, aku harus mengingatkannya tentang jadwal operasi kakek." Ivona berpikir sendiri.


"Kenapa kamu jadi melamun Nana..?" tanya Alexander yang mengejutkannya.


"Ehm.., maaf kak! Ya.., nanti sepulang sekolah kita akan ke tempat kakek. Kak Alex tidak perlu memaksakan diri untuk mengantarku pulang ke rumah keluarga Iswara, aku banyak alternatif untuk menuju kesana. Ivona tidak mau mengganggu aktivitas dan pekerjaan kakak di perusahaan." Ivona menyanggupi untuk datang ke rumah keluarga Iswara.


"Stttt.., ingat begitu kakek menitipkan kamu padaku, kamu sudah menjadi tanggung jawabku. Jadi salah satu prioritas aktivitasku sekarang adalah membawamu kemana saja tempat yang kamu inginkan, yang penting suasana hatimu menjadi bahagia." ucap Alexander sambil tersenyum.


"Okay.., baiklah jika begitu. Ivona masuk dulu ke gerbang sekolah ya kak!" Ivona langsung pamitan pada Alexander.


"Ya.., masuklah dengan hati-hati. Ingat janjimu padaku..!" Alexander mengingatkan lagi pada Ivona.


Ivona segera membuka pintu mobil, kemudian setelah menutupnya kembali, dia langsung berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah. Alexander melihat punggung Ivona sampai tidak terlihat lagi, kemudian menjalankan mobilnya menuju ke perusahaan tempatnya bekerja.

__ADS_1


 


 


***************


 


Sesampainya di kelas, Ivona seperti biasa tidak menghiraukan tatapan sinis murid-murid teman sekelasnya. Murid-murid itu sedang duduk bergerombol saling mencontek PR Kimia. Ivona langsung menuju kursi tempatnya duduk, dan sedikit kaget melihat William ternyata sudah berada di kursinya. Tetapi gadis itu, bersikap cuek dan mengabaikan keberadaan laki-laki itu. Dia segera duduk di kursinya, kemudian mengeluarkan Ipad dari dalam tasnya.


"Sudah mengerjakan PR Kimia?" tanya William tiba-tiba.


Ivona menengok pada William, kemudian dia menganggukkan kepala.


"Kenapa, mau pinjam PR ku?" tanya Ivona dengan reaksi datar, tetapi tidak bermaksud meremehkan laki-laki itu.


"Aku sudah mengerjakannya." jawab William kembali diam.


Ivona memasang bluetooth hansfree pada telinganya, kemudian sekejap sudah masuk ke dalam dunia internet. William mendiamkannya, dan meletakkan kepala di atas meja untuk tidur sambil menunggu bel pelajaran masuk dimulai.


"Good morning...Doctor Tantowi." Ivona mengirimkan chat pada dokter yang berjanji akan melakukan operasi pada kakeknya.


"Morning Ivona..., sangat bahagia sekali, pagi-pagi sudah mendapatkan chat darimu. Ibarat orang, mendapatkan mood boaster untuk semangat hari ini." jawab Dokter Tantowi sambil bercanda.


"He..he..he.., ternyata Dokter Tantowi suka bercanda. Mau confirm Dokter..., minggu ini Dokter tidak lupa kan ada jadwal penting?" tanya Ivona hati-hati.


"Oh... of course not. Mana ada yang berani lupa sudah membuat janji dengan si jenius di bidang teknologi, bisa-bisa dunia runtuh. Marcus bisa membunuh aku nanti." goda Dokter Tantowi.

__ADS_1


"Syukurlah jika begitu. Terima kasih Dokter, atas atensi Dokter bersedia untuk meluangkan waktunya melakukan tindakan operasi untuk kakek saya. Kira-kira dokter landing hari apa, nanti biar kita siapkan penjemputan dan hotel untuk menginap Dokter selama di Jakarta." Ivona berencana menyiapkan akomodasi dan transportasi untuk Dokter Tantowi.


"Apa yang kamu bicarakan Ivona? Kamu tidak perlu berpikir hal-hal seperti itu. Marcus sudah mengurus semua, dari tiket keberangkatan dan kepulanganku, presidential suites selama menginap di Jakarta, juga transportasi. Semua sudah diurusnya, kamu hanya perlu fokus menyiapkan stamina kakekmu, dan jangan lupa, rumah sakit serta ruang untuk operasi juga sudah diatur semuanya oleh Marcus." mendengar penjelasan yang disampaikan Dokter Tantowi, Ivona menjadi bingung dengan kebaikan Marcus. Dia berada di luar negeri, tetapi ternyata sudah membantu mempersiapkan keperluan untuk operasi kakeknya. Padahal dia sendiri hampir terlupa jika tidak diingatkan oleh Alexander.


"Baiklah terima kasih dokter atas konfirmasinya. Selamat beraktivitas hari ini, dan kita dapat bertemu langsung saat operasi kakek dilakukan." Ivona mengakhiri chatnya, bersamaan dengan Guru Kimia masuk ke kelas.


"Nanti siang saja aku menghubungi Marcus, aku akan mendengarkan pak Guru dulu." Ivona mematikan perangkat Ipadnya kemudian memasukkan kembali ke dalam tas. Saat dia mengangkat wajahnya, dia baru mengetahui jika Beni melihat ke arahnya.


"Kamu serius sekali, aku jadi tidak enak mau menyapamu. Malahan tadi kupikir kamu belum datang, aku menunggumu di depan gerbang sekolah. Ternyata kamunya malah sudah fokus di dalam kelas." Beni mengajaknya bicara.


"Iya, ada sesuatu yang harus aku urus. Sudah yuk, kita perhatikan dulu pak Guru!" Ivona mengajak Beni untuk memperhatikan Guru Kimia memberikan penjelasan.


"Kumpulkan semua PR ke meja di depan!" tiba-tiba guru Kimia memerintahkan untuk mengumpulkan PR.


Ivona segera mengeluarkan buku PR nya, dia melirik ke kursi sampingnya. William masih tidur, dan mungkin tidak mendengar ucapan dari Guru Kimia. Karena ingin mulai membuka hati untuk murid-murid yang berniat untuk berteman dengannya, Ivona membangunkan William.


"Will.., mana PR Kimia-mu, pak Guru meminta untuk dikumpulkan ke depan?"


William mengangkat kepalanya kemudian mengucek matanya. Dia menoleh ke arah Ivona.


"Apa Iv..?" tanya William.


"PR mu mana, sini aku kumpulkan ke depan!" Ivona meminta PR yang dikerjakan William.


Laki-laki itu mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya, kemudian memberikan pada Ivona. Beni mengambil buku Ivona dan William, kemudian menyerahkan ke depan.


 

__ADS_1


*************


__ADS_2